Escape

Reads
16
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

5. Lingkaran Kehidupan

Pintu villa terbuka.
Nadine melangkah keluar, diam di ambang pintu.

"Iya, Raka? Ada apa?" tanya Nadine dengan suara serak.

Raka membeku di tempat, menelan ludah mendapati Nadine menyambutnya dengan hanya mengenakan dalaman seperti itu. Ia segera menundukkan pandangan.
"Eh— maaf Mbak."

Nadine ikut menunduk, dan baru menyadari situasinya. Sebagai seorang model, ia sudah sangat terbiasa berganti baju— bahkan tanpa sehelai apapun di ruangan yang penuh dengan orang lain, termasuk dengan model pria.

Tentunya ini bukan hal normal di luar, apalagi di Lombok yang masih sangat memegang nilai tradisional.
Tapi ah, persetan.
Sudah terlanjur juga.

"Ya, Raka?" ulang Nadine.

Raka sedikit menjauh, memberi jarak dengan gadis itu. "Ehm, anu. Makan malamnya."

"Iya? Kenapa dengan makan malam?"

Raka masih melempar pandangnya ke samping. "Nelayan kami mendapat tangkapan melimpah hari ini. Kami dan para warga desa akan mengadakan Begibung di halaman Base. Barangkali Mbak Nadine mau ikut?"

"..." Nadine mengernyit kebingungan.

"Atau mau makan malamnya dibawakan ke sini?" tanya Raka memberi opsi lain.

"Sori," Nadine menggeleng. "Begibung?"

"Ah, maksudnya makan beramai- ramai," Raka menjelaskan maksud ucapannya. "Kami akan mengadakan bakaran ikan- ikan besar di base bersama warga. Saya diperintah Pak Layang untuk mengajak Mbak Nadine, kalau berkenan."

Nadine menoleh ke arah belakang villanya. Agak jauh dari sana, terlihat belasan orang berkumpul mempersiapkan acara. Mereka tengah membakar tumpukan kayu untuk dijadikan arang.

Sebenarnya Nadine tak terlalu suka dengan ramai- ramai seperti itu. Namun sejak siang tadi ia belum makan. Perutnya sudah keroncongan. Mungkin tak ada salahnya sesekali ikut acara kumpul- kumpul.

"Aku ikut," Nadine mengangguk. "Tunggu sebentar. Aku pakai baju dulu."

Tepat saat matahari terbenam penuh, Nadine keluar dari dalam villa. Ia berjalan menuruni tangga bersama Raka, lalu berjalan ke arah halaman Base ESCAPE.

Suasana malam di desa Segare terasa begitu syahdu. Lampu- lampu menyala hanya di wilayah villa tamu dan base ESCAPE, juga di beberapa titik utama jalan. Sebenarnya Pak Layang juga membuatkan akses listrik untuk warga, namun mereka lebih suka tak menyalakan lampu di malam hari.

Terlebih malam ini, hampir semua warga desa berkumpul di pekarangan base ESCAPE. Tua muda, perempuan dan anak- anak berkumpul, duduk di atas tanah membentuk kelompok- kelompok kecil. Beberapa turis asing juga hadir— penghuni villa tamu yang lain.

Di tengah pekarangan, bara api menyala memberi warna hangat dan membakar ikan tangkapan mereka. Teko- teko alumunium berisi teh dan kopi panas diputar— untuk para warga mengisi sendiri gelas mereka.

Nadine baru saja duduk di sebelah Raka, tepat ketika seorang gadis kecil berjalan membawakannya piring rotan beralas daun pisang.
Ketela bakar, jagung rebus, dan potongan besar daging ikan laut.

"Makasih," ujar Nadine tersenyum.

Gadis itu tak menjawab, berdiri menatap wajah Nadine beberapa lama, lalu berbalik pergi.
Nadine tahu, dan sangat sadar bahwa gadis itu memperhatikan luka memanjang vertikal di wajah kanannya.

Nadine selalu menyadari jika orang- orang memperhatikan bekas lukanya, bahkan termasuk Raka dan Pak Layang tadi siang.
Nadine tak suka, namun ia bisa apa?
Luka itu ada di wajahnya.

"Selamat makan Mbak Nadine," ujar Pak Layang ramah dari sisi lain pekarangan. "Kalau di sini, ya begini ini. Makannya pakai tangan, dengan menu yang agak liar."

"Nggak apa Pak," Nadine mencoba bersikap ramah. "Jadi punya pengalaman seru."

"Cobain ikannya Mbak," saran Raka. "Ikannya nggak dibumbuin aneh- aneh. Tapi rasanya manis karena baru dapat hari ini."

Nadine mencubit kecil potongan daging putih itu, lalu memakannya. Panas. Namun enak.
"Hmm, beneran. Enak."

"Ini ikan GT. Ayahku yang nangkap tadi pagi," ujar Raka membanggakan ayahnya. "Di sekitaran karang Nirvana."

Acara makan malam itu pun juga diwarnai dengan semacam pertunjukan musik tradisional yang disebut cilokaq. Beberapa lelaki memainkan gendang, gambus dan suling. Sementara beberapa perempuannya bernyanyi, dan ada yang menari.
Ditambah lagi dengan suara debur ombak, dan angin pantai yang mengembus.
Membuat suara kemerisik dedaunan menemani santap malam mereka.

Suasana pesta yang ramah dan hangat— jauh dari hingar pesta yang biasa Nadine dapati di Singapore.

Selagi makan, beberapa kali Nadine mendapati beberapa warga desa melempar makanan dari piring mereka ke arah hutan.
Nadine pun berbisik kepada Raka.

"Raka, bisa kamu imbau warga desa untuk tidak membuang sampah sembarangan?" tanya Nadine lirih. "Imejnya sangat tidak baik bagi pariwisata. Terlebih ada turis asing di sini."

Raka tersenyum, lalu mencuil potongan ikan di piringnya sendiri. Raka melempar potongan itu ke arah hutan.

"Loh, kok kamu malah ikutan sih?" Nadine menyikut lengan Raka.

"Mbak Nadine coba perhatikan benda- benda yang mereka lempar itu. Ikan, jagung atau ubi yang masih utuh kan?" Raka mencoba memberi penjelasan. "Itu bukannya kami tidak cinta kebersihan Mbak."

"Lalu?"

"Itu adalah cara kami bersyukur," lanjut Raka.
"Semua makanan ini, ikan, jagung dan ketela adalah hasil alam kami. Kami mengolahnya untuk dimakan. Kemudian kami biasa membagi lauk di piring kami, sebagai sedekah kembali kepada alam."

"..."

"Berbagi dengan mahluk hidup selain kami warga desa."

"Ah, menarik," Nadine ikut melempar sebagian ketela bakarnya ke arah hutan. "Jadi membentuk sebuah kesinambungan, semacam circle of life gitu ya?"

"Betul, circle of life," jawab Raka membenarkan. "Lion King."

Nadine tertawa kecil. "Hakuna matatta."

"Ya, betul lagi," Raka mengunyah jagung. "Pumba."

"Simba kali," Nadine tertawa sedikit terbahak. "Kalau Pumba kan babinya."

Sebuah tawa yang menyatu dengan sorak sorai warga lokal yang tengah menari. Melingkar mengitari api, sesuai irama musik cilokaq.

Seolah menggambarkan apa yang sedang terjadi di sini.

Lingkaran kehidupan.



Other Stories
Dua Tangkai Edelweis

Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...

Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Download Titik & Koma