5. Pamit
Pagi pun tiba. Sisa hujan semalam masih menggantung di dedaunan, menetes pelan saat angin berembus ringan. Udara terasa segar, khas pedesaan, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi sisa bara api unggun yang telah padam sejak tengah malam.
Di halaman vila, mereka mulai berkemas. Tas-tas berjejer di teras, sebagian sudah tertata rapi di bagasi mobil. Sela dan Banu memastikan tak ada barang yang tertinggal di dalam vila, sementara Mira dan Nala sibuk membungkus sisa makanan untuk bekal di perjalanan.
Jibon lebih banyak diam. Sesekali ia membantu memasukkan barang, tetapi pikirannya tetap tertinggal di kejadian semalam. Bayangan sosok yang tergolek di dasar jurang masih jelas dalam ingatannya. Dan yang membuatnya semakin tak nyaman adalah kehadiran Pak Darma.
Sejak mereka bangun pagi tadi, pria tua itu sudah duduk di kursi kayu di teras vila, memperhatikan mereka tanpa banyak bicara. Tatapannya tampak biasa saja bagi yang lain, tapi bagi Jibon, ada sesuatu di sana yang sulit dijelaskan.
Saat semua sudah siap, mereka akhirnya menghampiri Pak Darma untuk berpamitan. Sela maju lebih dulu, menyalami pria tua itu dengan ramah.
“Pak Darma, makasih banyak. Vilanya nyaman banget,” katanya.
Banu menyusul. “Iya, Pak. Kapan-kapan kalau main ke sini lagi, kami bakal hubungi Bapak.”
Mira dan Nala juga ikut berpamitan dengan ceria, sedangkan Jali sudah berada di dalam mobil untuk menata ulang tas-tas yang baru saja dimasukkan ke dalam mobil agar terlihat rapi.
Kini giliran Jibon. Ia melangkah maju dengan sedikit ragu, menatap Pak Darma yang kini balas menatapnya. Sejenak, mereka hanya saling diam.
Pak Darma lalu mengulurkan tangan. Jibon ragu sejenak, sebelum akhirnya membalas jabatan tangan itu. Telapak tangan Pak Darma terasa hangat dan kuat mencengkeram tangan Jibon.
“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Pak Darma tiba-tiba, suaranya rendah namun jelas.
Jibon menelan ludah. Ia tak menjawab, hanya mengangguk singkat sebelum buru-buru mundur.
Tanpa menunggu lebih lama, mereka masuk ke dalam mobil. Mesin dinyalakan, dan perlahan vila itu menjauh dari pandangan mereka.
Dari kaca spion, Jibon masih bisa melihat sosok Pak Darma yang berdiri di depan vila, memperhatikan mereka pergi. Jibon menatap jalanan di depannya. Namun satu pertanyaan tetap menggantung di benaknya. Jika Pak Darma benar-benar ada di vila sejak semalam, lalu siapa yang tergolek di dasar jurang itu? Jibon menghela napas panjang, membiarkan pikirannya berusaha menerima kenyataan. Mungkin memang benar kata Pak Darma. Manusia lebih menakutkan daripada apa pun yang ada di hutan.
***
Di halaman vila, mereka mulai berkemas. Tas-tas berjejer di teras, sebagian sudah tertata rapi di bagasi mobil. Sela dan Banu memastikan tak ada barang yang tertinggal di dalam vila, sementara Mira dan Nala sibuk membungkus sisa makanan untuk bekal di perjalanan.
Jibon lebih banyak diam. Sesekali ia membantu memasukkan barang, tetapi pikirannya tetap tertinggal di kejadian semalam. Bayangan sosok yang tergolek di dasar jurang masih jelas dalam ingatannya. Dan yang membuatnya semakin tak nyaman adalah kehadiran Pak Darma.
Sejak mereka bangun pagi tadi, pria tua itu sudah duduk di kursi kayu di teras vila, memperhatikan mereka tanpa banyak bicara. Tatapannya tampak biasa saja bagi yang lain, tapi bagi Jibon, ada sesuatu di sana yang sulit dijelaskan.
Saat semua sudah siap, mereka akhirnya menghampiri Pak Darma untuk berpamitan. Sela maju lebih dulu, menyalami pria tua itu dengan ramah.
“Pak Darma, makasih banyak. Vilanya nyaman banget,” katanya.
Banu menyusul. “Iya, Pak. Kapan-kapan kalau main ke sini lagi, kami bakal hubungi Bapak.”
Mira dan Nala juga ikut berpamitan dengan ceria, sedangkan Jali sudah berada di dalam mobil untuk menata ulang tas-tas yang baru saja dimasukkan ke dalam mobil agar terlihat rapi.
Kini giliran Jibon. Ia melangkah maju dengan sedikit ragu, menatap Pak Darma yang kini balas menatapnya. Sejenak, mereka hanya saling diam.
Pak Darma lalu mengulurkan tangan. Jibon ragu sejenak, sebelum akhirnya membalas jabatan tangan itu. Telapak tangan Pak Darma terasa hangat dan kuat mencengkeram tangan Jibon.
“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Pak Darma tiba-tiba, suaranya rendah namun jelas.
Jibon menelan ludah. Ia tak menjawab, hanya mengangguk singkat sebelum buru-buru mundur.
Tanpa menunggu lebih lama, mereka masuk ke dalam mobil. Mesin dinyalakan, dan perlahan vila itu menjauh dari pandangan mereka.
Dari kaca spion, Jibon masih bisa melihat sosok Pak Darma yang berdiri di depan vila, memperhatikan mereka pergi. Jibon menatap jalanan di depannya. Namun satu pertanyaan tetap menggantung di benaknya. Jika Pak Darma benar-benar ada di vila sejak semalam, lalu siapa yang tergolek di dasar jurang itu? Jibon menghela napas panjang, membiarkan pikirannya berusaha menerima kenyataan. Mungkin memang benar kata Pak Darma. Manusia lebih menakutkan daripada apa pun yang ada di hutan.
***
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...