6. Pertemuan Sebelumnya
Sudah satu bulan sejak kejadian sore itu.
Tidak ada lagi surat yang diselipkan diam-diam di dalam laci. Tidak ada lagi buku bahasa isyarat yang sengaja ataupun tidak sengaja tertinggal.
Sekarang mereka duduk berhadapan.
Setiap jam istirahat.
Setiap jam kosong.
Setiap pulang sekolah.
Dara tidak lagi perlu menulis untuk menjangkau. Bukan karena berhenti.
Kini tangannya mampu bergerak cepat, fasih, seolah bahasa itu memang sudah lama tinggal di dalam dirinya.
Apa yang ia pikirkan, langsung bisa ia sampaikan.
Apa yang ia rasakan, tidak lagi perlu dirangkai dalam kertas yang perlu waktu untuk mulai digores.
Anne sering kali masih merasa tak percaya seseorang bisa berusaha sejauh ini untuk tinggal. Hubungan mereka tidak lagi canggung. Tidak lagi dipenuhi ragu.
Namun sore itu berbeda.
Dara mengajaknya duduk di bangku depan supermarket sepulang sekolah.
Tempat yang sama saat Anne membersihkan luka-lukanya waktu.
Angin berhembus pelan. Tidak ada yang dramatis.
Dara terlihat tenang. Terlalu tenang.
Tangannya tidak langsung bergerak seperti biasanya. Ia justru merogoh tasnya.
Anne memperhatikan.
Sebuah benda kecil muncul di telapak tangan Dara. Jepit rambut sederhana. Warna kuning yang cerah. Sedikit tergores di ujungnya.
Anne membeku.
Ia mengenali benda itu.
Tangannya perlahan terangkat, bertanya tanpa suara. "Ini punyaku?"
Dara mulai bergerak lembut. Gerakannya lancar. Tidak terbata. “Kamu mungkin tidak ingat. Tapi sebelum aku pindah ke sekolah itu…”
“Aku sudah pernah melihatmu.”
Anne mengernyit.
“Hari itu kamu menjatuhkan ini. Tapi kamu nggak menyadarinya.” Dara melanjutkan.
Jepit rambut itu ditatap Anne sebentar. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada momen-momen bersama mereka sebelumnya.
“Sejak saat itu, aku terus memikirkanmu.”
Anne terdiam.
Dara menarik napas pelan. “Waktu aku tahu aku akan pindah ke sekolahmu… aku berharap kamu tidak berubah.”
Mata Anne melembut saat tahu bahwa Dara sudah melihatnya lebih dulu.
Bukan sebagai gadis tuli dan bisu.
Tapi sebagai seseorang yang menarik perhatiannya.
“Aku tidak belajar bahasa isyarat karena merasa kamu berbeda.”
“Aku belajar karena aku ingin mengerti.”
Tangannya tidak gemetar.
“Aku... menyukaimu. Bahkan sejak sebelum kamu tahu aku ada.”
Sunyi menyelimuti mereka. Anne menatap jepit rambut itu. Menatap tangan Dara yang menyimpannya selama ini. Menatap seseorang yang ternyata tidak datang secara tiba-tiba.
Tangan Anne bergerak pelan. “Kenapa tidak mengembalikannya dulu?”
Senyum kecil muncul di wajah Dara.
“Karena aku ingin punya alasan untuk bisa bertemu lagi. Melihatmu lagi.” Jawaban yang jujur. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.
Anne menunduk sebentar. Lalu tersenyum.
Sekali lagi ia tidak merasa dunia mereka berbeda. Di depannya, Dara menatapnya dalam.
Tangan Anne mulai terangkat lagi. Ia menatap langsung ke mata Dara.
“Kalau begitu… jangan pergi.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi Dara, itu lebih dari sekadar jawaban. Benar-benar tak disangka dia melakukannya.
Dara mengangguk kecil lalu tersenyum. Dan tanpa ragu, Anne menggenggam tangannya lebih dulu.
Tidak ada jarak.
Tidak ada Penyangkalan.
Tidak ada keraguan.
Hanya dua orang yang akhirnya membuka dan membagi dunia mereka untuk disentuh.
•••
Hubungan asmara pun terjalin.
Tidak dengan pengumuman besar.
Tidak dengan perubahan drastis.
Hanya dengan langkah yang semakin sejajar.
Kali ini...
Lebih banyak cerita.
Lebih banyak kisah.
Dan lebih banyak canda tawa yang mereka bagikan setelahnya.
Dunia Anne memang tetap sunyi.
Ia tidak pernah mendengar suara langkah, suara hujan, atau suara ombak. Namun kini ada seseorang yang bersedia menjadi perantara.
