12. Jauh Lebih Baik
Beberapa meter dari kaki menara itu, Dara membeku dalam posisi berdiri.
Tepat di sana, Sapporo TV Tower menjulang di atasnya, lampunya menyala hangat di tengah langit malam yang pucat.
Anehnya, angin dingin tidak lagi terasa.
Salju yang jatuh pelan tidak mengganggunya. Keramaian di sekeliling seperti teredam.
Semua suara menjauh.
Dara menutup mata.
Ia menarik napas perlahan.
Melepaskannya, menariknya lagi.
Mengatur detak jantungnya yang tak stabil.
Kenangan itu datang.
Bangku tempat mereka berdua.
Liburan pertama di pantai.
Goresan pertama di kanvas.
Perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Semakin jelas.
Semakin nyata.
Orang-orang mulai beranjak pergi. Lampu taman terasa lebih redup. Langkah kaki semakin jarang terdengar.
Ada bangku umum di dekatnya. Tapi Dara tidak duduk. Ia tetap memilih untuk berdiri.
Satu jam.
Dua jam.
Salju makin tebal di pundaknya, tak ia hempaskan. Malam makin larut.
Dan ketika taman itu hampir sepenuhnya sunyi, tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Tiga jam.
Ia tidak bergeser sedikit pun.
“Aku akan melepas harapan itu di sini.” Suaranya hampir tak terdengar, tertelan udara malam.
Beberapa jam sebelumnya itu harusnya bisa menjadi momen yang terasa cukup mengobati semuanya.
Tapi, kenapa bahkan itu pun terasa terlalu jauh?
Kenapa jarak itu selalu ada?
Kenapa ia harus menanggung rindu ini lebih lama lagi?
Jalan raya di kejauhan mulai sepi. Lampu kendaraan jarang lewat. Dan tanpa Dara sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya sejak satu jam lalu.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Hanya cukup untuk melihat.
Anne berdiri di sana, tangannya menggenggam satu sama lain.
Ia tersenyum tipis tanpa suara.
Menunggu.
Takut mengganggu.
"Apakah aku jahat jika tiba-tiba memanggilnya?
Apakah dia masih ingin melihatku lagi?
Apakah rindu itu masih benar-benar ada?"
Anne takut.
Takut jika Dara sudah berdamai lalu kemunculannya hanya akan membuka luka yang sudah hampir kering. Ia tahu hal seperti itu menyiksa. Dan ia tak ingin Dara merasakan kesengsaraan itu lagi.
Ia menunduk.
Ragu antara melangkah maju atau pergi selamanya. Tapi dirinya tidak tahu bahwa beberapa detik sebelumnya, Dara sudah berbalik.
Dara melihatnya.
Napas Dara seperti terhenti.
Tangannya bergetar. Bukan karena dingin.
Tapi karena tak percaya.
Siluet itu.
Postur itu.
Cara ia berdiri.
Anne.
Anne perlahan mengangkat kepala dan mata mereka bertemu dan saat itu juga seketika waktu membeku.
Tidak ada angin.
Tidak ada salju.
Tidak ada kota.
Hanya dua pasang mata yang akhirnya saling menemukan.
"Ini bukan mimpi, kan...? " batin Dara.
Air mata jatuh tanpa izin.
Satu.
Lalu satu lagi.
Dara tak habis pikir bagaimana permainan takdir. Justru saat ia sudah melepaskan harapan itu, yang diharapkan kini datang berdiri di hadapannya.
Momen itu panjang.
Sangat panjang.
Sampai akhirnya tangan Dara perlahan terangkat. Gerakannya halus... mantap. Tidak kaku.
“Bagaimana kabarmu?" Isyaratnya sempurna. Seperti bahasa adalah bahasanya sehari-hari.
Napas Anne tertahan.
Matanya membesar.
Ia mengenali setiap gerakan. Ia tahu bahwa bahasa itu bukan hanya dipelajari dan diingat, tapi juga dijaga.
Air mata kini jatuh di kedua pipi Anne.
Ia tersenyum, gemetar. “Aku baik-baik saja... Dara,”
Tangisan Dara ikut pecah. Bukan sedih, bukan juga kecewa. Tapi seperti seseorang yang akhirnya sampai setelah tersesat terlalu lama.
“Aku merindukanmu.” Isyaratnya bergetar.
“A-aku… sangat merindukanmu, Anne.”
Tangisnya dalam.
“Maafkan aku.”
Dara menggeleng cepat. Air matanya belum berhenti. “Aku baik-baik saja.”
Dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan hampir empat tahun yang lalu itu... Tidak ada jarak. Tidak ada satu detik yang terlambat.
Hanya mereka.
Di bawah menara yang dulu sangat didambakan Anne.
Jelas.
Masih ada cinta yang mengisi jarak di antara mereka.
Bahasa isyarat itu adalah buktinya.
Tiga tahun.
Tanpa jejak.
Diam.
Kesalahan.
Tapi gerakan tangan itu masih fasih.
Masih tepat.
Masih seperti dulu.
Cinta itu tidak hilang.
Hanya berubah bentuk.
Namun, cinta juga tidak selalu berarti memiliki.
Anne melepaskan Dara menjelang kelulusan itu juga cinta.
Keputusan Dara yang membuat semuanya retak itu pun cinta.
Mereka dipertemukan oleh cinta.
Dan mereka juga diuji oleh cinta yang sama.
Dara menarik napas perlahan. Ia mencoba tenang. “Terima kasih untuk semuanya, Anne.”
Isyaratnya mantap, tidak gemetar lagi.
“Terima kasih juga untuk segalanya, Dara.” Anne membalas cepat. Tangannya masih ringan. Masih indah.
Dara memperhatikan.
“Aku senang kamu masih menggunakannya. Sudah lebih hebat.”
“Apa? Bahasa isyaratnya?” Dara sedikit tertawa.
Anne mengangguk cepat, tersenyum lebar. Tawa kecil pun menyusul, terukir jelas di wajah Dara. Begitu hangat.
“Aku senang bisa melihatmu tumbuh menjadi orang hebat," isyarat Dara dalam.
Dan kalimat itu bukan basa-basi. Benar-benar keluar dari hati Dara yang paling dalam. Ia bangga.
Anne tak menghentikan senyumannya. Ia membalas dengan gerakan halus, “Aku senang bisa mengenalmu.”
Anne tertahan sebentar.
“Tapi aku harus pergi sekarang.”
Tidak ada nada dramatis.
Tak ada pelukan.
Di bawah langit yang saljunya terus turun itu, hanya ada keputusan yang dewasa.
Dara mengangguk. Senyumnya lebar dan tulus. Ia tahu itu sebuah perpisahan. Tapi kali ini, untukbpertama kalinya hal itu terasa berbeda.
“Jaga dirimu baik-baik, ya. Dan... sampai bertemu lagi.”
Bukan janji.
Bukan kepastian.
Hanya harapan kalau waktu dan takdir berkenan.
Anne berbalik. Tangannya melambai. Lambaian itu terasa lembut dan hangat.
Sama seperti dulu, setiap kali mereka berpisah setelah berjalan-jalan sepulang sekolah. Tak berubah.
Langkah Anne mantap. Jejaknya jelas tertinggal di atas salju. Namun kali ini Dara tidak perlu mengejarnya.
Tidak seperti tadi.
Tidak seperti dulu.
Cukup.
Itu sudah lebih dari yang ia harapkan.
Dara tidak datang ke Sapporo untuk memaksa masa lalu kembali. Dia tidak mengharapkan semua itu terjadi di sana.
Tapi akhirnya dia dapat membuktikan satu hal.
Cintanya tulus.
Bukan karena kasihan.
Bukan karena kebiasaan.
Bukan karena tak punya pilihan.
Dan kini Anne tahu itu.
Bahasa yang Dara jaga selama ini…
dituturkan kembali dengan sempurna malam ini memberitahukan semuanya.
Di ujung jalan taman, Anne tiba-tiba berhenti. Ia berbalik membuat Dara mengangkat alisnya.
Jarak mereka lebih jauh dibanding saat ia mengejar Anne di jalanan ramai tadi. Tapi anehnya...
Terasa lebih dekat.
Anne tersenyum lebar.
“Sapporo bagaimana? Indah, kan?” Isyaratnya jelas meski dari jauh.
Dan begitulah bahasa itu bekerja.
Tak perlu suara.
Tak perlu mendekat.
“Aku menyukainya,” balas Dara.
Dan kali ini Ia benar-benar menyukainya.
Bukan karena kota itu hangat.
Bukan karena kota itu lembut.
Tapi karena di kota itu, ia akhirnya bisa melepaskan.
Salju terus turun dan Anne berjalan pergi sudah semakin jauh.
Di tempat itu, Dara tetap berdiri memandang. Belum beranjak.
Tapi Hatinya tidak lagi sesak.
Cinta itu tidak hilang.
Ia hanya selesai dengan cara yang lebih baik.
