Cahaya Dari Menara Camlica

Reads
126
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Cahaya dari menara camlica
Cahaya Dari Menara Camlica
Penulis Matchaa

Bab 9: Rahasia Di Balik Debu Kearsipan

Gedung kearsipan universitas terletak di lantai bawah tanah sebuah bangunan tua peninggalan era akhir Ottoman di wilayah Taşkışla. Berbeda dengan perpustakaan pusat yang modern dan penuh cahaya, ruang kearsipan ini adalah labirin rak besi yang menjulang tinggi, dipenuhi dengan map-map berwarna kusam dan bau kertas yang menua. Udara di sini terasa statis, seolah waktu berhenti berputar di antara tumpukan dokumen.

​Fatimah memulai hari pertamanya dengan mengenakan masker dan sarung tangan medis. Tugasnya sederhana namun melelahkan: mengatalogkan ulang dokumen-dokumen proyek arsitektur luar negeri yang pernah dikerjakan oleh universitas antara tahun 1950 hingga 1980.

​"Ini hukuman yang membosankan, kan?" Ali Ihsan tiba-tiba muncul di pintu masuk, membawa dua cup kopi hangat.

​Fatimah tersenyum di balik maskernya. "Bagi sebagian orang mungkin iya, Ali. Tapi bagi saya, setiap map ini adalah cerita yang belum selesai. Terima kasih kopinya."

Ali bersandar di rak besi. "Emir titip salam. Dia dilarang ke sini oleh dekanat untuk memastikan kau benar-benar menjalankan 'hukumanmu' sendirian. Tapi dia terlihat seperti singa dalam sangkar di kantornya."

​Fatimah tertawa kecil, membayangkan wajah gusar Emir. "Sampaikan padanya, saya baik-baik saja. Debu-debu ini justru memberi saya banyak ide."

Setelah Ali pergi, Fatimah kembali bekerja. Ia menarik sebuah kotak kayu besar dari sudut ruangan yang paling gelap. Kotak itu bertuliskan: “Dış Projeler: Güneydoğu Asya” (Proyek Luar Negeri: Asia Tenggara).

​Jantung Fatimah berdegup lebih kencang. Ia membuka tutup kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat gulungan cetak biru dan korespondensi resmi. Jemarinya gemetar saat ia menemukan sebuah map kulit berwarna cokelat dengan tulisan tinta emas yang mulai pudar: “Endonezya – İstiklal Camii Teknis İşbirliği, 1960” (Indonesia – Kerjasama Teknis Masjid Istiqlal, 1960).

Fatimah terduduk di lantai semen yang dingin. Ia tahu bahwa Masjid Istiqlal di Jakarta dirancang oleh arsitek Indonesia, Frederich Silaban. Namun, ia baru tahu bahwa ada tim konsultan dari Istanbul Technical University yang pernah dikirim ke Jakarta untuk memberikan masukan mengenai sistem akustik dan ventilasi alami kubah raksasa tersebut.

Ia membuka map itu lebih dalam. Di sela-sela perhitungan matematis akustik, terselip sebuah foto hitam putih yang sudah menguning. Foto itu memperlihatkan sekelompok pria di depan maket masjid. Di tengah-tengah mereka, ada seorang arsitek Turki muda yang tersenyum bangga. Di sampingnya, berdiri seorang pria lokal yang mengenakan peci hitam.

​Mata Fatimah membelalak. Pria lokal itu... sangat mirip dengan kakeknya yang sudah lama meninggal. Kakeknya dulu adalah seorang asisten teknis di proyek pembangunan Istiqlal.

​Ia membalik foto itu. Di belakangnya tertulis sebuah catatan dalam bahasa Turki:

​“Dostum Ahmad’a. Jakarta’nın kalbinde bıraktığım bu dostluk, İstanbul’un minarelerinde yankılanacak.”
(Untuk sahabatku Ahmad. Persahabatan yang kutinggalkan di jantung Jakarta ini akan bergema di menara-menara Istanbul.)

— Arslan Senior, 1962.

​"Arslan?" bisik Fatimah. "Nama keluarga Emir?"
​Fatimah segera mencari daftar personel tim tersebut. Benar saja, arsitek muda dalam foto itu adalah Mustafa Arslan, kakek dari Emir Arslan.

​Dunia seolah berputar. Takdir macam apa ini?

Fatimah terbang ribuan kilometer dari rumahnya hanya untuk menemukan bahwa kakeknya dan kakek Emir pernah bekerja bahu-membahu membangun simbol kejayaan Islam di tanah kelahirannya.

Getaran tasbih amber milik ibu Emir yang ada di dalam saku gamisnya terasa semakin nyata. Ia merasa ada sebuah rencana besar yang sedang Allah gelar di depan matanya. Bahwa pertemuannya dengan Emir bukan sekadar kebetulan akademik, melainkan sambungan dari persahabatan masa lalu yang terputus oleh jarak dan waktu.

Fatimah tidak bisa menunggu hingga besok. Ia harus memberitahu Emir. Meskipun mereka dilarang bertemu di kampus, ia mengirim pesan singkat: "Temui saya di Menara Galata setelah Isya. Ini tentang kakek kita."

