Bagian 6 - Danau Kelimutu
Ponsel itu tergeletak di lantai kamar, layarnya retak seperti jaring laba-laba tipis yang membekukan cahaya pagi. Aluna masih berdiri kaku di depan jendela, napasnya belum kembali normal. Pantulan di kaca hanya menampilkan dirinya. Wajah pucat, mata membulat, rambut tergerai berantakan.
Tidak ada sosok tinggi berwarna gelap.
Tidak ada celah merah seperti bara.
Namun rasa dingin di tengkuknya belum hilang.
"Luna?" suara Nisa terdengar dari ambang pintu. "Kamu kenapa?"
Aluna menoleh cepat. "Kamu ... tadi lihat siapa pun masuk ke kamar?"
Nisa mengerutkan kening. "Siapa? Nggak ada. Aku cuma dari dapur. Kamu pucat banget."
Aluna memaksa tersenyum. "Cuma pusing." Ia membungkuk dan mengambil ponselnya. Retakan di layar membelah bayangannya menjadi dua. Dengan jari gemetar, ia membuka riwayat panggilan.
Kosong.
Tidak ada nama Raka.
Tidak ada panggilan masuk.
Tidak ada pesan aneh.
Semua tampak seperti hari biasa.
Namun ia yakin, dirinya mendengar suara itu. Aluna merasakan getarannya di telinga. Ia membaca pesan misterius itu.
"Kita jadi ke danau?" tanya Nisa hati-hati.
Aluna ingin menolak. Ingin mengunci diri di kamar sampai sore. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut, rasa penasaran yang menusuk.
"Ayo," katanya akhirnya.
***
Jalan menuju danau berupa tanah lembap yang membelah ilalang dan semak rendah. Udara pagi terasa lebih dingin dari seharusnya. Cerobong fasilitas panas bumi di kejauhan masih menghembuskan uap putih, membentuk bayangan panjang di lereng bukit.
Suara mesin terdengar samar, rendah dan konstan, seperti dengungan makhluk besar yang sedang tidur.
Sepupu Nisa, Damar, berjalan di depan. "Biasanya pagi gini bagus banget. Kabutnya tipis, airnya tenang."
Hari ini mereka ditemani Damar, abang pertama Susi. Susi tidak bisa ikut bersama, dikarenakan harus menjemput anaknya yang baru pulang dari rantau.
"Semalam ada gangguan ya di fasilitas?" tanya Aluna mencoba terdengar biasa.
Damar menoleh sekilas. "Iya. Katanya cuma tekanan berlebih. Tapi orang-orang desa agak resah."
"Kenapa?"
Damar tidak langsung menjawab. "Soalnya ini bukan pertama kali."
Aluna merasakan sesuatu menekan dadanya.
Mereka tiba di tepi danau.
Airnya kehijauan, memantulkan cahaya matahari seperti kaca buram. Permukaannya memang terlihat tenang, terlalu tenang. Tidak ada riak, tidak ada burung yang hinggap.
Sunyi.
Aluna merasakan hawa lembap menyentuh kulitnya. Dan di antara kabut tipis yang masih tersisa, ia melihat sesuatu. Jejak kaki. Menuju air. Ia melangkah mendekat.
Jejak itu jelas, seperti bekas telapak sepatu. Ukurannya besar, layaknya milik pria dewasa. "Dam, tadi pagi ada orang ke sini?" tanya Aluna.
Damar menggeleng. "Nggak. Aku baru bangun bareng kalian."
Jejak itu berhenti tepat di bibir air. Tidak ada jejak kembali.
Nisa ikut mendekat. "Mungkin nelayan?"
"Di danau kawah?" Damar terkekeh kecil. "Nggak ada ikan di sini."
Aluna menatap permukaan air. Ia menunggu sesuatu muncul. Apa pun. Tapi, yang ia lihat justru hanya bayangannya sendiri dan kabut yang bergerak sangat pelan di permukaan. Seketika, air itu bergetar. Sangat halus. Seperti seseorang baru saja menghembuskan napas dari bawahnya.
Aluna mundur satu langkah.
"Luna?" bisik Nisa.
Dari tengah danau, muncul lingkaran kecil. Riak tipis yang melebar perlahan.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Seolah ada banyak titik di bawah permukaan yang bergerak bersamaan.
Damar mencoba terdengar santai. "Mungkin tekanan gas."
Namun suaranya tidak setenang wajahnya.
