Uap Dari Panas Bumi

Reads
362
Votes
42
Parts
11
Vote
Report
Uap dari panas bumi
Uap Dari Panas Bumi
Penulis Rahmayanti Kasman Putri

Bagian 11 - Berhenti Atau Lanjut?

Langit desa itu berubah warna menjelang senja. Semburat jingga yang biasanya terasa hangat kini tampak pucat, seperti cahaya yang enggan menyentuh tanah terlalu lama. Angin membawa suara anak-anak berlarian di jalan kecil, suara ibu-ibu yang mulai menyiapkan hidangan terakhir, dan samar-samar, gema latihan takbir dari surau kecil di ujung desa.

Sebentar lagi malam takbir.

Besok Lebaran.

Dalam keadaan lain, suasana itu pasti menghadirkan rasa rindu dan haru. Aroma santan dan daun pisang, suara bedug yang dipukul perlahan, tawa warga yang saling bertegur sapa. Namun bagi Aluna dan Nisa, semua itu terasa seperti kontras yang menyesakkan—perayaan yang berdiri di atas tanah yang retak dan rahasia yang belum terungkap.

Aluna duduk di beranda rumah Ibu Susi, menatap langit yang semakin gelap. Di tangannya, ponsel yang sejak tadi tak henti menampilkan pesan dari grup kantor. Riri mengirim beberapa dokumen tambahan tentang proyek pembangkit listrik berupa peta lokasi, rencana pembebasan lahan dan perkiraan keuntungan.

Semua terlihat rapi di atas kertas.

Tapi tidak ada satu pun yang mencatat suara dari dalam tanah.

Tidak ada kolom untuk penyakit kulit warga.

Nisa keluar membawa dua gelas teh hangat. Ia duduk di samping Aluna tanpa berkata apa-apa. Hanya suara sendok yang beradu pelan dengan gelas, lalu sunyi kembali menyelimuti mereka.

"Kita masih punya waktu untuk pergi besok pagi," Nisa akhirnya berkata pelan. "Sebelum semuanya makin rumit."

Aluna tak langsung menjawab. Ia memperhatikan beberapa warga yang mulai memasang lampu hias sederhana di depan rumah. Cahaya kecil itu berkedip pelan, seperti harapan yang dipaksakan untuk tetap hidup.

"Kalau kita pergi sekarang," katanya perlahan, "berarti kita pura-pura gak tahu apa-apa."

"Dan kalau kita tetap di sini?" Nisa menoleh, tatapannya tajam. "Kita mungkin terjebak lebih dalam."

Angin sore membawa gema takbir pertama dari surau. Masih pelan, seperti latihan yang belum sepenuhnya yakin. Suara itu menggetarkan udara, menyusup ke sela-sela perasaan mereka.

Aluna menutup mata sejenak. Dalam benaknya, dua dunia saling bertabrakan. Dunia rasional—pekerjaan, proyek, data, tanggung jawab profesional. Dan dunia yang tak bisa dijelaskan—tanah yang bergetar, suara yang memerintah mereka pergi, bayangan tanpa wajah di ujung jalan.

"Aku ngerasa..." Aluna berhenti, mencari kata yang tepat. "Seperti kita sengaja dibawa ke sini."

Nisa terdiam.

"Kita berlibur. Kebetulan proyek ada di sini. Kebetulan kita menemukan lubang pengeboran. Kebetulan warga mulai sakit." Aluna tersenyum tipis, getir. "Terlalu banyak kebetulan."

Suara takbir kedua terdengar, lebih lantang. Kali ini beberapa anak kecil ikut menirukan, suaranya tak beraturan tapi penuh semangat.

Nisa menatap jalan desa. "Lebaran itu tentang kembali. Tentang pulang." Ia menghela napas panjang. "Tapi kenapa rasanya kita justru makin jauh dari kata itu?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Sejak hari pertama mereka tiba, desa ini seperti memiliki caranya sendiri untuk menahan mereka. Ketika Nisa mengusulkan pulang, jalan utama tertutup longsor. Paling sialnya, mereka justru tiba tiba mendapatkan pekerjaan tambahan dikala liburan seperti ini. Setiap niat untuk pergi selalu dihadang sesuatu—hal kecil yang berubah menjadi alasan besar.

Seolah-olah desa ini belum selesai dengan mereka. Atau mungkin, sesuatu di bawah tanah itu belum selesai.

Langit kini sepenuhnya gelap. Lampu-lampu rumah menyala, dan takbir mulai menggema lebih jelas. Bedug dipukul bertalu-talu, menciptakan ritme yang seharusnya menggembirakan. Namun bagi Aluna, dentuman itu terasa seperti detak jantung raksasa yang tersembunyi di perut bumi.

