4. Mimpi Buruk
-BRUUUUUUM!!!
Sebuah GTR-R35 Nismo melaju kencang membelah jalanan lengang Singapore menjelang dini hari. Jalanan telah begitu sepi, dengan tiang lampu- lampu kuning berkelebatan di belakang.
Raungan mesin V6 nya menggema memecah sunyi malam. Mobil itu melesat begitu kencang berkat mesin berkapasitas 3.800cc nya.
"Barry, pelan- pelan Sayang," Nadine berseru di tengah raungan mesin dalam kabin. Tangannya mencengkeram seatbelt karena gugup.
"Woooohoooo!!" Barrack berteriak kencang merasakan adrenaline nya terpompa. Suara twin turbo yang melengking seolah menantang Barrack untuk melesatkan mobilnya lebih kencang lagi.
"Barry!" pekik Nadine meninggi. "Aku takut!!"
Barrack yang mendengar suara gemetar Nadine pun segera menurutinya. Sedan sport itu pun melambat hingga kecepatan normal.
"Sorry Nad. Sekali- sekali boleh dong geber sampai redline?"
"Tapi kamu habis minum," Nadine mengingatkan. "Itu saja sudah cukup membuatmu kehilangan SIM."
"Baiklah," Barrack mendengus. Aroma alkohol pekat menguar dari nafasnya. Ia melirik ke arah Nadine yang duduk di samping kirinya.
Gadis itu nampak begitu cantik mengenakan gaun malam berwarna merah terang dengan belahan tinggi, memperlihatkan kaki jenjangnya.
Nadine dan Barrack baru saja pulang dari private party di sebuah klub malam— untuk merayakan hari ulang tahun Barrack yang ke 34.
Sebuah pesta yang wild; musik menghentak, freeflow alkohol dan kegilaan lainnya.
"Kamu kelihatan yummy, kayak ceri Nad," Barrack tersenyum, menjilati bibir. "Aku nggak sabar buat makan kamu."
Nadine menghela nafas. "Barry, ayolah. Aku sudah bilang jauh- jauh hari kan? Aku harus pulang malam ini. Besok jam sepuluh aku ada session."
Barrack mengoper perseneling Nissannya. "Jadi, malam ini nggak ada?"
Nadine menggeleng pelan. "Besok adalah puncak kontrak modelku. Aku harus tampil prima. Aku perlu istirahat."
Barrack menggertakkan rahangnya, memukul kemudinya. "Bangsat!"
Nadine terdiam memperhatikan raut wajah Barrack yang nampak sebal. Gadis itu paham, sebab malam ini adalah ulang tahunnya— Barrack selalu menginginkan hubungan penuh passion di momen itu.
Namun kali ini Nadine terpaksa menolak dengan alasan profesionalitas kerja.
Nadine tak mungkin meminta desainernya untuk merubah jadwal sesi catwalk hanya karena pacarnya ulang tahun kan?
"Maaf ya Barry," Nadine mengusap lembut lengan Barrack yang berotot.
Nissan itu melaju sedikit kencang, melesat melewati jalanan lurus panjang.
"Kalau begitu, cium aku," pinta Barrack tiba- tiba.
"Apa?" Nadine mengernyit. "Kamu jangan aneh- aneh."
"Kalau kamu nggak mau malam ini, setidaknya beri aku ciuman Nad," Barrack melirik ke arah pacarnya. "Ciuman yang bikin aku leleh."
"Barrack," Nadine menggeleng. "Kamu sedang menyetir."
Barrack memaksa. "Ayolah. Sebentar saja, ini ulang tahunku."
Nadine berpikir beberapa saat, lalu menggeser tubuhnya mendekat. Tangannya melingkar di leher Barrack dengan tubuh menumpu. "Kamu kayak anak kecil."
Barrack tersenyum, menatap bibir Nadine yang merekah.
Dan tak menyadari laju mobil sport nya sedikit bergeser ke arah tepi jalan raya.
-----
"AAAAHHHH!!!" Nadine tersentak membuka matanya.
Dahinya berkeringat. Nafasnya terengah.
Ia terbaring di atas ranjang beberapa lama, menatap langit- langit kayu yang asing.
Tidak. Bahkan seluruh ruangan ini pun asing baginya.
Oh iya.
Saat ini ia sedang berada di sebuah villa di Lombok.
Nadine terduduk di ranjang memeluk lutut. Tangannya gemetaran meraih botol tumbler minumnya. Dengan jantung yang masih berdegup tak karuan, ia meminum airnya dengan tegukan besar.
Lalu Nadine beranjak turun dari ranjang, dengan hanya mengenakan kaos ketat dan panty berenda. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Langit di luar jendela mulai berwarna ungu gelap. Bahkan lampu- lampu teras villa telah menyala. Nampaknya Nadine tertidur sejak kedatangannya tadi hingga matahari hampir tenggelam.
Nadine baru saja selesai mengeringkan wajahnya dengan handuk kering, tepat ketika sebuah suara ketukan terdengar di pintu villa nya.
"Ya?" tanya Nadine.
"Mbak Nadine?" panggil suara dari luar. "Ini Raka."