Jauh lebih baik.
TAMAT
Tepat di sana, Sapporo TV Tower menjulang di atasnya, lampunya menyala hangat di tengah langit malam yang pucat.
Anehnya, angin dingin tidak lagi terasa.
Salju yang jatuh pelan tidak mengganggunya. Keramaian di sekeliling seperti teredam.
Semua suara menjauh.
Dara menutup mata.
Ia menarik napas perlahan.
Melepaskannya, menariknya lagi.
Mengatur detak jantungnya yang tak stabil.
Kenangan itu datang.
Bangku tempat mereka berdua.
Liburan pertama di pantai.
Goresan pertama di kanvas.
Perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Semakin jelas.
Semakin nyata.
Orang-orang mulai beranjak pergi. Lampu taman terasa lebih redup. Langkah kaki semakin jarang terdengar.
Ada bangku umum di dekatnya. Tapi Dara tidak duduk. Ia tetap memilih untuk berdiri.
Satu jam.
Dua jam.
Salju makin tebal di pundaknya, tak ia hempaskan. Malam makin larut.
Dan ketika taman itu hampir sepenuhnya sunyi, tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Tiga jam.
Ia tidak bergeser sedikit pun.
“Aku akan melepas harapan itu di sini.” Suaranya hampir tak terdengar, tertelan udara malam.
Beberapa jam sebelumnya itu harusnya bisa menjadi momen yang terasa cukup mengobati semuanya.
Tapi, kenapa bahkan itu pun terasa terlalu jauh?
Kenapa jarak itu selalu ada?
Kenapa ia harus menanggung rindu ini lebih lama lagi?
Jalan raya di kejauhan mulai sepi. Lampu kendaraan jarang lewat. Dan tanpa Dara sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya sejak satu jam lalu.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Hanya cukup untuk melihat.
Anne berdiri di sana, tangannya menggenggam satu sama lain.
Ia tersenyum tipis tanpa suara.
Menunggu.
Takut mengganggu.
"Apakah aku jahat jika tiba-tiba memanggilnya?
Apakah dia masih ingin melihatku lagi?
Apakah rindu itu masih benar-benar ada?"
Anne takut.
Takut jika Dara sudah berdamai lalu kemunculannya hanya akan membuka luka yang sudah hampir kering. Ia tahu hal seperti itu menyiksa. Dan ia tak ingin Dara merasakan kesengsaraan itu lagi.
Ia menunduk.
Ragu antara melangkah maju atau pergi selamanya. Tapi dirinya tidak tahu bahwa beberapa detik sebelumnya, Dara sudah berbalik.
Dara melihatnya.
Napas Dara seperti terhenti.
Tangannya bergetar. Bukan karena dingin.
Tapi karena tak percaya.
Siluet itu.
Postur itu.
Cara ia berdiri.
Anne.
Anne perlahan mengangkat kepala dan mata mereka bertemu dan saat itu juga seketika waktu membeku.
Tidak ada angin.
Tidak ada salju.
Tidak ada kota.
Hanya dua pasang mata yang akhirnya saling menemukan.
"Ini bukan mimpi, kan...? " batin Dara.
Air mata jatuh tanpa izin.
Satu.
Lalu satu lagi.
Dara tak habis pikir bagaimana permainan takdir. Justru saat ia sudah melepaskan harapan itu, yang diharapkan kini datang berdiri di hadapannya.
Momen itu panjang.
Sangat panjang.
Sampai akhirnya tangan Dara perlahan terangkat. Gerakannya halus... mantap. Tidak kaku.
“Bagaimana kabarmu?" Isyaratnya sempurna. Seperti bahasa adalah bahasanya sehari-hari.
Napas Anne tertahan.
Matanya membesar.
Ia mengenali setiap gerakan. Ia tahu bahwa bahasa itu bukan hanya dipelajari dan diingat, tapi juga dijaga.
Air mata kini jatuh di kedua pipi Anne.
Ia tersenyum, gemetar. “Aku baik-baik saja... Dara,”
Tangisan Dara ikut pecah. Bukan sedih, bukan juga kecewa. Tapi seperti seseorang yang akhirnya sampai setelah tersesat terlalu lama.
“Aku merindukanmu.” Isyaratnya bergetar.
“A-aku… sangat merindukanmu, Anne.”
Tangisnya dalam.
“Maafkan aku.”
Dara menggeleng cepat. Air matanya belum berhenti. “Aku baik-baik saja.”
Dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan hampir empat tahun yang lalu itu... Tidak ada jarak. Tidak ada satu detik yang terlambat.
