8. Masa Depan
Satu tahun berlalu.
Tidak ada kejenuhan.
Tidak ada rasa bosan.
Justru sebaliknya, perasaan mereka semakin menggebu-gebu, semakin dalam, semakin yakin bahwa apa pun yang terjadi, mereka ingin terus bersama.
Hari itu adalah anniversary pertama mereka.
Pertengahan kelas 11.
Anne kini aktif di ekskul seni melukis.
Awalnya hanya saran sederhana dari Dara. Namun ternyata itu adalah hal pilihan yang benar.
Di atas kanvas, Anne menemukan suara yang tak pernah ia miliki.
Lewat goresan, ia berbicara.
Lewat warna, ia didengar.
Bahkan sebulan lalu, ekskul mereka sudah mengadakan pameran publik. Sebagian besar lukisan Anne dipajang di sana.
Tak disangka, sekolah memutuskan untuk terus mendanai ekskul itu setelah melihat antusiasme pengunjung.
Untuk pertama kalinya, Anne diperhatikan.
Bukan karena kekurangannya. Tapi karena kehebatannya. Dan setiap kali orang memujinya, ia selalu menoleh pada satu orang yang berdiri tidak jauh darinya.
Dara.
Hari itu, setelah selesai piket, Dara menunggu di Anne di kelas. Beberapa menit kemudian, Anne datang dengan tas selempang dan noda cat kecil di pergelangan tangannya. Baru selesai mengikuti ekskul yang kini jadi kesibukannya.
"Makasih udah mau tungguin aku. Lama, yah?" tanya Anne dengan nafas tersengal.
Dara hanya menggeleng. "Kita pergi sekarang?" Melihat anggukan Anne, dengan cepat dia menarik tangan kanan yang masih meninggalkan noda cat itu.
Mereka pergi ke tempat biasa. Kalau kata Dara, itu tempat permulaan. Bangku depan supermarket, tempat yang hampir tidak berubah sejak setahun lalu.
Anne duduk lebih dulu.
Lalu, tanpa banyak isyarat pembuka, ia mengeluarkan sesuatu dari tabung lukisannya. Sebuah lukisan yang baru ia buat itu diberukan pada Dara.
Perlahan Dara membuka lukisan yang tergulung itu. Ia terdiam.
Dominasi putih memenuhi sebagian besar lukisan itu. Putih yang tidak kosong, tapi
putih yang terasa dalam.
Di tengahnya berdiri objek menjulang tinggi berwarna oranye kemerahan, kontras dan hangat di antara lautan putih.
Dara memandanginya cukup lama sebelum bertanya dengan isyarat, “Ini tempat apa?”
Anne langsung menjawab. “Tempat yang ingin aku kunjungi di Sapporo.
"TV Tower.” Gerakannya lebih pelan saat melanjutkan.
“Menurutku tempatnya indah saat salju tebal menutupi jalanan. Dominan putih dan terasa tenang.”
Dara tersenyum kecil. “Aku ingin memotret tempat itu,” responnya cepat sebelum Dara kembali menatap lukisan itu.
“Kamu bahkan membuat salju ini terlihat hangat." Ungkapan jujur Dara membuat Anne sedikit tertunduk malu.
“Dan ini buat kamu.” Ada jeda sedikit sebelum ia melanjutkan, “Simpan baik-baik, ya?”
Senyum merekah dan anggukan mantap Dara menandakan dia sangat bahagia dengan hadiah itu.
“Sekarang giliranku.”
Anne mengangkat wajahnya, penasaran.
Dara mengambil sesuatu dari tasnya.
Sebuah benda persegi panjang. Album foto berwarna biru cerah.
Di bagian tengah sampulnya, terlihat bunga marigold yang digambar dan ditempel, jelas dibuat sendiri. Sedikit miring, sedikit tidak simetris, tapi sangat sungguh-sungguh.
Mata Anne langsung membesar.
Ia langsung membuka halaman pertama.
Di sana, satu kalimat pendek yang ditulis tangan menyambutnya.
Kalau suatu hari kamu merasa dunia terlalu sunyi, buka ini.
Aku ada di setiap halamannya.
Gerakan tangannya berhenti.
Baru kalimat itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa penuh.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Dara, matanya mulai berkaca-kaca.
Lembar berikutnya memperlihatkan foto di pantai tahun lalu, dirinya dengan topi kuning lebar yang dibelikan tiba-tiba, tertawa menghadap ombak.
Halaman setelahnya, foto-foto kecil perjalanan cinta mereka sepanjang satu tahun terakhir.
Di bangku supermarket.
Di koridor sekolah.
Di depan ruang pameran lukisan.
Foto candid saat Anne sedang melukis dan tidak sadar sedang diperhatikan.
Ternyata momen-momen sederhana seperti itu begitu berarti.
Disimpan.
Dikenang.
Bahkan jika suatu hari ingatan memudar, foto-foto itu akan tetap berbicara.
Dara berisyarat pelan, “Aku tidak mau ada satu pun dari kita yang lupa.”
Anne menutup album itu perlahan, lalu memeluknya erat ke dada.
Ia menoleh pada Dara yang duduk tepat di depannya.
“Aku tidak akan lupa.” Tangannya bergerak mantap.
Lalu, setelah jeda kecil ia melanjutkan, “Kita tidak akan lupa.”
Mereka tertawa.
Tidak memikirkan hari esok.