"Apa kamu takut?" tanya Nisa tiba-tiba.

Aluna menatap sahabatnya. Dalam cahaya redup, wajah Nisa tampak lebih pucat dari biasanya. "Takut," jawabnya jujur. "Tapi bukan cuma karena yang kita lihat."

"Lalu?"

"Aku takut kalau kita pergi... sesuatu yang lebih buruk akan terjadi."

Nisa mengernyit. "Maksudmu?"

"Kalau proyek ini tetap jalan tanpa kita tahu kebenarannya. Kalau pengeboran itu diperbesar. Kalau tanah yang sudah retak itu benar-benar dibuka."

Angin berembus lebih kencang, membuat lampu hias bergetar. Untuk sesaat, Aluna merasa tanah di bawah kakinya berdenyut halus, seperti napas panjang yang tertahan.

Takbir kini menggema penuh. Suara laki-laki dewasa, anak-anak, dan beberapa perempuan bersatu, memuji dan memohon dalam satu irama. Desa yang selama ini terasa terdiam kini hidup oleh gema doa.

Namun di sela-sela takbir itu, Aluna mendengar sesuatu yang lain.

Sebuah suara rendah. Dalam. Seperti gesekan batu di bawah tanah.

Ia menoleh ke arah bukit yang hanya terlihat sebagai bayangan hitam di kejauhan. Entah kenapa, malam itu bukit tampak lebih tinggi. Lebih dekat.

"Kita gak bisa mutusin itu sekarang," Nisa berkata pelan, seolah membaca kegelisahan Aluna. "Malam ini... biarlah jadi malam ibadah. Besok pagi kita tentukan."

Aluna mengangguk pelan.

Mereka masuk ke dalam rumah ketika suara takbir semakin ramai. Susi sudah kembali, wajahnya lelah namun berusaha tersenyum. Ia menyapa mereka dengan hangat, seakan semua keganjilan yang terjadi hanyalah bagian dari cerita desa yang tak perlu dipertanyakan.

Di ruang tamu kecil, televisi menyiarkan siaran langsung takbir dari kota besar. Cahaya layar memantul di dinding kayu yang mulai lembap akibat bocor beberapa hari lalu.

Aluna duduk bersila, mendengarkan. Ia mencoba menenangkan pikirannya, mencoba memisahkan rasa takut dari tanggung jawab.

Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan lubang pengeboran itu muncul kembali. Tanah pucat. Bau menyengat. Dan suara yang memerintah mereka untuk pergi.

Apakah itu peringatan untuk menyelamatkan diri?

Atau ancaman jika mereka tetap tinggal?

Di luar, takbir mencapai puncaknya. Bedug dipukul keras, hampir tanpa jeda. Anak-anak menyalakan petasan kecil yang meledak singkat, menyisakan asap tipis.

Di tengah gema itu, Aluna tiba-tiba merasa sunyi. Sunyi yang aneh. Seperti ada ruang kosong di antara suara-suara itu. Seperti ada sesuatu yang tidak ikut merayakan.

Ia berdiri dan melangkah ke jendela. Dari sana, ia melihat beberapa warga berjalan menuju surau. Wajah mereka tampak biasa, bahkan bahagia.

Namun di ujung jalan, dekat pohon besar itu lagi, sosok tinggi tanpa wajah berdiri.

Diam.

Menghadap rumah mereka.

Tak bergerak meski takbir menggema keras.

Jantung Aluna berdegup kencang. Ia berkedip, berharap bayangan itu lenyap.

Tidak.

Sosok itu tetap ada.

Dan perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat tangannya—menunjuk ke arah bukit.

Takbir terus berkumandang.

Hari esok adalah hari Lebaran. Hari yang penuh kemenangan. Tapi, bagi Aluna dan Nisa, malam itu bukan tentang kemenangan atau perayaan. Melainkan tentang pilihan. Melanjutkan pekerjaan dan menggali lebih dalam, atau berhenti dan pulang sebelum semuanya terlambat.

Di antara gema doa dan bayangan yang tak terlihat orang lain, mereka tahu satu hal pasti ...

Apa pun keputusan yang mereka ambil besok pagi, desa ini tidak akan pernah sama lagi.

Other Stories
Test

Test ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Balon Kuning Di Ujung Jalan

Liburan ke rumah teman masa SD sangat menyenangkan apalagi diperkenalkan berbagai permaina ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Download Titik & Koma