Hanya mereka.
Di bawah menara yang dulu sangat didambakan Anne.
Jelas.
Masih ada cinta yang mengisi jarak di antara mereka.
Bahasa isyarat itu adalah buktinya.
Tiga tahun.
Tanpa jejak.
Diam.
Kesalahan.
Tapi gerakan tangan itu masih fasih.
Masih tepat.
Masih seperti dulu.
Cinta itu tidak hilang.
Hanya berubah bentuk.
Namun, cinta juga tidak selalu berarti memiliki.
Anne melepaskan Dara menjelang kelulusan itu juga cinta.
Keputusan Dara yang membuat semuanya retak itu pun cinta.
Mereka dipertemukan oleh cinta.
Dan mereka juga diuji oleh cinta yang sama.
Dara menarik napas perlahan. Ia mencoba tenang. “Terima kasih untuk semuanya, Anne.”
Isyaratnya mantap, tidak gemetar lagi.
“Terima kasih juga untuk segalanya, Dara.” Anne membalas cepat. Tangannya masih ringan. Masih indah.
Dara memperhatikan.
“Aku senang kamu masih menggunakannya. Sudah lebih hebat.”
“Apa? Bahasa isyaratnya?” Dara sedikit tertawa.
Anne mengangguk cepat, tersenyum lebar. Tawa kecil pun menyusul, terukir jelas di wajah Dara. Begitu hangat.
“Aku senang bisa melihatmu tumbuh menjadi orang hebat," isyarat Dara dalam.
Dan kalimat itu bukan basa-basi. Benar-benar keluar dari hati Dara yang paling dalam. Ia bangga.
Anne tak menghentikan senyumannya. Ia membalas dengan gerakan halus, “Aku senang bisa mengenalmu.”
Anne tertahan sebentar.
“Tapi aku harus pergi sekarang.”
Tidak ada nada dramatis.
Tak ada pelukan.
Di bawah langit yang saljunya terus turun itu, hanya ada keputusan yang dewasa.
Dara mengangguk. Senyumnya lebar dan tulus. Ia tahu itu sebuah perpisahan. Tapi kali ini, untukbpertama kalinya hal itu terasa berbeda.
“Jaga dirimu baik-baik, ya. Dan... sampai bertemu lagi.”
Bukan janji.
Bukan kepastian.
Hanya harapan kalau waktu dan takdir berkenan.
Anne berbalik. Tangannya melambai. Lambaian itu terasa lembut dan hangat.
Sama seperti dulu, setiap kali mereka berpisah setelah berjalan-jalan sepulang sekolah. Tak berubah.
Langkah Anne mantap. Jejaknya jelas tertinggal di atas salju. Namun kali ini Dara tidak perlu mengejarnya.
Tidak seperti tadi.
Tidak seperti dulu.
Cukup.
Itu sudah lebih dari yang ia harapkan.
Dara tidak datang ke Sapporo untuk memaksa masa lalu kembali. Dia tidak mengharapkan semua itu terjadi di sana.
Tapi akhirnya dia dapat membuktikan satu hal.
Cintanya tulus.
Bukan karena kasihan.
Bukan karena kebiasaan.
Bukan karena tak punya pilihan.
Dan kini Anne tahu itu.
Bahasa yang Dara jaga selama ini…
dituturkan kembali dengan sempurna malam ini memberitahukan semuanya.
Di ujung jalan taman, Anne tiba-tiba berhenti. Ia berbalik membuat Dara mengangkat alisnya.
Jarak mereka lebih jauh dibanding saat ia mengejar Anne di jalanan ramai tadi. Tapi anehnya...
Terasa lebih dekat.
Anne tersenyum lebar.
“Sapporo bagaimana? Indah, kan?” Isyaratnya jelas meski dari jauh.
Dan begitulah bahasa itu bekerja.
Tak perlu suara.
Tak perlu mendekat.
“Aku menyukainya,” balas Dara.
Dan kali ini Ia benar-benar menyukainya.
Bukan karena kota itu hangat.
Bukan karena kota itu lembut.
Tapi karena di kota itu, ia akhirnya bisa melepaskan.
Salju terus turun dan Anne berjalan pergi sudah semakin jauh.
Di tempat itu, Dara tetap berdiri memandang. Belum beranjak.
Tapi Hatinya tidak lagi sesak.
Cinta itu tidak hilang.
Ia hanya selesai dengan cara yang lebih baik.
Jauh lebih baik.
TAMAT
Other Stories
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...