F. Kosong
-BUM BUM BUM
Suara bass yang menghentak seolah menggetarkan udara di dalam ruang tertutup itu. Lampu- lampu beraneka warna dan sorot laser berkelebatan, saling menyilang.. Puluhan manusia menyemut, memadati lantai tengah ruangan sambil bergoyang mengikuti ritme trance music yang menghipnotis.
Asap rokok mengepul membuat bayang- bayang putih. Dengan pekat aroma alkohol menguar.
Yatra duduk di sofa yang ada di sudut. Matanya lekat menatap layar ponsel, tengah melakukan transaksi dengab mobile banking nya.
Dan dengan sebuah klik, ia pun menyelesaikannya.
Yatra baru saja mengirim sejumlah uang untuk ibu di desa.
Ia menyandar punggung pada sofa itu, mengisap dalam rokok yang terselip di bibir. Matanya masih tak berpindah dari layar ponsel— kali ini membuka Outlook.
12 unread messages.
"Ah bangsat," Yatra bergumam sambil mematikan layar. "Padahal dari pagi tadi aku minta, tapi bisa- bisanya mereka ngirim attachment di tengah malam begini."
Yatra memasukkan ponselnya lagi ke saku kemeja.
"Taik," Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. "TAIK!!!"
Yatra memijit dahinya, mengembus asap putih panjang dari mulut. Matanya menerawang menatap langit- langit ruangan yang dipenuhi lekuk pipa kabel khas desain industrial.
Musik yang sama.
Tempat yang sama.
Waktu yang sama.
Ini adalah tahun keduanya di Surabaya. Tahun keduanya bekerja sebagai analis di perusahaan finance itu.
Rutinitas yang monoton. Ekspektasi yang terus meningkat. Situasi hectic yang rasanya tak pernah berhenti.
Memang gaji dan bonus yang ia dapatkan tidak bisa dibilang kecil. Tabungannya sudah sangat lebih dari cukup. Teman- temannya di desa pun sering berkomentar 'wih, sudah sukses sekarang." saat Yatra memposting sesuatu.
Bisa dibilang saat ini Yatra berada di posisi yang ia cita- citakan dulu.
Masa depan yang lebih pasti.
Masa depan yang lebih aman.
Tapi dengan harga mahal yang barus ia bayar.
Semuanya seolah berputar membentuk pusaran yang tak berujung. Menguras semua energi dan pikirannya. Perlahan mengisap kehidupan di diri Yatra.
Kini Yatra terlihat sedikit lebih kurus— walau masih tetap saja tone muscle nya masih mampu membuat perempuan refleks melirik.
Tapi ternyata semua tak berjalan semulus yang ia kira.
Yatra merasa ada sesuatu yang kosong di balik semua ini.
Angka- angka yang terus bertambah.
Email baru yang tak pernah selesai terbaca.
Klien baru.
Resiko baru.
Sebenarnya, apalagi yang ia kejar?
"Yatra," suara lembut memanggil namanya.
Nitya, berjalan dari arah lantai tengah menuju ke arahnya dengan sebotol kecil bir di tangan. Rambut bob nya bergoyang saat ia melangkah. Blouse ketat, dan rok pendek selutut yang membalut kaki jenjangnya.
Nitya terlihat cantik bahkan saat memakai outfit kantor simple nya.
"Aku cariin kamu ke mana- mana, kenapa diem aja di sini?" Nitya duduk di sebelah Yatra. Ia menunjuk ke arah lantai. "Tuh Santi, Riski sama Bayu pada turun. Asyik deh, musiknya pas banget."
Yatra hanya mendenguskan asap tembakau dari hidung.
"Ayok, turun yuk?" Nitya mengangguk mengajak Yatra. "Sama aku deh di sana."
Yatra tak menjawab, dan hanya menggeleng sambil mengisap rokok. "Males ah. Capek banget."
Nitya menyipitkan matanya. "Kamu kenapa Yatra?"
"Kenapa kenapa?" Yatra menoleh bingung. "Nggak ada kok— capek."
