6. Perjamuan Terlarang
Matahari mulai tenggelam di balik punggung bukit, menyisakan langit berwarna merah darah yang perlahan meredup menjadi hitam pekat. Kabut tebal kembali turun, namun kali ini terasa lebih berat dan berbau amis.
Di teras penginapan, suasana yang tadi pagi penuh tawa kini berubah menjadi kegelisahan yang mencekam.
"Vino belum balik juga?" tanya Arga, matanya menatap tajam ke arah jalan setapak menuju sungai yang kini tertutup kegelapan.
"Belum. Gue udah coba panggil-panggil di pinggir hutan dan sungai tadi, tapi nggak ada jawaban," jawab Bobi dengan suara yang tidak lagi ceria.
"HP-nya juga nggak aktif, ya lagian nggak ada sinyal juga sih."
Selin mulai mondar-mandir dengan cemas. "Reno, aku takut. Vino itu orangnya nggak bisa diam, tapi dia nggak pernah pergi selama ini tanpa pamit. Gimana kalau dia jatuh atau... atau digigit sesuatu?"
Reno mencoba menenangkan Selin, meski wajahnya sendiri tampak pucat. "Mungkin dia masih di rumah salah satu warga. Kalian tahu sendiri kan gimana genitnya dia kalau lihat cewek."
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, Dedi muncul dari kegelapan bawah tangga bersama seorang pria tua yang mengenakan jubah hitam kusam dan ikat kepala kain putih. Pria tua itu adalah sang Kepala Desa. Wajahnya penuh keriput, dengan mata yang salah satunya tertutup selaput putih katarak.
"Jangan khawatir tentang teman kalian," suara Kepala Desa itu serak, terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Dia sedang berada di tempat yang aman. Dia sedang... 'mempersiapkan diri' untuk upacara adat."
"Maksud Bapak apa?" tanya Nara dengan nada curiga. Aroma Tulang Wangi di tubuhnya berdenyut kencang, memberikan peringatan bahaya yang luar biasa.
"Sudahlah jangan takut akan keberadaan teman kalian. Malam ini, kalian adalah tamu kehormatan kami," lanjut Kepala Desa tanpa menjawab pertanyaan Nara.
"Kami telah menyiapkan perjamuan di balai desa sebagai tanda penyambutan. Mari, jangan biarkan hidangan spesial ini menjadi dingin."
Karena rasa lapar yang tak tertahankan dan paksaan halus dari Dedi, mereka akhirnya mengikuti kedua pria itu menuju Balai Desa.
Seolah-olah menolak bukanlah sebuah pilihan.
Saat mereka memasuki Balai Desa, ruangan itu hanya diterangi oleh puluhan lilin merah yang diletakkan di lantai.
Di tengah ruangan, sebuah meja panjang kayu jati penuh dengan berbagai macam hidangan daging yang mengepulkan uap panas. Aroma bumbunya sangat tajam, menutupi bau amis yang samar.
Sebelum duduk di meja panjang, Bobi dan Selin sempat mengeluarkan ponsel mereka.
"Gila, vibes-nya dark banget. Buat dokumentasi kalau kita balik nanti," bisik Bobi sambil memotret sudut-sudut ruangan yang dipenuhi bayangan.
Selin pun ikut mengambil beberapa foto selfie dengan latar belakang meja perjamuan yang dipenuhi makanan.
"Silakan duduk dan selamat makan. Ini adalah daging pilihan yang hanya kami sajikan saat ada tamu istimewa," ucap Kepala Desa sambil duduk di ujung meja, mengamati Nara dengan mata kataraknya yang seolah menembus sukma.
Mereka semua mulai memakan hidangan yang berada di hadapan mereka. Dagingnya terasa sangat empuk, namun memiliki rasa manis yang asing.
Selin, yang sedang mencoba memotong bagian daging yang cukup besar di piringnya, tiba-tiba merasakan pisaunya membentur sesuatu yang keras.
"Ih, apa ini? Tulang?" gumam Selin. Ia merogoh piringnya dan mengangkat sebuah benda kecil berbentuk bulat dengan bantuan garpu.
Saat lilin merah di dekatnya berkilat, wajah Selin seketika membeku. Benda itu bukan tulang. Itu adalah sebuah kancing logam emas dengan logo merk desainer ternama—kancing yang sangat ia kenali karena sore tadi ia sempat memuji jaket mahal milik Vino.
Suasana seketika menjadi hening yang mematikan. Nara menutup mulutnya, menahan mual yang hebat.
Arga segera meletakkan sendoknya, tangannya bergetar hebat.
"Ini... ini kancing jaket Vino," bisik Selin, suaranya melengking karena kaget bercampur takut yang tak terbayangkan.
