Uap Dari Panas Bumi

Reads
16
Votes
12
Parts
3
Vote
Report
Uap dari panas bumi
Uap Dari Panas Bumi
Penulis Rahmayanti Kasman Putri

Bagian 3 - Perjalanan Panjang

Suara lembut dari pengeras suara kabin terdengar jelas di tengah dengungan mesin pesawat.

"Para penumpang yang kami hormati, pesawat akan segera melakukan penurunan menuju Pulau Flores. Mohon kembali ke tempat duduk, tegakkan sandaran kursi, dan kencangkan sabuk pengaman."

Aluna yang sejak tadi memandangi layar kecil di depan kursinya perlahan menarik napas panjang. Kata-kata itu terasa seperti garis penanda, bahwa perjalanan panjang yang mereka rencanakan berbulan-bulan akhirnya hampir mencapai tujuan.

Di kursi sebelahnya, Nisa langsung menegakkan tubuh.

"Luna ... kita mau turun!" bisiknya dengan nada tertahan, namun tidak bisa menyembunyikan kegembiraan.

Aluna tersenyum. "Iya. Rasanya masih nggak percaya kita bener-bener jadi liburan."

"Sekali-kali, kita harus pergi jauh," kata Nisa waktu itu.

Dan kini, mereka benar-benar melakukannya.

Pesawat mulai menurun perlahan. Sensasi ringan terasa di tubuh, seperti ditarik ke bawah dengan lembut. Lampu sabuk pengaman menyala, dan para pramugari berjalan menyusuri lorong untuk memastikan semuanya aman.

Aluna menoleh ke arah jendela. Awan putih yang sejak tadi mendominasi pemandangan mulai terpecah, membuka pandangan ke bawah.

Laut biru terbentang luas.

Warnanya bukan hanya satu jenis biru, melainkan gradasi yang memikat, dari biru tua hingga kehijauan di dekat garis pantai. Pulau-pulau kecil tampak tersebar seperti lukisan yang dibuat dengan sapuan kuas santai.

"Ya ampun ...." Nisa mendekatkan wajahnya ke jendela. "Ini lebih indah dari foto-foto di internet."

Aluna mengangguk pelan. Ia tidak banyak bicara, terlalu sibuk menikmati pemandangan. Ada rasa tenang yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak dikejar waktu.

Tidak ada deadline.

Tidak ada alarm pagi yang memaksa bangun.

Tidak ada daftar hal yang harus segera diselesaikan.

Yang ada hanya perjalanan dan kebebasan kecil yang mereka hadiahkan untuk diri sendiri.

"Kamu sadar nggak," kata Nisa tiba-tiba. "Ini liburan pertama kita yang bener-bener jauh. Biasanya cuma ke kota sebelah," lanjutnya.

"Iya juga," jawab Aluna sambil tersenyum. "Kali ini kita serius."

Mereka sempat tertawa mengingat betapa hebohnya proses merencanakan perjalanan ini. Mulai dari berburu tiket promo tengah malam, memilih penginapan, sampai membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi.

Dan tentu saja, berjanji pada diri sendiri bahwa liburan ini harus tanpa stres.

Pesawat semakin rendah. Kini garis pantai terlihat jelas, dengan ombak tipis yang bergulung pelan. Perbukitan hijau tampak megah namun menenangkan.

"Aku pengen langsung ke pantai," kata Nisa penuh semangat.

"Kita bahkan belum sampai bandara," Aluna menahan tawa.

"Justru itu! Bayangin ... angin laut, suara ombak, nggak ada suara kendaraan. Aduh, rasanya kepalaku jadi ringan."

Aluna memahami maksudnya. Bahkan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Flores, beban di pikirannya terasa sudah sedikit berkurang.

Ia menyandarkan kepala sejenak, menutup mata, lalu membukanya kembali saat cahaya matahari masuk melalui jendela.

Hangat.

Berbeda dengan hangat kota yang sering terasa melelahkan. Hangat di sini terasa ramah.

"Terima kasih ya," kata Aluna tiba-tiba.

Nisa menoleh. "Untuk apa?"

"Karena udah maksa aku ikut liburan."

Nisa terkekeh. "Kalau nggak dipaksa, kamu pasti masih sibuk kerja."

"Bener juga."

Beberapa detik mereka hanya saling tersenyum. Kadang, kebahagiaan memang sesederhana memiliki teman yang tahu kapan harus menarikmu keluar dari rutinitas.

Suara mesin berubah sedikit lebih berat. Sayap pesawat tampak bergerak menyesuaikan arah.

"Sebentar lagi," gumam Nisa.

Aluna kembali melihat ke luar. Kini ia bisa melihat jalan kecil yang membelah daratan, rumah-rumah yang tampak mungil, dan area bandara yang semakin mendekat.

Jantungnya berdebar. Bukan karena gugup, melainkan karena antusias.

Ada begitu banyak hal yang menunggu mereka. Matahari terbit di tepi pantai. Mencicipi makanan lokal. Berjalan tanpa tujuan sambil tertawa. Mengambil foto terlalu banyak. Dan mungkin ... menemukan cerita-cerita kecil yang kelak akan mereka kenang.