Nitya menghela nafas melihat Yatra yang nampak tak bersemangat. Ia menyibak rambut ke belakang telinga, meletakkan botol bir ke meja. "Kamu bosen banget ya?"
"Mungkin."
"Keluar aja yuk. Cari udara seger?" Nitya mengusap siku kemeja yang tergulung, merasai lekuk lengan Yatra dengan jarinya. Ia memiringkan kepala, mengedipkan mata.
"Atau mau ke men's room sama aku?"
"..." Yatra tak menjawab.
Membuat Nitya mulai sebal dengan sikap dingin Yatra. Ia mencabut rokok di bibir lelaki itu —menarik perhatiannya, dan memadamkannya dalam botol bir yang tinggal seperempat.
"Kamu kenapa sih Yatra? Beneran, beda banget loh."
"Beda apanya?" Yatra nampak terganggu karena Nitya merusak momen tenangnya. "Aku ya masih gini- ini. Kayak biasanya."
"Nggak," Nitya menggeleng. "Kamu biasanya tuh nggak kayak gini. Kamu biasanya tuh ketata, cak-cek, fokus gitu loh. Akhir- akhir ini kamu tuh nggak semangat."
"Perasaanmu aja kali."
"Yatra," Nitya menyipitkan mata. "Di kantor tuh aku duduk di sebelah kamu tiap hari, selama dua tahun. Jangan bilang aku nggak ngerti kamu kayak gimana."
"..."
Yatra terdiam memperhatikan wajah Nitya. Di dalam gelap ruangan, dengan lampu- lampu flash yang menyala mati. Rambut bob Nitya membuat wajahnya seperti terekspos— dengan kontur wajah yang berpendar.
"Turun sama aku yuk?" tawar Nitya lembut.
"Kan udah kubilang aku males?" Yatra menggeleng. Satu tangannya terangkat pelan, menahan belakang leher Nitya.
Lalu Yatra mendekatkan wajahnya.
"Yatr—"
Suara bass yang menghentak seolah menggetarkan udara di dalam ruang tertutup itu. Lampu- lampu beraneka warna dan sorot laser berkelebatan, saling menyilang.. Puluhan manusia menyemut, memadati lantai tengah ruangan sambil bergoyang mengikuti ritme trance music yang menghipnotis.
Asap rokok mengepul membuat bayang- bayang putih. Dengan pekat aroma alkohol menguar.
Yatra duduk di sofa yang ada di sudut. Matanya lekat menatap layar ponsel, tengah melakukan transaksi dengab mobile banking nya.
Dan dengan sebuah klik, ia pun menyelesaikannya.
Yatra baru saja mengirim sejumlah uang untuk ibu di desa.
Ia menyandar punggung pada sofa itu, mengisap dalam rokok yang terselip di bibir. Matanya masih tak berpindah dari layar ponsel— kali ini membuka Outlook.
12 unread messages.
"Ah bangsat," Yatra bergumam sambil mematikan layar. "Padahal dari pagi tadi aku minta, tapi bisa- bisanya mereka ngirim attachment di tengah malam begini."
Yatra memasukkan ponselnya lagi ke saku kemeja.
"Taik," Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. "TAIK!!!"
Yatra memijit dahinya, mengembus asap putih panjang dari mulut. Matanya menerawang menatap langit- langit ruangan yang dipenuhi lekuk pipa kabel khas desain industrial.
Musik yang sama.
Tempat yang sama.
Waktu yang sama.
Ini adalah tahun keduanya di Surabaya. Tahun keduanya bekerja sebagai analis di perusahaan finance itu.
Rutinitas yang monoton. Ekspektasi yang terus meningkat. Situasi hectic yang rasanya tak pernah berhenti.
Memang gaji dan bonus yang ia dapatkan tidak bisa dibilang kecil. Tabungannya sudah sangat lebih dari cukup. Teman- temannya di desa pun sering berkomentar 'wih, sudah sukses sekarang." saat Yatra memposting sesuatu.