Tiba-tiba, suara tawa kecil terdengar dari arah Kepala Desa. Tawa itu diikuti oleh Dedi yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah gelap.
"Gimana? Enak? Itu daging kualitas terbaik dari desa," ucapnya dengan nada datar yang mengejek.
"Bukankah tadi saya sudah bilang?" suara Kepala Desa kini terdengar sangat puas. "Teman kalian sudah mempersiapkan diri. Dia telah menyatu dengan kalian. Itulah cara terbaik untuk tetap 'bersama' di Desa Sukma Mulya."
Selin menjerit histeris, memuntahkan isi perutnya ke lantai. Bobi jatuh terduduk dengan wajah seputih kertas.
Di tengah mual dan syok yang hebat, Arga adalah yang pertama kali tersadar. Matanya beralih dari piring itu ke arah Kepala Desa dan Dedi yang sedang menonton mereka dengan tatapan puas.
Arga memberikan kode rahasia dengan sentakan kepalanya kepada Bobi dan Nara sedangkan Reno dan Selin, ia menendang kaki mereka pelan.
"Sekarang!" teriaknya memecah kesunyian.
Mereka bangkit dan berhamburan menuju pintu keluar.
Namun, Dedi bergerak cepat. Dengan langkah lebar, ia langsung menghadang pintu besar Balai Desa, merentangkan tangannya dengan wajah yang kini tampak dingin dan tanpa ekspresi.
"Kalian tidak bisa pergi sebelum perjamuan selesai," ucap Dedi datar.
"Minggir, bangsat!" teriak Bobi. Dengan marah, Bobi berlari dan mendorong Dedi sekuat tenaga. Dedi yang tidak menyangka akan serangan fisik itu terhuyung ke samping, memberikan celah kecil yang cukup untuk mereka lewati.
Mereka berhamburan keluar dari Balai Desa, menembus udara malam yang dingin. Di halaman, mereka melihat kerumunan warga mulai bergerak mendekat dari arah jalan utama desa.
"Ke sana! Ke arah hutan!" tunjuk Arga.
Satu-satunya jalan yang tidak dijaga oleh warga adalah jalur gelap menuju hutan beringin tempat Vino menghilang tadi pagi.
Tanpa pilihan lain, mereka berlari sekencang mungkin, masuk ke dalam kegelapan hutan yang pekat, meninggalkan cahaya obor desa yang perlahan memudar di belakang mereka.
Di teras penginapan, suasana yang tadi pagi penuh tawa kini berubah menjadi kegelisahan yang mencekam.
"Vino belum balik juga?" tanya Arga, matanya menatap tajam ke arah jalan setapak menuju sungai yang kini tertutup kegelapan.
"Belum. Gue udah coba panggil-panggil di pinggir hutan dan sungai tadi, tapi nggak ada jawaban," jawab Bobi dengan suara yang tidak lagi ceria.
"HP-nya juga nggak aktif, ya lagian nggak ada sinyal juga sih."
Selin mulai mondar-mandir dengan cemas. "Reno, aku takut. Vino itu orangnya nggak bisa diam, tapi dia nggak pernah pergi selama ini tanpa pamit. Gimana kalau dia jatuh atau... atau digigit sesuatu?"
Reno mencoba menenangkan Selin, meski wajahnya sendiri tampak pucat. "Mungkin dia masih di rumah salah satu warga. Kalian tahu sendiri kan gimana genitnya dia kalau lihat cewek."
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, Dedi muncul dari kegelapan bawah tangga bersama seorang pria tua yang mengenakan jubah hitam kusam dan ikat kepala kain putih. Pria tua itu adalah sang Kepala Desa. Wajahnya penuh keriput, dengan mata yang salah satunya tertutup selaput putih katarak.
"Jangan khawatir tentang teman kalian," suara Kepala Desa itu serak, terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Dia sedang berada di tempat yang aman. Dia sedang... 'mempersiapkan diri' untuk upacara adat."
"Maksud Bapak apa?" tanya Nara dengan nada curiga. Aroma Tulang Wangi di tubuhnya berdenyut kencang, memberikan peringatan bahaya yang luar biasa.
"Sudahlah jangan takut akan keberadaan teman kalian. Malam ini, kalian adalah tamu kehormatan kami," lanjut Kepala Desa tanpa menjawab pertanyaan Nara.
"Kami telah menyiapkan perjamuan di balai desa sebagai tanda penyambutan. Mari, jangan biarkan hidangan spesial ini menjadi dingin."
Karena rasa lapar yang tak tertahankan dan paksaan halus dari Dedi, mereka akhirnya mengikuti kedua pria itu menuju Balai Desa.
