Cahaya Dari Menara Camlica

Reads
127
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Cahaya dari menara camlica
Cahaya Dari Menara Camlica
Penulis Matchaa

Bab 7: Retakan Dalam Struktur

Fatimah terjaga sepanjang malam. Ia mencoba membaca buku, namun matanya hanya menatap barisan kata tanpa makna. Ia mencoba menggambar, namun setiap garis yang ia tarik selalu berujung menjadi siluet menara masjid yang menyerupai rahang tegas Emir.

​Akhirnya, ia memilih bersimpuh di atas sajadahnya. Dalam hening sepertiga malam itu, Fatimah mengadu.

​"Ya Allah, Engkau adalah Arsitek Teragung yang merancang setiap pertemuan. Jika rasa ini adalah fitnah, maka padamkanlah. Namun jika ia adalah rahmat, maka jagalah agar tidak melampaui cintaku pada-Mu."

​Keesokan paginya, Fatimah memutuskan untuk bersikap seprofesional mungkin. Ia tidak bisa terus berlari. Ia adalah mahasiswi beasiswa; ia memiliki tanggung jawab besar pada negara dan ibunya. Perasaan pribadi tidak boleh meruntuhkan struktur masa depannya.

Suasana di Fakultas Arsitektur pagi itu terasa mencekam. Saat Fatimah melangkah masuk ke aula utama, ia melihat segerombolan mahasiswa berkerumun di depan mading digital. Beberapa dari mereka berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya.

​"Ada apa, Sarah?" tanya Fatimah pada seorang mahasiswi asal Malaysia yang juga teman seangkatannya.

​Sarah menatap Fatimah dengan tatapan prihatin. "Fat, kau sebaiknya lihat ini. Ada unggahan di forum internal kampus. Seseorang menuduhmu mendapatkan akses ke dokumen rahasia Perpustakaan Suleymaniye karena 'jalur belakang' melalui Emir Arslan. Mereka bilang kau menyalahgunakan posisi sebagai asisten untuk kepentingan riset pribadimu tanpa prosedur resmi."

Darah Fatimah terasa berhenti mengalir. Ia mendekat dan membaca unggahan itu. Di sana terlampir foto-foto dirinya dan Emir saat berada di perpustakaan dua hari lalu—foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik rak buku.

Judulnya provokatif: “Skandal Akademik: Favoritisme di Balik Restorasi Fatih?”

​Fatimah mundur selangkah. Ia tahu siapa yang berada di balik ini. Melisa Hanım. Wanita itu benar-benar melakukan ancamannya. Ia tidak menggunakan otot, ia menggunakan reputasi.

​"Fatimah Azzahra?"

​Suara berat dan tegas itu berasal dari Sekretaris Dekan. "Profesor Elif dan Dekan menunggumu di ruang sidang sekarang."

​Di dalam ruang sidang yang dingin, Fatimah berdiri di ujung meja kayu oval yang besar. Di depannya duduk Profesor Elif yang tampak kecewa, dan Dekan Fakultas yang wajahnya sedingin es. Di sudut ruangan, Emir Arslan berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap. Wajah Emir tampak gelap, matanya memancarkan amarah yang siap meledak.

​"Fatimah," Profesor Elif memulai, "kau tahu bahwa prosedur akses manuskrip kelas A harus melalui surat izin dekanat. Emir adalah asisten riset senior, dia memiliki akses pribadi, tapi membawamu ke sana tanpa dokumen resmi adalah pelanggaran protokol."

​"Saya minta maaf, Prof," suara Fatimah bergetar namun tetap jelas. "Saya tidak tahu jika izin lisan dari Emir Bey belum diformalkan. Saya hanya ingin belajar."

​"Niat baik tidak menghapus kesalahan prosedur," potong Dekan. "Masalahnya, foto-foto ini sudah tersebar. Ini menyangkut integritas universitas kita. Emir, apa penjelasanmu?"

​Emir melangkah maju ke tengah ruangan. Energinya yang dominan seketika memenuhi ruang sidang. "Semua ini adalah tanggung jawab saya. Fatimah tidak bersalah. Saya yang membawanya ke sana karena saya menilai risetnya mendesak. Jika ada yang harus dihukum, itu adalah saya. Cabut izin praktik restorasi saya jika perlu, tapi jangan sentuh beasiswa Fatimah."

Fatimah menoleh cepat ke arah Emir. Apa yang dia lakukan? Mencabut izin praktik bagi arsitek seperti Emir adalah bunuh diri karier.

​"Emir, kau gila?" Profesor Elif terperanjat. "Kau adalah arsitek terbaik yang kita miliki untuk proyek Fatih!"

​"Integritas saya bukan ditentukan oleh selembar surat izin, tapi oleh hasil kerja saya," jawab Emir dingin. "Dan integritas saya sebagai pembimbing adalah melindungi mahasiswa saya dari fitnah yang keji. Kita semua tahu siapa yang mengambil foto ini. Ini bukan soal akademik, ini soal dendam pribadi."