Aluna merasakan ponselnya bergetar di saku. Ia tersentak. Dengan ragu, ia membukanya. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Namun layar menyala sendiri. Kamera aktif. Menampilkan pemandangan di depannya. Dan di layar itu —di tengah danau— ada sesuatu yang tidak terlihat dengan mata telanjang.
Sosok gelap berdiri setengah terendam.
Tinggi.
Diam.
Menghadap langsung ke arah mereka.
Aluna terdiam. Ia mengangkat pandangan dari layar ke danau. Tidak ada apa-apa. Ia menurunkan pandangan ke layar. Sosok itu masih ada. Dan perlahan ... kepalanya miring.
Seolah menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.
"Kenapa?" Nisa bertanya.
Aluna tidak menjawab. Tangan di layar kamera bergerak sedikit. Bukan tangannya. Di layar, terlihat bayangan tangan hitam muncul dari bawah air, menempel di permukaan seperti kaca.
Satu.
Dua.
Tiga.
Puluhan.
Aluna menjatuhkan ponselnya ke tanah.
"Luna!" Nisa panik.
Saat ponsel menyentuh tanah, layar mati. Permukaan danau kembali tenang. Riak menghilang. Kabut menipis. Tidak ada apa-apa di sana.
Damar memungut ponsel itu dan menyerahkannya kembali. "Kamu kenapa sih?"
Aluna sulit bernapas.
"Tadi ... ada sesuatu di air."
Nisa menggenggam tangannya. "Kita pulang aja, ya?"
Aluna mengangguk cepat.
Mereka berbalik meninggalkan danau.
Angin tiba-tiba berembus, membawa bau belerang yang lebih kuat dari sebelumnya. Namun saat berjalan menjauh, Aluna tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh sekali lagi.
Jejak kaki tadi ...
Sudah hilang.
Tanah di tepi danau kini rata, seolah tidak pernah diinjak siapa pun.
Tanpa mereka sadari, di tengah danau, tepat di bawah permukaan yang tampak tenang, gelembung kecil naik perlahan.
Satu.
Lalu banyak.
Dan dari dalam kehijauan itu, sesuatu bergerak. Bukan berenang. Bukan mengambang. Melainkan berdiri. Menunggu. Karena pagi hanyalah waktu ketika ia bersembunyi. Dan malam nanti, ia akan memanggil lagi.
Dan kali ini, mungkin bukan hanya Aluna yang mendengar.
Tidak ada sosok tinggi berwarna gelap.
Tidak ada celah merah seperti bara.
Namun rasa dingin di tengkuknya belum hilang.
"Luna?" suara Nisa terdengar dari ambang pintu. "Kamu kenapa?"
Aluna menoleh cepat. "Kamu ... tadi lihat siapa pun masuk ke kamar?"
Nisa mengerutkan kening. "Siapa? Nggak ada. Aku cuma dari dapur. Kamu pucat banget."
Aluna memaksa tersenyum. "Cuma pusing." Ia membungkuk dan mengambil ponselnya. Retakan di layar membelah bayangannya menjadi dua. Dengan jari gemetar, ia membuka riwayat panggilan.
Kosong.
Tidak ada nama Raka.
Tidak ada panggilan masuk.
Tidak ada pesan aneh.
Semua tampak seperti hari biasa.
Namun ia yakin, dirinya mendengar suara itu. Aluna merasakan getarannya di telinga. Ia membaca pesan misterius itu.
"Kita jadi ke danau?" tanya Nisa hati-hati.
Aluna ingin menolak. Ingin mengunci diri di kamar sampai sore. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut, rasa penasaran yang menusuk.
"Ayo," katanya akhirnya.
***
Jalan menuju danau berupa tanah lembap yang membelah ilalang dan semak rendah. Udara pagi terasa lebih dingin dari seharusnya. Cerobong fasilitas panas bumi di kejauhan masih menghembuskan uap putih, membentuk bayangan panjang di lereng bukit.
Suara mesin terdengar samar, rendah dan konstan, seperti dengungan makhluk besar yang sedang tidur.
Sepupu Nisa, Damar, berjalan di depan. "Biasanya pagi gini bagus banget. Kabutnya tipis, airnya tenang."
Hari ini mereka ditemani Damar, abang pertama Susi. Susi tidak bisa ikut bersama, dikarenakan harus menjemput anaknya yang baru pulang dari rantau.
"Semalam ada gangguan ya di fasilitas?" tanya Aluna mencoba terdengar biasa.