Dara.
Awalnya, Dara sempat berhenti mendengarkan musik.
Ia pikir itu bentuk menghargai kekurangan.
Ia pikir dengan menghilangkan hobinya, ia sedang berlaku adil.
Anne marah. “Itu bodoh.” Tangannya bergerak dengan cepat.
“Jangan hilangkan kebiasaan itu hanya karena aku tidak bisa melakukannya.”
Dara terdiam, lalu tersenyum kecil. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi mematikan musiknya. Sebaliknya, kini setiap kali ia memutar lagu, mereka duduk berhadapan.
Telinganya mendengar, tangannya bergerak. Setiap lirik ia terjemahkan.
Setiap emosi ia sampaikan lewat gerakan.
Kadang berlebihan. Kadang terlalu dramatis sampai membuat Anne tertawa.
Anne mungkin tidak pernah mendengar melodi. Tapi ia bisa melihatnya di mata Dara. Bisa merasakannya dari bagaimana gerakan tangan Dara berubah-ubah mengikuti lirik yang tidak pernah ia dengar itu.
Dan di antara banyak lagu yang diterjemahkan Dara untuknya, ada satu yang berbeda.
Suatu akhir pekan, mereka berdua pergi ke pantai. Hari yang cerah dengan langit biru pucat. Angin laut berhembus ringan. Ombak bergerak jauh di depan mereka.
Dara memasang lagu di ponselnya. Ia duduk menghadap Anne dengan pasir menempel di ujung kaki mereka.
Anne sudah tak sabar sampai tangan Dara mulai bergerak.
Lebih lembut dari biasanya.
Lebih pelan.
Lagu itu berjudul Marigold. Lagu Jepang yang dinyanyikan penyanyi Jepang bernama Aimyon.
Anne tidak tahu bagaimana suara lagu itu.
Ia tidak tahu bagaimana iramanya. Namun dari cara Dara menerjemahkannya, saat matanya melembut di beberapa bagian,
dari cara gerakannya melambat seolah takut kehilangan satu kata pun... Anne merasa lagu itu hangat.
Seperti senja.
Seperti sesuatu yang tidak ingin cepat berakhir.
Sejak hari itu, setiap kali Dara bertanya lagu apa yang ingin didengar,
Anne selalu menjawab dengan gerakan yang sama.
“Marigold.”
Bersambung...
Tidak ada lagi surat yang diselipkan diam-diam di dalam laci. Tidak ada lagi buku bahasa isyarat yang sengaja ataupun tidak sengaja tertinggal.
Sekarang mereka duduk berhadapan.
Setiap jam istirahat.
Setiap jam kosong.
Setiap pulang sekolah.
Dara tidak lagi perlu menulis untuk menjangkau. Bukan karena berhenti.
Kini tangannya mampu bergerak cepat, fasih, seolah bahasa itu memang sudah lama tinggal di dalam dirinya.
Apa yang ia pikirkan, langsung bisa ia sampaikan.
Apa yang ia rasakan, tidak lagi perlu dirangkai dalam kertas yang perlu waktu untuk mulai digores.
Anne sering kali masih merasa tak percaya seseorang bisa berusaha sejauh ini untuk tinggal. Hubungan mereka tidak lagi canggung. Tidak lagi dipenuhi ragu.
Namun sore itu berbeda.
Dara mengajaknya duduk di bangku depan supermarket sepulang sekolah.
Tempat yang sama saat Anne membersihkan luka-lukanya waktu.
Angin berhembus pelan. Tidak ada yang dramatis.
Dara terlihat tenang. Terlalu tenang.
Tangannya tidak langsung bergerak seperti biasanya. Ia justru merogoh tasnya.
Anne memperhatikan.
Sebuah benda kecil muncul di telapak tangan Dara. Jepit rambut sederhana. Warna kuning yang cerah. Sedikit tergores di ujungnya.
Anne membeku.
Ia mengenali benda itu.
Tangannya perlahan terangkat, bertanya tanpa suara. "Ini punyaku?"
Dara mulai bergerak lembut. Gerakannya lancar. Tidak terbata. “Kamu mungkin tidak ingat. Tapi sebelum aku pindah ke sekolah itu…”
“Aku sudah pernah melihatmu.”
Anne mengernyit.
“Hari itu kamu menjatuhkan ini. Tapi kamu nggak menyadarinya.” Dara melanjutkan.
Jepit rambut itu ditatap Anne sebentar. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada momen-momen bersama mereka sebelumnya.
“Sejak saat itu, aku terus memikirkanmu.”
Anne terdiam.
