Cahaya Dari Menara Camlica

Reads
703
Votes
1
Parts
13
Vote
Report
Cahaya dari menara camlica
Cahaya Dari Menara Camlica
Penulis Matchaa

Bab 12: Struktur Yang Terancam


Udara di dalam kamar asrama Fatimah terasa mendadak tipis. Dua pria berjas hitam itu berdiri dengan angkuh, salah satunya memainkan tasbih amber milik Fatimah seolah itu adalah barang murahan. Di tangan pria yang lain, paspor hijau milik Fatimah tampak sangat rapuh, siap untuk dimusnahkan kapan saja.

"Tuan Sahin adalah orang yang tidak suka mengulang permintaannya, Nona," ucap pria yang memegang paspor. Suaranya rendah, parau, dan membawa aroma tembakau yang tajam.

"Beliau memberi Anda waktu hingga fajar. Jika surat pernyataan itu tidak ditandatangani, Anda bukan hanya kehilangan status mahasiswa, tapi juga identitas Anda di negeri ini."

Fatimah mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia teringat pesan ibunya: “Jangan pernah tunjukkan rasa takutmu di depan kezaliman, karena ketakutan adalah pintu masuk bagi mereka untuk mengendalikanmu.”

"Pasporku mungkin bisa kalian bakar," Fatimah bersuara, lebih stabil dari yang ia duga. "Tapi kebenaran yang sudah tersebar di server universitas tidak akan hilang hanya dengan membakar kertas. Kalian pikir Tuan Sahin bisa membungkam seluruh dunia akademik?"

Pria yang memegang tasbih tertawa sinis. Ia meletakkan tasbih itu di atas meja dengan kasar. "Dunia akademik bisa dibeli, Nona. Tapi keselamatanmu... itu tidak ternilai harganya."

Mereka melangkah keluar, meninggalkan Fatimah yang gemetar dalam keheningan yang mencekam. Ia segera mengunci pintu dan merosot ke lantai. Ia ingin menelepon Emir, namun ia teringat bahwa Emir sedang berada di daerah terpencil di perbatasan Bursa untuk menemui seorang saksi ahli yang dulu bekerja dengan kakeknya. Sinyal di sana sangat buruk.

Perlawanan dalam Senyap
Fatimah menyadari bahwa ia tidak bisa hanya menunggu diselamatkan. Ia adalah seorang arsitek; jika sebuah bangunan terancam runtuh, ia harus mencari penyangga darurat.

Ia mengambil laptopnya, jemarinya bergerak cepat. Ia tidak menghubungi polisi—ia tahu koneksi Tuan Sahin terlalu kuat di tingkat lokal. Sebagai gantinya, ia mengirimkan pesan darurat melalui kanal terenkripsi kepada Ali Ihsan di Jakarta dan Profesor Elif.

"Mereka mengambil pasporku. Tekanan meningkat. Aku butuh perlindungan hukum internasional sekarang."

Tak lama kemudian, balasan masuk dari Ali.

"Fat, jangan keluar kamar. Aku sedang mencoba menghubungi atase pendidikan di KBRI Ankara. Emir sedang dalam perjalanan kembali, dia baru saja mendapat pesanku lewat radio lokal di desa itu. Bertahanlah!"

Malam itu terasa sangat panjang. Fatimah tidak berani mematikan lampu. Setiap suara langkah kaki di koridor asrama membuatnya terjaga. Ia menghabiskan waktu dengan membuka kembali draf tesisnya, mencari detail-detail kecil yang mungkin terlewatkan—detail yang bisa menjadi peluru terakhir untuk menjatuhkan kredibilitas proyek Tuan Sahin.


Saat cahaya biru fajar mulai menyelinap di balik gorden, suara deru mesin mobil yang sangat dikenal terdengar dari bawah jendela. Itu suara Volvo tua milik Emir. Tak lama kemudian, keributan kecil terjadi di koridor.
Pintu kamar Fatimah diketuk dengan pola yang mereka sepakati. Tiga ketukan cepat, satu lambat.

Fatimah membuka pintu dan langsung disambut oleh sosok Emir yang tampak sangat berantakan. Rambutnya kacau, matanya merah karena kurang tidur, dan jaketnya basah oleh embun pagi. Namun, tatapannya menyala dengan kemarahan yang terkendali.

"Kau tidak apa-apa?" Emir segera memeriksa keadaan Fatimah, matanya menyisir setiap sudut kamar.

"Mereka mengambil pasporku, Bey. Mereka mengancam akan membakarnya," Fatimah berbisik, rasa lelah dan takutnya kini tumpah menjadi tangisan kecil.

Emir mengepalkan tangannya. "Pria tua itu sudah melampaui batas. Dia pikir dia bisa memperlakukan mahasiswa internasional seperti properti pribadinya."

Emir memberikan sebuah ponsel satelit kepada Fatimah. "Pakai ini. Jangan gunakan ponselmu lagi, mereka sudah menyadapnya. Kita harus pindah sekarang. Profesor Elif sudah menyiapkan tempat aman di dalam kompleks perumahan dosen yang dijaga ketat."


Mereka bergerak dalam diam. Emir membawa Fatimah ke gedung Taşkışla, salah satu gedung tertua milik universitas yang memiliki sistem keamanan mandiri. Di sana, di sebuah ruangan tersembunyi di balik perpustakaan, Profesor Elif sudah menunggu bersama seorang pria paruh baya yang tampak sangat formal.

"Fatimah, perkenalkan ini Tuan Hakan dari Kementerian Kebudayaan bagian Perlindungan Monumen," ujar Profesor Elif. "Tuan Hakan adalah teman lama kakek Emir. Dia sudah melihat dokumen yang kau kirimkan."

Tuan Hakan menyesap kopinya, lalu menatap Fatimah dengan serius. "Nona Azzahra, apa yang kau temukan bukan sekadar masalah drainase.

Kau menemukan bukti bahwa ada terowongan penghubung yang sengaja dibangun sebagai jalur evakuasi rahasia antara kompleks pendidikan dan masjid-masjid besar di Istanbul.

Itu adalah bagian dari 'Garis Pertahanan Spiritual' Sultan. Jika Tuan Sahin membangun apartemen di sana, dia akan menghancurkan situs yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang keamanan negara, bukan sekadar cagar budaya."

Fatimah tertegun. Skala masalah ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ini bukan lagi soal toko kue ibunya atau proyek firma; ini adalah soal kedaulatan sejarah bangsa Turki.

"Masalahnya," lanjut Tuan Hakan, "Tuan Sahin memiliki orang-orang di dalam kementerian yang menyembunyikan fakta ini. Kami butuh kau dan Emir untuk mempresentasikan ini di depan Dewan Keamanan Monumen besok pagi. Itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan perlindungan negara secara penuh."


Namun, rencana itu bocor. Saat mereka sedang bersiap untuk keberangkatan esok hari, Ali Ihsan menelepon dengan nada panik dari Jakarta.

"Emir! Fatimah! Jangan percaya pada siapa pun di kementerian! Aku baru saja melacak aliran dana dari Tuan Sahin. Dia baru saja mentransfer sejumlah besar uang ke rekening sebuah yayasan yang dikelola oleh... orang yang kalian panggil Tuan Hakan!"

Fatimah dan Emir saling berpandangan. Tuan Hakan, yang duduk hanya beberapa meter dari mereka, perlahan meletakkan cangkir kopinya. Senyum ramahnya menghilang, berganti dengan raut wajah yang dingin dan penuh perhitungan.

"Sayang sekali, Ali Ihsan terlalu pintar," ucap Tuan Hakan sambil menarik sebuah perangkat komunikasi dari sakunya. "Emir, kau seharusnya tahu bahwa di Istanbul, sejarah hanyalah masa lalu, tapi uang adalah masa depan."

Pintu ruangan itu terkunci secara otomatis dari luar. Suara sirine polisi terdengar di kejauhan, namun kali ini bukan untuk melindungi mereka.

"Kalian akan ditahan atas tuduhan pencurian dokumen rahasia negara," Tuan Hakan berdiri.

"Dan kali ini, tidak akan ada Profesor Elif atau beasiswa yang bisa menyelamatkan kalian."

Fatimah dan Emir terjebak di dalam ruangan rahasia di gedung Taşkışla, sementara aparat yang sudah dibayar oleh Tuan Sahin mulai mendobrak pintu depan gedung.

Emir menarik tangan Fatimah menuju sebuah lemari buku besar di sudut ruangan. "Ingat risetmu tentang terowongan evakuasi rahasia itu, Fatimah?"

Fatimah mengangguk cepat. "Salah satunya seharusnya berujung di bawah gedung ini."

"Maka kita akan membuktikannya sekarang," Emir menekan sebuah tombol tersembunyi di balik deretan buku-buku tua. "Kita akan masuk ke dalam sejarah untuk menyelamatkan masa depan kita."

Lantai di bawah kaki mereka bergeser, memperlihatkan sebuah tangga batu gelap yang menuju ke kedalaman bumi Istanbul. Di belakang mereka, pintu ruangan mulai retak dihantam paksa.

Dengan hanya bermodalkan senter ponsel dan keyakinan, Fatimah dan Emir melompat masuk ke dalam kegelapan, memulai perjalanan di bawah tanah Istanbul yang akan membawa mereka menuju rahasia yang lebih besar.

Other Stories
Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan

Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Download Titik & Koma