Antara Lensa Dan Bening
Untuk pertama kalinya, Bening tidak pulang bersama Ayah.
Ia dimakamkan di kota kelahirannya—di rumah Ibu. Kampung halamannya. Keluarga sepakat. Sehari setelah pemakaman, Birru ikut Ayah singgah ke rumahnya. Hanya untuk membereskan barang-barang Bening.
Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar Bening.
Kamar itu bernuansa biru muda, seperti warna langit yang sering Bening potret. Rapi. Terlalu rapi untuk sebuah kamar yang kini terasa hampa.
Beberapa perabot putih mendominasi. Sisanya Ornamen bernuansa bunga masih berjejer, seolah menunggu seseorang yang tak akan kembali.
Pandangan Birru tersita lebih lama, sebuah bunga matahari tiruan dengan vas transaparan berdiri disudut meja.
Dindingnya kamar itu penuh foto – sebagian dibingkai sisanya hanya ditempel.
Birru melangkah pelan, mengamati satu per satu: foto liburan mereka dari tahun ke tahun, foto ulang tahun, foto masa kecil.
Wajahnya berhenti pada satu bingkai.
Di sampingnya menempel memo kecil. Foto itu… keluarga dengan formasi lengkap. Ayah, Ibu, Birru, Bening. Birru hafal setiap wajah di sana.
Terlalu hafal.
Itu bukan foto mereka.
Itu hasil edit.
Di atas memo itu tertulis rapi:
Semoga suatu saat bisa liburan bersama. Punya foto keluarga yang utuh.
Ada nyeri kecil yang naik dari ulu hatinya.
Keinginan itu sederhana. Tapi kenapa terasa sejauh ini?
Birru berbalik.
Ia membuka laci-laci meja Bening. Di sana ada album polaroid. Ia membukanya.
Beberapa foto hanya memotret langit.
Langit pagi. Langit siang. Langit senja.
Semuanya indah.
Di balik setiap foto, tertulis kalimat yang sama:
Langit adalah tempat manusia bertemu. Setidaknya dalam doa.
Tenggorokan Birru mengencang.
“Bening… apa kamu selama ini kesepian?” bisiknya.
Ia tahu sejak kecil Ayah lebih sering pulang larut. Bekerja. Selalu bekerja.
Birru mengusap wajahnya, tapi air mata tetap jatuh—tanpa izin.
Ia memasukkan semua foto itu ke dalam tasnya. Tanpa sisa.
“Sekarang giliran aku yang jaga ingatanmu,” ucapnya pelan.
Sebelum keluar, ia mencetak satu foto terakhir. Foto yang diambil di rumah sakit. Foto dengan senyum yang masih utuh, meski dunia mereka sudah runtuh.
Ia dimakamkan di kota kelahirannya—di rumah Ibu. Kampung halamannya. Keluarga sepakat. Sehari setelah pemakaman, Birru ikut Ayah singgah ke rumahnya. Hanya untuk membereskan barang-barang Bening.
Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar Bening.
Kamar itu bernuansa biru muda, seperti warna langit yang sering Bening potret. Rapi. Terlalu rapi untuk sebuah kamar yang kini terasa hampa.
Beberapa perabot putih mendominasi. Sisanya Ornamen bernuansa bunga masih berjejer, seolah menunggu seseorang yang tak akan kembali.
Pandangan Birru tersita lebih lama, sebuah bunga matahari tiruan dengan vas transaparan berdiri disudut meja.
Dindingnya kamar itu penuh foto – sebagian dibingkai sisanya hanya ditempel.
Birru melangkah pelan, mengamati satu per satu: foto liburan mereka dari tahun ke tahun, foto ulang tahun, foto masa kecil.
Wajahnya berhenti pada satu bingkai.
Di sampingnya menempel memo kecil. Foto itu… keluarga dengan formasi lengkap. Ayah, Ibu, Birru, Bening. Birru hafal setiap wajah di sana.
Terlalu hafal.
Itu bukan foto mereka.
Itu hasil edit.
Di atas memo itu tertulis rapi:
Semoga suatu saat bisa liburan bersama. Punya foto keluarga yang utuh.
Ada nyeri kecil yang naik dari ulu hatinya.
Keinginan itu sederhana. Tapi kenapa terasa sejauh ini?
Birru berbalik.
Ia membuka laci-laci meja Bening. Di sana ada album polaroid. Ia membukanya.
Beberapa foto hanya memotret langit.
Langit pagi. Langit siang. Langit senja.
Semuanya indah.
Di balik setiap foto, tertulis kalimat yang sama:
Langit adalah tempat manusia bertemu. Setidaknya dalam doa.
Tenggorokan Birru mengencang.
“Bening… apa kamu selama ini kesepian?” bisiknya.
Ia tahu sejak kecil Ayah lebih sering pulang larut. Bekerja. Selalu bekerja.
Birru mengusap wajahnya, tapi air mata tetap jatuh—tanpa izin.
Ia memasukkan semua foto itu ke dalam tasnya. Tanpa sisa.
“Sekarang giliran aku yang jaga ingatanmu,” ucapnya pelan.
Sebelum keluar, ia mencetak satu foto terakhir. Foto yang diambil di rumah sakit. Foto dengan senyum yang masih utuh, meski dunia mereka sudah runtuh.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
315 Kilometer
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...