Desa Seribu Sesajen

Reads
208
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Dian Prasetyaningrum

9. Ritual Di Bibir Sumur

Kabut pagi menyelimuti Desa Sukma Mulya dengan warna kelabu yang mati. Arga memimpin di depan, langkahnya nyaris tanpa suara di atas tanah yang lembap.

Di kening dan pergelangan kaki mereka, tanah merah pemberian wanita tua itu terasa dingin, namun memberikan rasa aman yang ganjil.

Beberapa kali, bayangan hitam yang tampak seperti untaian rambut panjang melintas di antara pepohonan, mendesis rendah seolah-olah sedang mencari sesuatu yang hilang.

Berkat tanah merah itu, makhluk-makhluk tersebut hanya melewatinya begitu saja, gagal mencium aroma manusia yang biasanya memancing syahwat mereka.

Namun, ketenangan itu berakhir saat mereka mencapai pinggiran area Sumur Keramat.
Fajar telah pecah, namun cahaya matahari yang pucat justru memperjelas horor yang menanti.

Warga desa telah berdiri melingkar, membentuk pagar manusia yang rapat.
Tak ada lagi obor yang menyala; sebagai gantinya, kilatan tajam dari parang, celurit, dan cangkul memantulkan cahaya pagi yang dingin.

Di tengah lingkaran itu, tepat di bibir sumur tua yang berlumut, berdiri sosok Kepala Desa.
Ia tegak tanpa ekspresi, seolah-olah sudah tahu bahwa maut dan pengabdian akan membawa mereka kembali ke tempat ini.

"Serahkan gadis itu," suara Kepala Desa datar, namun bergema di kesunyian pagi. "Dia milik tanah ini."

Arga melirik Reno dan Selin yang memapah Nara yang lemas. Ia kemudian menatap Bobi, yang sudah menggenggam erat sebuah balok kayu sisa reruntuhan pagar.

"Reno, Selin... begitu ada celah, lari ke sumur. Jangan berhenti sampai dia basah kuyup!"

"Sekarang!" teriak Arga.

Arga dan Bobi menerjang maju seperti banteng yang terluka. Dengan teriakan yang memecah kesunyian, Arga mengayunkan balok kayunya, menghantam parang warga yang mencoba mendekat.

Bobi menyusul di sampingnya, menggunakan bahunya yang lebar untuk menabrak barisan warga hingga tersungkur. Duel pecah di atas tanah yang becek dan berlumpur.

"Bawa dia ke sana!" raung Bobi saat sebuah celurit nyaris menyayat lengannya.

Di bawah perlindungan Arga dan Bobi yang bertaruh nyawa, Reno dan Selin berhasil menyerobot masuk ke bibir sumur. Dengan tangan gemetar, Reno menurunkan timba, memutar katrol kayu yang berderit memilukan, lalu menarik air dari dasar bumi yang hitam.

BYUUR!

Siraman pertama mendarat di kepala Nara. Seketika, Nara yang tadinya pingsan melentingkan tubuhnya secara tidak wajar, seolah tulang-tulangnya dipaksa menekuk ke arah yang salah.

Sebuah jeritan parau keluar dari kerongkongannya—suara yang lebih mirip geraman binatang daripada suara manusia. Dari mulutnya, mengalir cairan hitam kental yang aromanya lebih anyir dari darah segar.

"Lagi, Reno! Terus!" teriak Selin sambil menahan tubuh Nara yang meronta hebat.

Setiap kali air itu menyentuh kulit Nara, asap hitam berbau busuk menguap dari pori-porinya. Itu adalah sisa-sisa energi "Tulang Wangi" dan sari pati hati Vino yang sedang dipaksa keluar.

Di sisi lain, Arga dan Bobi sudah bersimbah darah. Luka sayatan mulai menghiasi tubuh mereka, namun mereka terus berdiri menjadi pagar hidup, menahan warga yang mulai beringas ingin meraih Nara kembali.

Matahari merayap naik. Bayangan di tanah mulai memendek, menandakan waktu mereka hampir habis.

"Sedikit lagi, Reno! Satu timba lagi!" Selin berteriak, keringat Reno bercucuran bercampur air sumur membanjiri wajahnya.

Saat matahari nyaris mencapai puncak kepala, Reno mengguyurkan timba terakhir. Nara tersentak hebat untuk terakhir kalinya, lalu terkulai lemas di pelukan Selin.

Detik itu juga, aroma manis yang memabukkan—aroma Tulang Wangi yang selama ini menyelimuti Nara—menguap dan menghilang sepenuhnya.

Keajaiban horor pun terjadi. Warga desa yang tadinya menyerang seperti kesurupan mendadak berhenti.

Parang yang terangkat di udara perlahan turun. Mereka berdiri linglung di tengah lumpur, menoleh ke kiri dan ke kanan seolah-olah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.

Jejak sukma yang mereka kejar selama ini telah lenyap sepenuhnya dari muka bumi.

Arga yang terengah-engah dengan lutut gemetar, menatap Kepala Desa yang kini hanya berdiri diam, menatap sumur itu dengan pandangan kosong yang mengerikan.

"Ayo," bisik Arga dengan sisa tenaganya. "Sebelum mereka kembali sadar... kita harus pergi sekarang."



Other Stories
Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

315 Kilometer [end]

Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Download Titik & Koma