Escape [end]

Reads
472
Votes
18
Parts
18
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

7. Bukit Amirta

"Kuat?" tanya Raka.

Lelaki itu berdiri di depan jalur, agak ke atas. Ia nampak santai menunggu sambil memperhatikan Nadine— memastikan bahwa tamu nya itu baik- baik saja.
"Mau minum?"

Nadine berhenti dengan kedua tangan di pinggang. Nafas nya terengah dengan bahu naik turun. Ia mengusap keringat yang mulai membasahi dahi.
"Nggak," jawabnya di sela nafas.

Sebagai model, Nadine selalu menjaga badannya agar tetap terlihat in shape— yoga, pilates dan terkadang kardio. Namun nampaknya, itu saja tak terlalu membantunya untuk mendaki jalur ini.

Jalur yang mereka lalui adalah sebuah jalan setapak, melewati lebat pepohonan dan semak di punggung bukit desa Segare. Bukit itu tak terlalu tinggi, mungkin hanya 150 an meter dari permukaan pantai, namun elevasinya sangat terasa bagi Nadine yang tak terbiasa berjalan mendaki.

Raka berjalan di depan, dengan sebuah parang di tangan. Ia menebas semak berduri dan ranting kering tajam yang tumbuh terlalu mencuat ke jalur mereka.

"Jangan jauh- jauh ya," Raka melangkah pelan, menyesuaikan dengan ritme langkah Nadine di belakang. "Perhatikan ranting dan pepohonan di samping Mbak. Jangan lengah sama sekitar."

"Iya," jawab Nadine singkat. "Karena rantingnya agak berduri kan ya?"

"Lebih karena insularis sih," Raka berjalan sambil matanya tak henti mengawasi sekeliling. "Biasanya mereka berdiam di ujung ranting, menunggu kadal atau burung kecil."

"..." Nadine menggeleng. "Insularis?"

"Viper hijau," Raka terus saja berjalan. "Ukurannya kecil, dan nge-blend banget dengan sekitarnya. Tapi berbisa—"

"Maksudmu, ular?" Nadine membeku di tempat. Seketika ia merasa tak ingin berada di sini.

Mendengar kata ular, tak peduli ukurannya, Nadine benar- benar merinding. Ia memang bukan ahli herpetologi, namun ia cukup familiar dengan nama kobra, viper dan sejenisnya.
"Raka, balik saja yuk? Aku mau pulang."

Raka berbalik, tersenyum. Ia mengulurkan tangannya, meraih tangan Nadine.
"Makanya saya bilang jangan jauh- jauh kan?"

"..."

"Ular viper memang cukup umum di Lombok, terutama di wilayah yang masih berhutan seperti ini. Tapi saya, dan warga lokal lainnya sudah terbiasa dengan keberadaan mereka. Selama kita tidak mengganggunya, mereka juga tidak akan melukai kita," Raka mencoba menenangkan Nadine.
"Hidup berdampingan dengan alam. Circle of life, ingat?"

Nadine masih membeku.
Namun kali ini karena sebab yang berbeda.

"Ayo? Kok malah diem?" ajak Raka lembut, melirik ke jam tangannya..
"Puncaknya udah nggak jauh lagi. Dan sekarang matahari lagi bagus- bagusnya."

Nadine mengangguk pelan sambil melangkah. Wajahnya terasa kembali panas.

Aneh.
Padahal Nadine sudah terbiasa disentuh oleh laki- laki. Saat sesi catwalk, fitting atau pemotretan, terkadang Nadine harus membiarkan tubuhnya disentuh oleh lelaki untuk mengukur, mengarahkan gaya atau touch up.
Dan Nadine sama sekali tak merasa risih dengan itu.

Namun sekarang— tangan Nadine terasa aneh.

Raka menggenggam tangannya, hanya untuk menuntun dan membantunya mendaki jalur. Tangannya lebar, dan terasa agak kasar.
Namun hangat.

Ugh, aku kenapa sih?
Nadine berusaha lebih fokus dengan jalur hikingnya.