Seolah-olah menolak bukanlah sebuah pilihan.
Saat mereka memasuki Balai Desa, ruangan itu hanya diterangi oleh puluhan lilin merah yang diletakkan di lantai.
Di tengah ruangan, sebuah meja panjang kayu jati penuh dengan berbagai macam hidangan daging yang mengepulkan uap panas. Aroma bumbunya sangat tajam, menutupi bau amis yang samar.
Sebelum duduk di meja panjang, Bobi dan Selin sempat mengeluarkan ponsel mereka.
"Gila, vibes-nya dark banget. Buat dokumentasi kalau kita balik nanti," bisik Bobi sambil memotret sudut-sudut ruangan yang dipenuhi bayangan.
Selin pun ikut mengambil beberapa foto selfie dengan latar belakang meja perjamuan yang dipenuhi makanan.
"Silakan duduk dan selamat makan. Ini adalah daging pilihan yang hanya kami sajikan saat ada tamu istimewa," ucap Kepala Desa sambil duduk di ujung meja, mengamati Nara dengan mata kataraknya yang seolah menembus sukma.
Mereka semua mulai memakan hidangan yang berada di hadapan mereka. Dagingnya terasa sangat empuk, namun memiliki rasa manis yang asing.
Selin, yang sedang mencoba memotong bagian daging yang cukup besar di piringnya, tiba-tiba merasakan pisaunya membentur sesuatu yang keras.
"Ih, apa ini? Tulang?" gumam Selin. Ia merogoh piringnya dan mengangkat sebuah benda kecil berbentuk bulat dengan bantuan garpu.
Saat lilin merah di dekatnya berkilat, wajah Selin seketika membeku. Benda itu bukan tulang. Itu adalah sebuah kancing logam emas dengan logo merk desainer ternama—kancing yang sangat ia kenali karena sore tadi ia sempat memuji jaket mahal milik Vino.
Suasana seketika menjadi hening yang mematikan. Nara menutup mulutnya, menahan mual yang hebat.
Arga segera meletakkan sendoknya, tangannya bergetar hebat.
"Ini... ini kancing jaket Vino," bisik Selin, suaranya melengking karena kaget bercampur takut yang tak terbayangkan.
Tiba-tiba, suara tawa kecil terdengar dari arah Kepala Desa. Tawa itu diikuti oleh Dedi yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah gelap.
"Gimana? Enak? Itu daging kualitas terbaik dari desa," ucapnya dengan nada datar yang mengejek.
"Bukankah tadi saya sudah bilang?" suara Kepala Desa kini terdengar sangat puas. "Teman kalian sudah mempersiapkan diri. Dia telah menyatu dengan kalian. Itulah cara terbaik untuk tetap 'bersama' di Desa Sukma Mulya."
Selin menjerit histeris, memuntahkan isi perutnya ke lantai. Bobi jatuh terduduk dengan wajah seputih kertas.
Di tengah mual dan syok yang hebat, Arga adalah yang pertama kali tersadar. Matanya beralih dari piring itu ke arah Kepala Desa dan Dedi yang sedang menonton mereka dengan tatapan puas.
Arga memberikan kode rahasia dengan sentakan kepalanya kepada Bobi dan Nara sedangkan Reno dan Selin, ia menendang kaki mereka pelan.
"Sekarang!" teriaknya memecah kesunyian.
Mereka bangkit dan berhamburan menuju pintu keluar.
Namun, Dedi bergerak cepat. Dengan langkah lebar, ia langsung menghadang pintu besar Balai Desa, merentangkan tangannya dengan wajah yang kini tampak dingin dan tanpa ekspresi.
"Kalian tidak bisa pergi sebelum perjamuan selesai," ucap Dedi datar.
"Minggir, bangsat!" teriak Bobi. Dengan marah, Bobi berlari dan mendorong Dedi sekuat tenaga. Dedi yang tidak menyangka akan serangan fisik itu terhuyung ke samping, memberikan celah kecil yang cukup untuk mereka lewati.
Mereka berhamburan keluar dari Balai Desa, menembus udara malam yang dingin. Di halaman, mereka melihat kerumunan warga mulai bergerak mendekat dari arah jalan utama desa.
"Ke sana! Ke arah hutan!" tunjuk Arga.
Satu-satunya jalan yang tidak dijaga oleh warga adalah jalur gelap menuju hutan beringin tempat Vino menghilang tadi pagi.
Tanpa pilihan lain, mereka berlari sekencang mungkin, masuk ke dalam kegelapan hutan yang pekat, meninggalkan cahaya obor desa yang perlahan memudar di belakang mereka.
Other Stories
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...