Pesawat turun semakin rendah hingga akhirnya ...

Dum!

Roda menyentuh landasan.

Tubuh mereka sedikit terdorong ke depan sebelum pesawat melaju cepat, lalu perlahan mengurangi kecepatan.

Nisa langsung menggenggam tangan Aluna.

"Kita sampai!"

Aluna tertawa kecil. "Iya, kita sampai."

Ada tepuk tangan ringan dari beberapa penumpang. Entah sejak kapan kebiasaan itu ada, tapi suasananya selalu terasa hangat—seperti perayaan kecil setelah perjalanan.

Saat pesawat akhirnya berhenti sempurna, Aluna merasa dadanya dipenuhi rasa lega yang aneh namun menyenangkan.

Mereka berhasil mengambil jeda.

Pengeras suara kembali terdengar, menyambut para penumpang dan mengucapkan selamat datang.

Orang-orang mulai berdiri, mengambil tas dari bagasi kabin. Suasana berubah menjadi lebih hidup, namun tidak terasa tergesa-gesa.

Aluna berdiri, merapikan tas kecilnya.

"Aku nggak sabar keluar," kata Nisa.

"Aku juga."

Saat pintu pesawat terbuka, cahaya terang menyambut dari luar. Udara yang masuk terasa berbeda, lebih segar, dengan aroma samar yang mengingatkan pada laut dan tanah yang hangat. Begitu mereka melangkah turun melalui tangga pesawat, angin lembut langsung menyentuh wajah mereka.

Nisa menarik napas dalam-dalam. "Ini udara liburan," katanya puas.

Aluna ikut menghirup udara itu. Rasanya seperti menekan tombol reset dalam dirinya.

Langit terlihat luas tanpa tertutup gedung tinggi. Awan bergerak perlahan. Semuanya terasa tidak terburu-buru. Aluna menatap sekitar, lalu tersenyum lebar. "Petualangan kita dimulai sekarang."

Nisa mengangguk cepat. "Dan aturan pertama liburan?"

Aluna berpikir sejenak sebelum menjawab, "Jangan terburu-buru."

"Setuju. Kita nikmati semuanya pelan-pelan."

Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju terminal, langkah mereka ringan—seakan setiap meter membawa janji akan hari-hari menyenangkan.

Tidak ada target besar dalam perjalanan ini.

Tidak ada tuntutan untuk melakukan segalanya dengan sempurna.

Yang mereka inginkan hanya satu: beristirahat dari dunia sejenak dan hidup sepenuhnya dalam setiap momen.

Saat pintu terminal semakin dekat, Aluna menoleh ke arah landasan sekali lagi.

Pesawat yang membawa mereka kini diam, tetapi perjalanan mereka baru saja dimulai.

Ia tersenyum.

Liburan ini bukan hanya tentang pergi ke tempat baru. Tetapi, tentang memberi ruang bagi hati untuk bernapas.

Dan di Pulau Flores ini, ia merasa siap untuk melakukan itu.

***

Perjalanan dilanjutkan dengan mobil menuju desa tempat mereka akan menginap. Jalanan segera berubah menjadi jalur berkelok yang mengikuti bentuk perbukitan. Di satu sisi, lereng naik dipenuhi pepohonan tinggi; di sisi lain, jurang terbuka memperlihatkan hamparan hijau jauh di bawah.

Sopir mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali menunjuk tempat-tempat tertentu ketika Nisa bertanya. Suasana di dalam mobil cenderung tenang, seolah jalan panjang itu memang mengundang siapa pun untuk lebih banyak memperhatikan daripada berbicara.

Sekitar satu jam perjalanan, lanskap mulai terasa semakin terpencil. Rumah-rumah jarang terlihat, digantikan ladang luas dan hutan yang tampak rapat.

Lalu, tanpa peringatan, mereka melewati sebuah area terbuka di lereng bukit.

Aluna langsung melihatnya.

Menara-menara logam berdiri tegak di tengah lanskap alami, bentuknya kaku dan kontras dengan lengkung bukit di sekitarnya. Pipa-pipa besar membentang di tanah seperti urat raksasa, dan dari beberapa titik, uap putih naik tanpa henti sebelum larut ke udara.

Pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Dari kejauhan, semburan uap itu tampak hampir tenang. Namun semakin lama diperhatikan, semakin terasa seolah tempat itu memiliki ritme sendiri. Napas yang teratur, tak tergesa, tetapi tak pernah berhenti.

"Itu dia," kata Nisa pelan. "Sepupuku pernah cerita soal tempat itu."

Aluna tidak menjawab. Pandangannya tertahan pada salah satu semburan uap yang tampak berputar perlahan sebelum menghilang.

Aneh, pikirnya.

Angin hampir tidak terasa.

Seolah gerakan itu datang dari dirinya sendiri.

Mobil kembali melaju, meninggalkan menara-menara itu perlahan tertutup lekukan bukit. Namun entah mengapa, bayangan tempat itu masih terasa melekat di benak Aluna.

Other Stories
Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Download Titik & Koma