Bisa dibilang saat ini Yatra berada di posisi yang ia cita- citakan dulu.
Masa depan yang lebih pasti.
Masa depan yang lebih aman.
Tapi dengan harga mahal yang barus ia bayar.
Semuanya seolah berputar membentuk pusaran yang tak berujung. Menguras semua energi dan pikirannya. Perlahan mengisap kehidupan di diri Yatra.
Kini Yatra terlihat sedikit lebih kurus— walau masih tetap saja tone muscle nya masih mampu membuat perempuan refleks melirik.
Tapi ternyata semua tak berjalan semulus yang ia kira.
Yatra merasa ada sesuatu yang kosong di balik semua ini.
Angka- angka yang terus bertambah.
Email baru yang tak pernah selesai terbaca.
Klien baru.
Resiko baru.
Sebenarnya, apalagi yang ia kejar?
"Yatra," suara lembut memanggil namanya.
Nitya, berjalan dari arah lantai tengah menuju ke arahnya dengan sebotol kecil bir di tangan. Rambut bob nya bergoyang saat ia melangkah. Blouse ketat, dan rok pendek selutut yang membalut kaki jenjangnya.
Nitya terlihat cantik bahkan saat memakai outfit kantor simple nya.
"Aku cariin kamu ke mana- mana, kenapa diem aja di sini?" Nitya duduk di sebelah Yatra. Ia menunjuk ke arah lantai. "Tuh Santi, Riski sama Bayu pada turun. Asyik deh, musiknya pas banget."
Yatra hanya mendenguskan asap tembakau dari hidung.
"Ayok, turun yuk?" Nitya mengangguk mengajak Yatra. "Sama aku deh di sana."
Yatra tak menjawab, dan hanya menggeleng sambil mengisap rokok. "Males ah. Capek banget."
Nitya menyipitkan matanya. "Kamu kenapa Yatra?"
"Kenapa kenapa?" Yatra menoleh bingung. "Nggak ada kok— capek."
Nitya menghela nafas melihat Yatra yang nampak tak bersemangat. Ia menyibak rambut ke belakang telinga, meletakkan botol bir ke meja. "Kamu bosen banget ya?"
"Mungkin."
"Keluar aja yuk. Cari udara seger?" Nitya mengusap siku kemeja yang tergulung, merasai lekuk lengan Yatra dengan jarinya. Ia memiringkan kepala, mengedipkan mata.
"Atau mau ke men's room sama aku?"
"..." Yatra tak menjawab.
Membuat Nitya mulai sebal dengan sikap dingin Yatra. Ia mencabut rokok di bibir lelaki itu —menarik perhatiannya, dan memadamkannya dalam botol bir yang tinggal seperempat.
"Kamu kenapa sih Yatra? Beneran, beda banget loh."
"Beda apanya?" Yatra nampak terganggu karena Nitya merusak momen tenangnya. "Aku ya masih gini- ini. Kayak biasanya."
"Nggak," Nitya menggeleng. "Kamu biasanya tuh nggak kayak gini. Kamu biasanya tuh ketata, cak-cek, fokus gitu loh. Akhir- akhir ini kamu tuh nggak semangat."
"Perasaanmu aja kali."
"Yatra," Nitya menyipitkan mata. "Di kantor tuh aku duduk di sebelah kamu tiap hari, selama dua tahun. Jangan bilang aku nggak ngerti kamu kayak gimana."
"..."
Yatra terdiam memperhatikan wajah Nitya. Di dalam gelap ruangan, dengan lampu- lampu flash yang menyala mati. Rambut bob Nitya membuat wajahnya seperti terekspos— dengan kontur wajah yang berpendar.
"Turun sama aku yuk?" tawar Nitya lembut.
"Kan udah kubilang aku males?" Yatra menggeleng. Satu tangannya terangkat pelan, menahan belakang leher Nitya.
Lalu Yatra mendekatkan wajahnya.
"Yatr—"
Other Stories
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...