Menjelang Siang

Reads
14
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Menjelang Siang
Menjelang Siang
Penulis Andi Yudaprakasa

3. Pertemuan Pertama

-JAAAASSHHH!!!

Suara desis nyaring terdengar saat Tika menuang blenderan cabai, bawang dan tomat ke dalam wajan stainless. Uap putih seketika mengepul, melayang keluar warung dari sela- sela dinding anyaman bambu. Aroma tajam seketika menyeruak, menusuk hidung dan mata Tika yang berdiri di depan kompor— membuat gadis itu bersin- bersin.

"Bisa Nduk?" Uti memindah nasi ke dalam termos besar.

"Bisa kok— Hachiiih!! Uti, tenang aja— Hachiiih!!" jawab Tika

Uti tertawa kecil, namun membiarkan Tika mengolah balado terong. Ia berdiri sejenak, mengangguk memandangi etalase dan lauk- lauknya yang sudah hampir siap.
Lalu melirik jam dinding kusam yang menggantung di tiang bambu.

"Berkat bantuanmu, warungnya bisa buka lebih awal," Uti menepuk pundak Tika lembut. "Makasih loh."

"Haaah.." Tika mengusap hidungnya dengan tissue. Bersin- bersinnya mulai terasa lebih enak. "Kok belum ada yang datang Ti? Perasaan dulu masih pagi banget udah rame?"

Uti membuka pintu warung dan korden kecil jendela. "Ya sekarang kan udah beda. Sudah banyak warung yang lebih bagus— lebih baru ketimbang punyaku. Jadi ya, pelanggan yang datang ke sini ya makin sedikit."

"Kok bisa sih? Padahal masakan Uti paling enak?" ujar Tika sambil mengaduk terong. Suara sutil yang beradu dengan wajan membuat suara nyaring.

"Ya gimana, namanya orang jualan," Uti mendekati Tika di belakang etalase. "Ada yang datang beli saja aku udah seneng."

"Kok gitu?" Tika tak mengerti. "Kalau warungnya sepi pemasukannya kecil dong Ti?"

"Ah, Uti kan sudah tua. Sendirian juga," jawab Utinya santai. "Mau buat apa pemasukan banyak- banyak?"

Tak lama setelah warung dibuka, beberapa pelanggan pertama datang. Mereka adalah para nelayan yang selesai melaut— dan menurunkan muatan perahu mereka. Bapak- bapak seumuran Uti, bertubuh kering, bermandikan peluh dan mengenakan kaos yang nampak pudar karena matahari.

"Ndang, pecel satu, nasi campur dua, sama kopi," salah seorang dari mereka memesan untuk semua. Dari cara mereka memanggil dengan nama Endang— sepertinya para nelayan itu akrab dengan Uti.

Uti mengangguk dan segera mengambil piring, sambil berujar pada Tika. "Bikinin kopi tiga ya Nduk. Gulanya setengah sendok saja. Mereka nggak suka yang kemanisan."

"Iya Ti," jawab Tika sambil menuang balado terong yang sudah matang ke dalam baskom seng.

"Loh, siapa ini Ndang?" tanya Pak Tarno, yang paling tua.

"Ini Swastika, cucuku," jawab Uti sambil menata nasi dan lauk. "Itu loh, yang dulu sering main di bawah pohon kersen depan."

Pak Tarno mengernyit beberapa lama memperhatikan Tika. "Oooh, yang itu? Lah kok tahu- tahu sudah segede ini?"

"Bukan dia yang sudah segede ini," Uti menyodorkan piring pertama. "Kitanya yang tambah tua, No."

"Loh iya tah?" bantah Pak Tarno. "Nggak kerasa ya?"

Dan lalu gelak tawa memenuhi warung tersebut selagi Tika menuang air panas dari dalam termos. Mengaduk minuman hitam pekat itu dan menyajikannya kepada masing- masing pengunjung.

Ketiga nelayan itu pun menyantap pesanan mereka sambil bergurau— menertawakan ombak yang tadi tiba- tiba sempat membesar, membuat mereka hampir terbalik. Bercerita bagaimana hasil tangkapan hari ini. Dan bagaimana harga ikan yang sedang naik.

