3. Kucing Hitam
Gerusuk!!
Jibon sontak menoleh. Terdengar suara benda terjatuh di antara ilalang dan pohon-pohon. Namun, ketika ia mengedarkan pandangan, hanya ada semak-semak yang bergoyang pelan seperti tertebak angin. Sementara itu, rintik hujan mulai turun, meninggalkan jejak lembap di tanah yang semakin pekat. Jibon menghela napas, berusaha mengabaikan firasat tak enak yang merayapi tengkuknya.
Ia mempercepat langkahnya, ingin segera kembali ke area vila yang disewanya sebelum hujan turun lebih deras. Tapi ada yang mengganjal pikirannya. Vila yang berbatas pagar dan cat merah mencolok itu seolah menarik perhatiannya, tetapi kini ia sadar telah melangkah terlalu jauh. Hampir melewati batas yang seharusnya. Lagi pula vila itu terlihat suram.
Jibon menoleh ke belakang. Vila yang disewanya sudah tidak terlihat lagi, tertutup kabut tipis yang turun perlahan bersama hujan. Ia menelan ludah. “Banu! Seli!” panggilnya. Suaranya beradu dengan desir angin yang mulai riuh. Tak ada jawaban.
Srettt. . .
Jibon merasakan sesuatu bergerak di balik ilalang. Ia menahan napas. Dalam keremangan hujan, seekor kucing hitam muncul dari sela dedaunan. Berjalan perlahan mendekatinya, bulunya basah kuyup, menempel di tubuh kurusnya.
“Hus, kucing... Kirain apa,” gumam Jibon, menghela napas lega. Namun, saat ia hendak berbalik, telinganya mendengar suara lain.
Bruukk!
Kali ini, suara itu lebih berat, lebih dalam. Seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian. Jibon spontan menoleh ke arah jurang kecil di ujung ladang. Napasnya tertahan.
Jurang itu menganga, dasarnya tak terlihat jelas karena tertutup pohon dan ilalang. Tapi suara gemercik air sungai di bawahnya terdengar jelas, berpadu dengan bunyi rintik hujan yang semakin rapat. Ada sesuatu yang terasa janggal.
Jibon merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia melangkah mendekat, berhati-hati agar tak terpeleset di tanah yang mulai licin. Kucing hitam tadi masih di sana, duduk di tepi jurang dengan mata menatap lurus ke bawah, seolah melihat sesuatu.
“Jangan-jangan...,” bisik Jibon.
Ia berjongkok, mencoba mengintip ke bawah. Sayangnya pohon-pohon kecil dan ilalang jauh lebih tinggi dari pandangannya. Walau begitu, rasa penasarannya tak dapat dihindarkan. Dengan perlahan ia meraih sebatang kayu panjang yang tergeletak di pinggir jurang. Kemudian disibaknya pohon-pohon kecil dan ilalang. Kini, samar-samar ia melihat sesuatu di antara bebatuan yang licin oleh aliran sungai. Seperti seonggok tubuh tergolek, setengah terendam air. Pakaiannya basah kuyup, rambutnya acak-acakan, wajahnya tak terlihat jelas karena terhalang caping yang masih dikenakannya di kepala.
“Astaga, ini benar kan? Dia kan Pak Tani yang tadi! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin!” pikirnya dalam hati.
Jibon merasakan napasnya tersengal. Perasaan ngeri merayapi dadanya. Ia kembali berusaha menerka pikirannya untuk mengenali sosok itu dengan saksama, tetapi otaknya menolak menerima kenyataan seolah tak percaya. Darah Jibon serasa membeku. Pasalnya tak ada jalur lain. Anehnya Jibon tak sama sekali melihat seseorang mendahului jalan yang dilaluinya, meskipun petani itu sempat ia temui di ladang pertama.
“Pak...?” Jibon memastikan.
Sementara itu, hujan turun semakin deras, menyamarkan gemetar di tubuhnya. Kucing hitam itu mengeong pelan, seakan membenarkan dugaannya. Lalu berlari ke bawah jurang melewati kerimbunan pohon-pohon kecil dan ilalang hingga akhirnya luput dari pandangan Jibon.
