Bagian 7 - Luka
Pagi itu, hujan turun tanpa suara.
Tidak deras. Tidak disertai angin kencang. Hanya rintik halus yang jatuh sejak dini hari, membasahi atap-atap rumah di desa itu dengan irama pelan dan monoton.
Aluna terbangun karena suara hujan yang tidak beraturan.
Awalnya, ia mengira hanya tetesan biasa. Namun suara itu tidak berhenti. Bahkan, terasa semakin dekat. Ia membuka mata perlahan. Kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya kelabu dari balik jendela.
Tik...
Tik...
Tik...
Aluna duduk.
Di sudut kamar, tepat di bawah sambungan kayu atap, air menetes ke lantai. Bukan banyak, hanya satu titik kecil yang terus jatuh, membentuk genangan seukuran telapak tangan.
"Nis..." bisiknya.
Nisa menggeliat di kasur sebelah. "Hmm?"
"Gentengnya bocor."
Nisa membuka mata setengah sadar. "Serius?"
Sebelum Aluna sempat menjawab, terdengar suara langkah tergesa dari luar kamar. Pintu diketuk pelan.
"Maaf ya, Nak," suara Susi terdengar dari luar. "Kayaknya atapnya bocor lagi."
"Lagi?" ulang Nisa sambil bangun.
Mereka membuka pintu. Susi berdiri dengan ember plastik di tangan, wajahnya terlihat lelah.
"Sejak dua minggu ini sering begitu," katanya. "Padahal sebelumnya nggak pernah."
Ia meletakkan ember tepat di bawah tetesan. Air jatuh dengan suara lebih nyaring sekarang.
Plok...
Plok...
Plok...
Aluna memperhatikan air itu. Warnanya sedikit keruh. Bukan bening sepenuhnya.
"Aneh ya, Bu. Padahal hujannya nggak deras," ujar Nisa.
Susi mengangguk pelan. "Iya. Gentengnya kayak rapuh tiba-tiba. Beberapa rumah juga sama."
Aluna teringat cerobong fasilitas panas bumi di lereng bukit. Sejak mereka datang, uap putih itu tampak lebih tebal. Apakah hujannya keruh akibat proyek tersebut? Atau ... penjaga desa yang mulai perlahan-lahan manmpakkan kemarahannya? Tidak ada yang tahu.
"Airnya dari mana ya, Bu?" tanya Aluna tanpa sadar.
Susi tersenyum tipis. "Ya dari hujan, Nak."
Namun senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
Menjelang siang, hujan tak kunjung berhenti. Udara terasa lembap dan lengket. Bau belerang samar tercium lebih jelas daripada hari-hari sebelumnya. Di halaman rumah, beberapa warga berkumpul. Ada yang membawa tangga, ada yang memeriksa genteng satu per satu.
"Rumah saya juga bocor," keluh seorang ibu. "Padahal baru diganti tahun lalu."
"Di rumah saya malah plafonnya lembek," sahut yang lain.
Aluna dan Nisa berdiri di teras, mengamati.
Damar menunjuk ke arah atap. "Lihat tuh. Kayak ada bagian yang menghitam."
Aluna menyipitkan mata. Beberapa genteng memang tampak lebih gelap, seperti terlapisi sesuatu.
"Debu dari fasilitas mungkin," gumam Damar. "Kalau angin ke arah sini, uapnya suka turun."
Aluna menelan ludah.
Ia tidak tahu kenapa, tapi sejak melihat sosok di danau, semua hal kecil terasa terhubung.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari sudah memasuki sore. Susi yang berada di ruang tengah mengeluh gatal di tangannya.
"Kayak digigit semut," katanya sambil menggaruk pergelangan tangan. Kulitnya memerah.
"Alergi, kali,” kata Nisa mencoba berpikir positif.
Namun keesokan harinya, bukan hanya Susi. Seorang anak kecil di ujung jalan terlihat menggaruk lehernya terus-menerus. Seorang bapak tua memperlihatkan bercak kemerahan di betisnya.