Ruangan itu hening. Dekan menghela napas panjang. "Kami akan melakukan investigasi internal. Sampai keputusan keluar, Fatimah, kau diskors dari kegiatan lapangan. Dan Emir, kau dilarang membimbing Fatimah secara langsung sampai masalah ini selesai."

Fatimah keluar dari ruang sidang dengan perasaan hancur. Ia berjalan cepat menuju taman belakang fakultas, mencari tempat di mana ia bisa sendirian. Ia duduk di bawah pohon bidara yang rindang, menutupi wajahnya dengan tangan. Ia merasa telah mengecewakan ibunya.

Bagaimana jika beasiswanya dicabut?

Bagaimana ia menjelaskan ini pada Ibu?

​"Menangis bukan solusi untuk arsitek."
​Fatimah mendongak. Emir berdiri di sana, beberapa meter darinya. Ia tidak mendekat, seolah menghargai jarak dan aturan yang baru saja dijatuhkan.

​"Kenapa Anda melakukannya, Bey?" tanya Fatimah dengan suara parau. "Kenapa Anda mempertaruhkan karier Anda untuk saya?"

Emir menatap langit Istanbul yang mulai mendung. "Karena kau benar, Fatimah. Allah menyelamatkanku dari gempa bumi itu untuk sebuah tugas. Dan hari ini aku sadar, tugasku bukan hanya membangun gedung, tapi melindungi orang-orang jujur sepertimu."

​"Tapi Melisa... dia tidak akan berhenti."

​"Biarkan dia mencoba," Emir melangkah selangkah lebih dekat, suaranya melembut. "Istanbul ini dibangun di atas air dan gempa, tapi ia tetap berdiri karena fondasinya kuat. Begitu juga kita. Jangan biarkan fitnah ini meretakkan semangatmu. Belajarlah lebih keras di perpustakaan asrama. Tunjukkan pada mereka bahwa kau layak mendapatkan beasiswa itu karena otakmu, bukan karena aku."


Fatimah menghapus air matanya. Ada kekuatan baru yang mengalir dari kata-kata Emir. "Lalu bagaimana dengan Anda? Anda dilarang membimbing saya."

​Emir tersenyum tipis—senyum yang kali ini terasa seperti cahaya di tengah badai. "Mereka melarangku membimbingmu di kampus. Mereka tidak bisa melarangku mendoakanmu di setiap sujudku."

​Jantung Fatimah berdegup kencang. Itu adalah pernyataan paling berani yang pernah ia dengar. Di tengah kekacauan ini, Emir Arslan justru memilih untuk menunjukkan sisi paling spiritualnya.

​"Pergilah, Fatimah. Sebelum ada yang melihat kita lagi," perintah Emir. "Percayalah pada skenario-Nya. Cahaya dari Menara Çamlıca tidak akan pernah redup hanya karena sedikit debu fitnah."

Malam itu, di asrama, Fatimah menerima telepon dari ibunya. Ia mencoba berbicara sesantai mungkin, namun sang ibu, dengan intuisi seorang wanita yang telah melahirkannya, segera menangkap ada yang tidak beres.

Fatimah terdiam sejenak. "Hanya... sedikit tantangan kuliah, Bu. Fatimah sedang diuji kesabarannya."

​"Ingat pesan Ibu, Nak," suara lembut di seberang sana menyejukkan jiwa Fatimah. "Emas tetap akan jadi emas meski dibuang ke lumpur. Tapi lumpur akan tetap jadi lumpur meski kau letakkan di atas menara. Tetaplah jadi emas, Fat. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Cukup hamparkan sajadahmu, biarkan Allah yang berperang untukmu."

Fatimah menutup telepon dengan air mata yang mengalir lebih tenang. Ia mengambil buku catatannya, bukan untuk menggambar arsitektur, tapi untuk menulis satu kalimat besar: STRUKTUR IMAN LEBIH KUAT DARI STRUKTUR BATU.

​Ia membuka laptopnya, mulai menyusun draf pembelaan akademiknya dengan data-data yang sangat detail dan ilmiah. Ia akan berjuang. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk membuktikan bahwa kepercayaan Emir Arslan padanya tidak sia-sia.

​Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di distrik Beyoğlu, Emir Arslan sedang menatap maket Masjid Fatih. Ia mengambil sebuah foto lama keluarganya, mengusapnya pelan.

​"Ibu," bisik Emir pada foto itu, "aku menemukan seseorang yang memiliki ketulusan yang sama denganmu. Dan aku tidak akan membiarkan Istanbul menghancurkannya seperti ia menghancurkan kita dulu."


Other Stories
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Gm.

menakutkan. ...

Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Download Titik & Koma