Uti berdiri di etalase sambil sesekali menimpali.

Tika berdiri di samping Uti, memperhatikan bagaimana interaksi kecil ini membuat warung yang tadinya sepi bisa menjadi riuh begitu saja. Tak ada nelayan dan penjaga warung. Hanya ada sejumlah warga yang saling mengobrol sambil menyantap makan mereka.

Rasanya Tika bisa mengerti kenapa Uti tak peduli walau warungnya agak sepi, dengan pemasukan yang tak terlalu besar. Sebab ia memiliki mereka, pelanggan akrab yang menemani.

Lalu setelah menyelesaikan makan, ketiga nelayan itu pergi— dan warung kembali sepi. Beberapa motor melintas jalan depan, atau warga yang berlalu lalang.

Namun tak ada yang datang.

"Nduk, bisa jagain sebentar?" Uti meletakkan piring yang sudah dicuci ke dalam etalase. "Aku mau ke kamar mandi sebentar. Berani toh jagain sendiri?"

"Iya Ti," jawab Tika.

Dan Uti pun meninggalkan Tika sendiri di warung.

Gadis itu menghela nafas panjang. Ia mengedar pandang, menatap suasana warung yang lengang.
Ini kah yang Utinya kerjakan sehari- hari?

Sambil menunggui warung, Tika menyibukkan diri— entah merapikan etalase, mengelap piring basah, atau apapun. Keadaan warung yang sepi membuat pikirannya tak fokus. Ia kembali teringat tentang pengajuan skripsinya yang ditolak oleh Pak Tofik.

Membuat Tika menjaga warung sambil setengah melamun.

Sehingga ia tak menyadari ada sebuah motor berhenti di depan warung.

Seorang pemuda berjalan masuk dan berhenti di ambang pintu. Pemuda itu terdiam, menatap Tika beberapa saat lalu melongok keluar— memastikan bahwa ia tidak salah masuk warung.

"Bener kok?" gumam pemuda itu.

Lalu ia berjalan masuk, mendekati etalase dan berdehem.

Tika tersadar dari lamunannya, sedikit kaget mendapati seorang pemuda tiba- tiba berdiri berseberangan dengannya.

"Bungkus satu, nasi campur sama telur," ujar si pemuda.

"Eh— anu, iya Mas," jawab Tika, meraih selembar kertas minyak di bawah etalase. Ia pun mengalasi kertas itu dengan potongan daun pisang. "Bungkus nasi campur sama telur ya?"

Lelaki itu hanya mengangguk, duduk di pojok.

Ia terdiam menatap Tika yang menata pesanannya dengan gerakan canggung.

"Hmm— sendok buat sambel tadi ditaruh mana ya?" gumam Tika mencari- cari.

Swastika— yang nampak cocok mengenakan daster batik coklat, kontras dengan kulitnya yang bersih. Rambut panjangnya tergerai ketika ia bergerak, dengan sebuah jepit bunga kamboja kecil di dekat telinga sebagai aksen. Wajahnyan yang manis kalem, dengan perawakan ramping, begitu menonjolkan pesonanya sebagai gadis tradisional.

"..."

Pemuda itu mengalihkan pandang— merasa menatap Tika terlalu lama.

"Sudah Mas," Tika menyodorkan sebuah kantong plastik bening kecil. "Silakan."

Pemuda itu terdiam sejenak menatap bungkusan nasinya yang agak berantakan. Lalu menyodorkan selembar uang sebelum mengambil kantong itu dari tangan Tika.

Tika tersenyum. "Makasih Mas."

Pemuda itu mengangguk dan berjalan keluar menaiki motornya. Ia menstarter mesin —melirik ke arah Tika, dan lalu melaju pelan meninggalkan warung.

Tika memasukkan uang ke dalam laci kecil, saat Uti berjalan memasuki warung.
"Ada yang datang toh?"

"Ada Uti," jawab Tika cepat. "Bungkus nasi campur satu."

"Ooh.." Uti mengangguk.













Other Stories
Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Uap Dari Panas Bumi

Liburan seharusnya menjadi pelarian paling menyenangkan bagi Aluna. Setelah berbulan-bulan ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Download Titik & Koma