"Air sumur keruh sejak kemarin," kata seorang warga. "Biasanya jernih."
"Air hujan juga beda baunya," sahut yang lain.
Aluna berdiri di dekat sumur umum bersama Nisa. Beberapa warga menimba air dengan wajah ragu. Air di ember tampak sedikit kehijauan, bkan pekat. Namun, hal itu cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali.
"Ini nggak biasa," bisik Nisa.
Aluna mengangguk.
Ia teringat genangan air dari atap kamar mereka. Air yang sedikit keruh. Tanpa sadar, ia menatap tangannya sendiri. Ada bintik kecil kemerahan di punggung tangan kirinya. Kapan munculnya? Ia tidak ingat.
Hingga malam pun tiba, suara garukan semakin terdengar dari berbagai rumah. Bukan keras. Namun, cukup sering untuk disadari.
Aluna terbaring di kasur, sulit tidur. Dari kamar sebelah, ia mendengar Susi mengaduh pelan.
"Panas... perih..."
Nisa menoleh ke arah Aluna dalam gelap. "Kamu dengar?"
"Iya."
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ember dijatuhkan.
Lalu, langkah tergesa.
Aluna dan Nisa saling pandang sebelum bangkit dan membuka pintu.
Di ruang tengah, Susi duduk di kursi kayu, menatap lengannya dengan wajah ngeri.
Kulit di sekitar pergelangan tangannya tampak lebih merah dari tadi siang. Bahkan ada bagian yang seperti melepuh kecil.
"Bu!" Nisa mendekat. "Ini harus ke puskesmas."
Susi menggeleng pelan. "Tadi siang udah ke sana. Banyak yang datang juga. Katanya mungkin iritasi karena cuaca."
"Cuaca?" ulang Aluna.
Susi menatap kosong. "Katanya begitu," ucapnya. Namun, ekspresi Susi mengatakan hal lain.
Di luar, angin berembus membawa suara samar dari arah fasilitas panas bumi.
Seperti, dengungan rendah yang lebih berat dari biasanya. Aluna mencoba berjalan ke arah jendela. Dari kejauhan, uap yang keluar dari cerobong tampak lebih pekat, berwarna sedikit keabu-abuan. Langit malam di atasnya terlihat seperti bergetar tipis.
Ia merasakan rasa tidak nyaman yang sama seperti saat berdiri di tepi danau. Seolah ada sesuatu yang perlahan merembes. Bukan hanya melalui tanah, tapi melalui udara, melalui air, hingga melalui atap rumah.
Di pagi berikutnya, kabar itu menyebar begitu cepat. Tiga rumah lain mengalami bocor lebih parah. Beberapa warga mulai mengeluh pusing dan mual ringan. Dan bercak merah di kulit semakin banyak terlihat.
Di warung kecil, orang-orang mulai berbisik.
"Katanya semenjak warga yang hilang, desa mulai aneh ..."
"Jangan ngomong sembarangan."
"Tapi kebetulan banget, kan?"
Aluna dan Nisa duduk diam mendengarkan.
Sembari mendengarkan, Aluna merasakan gatal halus di lehernya. Ia menyentuh pelan. Kulitnya terasa sedikit kasar.
Nisa memperhatikan. "Kamu juga?"
Aluna mengangguk kecil.
Rasa takut merambat perlahan. Bukan ketakutan yang tiba-tiba seperti melihat sosok di air. Melainkan, ketakutan yang tenang, yang tumbuh sedikit demi sedikit. Seperti tetesan air dari atap.
Pelan.
Konsisten.
Tak terhindarkan.
Pagi sampai menjelang siang pun hujan kembali turun lagi. Dan dari langit kelabu, air jatuh membasahi desa yang mulai resah. Di bawah atap-atap yang rapuh, tetesan kembali terdengar.
Tik...
Tik...
Tik...
Seolah ada sesuatu di atas sana yang sedang mencari celah. Dan setiap tetes yang jatuh, membawa sesuatu yang tidak terlihat. Namun perlahan terasa, di kulit, di napas dan di desa yang mulai berubah.
Tidak deras. Tidak disertai angin kencang. Hanya rintik halus yang jatuh sejak dini hari, membasahi atap-atap rumah di desa itu dengan irama pelan dan monoton.
Aluna terbangun karena suara hujan yang tidak beraturan.
Awalnya, ia mengira hanya tetesan biasa. Namun suara itu tidak berhenti. Bahkan, terasa semakin dekat. Ia membuka mata perlahan. Kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya kelabu dari balik jendela.
Tik...
Tik...
Tik...
Aluna duduk.
Di sudut kamar, tepat di bawah sambungan kayu atap, air menetes ke lantai. Bukan banyak, hanya satu titik kecil yang terus jatuh, membentuk genangan seukuran telapak tangan.
"Nis..." bisiknya.
Nisa menggeliat di kasur sebelah. "Hmm?"
"Gentengnya bocor."
Nisa membuka mata setengah sadar. "Serius?"
Sebelum Aluna sempat menjawab, terdengar suara langkah tergesa dari luar kamar. Pintu diketuk pelan.
"Maaf ya, Nak," suara Susi terdengar dari luar. "Kayaknya atapnya bocor lagi."
"Lagi?" ulang Nisa sambil bangun.
Mereka membuka pintu. Susi berdiri dengan ember plastik di tangan, wajahnya terlihat lelah.
"Sejak dua minggu ini sering begitu," katanya. "Padahal sebelumnya nggak pernah."
Ia meletakkan ember tepat di bawah tetesan. Air jatuh dengan suara lebih nyaring sekarang.
Plok...
Plok...
Plok...
Aluna memperhatikan air itu. Warnanya sedikit keruh. Bukan bening sepenuhnya.
"Aneh ya, Bu. Padahal hujannya nggak deras," ujar Nisa.
Susi mengangguk pelan. "Iya. Gentengnya kayak rapuh tiba-tiba. Beberapa rumah juga sama."
Aluna teringat cerobong fasilitas panas bumi di lereng bukit. Sejak mereka datang, uap putih itu tampak lebih tebal. Apakah hujannya keruh akibat proyek tersebut? Atau ... penjaga desa yang mulai perlahan-lahan manmpakkan kemarahannya? Tidak ada yang tahu.
"Airnya dari mana ya, Bu?" tanya Aluna tanpa sadar.
Susi tersenyum tipis. "Ya dari hujan, Nak."
Namun senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
Menjelang siang, hujan tak kunjung berhenti. Udara terasa lembap dan lengket. Bau belerang samar tercium lebih jelas daripada hari-hari sebelumnya. Di halaman rumah, beberapa warga berkumpul. Ada yang membawa tangga, ada yang memeriksa genteng satu per satu.
"Rumah saya juga bocor," keluh seorang ibu. "Padahal baru diganti tahun lalu."
"Di rumah saya malah plafonnya lembek," sahut yang lain.
Aluna dan Nisa berdiri di teras, mengamati.
Damar menunjuk ke arah atap. "Lihat tuh. Kayak ada bagian yang menghitam."
Aluna menyipitkan mata. Beberapa genteng memang tampak lebih gelap, seperti terlapisi sesuatu.
"Debu dari fasilitas mungkin," gumam Damar. "Kalau angin ke arah sini, uapnya suka turun."
Aluna menelan ludah.
Ia tidak tahu kenapa, tapi sejak melihat sosok di danau, semua hal kecil terasa terhubung.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari sudah memasuki sore. Susi yang berada di ruang tengah mengeluh gatal di tangannya.
"Kayak digigit semut," katanya sambil menggaruk pergelangan tangan. Kulitnya memerah.
"Alergi, kali,” kata Nisa mencoba berpikir positif.
Namun keesokan harinya, bukan hanya Susi. Seorang anak kecil di ujung jalan terlihat menggaruk lehernya terus-menerus. Seorang bapak tua memperlihatkan bercak kemerahan di betisnya.
"Air sumur keruh sejak kemarin," kata seorang warga. "Biasanya jernih."