Raka membawanya keluar dari ujung lebat pepohonan. Mereka tiba di puncak bukit— yang berupa sebuah area lapang landai penuh rerumputan.

"Lihat?" Raka tersenyum. "Bagus kan?"

Nadine menahan nafas, matanya melebar penuh antusias. Kemudian ia berlari merentangkan tangannya menuju titik terujung puncak ini— yang berupa tebing langsung mengarah ke laut.

"AAAAAAAHHHH!!!" Nadine berteriak penuh kebebasan.

Tempat ini indah sekali.
Dari ketinggian ini, Nadine bisa melihat permukaan laut yang menghampar sepanjang horizon di hadapannya. Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di air yang jernih, membingkai gugusan terumbu karang yang bertebaran di bawah sana.
Di belakangnya penuh dengan lebat hijau pepohonan yang berbukit- bukit, kontur wilayah Lombok Barat Daya.

Angin menerpa bebas, membuat rambut panjang Nadine sedikit berkibar. Dengan penuh antusias, ia segera mengambil banyak foto pemandangan indah yang masih sangat alami ini dari berbagai sudut.

"Bukit ini bagus sekali?" tanya Nadine. "Apa namanya?"

"Bukit keabadian," ujar Raka pelan. "—bukit Amirta."

"Amirta?" Nadine menoleh. "Namaku dong?"

"Kebetulan saja," Raka meraih botol minumnya, membuka tutupnya. "Geer amat jadi orang."

Nadine pun menggunakan kamera depan untuk mengambil foto selfie. Sambil berfoto, ia bergumam seolah sedang membuat reportase.

"Hai! Namaku Nadine Amirtasari. Aku sedang berada di puncak bukit Amirta, yang seperti namaku—pemandangannya indah sekali."

Raka meneguk minumnya, sambil tersenyum memandangi Nadine.

"Kenapa senyum- senyum gitu?" Nadine nyengir, masih sibuk mengambil foto. Namun ia sadar tengah diperhatikan.

"Sejak datang ke sini, wajah Mbak Nadine muram terus," Raka mengusap bibirnya yang basah dengan lengan. "Mbak Nadine manis kalau senyum."

Ponsel di tangan Nadine hampir saja terjatuh karena mendengar seloroh Raka. Gadis itu berdehem, salah tingkah dan bersikap seolah tak peduli— masih terus sibuk mengambil selfie.

"Bentar Mbak," Raka mendekati Nadine.

Gadis itu mengernyit, lalu membelalakkan mata saat begitu saja Raka melepas bucket hat yang ia kenakan. Lalu Raka menyibak poni Nadine ke belakang— poni yang selalu Nadine gunakan untuk menutupi luka memanjang vertikal di wajah kanannya.
Dan Raka memakaikan topi itu kembali.

"Nah, kalau begini cahaya mataharinya bisa full menyinari wajah Mbak Nadine. Kalau poninya enggak nutupin, kelihatan lebih cantik."

"..."

Astaga, Raka.
Mulutnya enggak dijaga.
Bikin jantungan orang saja.

Matahari sore perlahan turun, dan hampir menyentuh ufuk Barat. Burung- burung kecil berwarna biru dan putih— kingfisher, beterbangan di sekitar mereka, menyambar ikan- ikan kecil di permukaan. Ditambah suara desau angin yang menyatu dengan debur ombak.
Benar- benar seperti sihir yang mempesona siapapun yang melihatnya.

Selama beberapa waktu lamanya, Nadine dan Raka duduk berdampingan di rerumputan, berbicara banyak hal tentang background mereka.
Membuat Nadine mulai merasa mengenal Raka sedikit lebih dalam. Juga tentang kehidupan bersahaja di Segare.

Hingga tak terasa, matahari hampir terbenam sepenuhnya. Saatnya mereka kembali pulang sebelum gelap total.

"Ayo," Raka berdiri, mengulurkan tangannya. "Kita pulang."

Nadine tersenyum, menyambut tangan Raka.
Ia beranjak sambil menepuk- nepuk skortnya dengan satu tangan.
Dan kemudian berjalan pulang.

Dengan poni yang ia biarkan tersibak ke belakang.


Other Stories
Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma