2. Menuju Gerbang Sunyi
Tiga hari kemudian, tepat di pagi buta saat langit masih berwarna biru pekat, kediaman mewah milik keluarga Vino sudah tampak sibuk. Rumah bak istana itu berdiri angkuh di tengah kawasan elit yang sunyi. Di lobi utama yang berlapis marmer, supir pribadi Vino sibuk memindahkan koper-koper mahal milik rombongan itu ke dalam bagasi mobil SUV besar yang akan mengantar mereka ke titik temu.
Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, ayah dan ibu Vino keluar untuk melepas keberangkatan. Ayah Vino, seorang pria dengan aura berat, memanggil putranya ke sudut ruangan. Ia merogoh kantong jas sutranya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam kecil yang diikat benang merah kusam.
"Simpan ini di kantongmu, Vino," ucap ayahnya dengan suara berat yang berwibawa. "Ayah tahu kamu akan pergi ke wilayah 'tua'. Ini jimat penjaga. Jangan sampai hilang, dan jangan sesekali kamu buka kalau tidak ingin celaka."
Vino menerima bungkusan itu dengan seringai remeh, lalu memasukkannya ke saku celana jeans-nya.
Sementara itu, ibu Vino mendekati teman-teman putranya dengan wajah cemas.
"Tolong ya, kalian saling jaga. Terutama kamu, Vino," ucap sang Ibu sambil memegang lengan anaknya. "Ibu tahu kamu terkadang kurang tata krama, tapi di tempat orang nanti, tolong jaga sikap. Jangan sembarangan bicara atau bertindak."
"Iya, Bu, tenang saja. Vino kan sudah besar," jawab Vino enteng.
Sebelum benar-benar berangkat, Bobi mengeluarkan ponsel miliknya. "Ayo, foto bersama dulu buat kenang-kenangan!"
Mereka pun berbaris di depan lobi mewah tersebut. Ayah dan ibu Vino berdiri di tengah, dikelilingi oleh rombongan itu. Bunyiklikdari kamera ponsel memecah kesunyian, mengabadikan senyum mereka yang tampak sempurna di pagi itu.
Perjalanan menuju terminal pinggiran kota terasa begitu menyenangkan. Di dalam SUV mewah, mereka benar-benar menikmati suasana. Selin tidak henti-hentinya berswafoto, lalu mengajak Reno untuk berfoto mesra. Tangannya dengan lincah memilih filter terbaik, lalu segera mengunggahnya ke akun sosial media dengan keterangan: "Healing bentar ke desa adat, bye-bye kota!"
Tak mau kalah, Vino juga sibuk memperbarui status di semua akun sosial medianya. Ia merekam video singkat yang menyoroti jam tangan mahalnya dengan latar belakang pemandangan jalan, lalu mengunggahnya. "Open trip dulu ke pedalaman guys" tulisnya yang langsung disambut banyak tanda suka dari pengikutnya.
"Duh, sinyalnya mulai susah ini!" gumam Selin sambil sibuk membalas komentar-komentar yang masuk. Vino tertawa sombong, "Apalagi di desa nanti, paling cuma ada sinyal dari alam gaib."
Melihat teman-temannya mulai sibuk dengan urusan masing-masing, Bobi mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk mengambil foto ramai-ramai.
"Ayo semua lihat sini! Satu, dua, tiga! Sukma Mulya, we are coming!" teriak Bobi. Bahkan Nara sempat tersenyum tipis, sementara Arga hanya menggeleng-geleng melihat semangat teman-temannya.
Namun, suasana ceria itu perlahan memudar saat mobil berhenti di sebuah terminal kecil yang tampak mati. Kabut tipis menyelimuti sebuah minibus putih tua yang terparkir di bawah pohon beringin besar.
Seorang pria berdiri bersandar di pintu minibus. Dia berusia sekitar 40-an tahun dengan tubuh tegap namun kurus kering. Namanya Dedi. Mengenakan topi lusuh dan jaket memudar, Dedi memiliki garis wajah yang keras dan mata cekung yang tajam.
"Rombongan open trip ke desa adat Sukma Mulya?" tanya Dedi dingin.
"Iya, Pak. Saya Bobi yang hubungi kemarin," ujar Bobi, mencoba ramah meski atmosfer terminal terasa mencekam.
Dedi tidak langsung menjawab. Matanya menyisir mereka satu per satu. Saat berhenti pada Nara, pupil matanya melebar; aroma Tulang Wangi itu begitu nyata. Namun, keheningan itu segera dipecah oleh Vino.
Vino menghampiri Dedi, ia menepuk bahu pria itu dengan santai seolah sedang menyapa bawahan, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Dedi sambil berbisik dengan nada mesum. "Pak, di desa itu... banyak gadis desa yang cantik, kan? Vino tertawa cabul, matanya menyiratkan ekspektasi yang rendah terhadap tempat tujuan mereka.
Dedi tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat tidak menyenangkan. Di matanya, Vino adalah persembahan pembuka yang sempurna.
"Ayo silahkan naik," perintah Dedi dingin sambil membukakan pintu minibus. "Jalanan ke Desa Seribu Sesajen tidak suka menunggu lama," gumamnya dalam hati sambil menatap punggung rombongan itu dengan tatapan lapar.
Saat hendak melangkah masuk ke minibus, Selin mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara. "Yah, kok sinyalnya sisa satu bar? Tadi di mobil masih penuh," keluhnya sambil menggoyang-goyangkan HP. Reno menyahut santai, "Wajarlah, namanya juga daerah pinggiran, nanti juga stabil lagi."
Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, ayah dan ibu Vino keluar untuk melepas keberangkatan. Ayah Vino, seorang pria dengan aura berat, memanggil putranya ke sudut ruangan. Ia merogoh kantong jas sutranya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam kecil yang diikat benang merah kusam.
"Simpan ini di kantongmu, Vino," ucap ayahnya dengan suara berat yang berwibawa. "Ayah tahu kamu akan pergi ke wilayah 'tua'. Ini jimat penjaga. Jangan sampai hilang, dan jangan sesekali kamu buka kalau tidak ingin celaka."
Vino menerima bungkusan itu dengan seringai remeh, lalu memasukkannya ke saku celana jeans-nya.
Sementara itu, ibu Vino mendekati teman-teman putranya dengan wajah cemas.
"Tolong ya, kalian saling jaga. Terutama kamu, Vino," ucap sang Ibu sambil memegang lengan anaknya. "Ibu tahu kamu terkadang kurang tata krama, tapi di tempat orang nanti, tolong jaga sikap. Jangan sembarangan bicara atau bertindak."
"Iya, Bu, tenang saja. Vino kan sudah besar," jawab Vino enteng.
Sebelum benar-benar berangkat, Bobi mengeluarkan ponsel miliknya. "Ayo, foto bersama dulu buat kenang-kenangan!"
Mereka pun berbaris di depan lobi mewah tersebut. Ayah dan ibu Vino berdiri di tengah, dikelilingi oleh rombongan itu. Bunyiklikdari kamera ponsel memecah kesunyian, mengabadikan senyum mereka yang tampak sempurna di pagi itu.
Perjalanan menuju terminal pinggiran kota terasa begitu menyenangkan. Di dalam SUV mewah, mereka benar-benar menikmati suasana. Selin tidak henti-hentinya berswafoto, lalu mengajak Reno untuk berfoto mesra. Tangannya dengan lincah memilih filter terbaik, lalu segera mengunggahnya ke akun sosial media dengan keterangan: "Healing bentar ke desa adat, bye-bye kota!"
Tak mau kalah, Vino juga sibuk memperbarui status di semua akun sosial medianya. Ia merekam video singkat yang menyoroti jam tangan mahalnya dengan latar belakang pemandangan jalan, lalu mengunggahnya. "Open trip dulu ke pedalaman guys" tulisnya yang langsung disambut banyak tanda suka dari pengikutnya.
"Duh, sinyalnya mulai susah ini!" gumam Selin sambil sibuk membalas komentar-komentar yang masuk. Vino tertawa sombong, "Apalagi di desa nanti, paling cuma ada sinyal dari alam gaib."
Melihat teman-temannya mulai sibuk dengan urusan masing-masing, Bobi mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk mengambil foto ramai-ramai.
"Ayo semua lihat sini! Satu, dua, tiga! Sukma Mulya, we are coming!" teriak Bobi. Bahkan Nara sempat tersenyum tipis, sementara Arga hanya menggeleng-geleng melihat semangat teman-temannya.
Namun, suasana ceria itu perlahan memudar saat mobil berhenti di sebuah terminal kecil yang tampak mati. Kabut tipis menyelimuti sebuah minibus putih tua yang terparkir di bawah pohon beringin besar.
Seorang pria berdiri bersandar di pintu minibus. Dia berusia sekitar 40-an tahun dengan tubuh tegap namun kurus kering. Namanya Dedi. Mengenakan topi lusuh dan jaket memudar, Dedi memiliki garis wajah yang keras dan mata cekung yang tajam.
"Rombongan open trip ke desa adat Sukma Mulya?" tanya Dedi dingin.
"Iya, Pak. Saya Bobi yang hubungi kemarin," ujar Bobi, mencoba ramah meski atmosfer terminal terasa mencekam.
Dedi tidak langsung menjawab. Matanya menyisir mereka satu per satu. Saat berhenti pada Nara, pupil matanya melebar; aroma Tulang Wangi itu begitu nyata. Namun, keheningan itu segera dipecah oleh Vino.
Vino menghampiri Dedi, ia menepuk bahu pria itu dengan santai seolah sedang menyapa bawahan, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Dedi sambil berbisik dengan nada mesum. "Pak, di desa itu... banyak gadis desa yang cantik, kan? Vino tertawa cabul, matanya menyiratkan ekspektasi yang rendah terhadap tempat tujuan mereka.
Dedi tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat tidak menyenangkan. Di matanya, Vino adalah persembahan pembuka yang sempurna.
"Ayo silahkan naik," perintah Dedi dingin sambil membukakan pintu minibus. "Jalanan ke Desa Seribu Sesajen tidak suka menunggu lama," gumamnya dalam hati sambil menatap punggung rombongan itu dengan tatapan lapar.
Saat hendak melangkah masuk ke minibus, Selin mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara. "Yah, kok sinyalnya sisa satu bar? Tadi di mobil masih penuh," keluhnya sambil menggoyang-goyangkan HP. Reno menyahut santai, "Wajarlah, namanya juga daerah pinggiran, nanti juga stabil lagi."
Other Stories
Gm.
menakutkan. ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Ngidam
Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...