"Air hujan juga beda baunya," sahut yang lain.
Aluna berdiri di dekat sumur umum bersama Nisa. Beberapa warga menimba air dengan wajah ragu. Air di ember tampak sedikit kehijauan, bkan pekat. Namun, hal itu cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali.
"Ini nggak biasa," bisik Nisa.
Aluna mengangguk.
Ia teringat genangan air dari atap kamar mereka. Air yang sedikit keruh. Tanpa sadar, ia menatap tangannya sendiri. Ada bintik kecil kemerahan di punggung tangan kirinya. Kapan munculnya? Ia tidak ingat.
Hingga malam pun tiba, suara garukan semakin terdengar dari berbagai rumah. Bukan keras. Namun, cukup sering untuk disadari.
Aluna terbaring di kasur, sulit tidur. Dari kamar sebelah, ia mendengar Susi mengaduh pelan.
"Panas... perih..."
Nisa menoleh ke arah Aluna dalam gelap. "Kamu dengar?"
"Iya."
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ember dijatuhkan.
Lalu, langkah tergesa.
Aluna dan Nisa saling pandang sebelum bangkit dan membuka pintu.
Di ruang tengah, Susi duduk di kursi kayu, menatap lengannya dengan wajah ngeri.
Kulit di sekitar pergelangan tangannya tampak lebih merah dari tadi siang. Bahkan ada bagian yang seperti melepuh kecil.
"Bu!" Nisa mendekat. "Ini harus ke puskesmas."
Susi menggeleng pelan. "Tadi siang udah ke sana. Banyak yang datang juga. Katanya mungkin iritasi karena cuaca."
"Cuaca?" ulang Aluna.
Susi menatap kosong. "Katanya begitu," ucapnya. Namun, ekspresi Susi mengatakan hal lain.
Di luar, angin berembus membawa suara samar dari arah fasilitas panas bumi.
Seperti, dengungan rendah yang lebih berat dari biasanya. Aluna mencoba berjalan ke arah jendela. Dari kejauhan, uap yang keluar dari cerobong tampak lebih pekat, berwarna sedikit keabu-abuan. Langit malam di atasnya terlihat seperti bergetar tipis.
Ia merasakan rasa tidak nyaman yang sama seperti saat berdiri di tepi danau. Seolah ada sesuatu yang perlahan merembes. Bukan hanya melalui tanah, tapi melalui udara, melalui air, hingga melalui atap rumah.
Di pagi berikutnya, kabar itu menyebar begitu cepat. Tiga rumah lain mengalami bocor lebih parah. Beberapa warga mulai mengeluh pusing dan mual ringan. Dan bercak merah di kulit semakin banyak terlihat.
Di warung kecil, orang-orang mulai berbisik.
"Katanya semenjak warga yang hilang, desa mulai aneh ..."
"Jangan ngomong sembarangan."
"Tapi kebetulan banget, kan?"
Aluna dan Nisa duduk diam mendengarkan.
Sembari mendengarkan, Aluna merasakan gatal halus di lehernya. Ia menyentuh pelan. Kulitnya terasa sedikit kasar.
Nisa memperhatikan. "Kamu juga?"
Aluna mengangguk kecil.
Rasa takut merambat perlahan. Bukan ketakutan yang tiba-tiba seperti melihat sosok di air. Melainkan, ketakutan yang tenang, yang tumbuh sedikit demi sedikit. Seperti tetesan air dari atap.
Pelan.
Konsisten.
Tak terhindarkan.
Pagi sampai menjelang siang pun hujan kembali turun lagi. Dan dari langit kelabu, air jatuh membasahi desa yang mulai resah. Di bawah atap-atap yang rapuh, tetesan kembali terdengar.
Tik...
Tik...
Tik...
Seolah ada sesuatu di atas sana yang sedang mencari celah. Dan setiap tetes yang jatuh, membawa sesuatu yang tidak terlihat. Namun perlahan terasa, di kulit, di napas dan di desa yang mulai berubah.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Hompimpa Alaium Gambreng!
Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Loren Ipsum
test ...