“Jibon...,” tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. Jibon pun menoleh ke arah suara.
"Aduh, Bon. Kenapa ke sini? Kejauhan banget. Kenapa itu muka? Kayak orang dikejar setan aja. Anak-anak udah pada di sana, tahu. Ayo balik!" kata Sela.
"Ngapain juga ke sini, Bon? Memang sih, batas permainannya vila merah itu. Tapi enggak kayak gini juga, kali. Mana mungkin ada pemain yang berani sembunyi di sini, sejauh ini. Udah, ayo balik!" kata Banu.
"Bentar, di bawah sana ada Pak Tani. Kasihan dia jatuh." Jibon berusaha memberitahu sembari menunjuk arah jurang.
"Pak Tani mana? Yang pakai caping, rambutnya panjang, bajunya merah kecokelatan?" tanya Banu.
"Itu Pak Darma. Baru aja kita ketemu di ladang pertama. Beliau warga lama di sini sekaligus penjaga vila yang kita sewa. Cuma barusan beliau bilang mau pulang. Kita ke sini juga dikasih tahu Pak Darma kalau ada seorang pemuda tampan, gagah berani, bernama Jibon hendak pergi menuju ladang dua," kata Sela dengan nada mengejek.
"Haha... Sudah, ayo balik! Nala, Jali, sama Mira udah kumpul di sana. Tapi memang sih, secara ilmu pendakian, jikalau seseorang dibiarkan sendiri di hutan, kebun yang di sekitarnya padat rerimbunan pohon, atau tempat semacamnya, orang itu akan rentan terkena halusinasi. Jadi dapat saya pastikan, bahwa anda sedang berhalusinasi, wahai Bapak Jibon. Haha..." timpal Banu mengejek.
"Ilmu pendakian enggak, tuh! Haha..." Seli menggoda Jibon.
"Ah, sudah. Kalian ini malah bercanda," gerutu Jibon sembari berjalan meninggalkan Sela dan Banu.
***
Jibon sontak menoleh. Terdengar suara benda terjatuh di antara ilalang dan pohon-pohon. Namun, ketika ia mengedarkan pandangan, hanya ada semak-semak yang bergoyang pelan seperti tertebak angin. Sementara itu, rintik hujan mulai turun, meninggalkan jejak lembap di tanah yang semakin pekat. Jibon menghela napas, berusaha mengabaikan firasat tak enak yang merayapi tengkuknya.
Ia mempercepat langkahnya, ingin segera kembali ke area vila yang disewanya sebelum hujan turun lebih deras. Tapi ada yang mengganjal pikirannya. Vila yang berbatas pagar dan cat merah mencolok itu seolah menarik perhatiannya, tetapi kini ia sadar telah melangkah terlalu jauh. Hampir melewati batas yang seharusnya. Lagi pula vila itu terlihat suram.
Jibon menoleh ke belakang. Vila yang disewanya sudah tidak terlihat lagi, tertutup kabut tipis yang turun perlahan bersama hujan. Ia menelan ludah. “Banu! Seli!” panggilnya. Suaranya beradu dengan desir angin yang mulai riuh. Tak ada jawaban.
Srettt. . .
Jibon merasakan sesuatu bergerak di balik ilalang. Ia menahan napas. Dalam keremangan hujan, seekor kucing hitam muncul dari sela dedaunan. Berjalan perlahan mendekatinya, bulunya basah kuyup, menempel di tubuh kurusnya.
“Hus, kucing... Kirain apa,” gumam Jibon, menghela napas lega. Namun, saat ia hendak berbalik, telinganya mendengar suara lain.
Bruukk!
Kali ini, suara itu lebih berat, lebih dalam. Seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian. Jibon spontan menoleh ke arah jurang kecil di ujung ladang. Napasnya tertahan.
Jurang itu menganga, dasarnya tak terlihat jelas karena tertutup pohon dan ilalang. Tapi suara gemercik air sungai di bawahnya terdengar jelas, berpadu dengan bunyi rintik hujan yang semakin rapat. Ada sesuatu yang terasa janggal.
