Uap Dari Panas Bumi

Reads
15
Votes
8
Parts
3
Vote
Report
Penulis Rahmayanti Kasman Putri

Bagian 2 - Langkah Pertama

Bandara pagi itu dipenuhi oleh suasana khas musim libur. Orang-orang berjalan cepat sambil menarik koper, beberapa memeluk keluarga sebelum berpisah di gerbang keberangkatan, sementara suara pengumuman terdengar berulang dari pengeras suara dengan nada yang datar namun menenangkan. Aroma kopi hangat menguar dari kafe kecil di sudut ruangan, bercampur dengan wangi roti yang baru dipanggang. Semuanya terasa hidup, bergerak, dan penuh tujuan.

Di tengah keramaian itu, Aluna berdiri sejenak sebelum memasuki antrean pemeriksaan, membiarkan matanya mengikuti lalu-lalang manusia yang tampak begitu yakin akan arah mereka masing-masing. Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Bukan kecemasan, melainkan kesadaran bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar pergi jauh. Bukan perjalanan singkat karena pekerjaan, bukan pula kunjungan terburu-buru yang menuntutnya segera kembali. Ini adalah perjalanan untuk dirinya sendiri.

Kali ini, Aluna tidak hanya bersama Nisa. Dia juga ditemani oleh Raka —tunangannya. Raka sengaja izin sehari, agar bisa meluangkan waktunya untuk Aluna.

"Jangan tegang gitu, sayang."

Aluna menoleh.

Raka berdiri di samping, sembari menggandeng tangan mungilnya. Kekasihnya itu memang bersikeras mengantar sampai ke bandara, meskipun Aluna sudah berkali-kali mengatakan tidak perlu.

"Aku cuma capek," jawab Aluna, pelan.

Raka mengusap kepala Aluna. "Sampai sana, langsung istirahat ya, sayangku," pesan, Raka.

Aluna mengangguk.

"Kayak mimpi, ya?" Aluna menoleh dan mendapati Nisa berjalan mendekat sambil membawa dua gelas minuman hangat. Uap tipis naik dari permukaannya, menghilang sebelum sempat terlihat jelas.

"Nih buat kamu," kata Nisa sambil menyerahkan satu gelas.

"Makasih, Nis," jawab Aluna, menerima minuman itu dengan kedua tangan. Kehangatannya langsung merambat ke telapak tangannya, memberi rasa nyaman yang sederhana.

Nisa tersenyum lebar. "Aku kan udah bilang, keputusan spontan itu kadang yang terbaik."

Aluna mengangguk pelan. Ia tidak sepenuhnya percaya pada keputusan mendadak sebelumnya, tetapi sekarang, berdiri di ambang perjalanan, ia mulai merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini. Antusiasme.

Suara pengumuman di bandara terdengar menggema, memantul dari langit-langit tinggi yang dipenuhi lampu putih dingin.

"Perhatian kepada seluruh penumpang penerbangan tujuan Flores, boarding akan segera dimulai melalui Gate 4. Para penumpang dipersilakan bersiap."

Aluna mengangkat kepalanya perlahan. Jemarinya masih menggenggam tiket yang sejak tadi diremas tanpa sadar. Ada sesuatu tentang kalimat itu—boarding akan segera dimulai—yang membuat dadanya terasa lebih berat daripada seharusnya. Untuk pertama kalinya, meninggal separuh hidup—orang tua dan kekasihnya— selama beberapa hari kedepan.

"Nis, gue titip Aluna, ya. Jaga calon gue baik-baik," pinta, Raka.

Nisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Pengumuman kembali terdengar.

"Boarding dipersilakan untuk penumpang prioritas dan baris 1 sampai 10."

Aluna melirik tiketnya.

Baris 12.

Masih ada waktu beberapa menit.

Namun anehnya, semakin dekat waktu keberangkatan, semakin kuat perasaan bahwa langkah ini akan mengubah banyak hal.