Dara menarik napas pelan. “Waktu aku tahu aku akan pindah ke sekolahmu… aku berharap kamu tidak berubah.”
Mata Anne melembut saat tahu bahwa Dara sudah melihatnya lebih dulu.
Bukan sebagai gadis tuli dan bisu.
Tapi sebagai seseorang yang menarik perhatiannya.
“Aku tidak belajar bahasa isyarat karena merasa kamu berbeda.”
“Aku belajar karena aku ingin mengerti.”
Tangannya tidak gemetar.
“Aku... menyukaimu. Bahkan sejak sebelum kamu tahu aku ada.”
Sunyi menyelimuti mereka. Anne menatap jepit rambut itu. Menatap tangan Dara yang menyimpannya selama ini. Menatap seseorang yang ternyata tidak datang secara tiba-tiba.
Tangan Anne bergerak pelan. “Kenapa tidak mengembalikannya dulu?”
Senyum kecil muncul di wajah Dara.
“Karena aku ingin punya alasan untuk bisa bertemu lagi. Melihatmu lagi.” Jawaban yang jujur. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.
Anne menunduk sebentar. Lalu tersenyum.
Sekali lagi ia tidak merasa dunia mereka berbeda. Di depannya, Dara menatapnya dalam.
Tangan Anne mulai terangkat lagi. Ia menatap langsung ke mata Dara.
“Kalau begitu… jangan pergi.”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi Dara, itu lebih dari sekadar jawaban. Benar-benar tak disangka dia melakukannya.
Dara mengangguk kecil lalu tersenyum. Dan tanpa ragu, Anne menggenggam tangannya lebih dulu.
Tidak ada jarak.
Tidak ada Penyangkalan.
Tidak ada keraguan.
Hanya dua orang yang akhirnya membuka dan membagi dunia mereka untuk disentuh.
•••
Hubungan asmara pun terjalin.
Tidak dengan pengumuman besar.
Tidak dengan perubahan drastis.
Hanya dengan langkah yang semakin sejajar.
Kali ini...
Lebih banyak cerita.
Lebih banyak kisah.
Dan lebih banyak canda tawa yang mereka bagikan setelahnya.
Dunia Anne memang tetap sunyi.
Ia tidak pernah mendengar suara langkah, suara hujan, atau suara ombak. Namun kini ada seseorang yang bersedia menjadi perantara.
Dara.
Awalnya, Dara sempat berhenti mendengarkan musik.
Ia pikir itu bentuk menghargai kekurangan.
Ia pikir dengan menghilangkan hobinya, ia sedang berlaku adil.
Anne marah. “Itu bodoh.” Tangannya bergerak dengan cepat.
“Jangan hilangkan kebiasaan itu hanya karena aku tidak bisa melakukannya.”
Dara terdiam, lalu tersenyum kecil. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi mematikan musiknya. Sebaliknya, kini setiap kali ia memutar lagu, mereka duduk berhadapan.
Telinganya mendengar, tangannya bergerak. Setiap lirik ia terjemahkan.
Setiap emosi ia sampaikan lewat gerakan.
Kadang berlebihan. Kadang terlalu dramatis sampai membuat Anne tertawa.
Anne mungkin tidak pernah mendengar melodi. Tapi ia bisa melihatnya di mata Dara. Bisa merasakannya dari bagaimana gerakan tangan Dara berubah-ubah mengikuti lirik yang tidak pernah ia dengar itu.
Dan di antara banyak lagu yang diterjemahkan Dara untuknya, ada satu yang berbeda.
Suatu akhir pekan, mereka berdua pergi ke pantai. Hari yang cerah dengan langit biru pucat. Angin laut berhembus ringan. Ombak bergerak jauh di depan mereka.
Dara memasang lagu di ponselnya. Ia duduk menghadap Anne dengan pasir menempel di ujung kaki mereka.
Anne sudah tak sabar sampai tangan Dara mulai bergerak.
Lebih lembut dari biasanya.
Lebih pelan.
Lagu itu berjudul Marigold. Lagu Jepang yang dinyanyikan penyanyi Jepang bernama Aimyon.
Anne tidak tahu bagaimana suara lagu itu.
Ia tidak tahu bagaimana iramanya. Namun dari cara Dara menerjemahkannya, saat matanya melembut di beberapa bagian,
dari cara gerakannya melambat seolah takut kehilangan satu kata pun... Anne merasa lagu itu hangat.
Seperti senja.
Seperti sesuatu yang tidak ingin cepat berakhir.
Sejak hari itu, setiap kali Dara bertanya lagu apa yang ingin didengar,
Anne selalu menjawab dengan gerakan yang sama.
“Marigold.”
Bersambung...
Other Stories
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...