Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
108
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Penerimaan

Di atas ranjang rumah sakit, Khalil terbaring diam. Wajahnya yang pucat tampak kontras dengan perban yang membalut pelipisnya. Selang infus terpasang di tangannya, sementara mesin di samping ranjang sesekali mengeluarkan bunyi pelan yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
Bapak duduk di kursi kecil di samping ranjang itu. Tangannya yang kasar menggenggam tangan Khalil dengan hati-hati.

“Khalil…. Anak Bapak… ”

“Abang bangun… Ada Ale di sini, ada Bapak juga, Nak…” Bapak menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan Kale yang masih ia genggam. Entah sudah kali ke berapa Bapak menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa jeda.

“Bapak, sudah jangan nangis…. Nanti Abang ikut sedih.”

Ale mengusap matanya yang masih basah dengan punggung tangan, berusaha menenangkan napasnya sendiri. Ia melangkah sedikit mendekat ke sisi ranjang, memandang wajah abangnya dengan hati yang masih dipenuhi ketakutan.

Ruangan itu kembali tenggelam dalam sunyi.
Beberapa detik berlalu. Perlahan jari Khalil bergerak sedikit. Ale adalah orang yang pertama kali menyadarinya.

“Pak… Abang bangun, Pak.”

Bapak segera menegakkan tubuhnya.

Di atas ranjang itu, kelopak mata Khalil yang semula terpejam tampak bergerak pelan, seolah berat untuk dibuka. Beberapa kali berkedip, sebelum akhirnya perlahan terbuka. Pandangan itu terlihat kosong selama beberapa detik.

Perlahan matanya berhenti pada satu titik di depan. Bibirnya bergerak pelan, “I-Ibu?”

Suara itu sangat lirih, tetapi cukup jelas untuk membuat Bapak dan Ale saling menatap dengan wajah pucat.

“Ibu… Khalil mau ikut Ibu…. ”

Bapak langsung menggeleng, air matanya kembali mengalir deras.

“Abang… nggak ada siapa-siapa…” suaranya pecah.

“Aku mau ikut Ibu…”

Tangisan Ale pecah lebih keras. Tubuh kecilnya gemetar saat ia memegang tangan abangnya.

“Abang jangan…” isaknya. “Abang jangan ikut…”
Ia menoleh pada Bapak dengan wajah yang penuh harap dan ketakutan.

“Pak… bilang sama Abang…”

Bapak masih duduk di kursinya, tangannya tetap menggenggam tangan Khalil yang semakin terasa dingin. Wajahnya pucat, tetapi matanya menatap putra sulungnya dengan sangat dalam.

“Khalil…. Bapak ikhlas, Nak.”

Kalimat itu keluar dengan sangat pelan, namun terasa berat seperti sesuatu yang selama ini ia tahan di dalam dada.

“Bapak sudah ikhlas melepas.”

Ale menatap Bapak dengan mata membesar, sementara tangisnya semakin pecah. Namun Bapak hanya terus menggenggam tangan anak sulungnya, mengusapnya perlahan.

“Pergilah kalau memang di sana Khalil bisa bahagia… Liburan kemarin… sudah cukup membuat Bapak bahagia.”

Napas Bapak tersendat. “Bapak senang sekali melihat Abang tertawa lagi. Melihat kalian bermain seperti dulu.”

“Itu sudah cukup untuk Bapak kenang, Bang.”

Di sisi lain, Ale masih terisak sambil memegang tangan abangnya erat, seolah tak ingin melepasnya.
Di ruangan yang dipenuhi tangis itu, kenangan tentang hari-hari liburan mereka, tawa di tepi air, kejar-kejaran di halaman, dan meja makan yang kembali hangat, seolah berkelebat pelan.

Sebuah liburan yang singkat.Namun cukup untuk mengembalikan kembali cahaya di hati mereka, sebelum akhirnya harus dilepas lagi.


Other Stories
Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai

Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...

Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma