Cahaya Dari Menara Camlica

Reads
134
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Cahaya dari menara camlica
Cahaya Dari Menara Camlica
Penulis Matchaa

Bab 4: Cemburu Yang Tak Berizin

Pagi itu, pergelangan kaki Fatimah masih sedikit berdenyut, namun ia memaksa diri untuk tidak terlihat lemah. Sesuai perintah Emir, ia tidak pergi ke lokasi proyek di Fatih. Sebagai gantinya, ia menghabiskan waktu di Perpustakaan Pusat Kampus ITU, menenggelamkan diri dalam literatur tentang restorasi struktur batu era Ottoman.

​Namun, fokusnya terganggu. Setiap kali ia membaca kata "pondasi" atau "ketahanan", pikirannya justru melayang pada sosok Emir yang berdiri di tengah debu bangunan, melindunginya dengan amarah yang aneh.

​"Fatimah? Benar kamu Fatimah dari Indonesia?"
​Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Fatimah mendongak dan mendapati seorang pria muda dengan wajah cerah, mengenakan sweter turtle neck krem yang tampak mahal.

​"Iya, saya Fatimah. Maaf, Anda siapa?"

​"Aku Ali. Ali Ihsan. Aku mahasiswa doktoral di sini, asisten Profesor Elif juga. Dia bilang padaku kalau ada 'permata' baru dari Indonesia yang sedang meneliti akustik masjid," Ali tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang rapi. Ia tampak sangat ramah, jauh berbeda dengan Emir yang irit bicara.

​Ali tanpa permisi duduk di kursi kosong di depan Fatimah. "Profesor Elif memintaku untuk membantumu mencarikan arsip-arsip kuno yang hanya bisa diakses oleh mahasiswa lokal. Kamu pasti kesulitan dengan bahasa Ottoman yang lama, kan?"

​Fatimah merasa terbantu. "Ah, benar. Saya sangat membutuhkannya. Terima kasih banyak, Ali Bey."

​"Jangan panggil 'Bey', terlalu formal. Panggil Ali saja. Kita seumuran, mungkin aku hanya sedikit lebih tua," Ali tertawa kecil. "Bagaimana kalau kita bicarakan ini sambil makan siang? Ada restoran Pide yang sangat enak di dekat sini."

​Fatimah ragu sejenak. Namun, niat tulus Ali untuk membantu risetnya membuatnya mengangguk setuju.

Mereka baru saja hendak merapikan buku saat pintu perpustakaan yang besar terbuka. Emir Arslan melangkah masuk. Ia masih mengenakan mantel abu-abunya, namun wajahnya tampak lebih lelah dari kemarin. Matanya menyisir ruangan dan langsung tertuju pada Fatimah.
​Langkahnya terhenti saat melihat Ali duduk begitu dekat dengan Fatimah. Ada perubahan instan pada garis wajah Emir—rahangnya mengeras.

​"Emir! Kebetulan sekali kau di sini," sapa Ali dengan santai, tampak sangat mengenal Emir.
"Aku baru saja mengajak Fatimah untuk makan siang dan membahas risetnya."

Emir berjalan mendekat, tangannya masuk ke dalam saku mantel. Ia tidak menyapa Ali kembali, melainkan menatap Fatimah dengan intens. "Kukira aku menyuruhmu untuk beristirahat, Fatimah. Bukan untuk membuat janji makan siang."

​Suara Emir dingin, lebih dingin dari angin Bosphorus di malam hari.

​Fatimah merasa serba salah. "Saya di sini untuk mencari referensi, Emir Bey. Ali... maksud saya Ali Bey, menawarkan bantuan untuk arsip bahasa Ottoman."

​"Aku bisa memberikanmu arsip itu tanpa perlu kau meninggalkan meja belajarmu," potong Emir tajam. Ia beralih menatap Ali. "Ali, bukankah kau punya tenggat waktu untuk jurnal doktoralmu? Jangan membuang waktu mahasiswa baru dengan keramahanmu yang berlebihan."

Ali hanya mengangkat bahu, tidak terlihat tersinggung. "Kau selalu seserius itu, Emir. Aku hanya ingin membantu tamu kita agar merasa nyaman di Istanbul."

​"Dia di sini untuk belajar, bukan untuk merasa nyaman," jawab Emir singkat. Ia kemudian menaruh sebuah amplop cokelat besar di depan Fatimah. "Ini data akustik yang kau minta kemarin. Pelajari di asrama. Dan jangan berjalan terlalu banyak, kakimu belum sembuh total."
​Setelah berkata demikian, Emir berbalik dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban. Fatimah dan Ali terpaku melihat kepergiannya yang tiba-tiba.

​"Dia... memang selalu seperti itu," Ali memecah keheningan dengan nada maklum. "Emir Arslan adalah arsitek jenius, tapi hatinya terbuat dari batu yang sama dengan bangunan yang dia restorasi. Jangan diambil hati, Fatimah."

​Fatimah mengangguk, namun hatinya tidak merasa tenang. Ada sesuatu dalam nada bicara Emir tadi yang tidak terdengar seperti seorang pembimbing—tapi lebih seperti seseorang yang sedang menahan rasa tidak suka yang tak beralasan.

Sore harinya, setelah kembali ke asrama, Fatimah membuka amplop dari Emir. Di dalamnya bukan hanya berisi data riset, tapi juga ada sebuah wadah kecil berisi salep herbal dan secarik kertas kecil.

Tulisan di kertas itu sangat rapi, menggunakan tinta hitam:
Oleskan ini pada kakimu sebelum tidur. Ini ramuan saffron dan zaitun dari nenekku di Bursa. Bisa mengurangi bengkak lebih cepat. Maaf soal sikapku di perpustakaan. Istanbul terkadang membuatku lupa cara bersikap ramah pada orang asing.

​— E.A.

Fatimah merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Bau saffron yang khas tercium saat ia membuka tutup wadah kecil itu. Pria itu sungguh penuh kontradiksi. Ia bisa menjadi sangat kasar di depan orang lain, namun sangat perhatian di balik layar.

​Fatimah duduk di tepi tempat tidur, mengoleskan salep itu ke kakinya. Ia teringat kata-kata Ali tadi siang tentang "hati yang terbuat dari batu". Benarkah demikian? Ataukah Emir hanya sedang menjaga sesuatu agar tidak pecah kembali?

Malam itu, Fatimah tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar ke balkon asramanya yang menghadap ke arah kota. Dari kejauhan, lampu-lampu di Menara Çamlıca tampak berpendar, memberikan rasa damai yang ia butuhkan.

​Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.

​"Apakah kakimu masih sakit? Jika kau besok masih memaksa ke kampus dengan Ali, pastikan kau tidak menggunakan sepatu dengan hak tinggi. Itu bodoh."


Fatimah hampir saja tertawa. Ia tahu persis siapa pengirimnya.

​"Sudah lebih baik, Emir Bey. Terima kasih atas salepnya. Dan Ali hanya ingin membantu. Dia orang yang baik," balas Fatimah.

​Lama tidak ada balasan. Fatimah hampir memutuskan untuk masuk ke dalam saat ponselnya kembali bergetar.

​"Di Istanbul, 'baik' saja tidak cukup, Fatimah. Kau harus tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya menyukai permukaan. Tidurlah. Besok aku akan menjemputmu jam delapan. Kita tidak ke lokasi, tapi ke Perpustakaan Suleymaniye. Aku sendiri yang akan menerjemahkan arsip Ottoman itu untukmu."


Jantung Fatimah berdegup kencang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ini terasa lebih dari sekadar hubungan antara asisten profesor dan mahasiswa. Ada sebuah tarikan magnetis yang mulai ia rasakan, sesuatu yang ia pelajari dalam agama sebagai ujian hati.

​Ia membalas dengan singkat: "Baik, Bey. Selamat istirahat."

Fatimah segera meletakkan ponselnya dan mengambil air wudu. Ia perlu bersujud. Ia takut. Takut jika niatnya menuntut ilmu di negeri ini terdistorsi oleh getaran-getaran yang belum halal baginya.

​Dalam salatnya, ia menangis pelan. "Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang lemah. Jangan biarkan hatiku terpikat pada sesuatu yang tidak membawa keberkahan. Jika pria itu adalah bagian dari takdir yang Kau tuliskan, maka tuntunlah kami dengan cara yang Engkau ridai. Namun jika ia adalah ujian yang menjauhkanku dari-Mu, maka cabutlah rasa ini hingga ke akarnya."

​Setelah salat, Fatimah merasa lebih tenang. Ia menyadari bahwa di Istanbul, ia tidak hanya sedang merestorasi bangunan tua, tapi ia juga sedang menguji pondasi imannya sendiri.

Keesokan harinya akan menjadi awal dari perjalanan yang lebih intens. Antara arsip kuno di Suleymaniye, aroma saffron yang menenangkan, dan tatapan mata cokelat Emir yang penuh teka-teki, Fatimah tahu bahwa ia sedang berjalan di atas jembatan yang menghubungkan dua dunia dalam dirinya: antara logika dan rasa.

​Dan di kejauhan, Menara Çamlıca tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu atas seorang gadis yang sedang belajar mengukir masa depannya di atas tanah para nabi dan sultan.





Other Stories
Awas, Ada Bakpao!

Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...

(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Download Titik & Koma