Damar menoleh sekilas. "Iya. Katanya cuma tekanan berlebih. Tapi orang-orang desa agak resah."
"Kenapa?"
Damar tidak langsung menjawab. "Soalnya ini bukan pertama kali."
Aluna merasakan sesuatu menekan dadanya.
Mereka tiba di tepi danau.
Airnya kehijauan, memantulkan cahaya matahari seperti kaca buram. Permukaannya memang terlihat tenang, terlalu tenang. Tidak ada riak, tidak ada burung yang hinggap.
Sunyi.
Aluna merasakan hawa lembap menyentuh kulitnya. Dan di antara kabut tipis yang masih tersisa, ia melihat sesuatu. Jejak kaki. Menuju air. Ia melangkah mendekat.
Jejak itu jelas, seperti bekas telapak sepatu. Ukurannya besar, layaknya milik pria dewasa. "Dam, tadi pagi ada orang ke sini?" tanya Aluna.
Damar menggeleng. "Nggak. Aku baru bangun bareng kalian."
Jejak itu berhenti tepat di bibir air. Tidak ada jejak kembali.
Nisa ikut mendekat. "Mungkin nelayan?"
"Di danau kawah?" Damar terkekeh kecil. "Nggak ada ikan di sini."
Aluna menatap permukaan air. Ia menunggu sesuatu muncul. Apa pun. Tapi, yang ia lihat justru hanya bayangannya sendiri dan kabut yang bergerak sangat pelan di permukaan. Seketika, air itu bergetar. Sangat halus. Seperti seseorang baru saja menghembuskan napas dari bawahnya.
Aluna mundur satu langkah.
"Luna?" bisik Nisa.
Dari tengah danau, muncul lingkaran kecil. Riak tipis yang melebar perlahan.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Seolah ada banyak titik di bawah permukaan yang bergerak bersamaan.
Damar mencoba terdengar santai. "Mungkin tekanan gas."
Namun suaranya tidak setenang wajahnya.
Aluna merasakan ponselnya bergetar di saku. Ia tersentak. Dengan ragu, ia membukanya. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Namun layar menyala sendiri. Kamera aktif. Menampilkan pemandangan di depannya. Dan di layar itu —di tengah danau— ada sesuatu yang tidak terlihat dengan mata telanjang.
Sosok gelap berdiri setengah terendam.
Tinggi.
Diam.
Menghadap langsung ke arah mereka.
Aluna terdiam. Ia mengangkat pandangan dari layar ke danau. Tidak ada apa-apa. Ia menurunkan pandangan ke layar. Sosok itu masih ada. Dan perlahan ... kepalanya miring.
Seolah menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.
"Kenapa?" Nisa bertanya.
Aluna tidak menjawab. Tangan di layar kamera bergerak sedikit. Bukan tangannya. Di layar, terlihat bayangan tangan hitam muncul dari bawah air, menempel di permukaan seperti kaca.
Satu.
Dua.
Tiga.
Puluhan.
Aluna menjatuhkan ponselnya ke tanah.
"Luna!" Nisa panik.
Saat ponsel menyentuh tanah, layar mati. Permukaan danau kembali tenang. Riak menghilang. Kabut menipis. Tidak ada apa-apa di sana.
Damar memungut ponsel itu dan menyerahkannya kembali. "Kamu kenapa sih?"
Aluna sulit bernapas.
"Tadi ... ada sesuatu di air."
Nisa menggenggam tangannya. "Kita pulang aja, ya?"
Aluna mengangguk cepat.
Mereka berbalik meninggalkan danau.
Angin tiba-tiba berembus, membawa bau belerang yang lebih kuat dari sebelumnya. Namun saat berjalan menjauh, Aluna tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh sekali lagi.
Jejak kaki tadi ...
Sudah hilang.
Tanah di tepi danau kini rata, seolah tidak pernah diinjak siapa pun.
Tanpa mereka sadari, di tengah danau, tepat di bawah permukaan yang tampak tenang, gelembung kecil naik perlahan.
Satu.
Lalu banyak.
Dan dari dalam kehijauan itu, sesuatu bergerak. Bukan berenang. Bukan mengambang. Melainkan berdiri. Menunggu. Karena pagi hanyalah waktu ketika ia bersembunyi. Dan malam nanti, ia akan memanggil lagi.
Dan kali ini, mungkin bukan hanya Aluna yang mendengar.
Other Stories
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Loren Ipsum
test ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...