Menjelang Siang

Reads
12
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

2. Warung Silir

Langit di sebelah Timur berwarna gelap, dengan semburat oranye yang menandakan matahari baru saja terbit. Ombak yang tenang terus saja mengayun, membuat cipratan saat menghantam bebatuan besar pemecah gelombang.

Di kejauhan, kapal- kapal cadik nelayan satu persatu kembali setelah melaut semalaman di Laut Selatan. Layar- layar terkembang membentuk siluet di horizon, dengan suara motor yang ritmis mengisi fajar yang tenang.

Tika duduk di atas salah satu batu, menatap ke sebelah kirinya. Merasakan cahaya pertama pagi itu. Kakinya terendam di air, membasahi betis dan sekaligus perasaannya.

Pagi hari di tempat Uti— terasa tenang.

Tak seperti orang- orang di sekitar rumah, yang akan menghujani Tika dengan pertanyaan:
-Berapa IPK terakhirmu?
-Loh belum selesai kuliahnya?
-Anakku sudah selesai skripsi kemarin. kamu?

Tidak.

Di sini, di tempat ini tak ada yang mempertanyakan kuliah Tika.
Di sini hanya ada Uti yang lebih kuatir apakah Tika sudah makan atau belum. Atau apakah Tika merasa perlu selimut saat tidur.

"Hhhhh.." Tika menghela nafas panjang.

Tika tidak ingin lari dari kenyataan.
Ia hanya ingin rehat.
Sejenak melupakan kampus barang beberapa minggu.
Atau— benarkah seperti itu?

Tika tak tahu. Ia hanya ingin menghabiskan pagi ini untuk duduk menyendiri di sini. Sebelum matahari terbit.
Sebelum warga sekitar pantai Muncar menggeliat bangun, memulai hari- hari mereka.

Jam 09.00 pagi.

Tika yang baru selesai mandi mendapati Uti tengah bersiap dengan beberapa plastik besar bahan masakan untuk di bawa ke warung. Sejak subuh tadi, Uti sudah sibuk dengan mempersiapkan bahan; memotong tempe, mengupas bawang, ataupun mencuci sayuran.

Uti yang sudah berusia lanjut itu —walaupun dalam keseharian terbiasa melakukan semuanya sendiri, namun sedikit kesulitan untuk melakukannya.

"Biar aku bawain Uti," Tika bergegas mendekati Utinya di dapur. "Kok nggak manggil aku sih?"

"Aku kira kamu belum selesai mandi," Uti tersenyum, dengan senang hati membagi bawaannya.

Keduanya berjalan keluar rumah, untuk menuju warung yang ada tepi pekarangan— tepat di pinggir jalan.

Rumah Uti, adalah sebuah rumah model lawas, sederhana dengan tiang- tiang kayu dan tembok bata yang dibiarkan terekspos. Lumut- lumut menghijau tumbuh di bagian sampingnya yang teduh.

Mereka melewati sebuah petak pekarangan, dengan dua tiang bambu yang digunakan untuk menjemur baju, yang juga ditanami cabe, bayam, tomat dan lainnya untuk keperluan warung.

Kemudian menuju sebuah warung kecil yang dibangun di bawah pohon kersen rindang. Warung yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan atap asbes. Bentuk warungnya sendiri hampir tak berubah bahkan sejak Tika kecil.

Namun kini penampilannya terlihat jauh berbeda.
Cat- cat di tiang bambunya sudah banyak yang mengelupas. Atap yang patah di beberapa bagian. Pondasi bebatuan terkepas. Terlebih lokasinya hanya yang berseberangan dengan pantai Muncar, dengan cuaca laut yang tidak ramah dengan benda- benda— membuat bekas terpaan alam lebih terasa.

Warung yang terlihat begitu tua, namun masih tetap bertahan dengan sisa- sisa tenaganya.

Warung Silir namanya, karena dulu para pengunjung biasa duduk di bangku kayu depan warung— menikmati hidangan ditemani semilir angin pantai.

Tika meletakkan bahan- bahannya di meja dekat kompor, sementara Uti menata panci dan peralatan masak. Orang tua itu tak terlihat lelah, bahkan justru tersenyum— mengelap dan membersihkan peralatan masak dan makan sebelum digunakan.

Seolah Uti sangat menikmati apapun ini yang tengah ia lakukan.
Yang entah kenapa, membuat Tika merasa tertarik.

"..."

"Aku boleh ikut bantu jualan, Ti?"

"Boleh toh Nduk," sahut Uti sambil meletakkan piring bersih di tumpukan. Sejenak ia memperhatikan cucu nya itu yang mengenakan kaos sleeves dan celana panjang santai.
"Tapi sayang bajumu kan. Bagus- bagus kok dipake kotor- kotoran di warung. Nanti kena minyak kena bumbu. Ganti pake bajunya Uti gih, ada di lemari."

"Ah, enggak deh Ti," Tika mengernyit memperhatikan bajunya sendiri. "Ini bajunya biasa aja kok."

"Udah, ganti bajunya Uti saja sana," Uti tersenyum menggestur agar Tika menunggalkan warung.

"Iya deh," Tika mengangkat bahunya, dan kembali ke rumah di belakang.

Uti melanjutkan pekerjaanya, mengelap kursi dan meja panjang yang ditutupi terpal sebagai taplak. Sambil bersenandung melodi Banyuwangi-an, perempuan itu lanjut menyiapakan etalase— menata baskom, piring dan yang lain.

"Udah Ti," ujar Tika ketika kembali memasuki warung. "Sekarang aku boleh bantu- bantu kan?"

Uti menoleh, lalu sejenak terdiam menatap sosok cucunya itu. Tatapannya seolah takjub dengan Tika yang mengenakan daster batik. Ia berdiri meletakkan kain lap nya ke meja, dengan sebuah senyuman yang teramat lembut.

"Kamu, makin mirip banget sama ibu mu."










Other Stories
First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Lust

​Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Download Titik & Koma