Pengumuman berikutnya terdengar.

"Penumpang baris 11 sampai 20 dipersilakan menuju antrean boarding."

Itu dia.

Waktunya.

Jantung Aluna berdetak lebih cepat.

Raka mengambil koper kecil Aluna dan menyerahkannya. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon," ucapnya.

"Iya."

"Jangan sok berani."

Aluna tertawa kecil, "aku bukan tokoh film horor."

Raka tersenyum miring.

"Semua orang bilang gitu sebelum ada hal aneh terjadi."

Mereka berjalan bersama menuju antrean. Semakin dekat ke pintu gate, semakin terasa hawa dingin dari pendingin ruangan yang berembus tanpa ampun.

Di depan petugas, Aluna menyerahkan tiket dan kartu identitas.

Bip.

Lampu hijau menyala.

"Selamat jalan," kata petugas ramah.

Dua kata sederhana.

Namun entah kenapa terdengar seperti perpisahan yang lebih dalam.

Aluna melangkah melewati pintu boarding.

Lorong menuju pesawat memanjang seperti terowongan putih, dengan jendela kecil di sisi kiri yang memperlihatkan badan pesawat terparkir diam.

Pesawat itu tampak biasa saja.

Terlalu biasa untuk perjalanan yang terasa tidak biasa.

Aluna berhenti sebentar sebelum masuk.

Ia menoleh ke belakang.

Raka masih berdiri di balik pembatas, mengangkat tangan.

Aluna membalas dengan lambaian kecil.

Untuk sesaat, ia ingin berlari kembali dan mengatakan bahwa ia berubah pikiran. Namun sesuatu di dalam dirinya mendorongnya maju. Seolah ada benang tak terlihat yang menariknya ke timur.

Langkahnya kembali bergerak.

Begitu memasuki pesawat, udara terasa berbeda. Lebih hangat, dengan aroma khas kabin yang samar.

Seorang pramugari menyapanya dengan senyum profesional. "Selamat datang."

Aluna mengangguk dan mencari nomor kursinya.

12A.

Dekat jendela.

Tentu saja.

Ia selalu memilih jendela, meskipun kadang takut melihat betapa kecilnya dunia dari ketinggian.

Koper disimpan, sabuk dipasang.

Saat akhirnya duduk, Aluna menghembuskan napas panjang. Belum lepas landas saja sudah terasa melelahkan. Ia menatap keluar jendela. Landasan tampak berkilau di bawah matahari.

Tenang.

Normal.

Tidak ada yang aneh.

Namun tepat ketika ia hendak memalingkan wajah, bayangan tipis seperti kabut melintas di ujung pandangannya.

Aluna berkedip.

Kosong.

Tidak ada apa-apa.

Mungkin hanya refleksi kaca.

Atau matanya yang lelah.

Pesawat mulai bergerak perlahan. Suara mesin mengaum lembut, lalu semakin kuat. Getarannya merambat sampai ke sandaran kursi.

Aluna menggenggam ujung bajunya tanpa sadar.Saat roda pesawat meninggalkan tanah, perutnya terasa tertinggal sepersekian detik. Kota di bawah menyusut cepat. Gedung berubah menjadi kotak kecil.

Jalan raya menjadi garis tipis.

Awan perlahan mendekat.

Putih.

Sunyi.

Tak tersentuh.

Aluna bersandar.

Untuk pertama kalinya hari itu, matanya terasa berat. Namun tepat sebelum ia terlelap, satu pikiran melintas.

Bagaimana jika pesan itu bukan sekadar pesan?

Bagaimana jika itu ... sebuah peringatan?

Pesawat terus menembus langit.

Menuju Flores.

Menuju tanah yang konon mulai memanas dari dalam.

Dan tanpa disadari Aluna ...

Beberapa perjalanan bukan membawa kita ke tempat baru.

Melainkan membawa kita kembali ke sesuatu yang selama ini menunggu dalam diam.



Other Stories
Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Download Titik & Koma