Se-birru Langit. Se-bening Embun

Reads
399
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Se-birru langit. se-bening embun
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Penulis YESA

Rumah Masa Kecil

Liburan selalu punya cara untuk mempertemukan manusia. Sebagian pertemuan memang direncanakan, sisanya datang tanpa aba-aba. Bagi Bening, bisa bertemu Birru dan Ibu adalah mimpi kecil yang selalu ia simpan di setiap liburan.


Bening turun dari mobil. Ia berdiri di depan rumah itu—rumah masa kecil mereka. Ada semburat rindu yang dibalut senyum. Rumah itu tak banyak berubah.


Rumah itu masih sama—perabot, letak, bahkan warna temboknya. Di beberapa sisi, catnya kusam. Bening menyentuh tembok dengan ujung jarinya; serbuk putih menempel di kulit, terasa kasar. Aromanya tak berubah. Yang tak kembali hanya gema. Sudah sepuluh tahun sejak Birru dan Bening berpisah. Anehnya, mereka justru makin dekat. Jarak menebalkan rindu, dan perpisahan orang tua mereka tidak mematikan asa.


Di usia delapan belas, kenangan datang hangat. Sejak malam itu—satu dekade lalu—saat mereka harus memilih tinggal dengan ayah atau ibu. Di tempat ini, bertahun-tahun kemudian, mereka kembali saling melempar tawa, berbagi kisah yang tak lagi sama.


“Lo tau ga. Gue pernah cabut ke kantin. Terus tiba-tiba sidak. Panik dong! Gue lari ke mushola, pura-pura sholat”, cerita Birru pada Bening. “Kebetulan lagi pada sholat Duha. Anak kelas tiga—biasa, tobat sebelum lulus”.


Bening mendengarkan sambil mengemil keripik singkong balado. “Terus?”


Birru mencomot satu keping. Memakannya. Lalu melanjutkan, “Gue pakai mukena. Sholat satu rakaat, sujudnya lama”.


“Lo baca apaan waktu sholat?”


“Gak baca apa-apa. Cuma dengerin kira-kira sidaknya udah kelar belum”.


“Bentar, bentar—gue penasaran muka lo.” Bening berjalan mengambil mukena, memakaikannya ke Birru. Ia tertawa; bahunya bergetar, tawanya nyaring. “Begini muka lo? Kumis lo ada?”.


“Iya lah. Mana kepikiran ada hari gue cosplay jadi ukhti-ukhti”, jawab Birru.


Percakapan random mereka selalu datang saat liburan panjang sekolah—satu-satunya waktu yang bisa mempertemukan mereka.




Other Stories
Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Download Titik & Koma