Sebuah GTR-R35 Nismo melaju kencang membelah jalanan lengang Singapore menjelang dini hari. Jalanan telah begitu sepi, dengan tiang lampu- lampu kuning berkelebatan di belakang.
Raungan mesin V6 nya menggema memecah sunyi malam. Mobil itu melesat begitu kencang berkat mesin berkapasitas 3.800cc nya.
"Barry, pelan- pelan Sayang," Nadine berseru di tengah raungan mesin dalam kabin. Tangannya mencengkeram seatbelt karena gugup.
"Woooohoooo!!" Barrack berteriak kencang merasakan adrenaline nya terpompa. Suara twin turbo yang melengking seolah menantang Barrack untuk melesatkan mobilnya lebih kencang lagi.
"Barry!" pekik Nadine meninggi. "Aku takut!!"
Barrack yang mendengar suara gemetar Nadine pun segera menurutinya. Sedan sport itu pun melambat hingga kecepatan normal.
"Sorry Nad. Sekali- sekali boleh dong geber sampai redline?"
"Tapi kamu habis minum," Nadine mengingatkan. "Itu saja sudah cukup membuatmu kehilangan SIM."
"Baiklah," Barrack mendengus. Aroma alkohol pekat menguar dari nafasnya. Ia melirik ke arah Nadine yang duduk di samping kirinya.
Gadis itu nampak begitu cantik mengenakan gaun malam berwarna merah terang dengan belahan tinggi, memperlihatkan kaki jenjangnya.
Nadine dan Barrack baru saja pulang dari private party di sebuah klub malam— untuk merayakan hari ulang tahun Barrack yang ke 34.
Sebuah pesta yang wild; musik menghentak, freeflow alkohol dan kegilaan lainnya.
"Kamu kelihatan yummy, kayak ceri Nad," Barrack tersenyum, menjilati bibir. "Aku nggak sabar buat makan kamu."
Nadine menghela nafas. "Barry, ayolah. Aku sudah bilang jauh- jauh hari kan? Aku harus pulang malam ini. Besok jam sepuluh aku ada session."
Barrack mengoper perseneling Nissannya. "Jadi, malam ini nggak ada?"
Nadine menggeleng pelan. "Besok adalah puncak kontrak modelku. Aku harus tampil prima. Aku perlu istirahat."
Barrack menggertakkan rahangnya, memukul kemudinya. "Bangsat!"
Nadine terdiam memperhatikan raut wajah Barrack yang nampak sebal. Gadis itu paham, sebab malam ini adalah ulang tahunnya— Barrack selalu menginginkan hubungan penuh passion di momen itu.
Namun kali ini Nadine terpaksa menolak dengan alasan profesionalitas kerja.
Nadine tak mungkin meminta desainernya untuk merubah jadwal sesi catwalk hanya karena pacarnya ulang tahun kan?
"Maaf ya Barry," Nadine mengusap lembut lengan Barrack yang berotot.
Nissan itu melaju sedikit kencang, melesat melewati jalanan lurus panjang.
"Kalau begitu, cium aku," pinta Barrack tiba- tiba.
"Apa?" Nadine mengernyit. "Kamu jangan aneh- aneh."
"Kalau kamu nggak mau malam ini, setidaknya beri aku ciuman Nad," Barrack melirik ke arah pacarnya. "Ciuman yang bikin aku leleh."
"Barrack," Nadine menggeleng. "Kamu sedang menyetir."
Barrack memaksa. "Ayolah. Sebentar saja, ini ulang tahunku."
Nadine berpikir beberapa saat, lalu menggeser tubuhnya mendekat. Tangannya melingkar di leher Barrack dengan tubuh menumpu. "Kamu kayak anak kecil."
Barrack tersenyum, menatap bibir Nadine yang merekah.
Dan tak menyadari laju mobil sport nya sedikit bergeser ke arah tepi jalan raya.
-----
"AAAAHHHH!!!" Nadine tersentak membuka matanya.
Dahinya berkeringat. Nafasnya terengah.
Ia terbaring di atas ranjang beberapa lama, menatap langit- langit kayu yang asing.
Tidak. Bahkan seluruh ruangan ini pun asing baginya.
Oh iya.
Saat ini ia sedang berada di sebuah villa di Lombok.
Nadine terduduk di ranjang memeluk lutut. Tangannya gemetaran meraih botol tumbler minumnya. Dengan jantung yang masih berdegup tak karuan, ia meminum airnya dengan tegukan besar.
Lalu Nadine beranjak turun dari ranjang, dengan hanya mengenakan kaos ketat dan panty berenda. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Langit di luar jendela mulai berwarna ungu gelap. Bahkan lampu- lampu teras villa telah menyala. Nampaknya Nadine tertidur sejak kedatangannya tadi hingga matahari hampir tenggelam.
Nadine baru saja selesai mengeringkan wajahnya dengan handuk kering, tepat ketika sebuah suara ketukan terdengar di pintu villa nya.
"Ya?" tanya Nadine.
"Mbak Nadine?" panggil suara dari luar. "Ini Raka."
Other Stories
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Uap Dari Panas Bumi
Liburan seharusnya menjadi pelarian paling menyenangkan bagi Aluna. Setelah berbulan-bulan ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...