Jibon merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia melangkah mendekat, berhati-hati agar tak terpeleset di tanah yang mulai licin. Kucing hitam tadi masih di sana, duduk di tepi jurang dengan mata menatap lurus ke bawah, seolah melihat sesuatu.
“Jangan-jangan...,” bisik Jibon.
Ia berjongkok, mencoba mengintip ke bawah. Sayangnya pohon-pohon kecil dan ilalang jauh lebih tinggi dari pandangannya. Walau begitu, rasa penasarannya tak dapat dihindarkan. Dengan perlahan ia meraih sebatang kayu panjang yang tergeletak di pinggir jurang. Kemudian disibaknya pohon-pohon kecil dan ilalang. Kini, samar-samar ia melihat sesuatu di antara bebatuan yang licin oleh aliran sungai. Seperti seonggok tubuh tergolek, setengah terendam air. Pakaiannya basah kuyup, rambutnya acak-acakan, wajahnya tak terlihat jelas karena terhalang caping yang masih dikenakannya di kepala.
“Astaga, ini benar kan? Dia kan Pak Tani yang tadi! Ini tidak mungkin. Tidak mungkin!” pikirnya dalam hati.
Jibon merasakan napasnya tersengal. Perasaan ngeri merayapi dadanya. Ia kembali berusaha menerka pikirannya untuk mengenali sosok itu dengan saksama, tetapi otaknya menolak menerima kenyataan seolah tak percaya. Darah Jibon serasa membeku. Pasalnya tak ada jalur lain. Anehnya Jibon tak sama sekali melihat seseorang mendahului jalan yang dilaluinya, meskipun petani itu sempat ia temui di ladang pertama.
“Pak...?” Jibon memastikan.
Sementara itu, hujan turun semakin deras, menyamarkan gemetar di tubuhnya. Kucing hitam itu mengeong pelan, seakan membenarkan dugaannya. Lalu berlari ke bawah jurang melewati kerimbunan pohon-pohon kecil dan ilalang hingga akhirnya luput dari pandangan Jibon.
“Jibon...,” tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. Jibon pun menoleh ke arah suara.
"Aduh, Bon. Kenapa ke sini? Kejauhan banget. Kenapa itu muka? Kayak orang dikejar setan aja. Anak-anak udah pada di sana, tahu. Ayo balik!" kata Sela.
"Ngapain juga ke sini, Bon? Memang sih, batas permainannya vila merah itu. Tapi enggak kayak gini juga, kali. Mana mungkin ada pemain yang berani sembunyi di sini, sejauh ini. Udah, ayo balik!" kata Banu.
"Bentar, di bawah sana ada Pak Tani. Kasihan dia jatuh." Jibon berusaha memberitahu sembari menunjuk arah jurang.
"Pak Tani mana? Yang pakai caping, rambutnya panjang, bajunya merah kecokelatan?" tanya Banu.
"Itu Pak Darma. Baru aja kita ketemu di ladang pertama. Beliau warga lama di sini sekaligus penjaga vila yang kita sewa. Cuma barusan beliau bilang mau pulang. Kita ke sini juga dikasih tahu Pak Darma kalau ada seorang pemuda tampan, gagah berani, bernama Jibon hendak pergi menuju ladang dua," kata Sela dengan nada mengejek.
"Haha... Sudah, ayo balik! Nala, Jali, sama Mira udah kumpul di sana. Tapi memang sih, secara ilmu pendakian, jikalau seseorang dibiarkan sendiri di hutan, kebun yang di sekitarnya padat rerimbunan pohon, atau tempat semacamnya, orang itu akan rentan terkena halusinasi. Jadi dapat saya pastikan, bahwa anda sedang berhalusinasi, wahai Bapak Jibon. Haha..." timpal Banu mengejek.
"Ilmu pendakian enggak, tuh! Haha..." Seli menggoda Jibon.
"Ah, sudah. Kalian ini malah bercanda," gerutu Jibon sembari berjalan meninggalkan Sela dan Banu.
***
Other Stories
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...