​Malam itu, angin laut berembus kencang di sekitar Menara Galata. Fatimah berdiri di dekat kedai kopi kecil, menunggu dengan map cokelat di tangannya. Tak lama kemudian, sosok tinggi Emir muncul dari kegelapan gang. Napasnya tersengal, seolah ia berlari sepanjang jalan.

​"Fatimah? Apa yang terjadi? Pesanmu terdengar sangat serius," tanya Emir dengan nada cemas.

Fatimah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menyodorkan foto hitam putih itu kepada Emir.

​Emir mengambil foto itu, mengerutkan kening di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan. Perlahan, ekspresinya berubah. Matanya yang biasanya tajam kini berkaca-kaca. Ia menyentuh wajah pria di foto itu dengan ibu jarinya.

​"Ini... kakekku," suara Emir bergetar. "Dia selalu bercerita tentang sebuah proyek di 'Negeri Jauh' yang airnya hangat dan orang-orangnya sangat ramah. Dia bilang itu adalah pencapaian terbaiknya sebelum dia meninggal dalam kecelakaan saat aku masih bayi. Aku tidak pernah punya fotonya yang ini."

​"Pria di samping kakekmu adalah kakek saya, Bey," ucap Fatimah pelan. "Kakek saya meninggal saat saya masih kecil, tapi dia selalu bercerita tentang seorang teman dari Turki yang mengajarinya tentang rahasia suara di dalam kubah."

​Emir menatap Fatimah dengan pandangan yang sulit dilukiskan. Ada rasa takjub, haru, dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cinta.

"Jadi... kita tidak hanya bertemu sekarang, Fatimah. Jiwa keluarga kita sudah saling mengenal sejak enam puluh tahun yang lalu."

Emir mengajak Fatimah berjalan menuju tepi pagar yang menghadap ke pemandangan kota. Di bawah sana, lampu-lampu Istanbul berkelip seperti berlian yang ditaburkan di atas kain beludru hitam.

​"Selama ini aku bertanya-tanya, kenapa aku merasa begitu terikat padamu sejak pertama kali melihatmu di Çamlıca," Emir bersandar di pagar besi. "Aku pikir itu hanya karena aku mengagumi kecerdasanmu. Tapi sekarang aku tahu... ada doa dari para leluhur kita yang membawa kita ke sini."

​Fatimah menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. "Ibu saya selalu bilang, tidak ada daun yang jatuh tanpa izin Allah. Apalagi pertemuan dua manusia."

Emir menoleh, menatap Fatimah dengan intens.

"Fatimah, skorsing ini, Melisa, dan semua kesulitan di kampus... tiba-tiba terasa sangat kecil dibandingkan dengan kenyataan ini. Jika kakek kita membangun Istiqlal bersama, maka biarlah kita yang melanjutkan perjuangan itu."

​"Maksud Anda, Bey?"

​Emir menarik napas panjang. "Aku sedang mengerjakan proyek desain sebuah pusat kebudayaan Islam di Indonesia. Awalnya aku ragu apakah aku bisa memahaminya. Tapi sekarang aku tahu siapa yang harus membantuku. Setelah studimu selesai, maukah kau menjadi arsitek utamaku? Bukan sebagai asisten, tapi sebagai rekan."

Fatimah tertegun. Tawaran itu bukan hanya tawaran pekerjaan, tapi sebuah undangan untuk membangun masa depan bersama.

​"Tapi Bey, kita masih punya banyak rintangan. Komite disiplin, perbedaan budaya kita, dan..."

​"Biarkan rintangan itu menjadi semen yang memperkuat fondasi kita," potong Emir tegas. Ia merogoh saku jaketnya, memastikan tasbih amber yang ia berikan pada Fatimah tersimpan dengan baik. "Aku arsitek, Fatimah. Aku tahu bagaimana cara menangani retakan. Selama kau tidak melepaskan tanganmu dari tali Allah, aku tidak akan melepaskan niatku untuk menjagamu."

​Malam itu, di bawah bayang-bayang Menara Galata, Fatimah menyadari bahwa cintanya pada Istanbul dan cintanya pada Emir telah menyatu dalam sebuah simfoni yang indah. Ia bukan lagi seorang gadis asing yang tersesat di negeri orang. Ia adalah bagian dari sejarah yang sedang berulang.

Saat Fatimah kembali ke asrama, ia melihat tasbih amber di atas mejanya berkilau tertimpa cahaya lampu. Ia teringat tulisan kakek Emir di balik foto: “Persahabatan yang kutinggalkan di jantung Jakarta ini akan bergema di menara-menara Istanbul.”

​Gema itu kini terdengar nyata di telinganya. Bukan hanya dalam bentuk suara azan, tapi dalam detak jantungnya yang mulai menemukan iramanya kembali. Perjuangan memang belum usai, namun Fatimah tahu, dengan doa ibu di Jakarta dan kehadiran Emir di Istanbul, tidak ada struktur yang terlalu berat untuk ia pikul.

​Ia membuka laptopnya dan mengganti judul draf tesisnya menjadi: “Harmoni Dua Benua: Gema Akustik dari Istiqlal hingga Suleymaniye.”







Other Stories
Breast Beneath The Spotlight

Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Kk

jjj ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Download Titik & Koma