Tidak memikirkan badai apa pun yang mungkin datang kemudian hari.
Sore itu hanya milik mereka karena masa depan masih terasa sangat jauh.
Bersambung...
Tidak ada kejenuhan.
Tidak ada rasa bosan.
Justru sebaliknya, perasaan mereka semakin menggebu-gebu, semakin dalam, semakin yakin bahwa apa pun yang terjadi, mereka ingin terus bersama.
Hari itu adalah anniversary pertama mereka.
Pertengahan kelas 11.
Anne kini aktif di ekskul seni melukis.
Awalnya hanya saran sederhana dari Dara. Namun ternyata itu adalah hal pilihan yang benar.
Di atas kanvas, Anne menemukan suara yang tak pernah ia miliki.
Lewat goresan, ia berbicara.
Lewat warna, ia didengar.
Bahkan sebulan lalu, ekskul mereka sudah mengadakan pameran publik. Sebagian besar lukisan Anne dipajang di sana.
Tak disangka, sekolah memutuskan untuk terus mendanai ekskul itu setelah melihat antusiasme pengunjung.
Untuk pertama kalinya, Anne diperhatikan.
Bukan karena kekurangannya. Tapi karena kehebatannya. Dan setiap kali orang memujinya, ia selalu menoleh pada satu orang yang berdiri tidak jauh darinya.
Dara.
Hari itu, setelah selesai piket, Dara menunggu di Anne di kelas. Beberapa menit kemudian, Anne datang dengan tas selempang dan noda cat kecil di pergelangan tangannya. Baru selesai mengikuti ekskul yang kini jadi kesibukannya.
"Makasih udah mau tungguin aku. Lama, yah?" tanya Anne dengan nafas tersengal.
Dara hanya menggeleng. "Kita pergi sekarang?" Melihat anggukan Anne, dengan cepat dia menarik tangan kanan yang masih meninggalkan noda cat itu.
Mereka pergi ke tempat biasa. Kalau kata Dara, itu tempat permulaan. Bangku depan supermarket, tempat yang hampir tidak berubah sejak setahun lalu.
Anne duduk lebih dulu.
Lalu, tanpa banyak isyarat pembuka, ia mengeluarkan sesuatu dari tabung lukisannya. Sebuah lukisan yang baru ia buat itu diberukan pada Dara.
Perlahan Dara membuka lukisan yang tergulung itu. Ia terdiam.
Dominasi putih memenuhi sebagian besar lukisan itu. Putih yang tidak kosong, tapi
putih yang terasa dalam.
Di tengahnya berdiri objek menjulang tinggi berwarna oranye kemerahan, kontras dan hangat di antara lautan putih.
Dara memandanginya cukup lama sebelum bertanya dengan isyarat, “Ini tempat apa?”
Anne langsung menjawab. “Tempat yang ingin aku kunjungi di Sapporo.
"TV Tower.” Gerakannya lebih pelan saat melanjutkan.
“Menurutku tempatnya indah saat salju tebal menutupi jalanan. Dominan putih dan terasa tenang.”
Dara tersenyum kecil. “Aku ingin memotret tempat itu,” responnya cepat sebelum Dara kembali menatap lukisan itu.
“Kamu bahkan membuat salju ini terlihat hangat." Ungkapan jujur Dara membuat Anne sedikit tertunduk malu.
“Dan ini buat kamu.” Ada jeda sedikit sebelum ia melanjutkan, “Simpan baik-baik, ya?”
Senyum merekah dan anggukan mantap Dara menandakan dia sangat bahagia dengan hadiah itu.
“Sekarang giliranku.”
Anne mengangkat wajahnya, penasaran.
Dara mengambil sesuatu dari tasnya.
Sebuah benda persegi panjang. Album foto berwarna biru cerah.
Di bagian tengah sampulnya, terlihat bunga marigold yang digambar dan ditempel, jelas dibuat sendiri. Sedikit miring, sedikit tidak simetris, tapi sangat sungguh-sungguh.
Mata Anne langsung membesar.
Ia langsung membuka halaman pertama.
Di sana, satu kalimat pendek yang ditulis tangan menyambutnya.
Kalau suatu hari kamu merasa dunia terlalu sunyi, buka ini.
Aku ada di setiap halamannya.
Gerakan tangannya berhenti.
Baru kalimat itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa penuh.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Dara, matanya mulai berkaca-kaca.
Lembar berikutnya memperlihatkan foto di pantai tahun lalu, dirinya dengan topi kuning lebar yang dibelikan tiba-tiba, tertawa menghadap ombak.
Halaman setelahnya, foto-foto kecil perjalanan cinta mereka sepanjang satu tahun terakhir.
Di bangku supermarket.
Di koridor sekolah.
Di depan ruang pameran lukisan.
Foto candid saat Anne sedang melukis dan tidak sadar sedang diperhatikan.
Ternyata momen-momen sederhana seperti itu begitu berarti.
Disimpan.
Dikenang.
Bahkan jika suatu hari ingatan memudar, foto-foto itu akan tetap berbicara.
Dara berisyarat pelan, “Aku tidak mau ada satu pun dari kita yang lupa.”
Anne menutup album itu perlahan, lalu memeluknya erat ke dada.
Ia menoleh pada Dara yang duduk tepat di depannya.
“Aku tidak akan lupa.” Tangannya bergerak mantap.
Lalu, setelah jeda kecil ia melanjutkan, “Kita tidak akan lupa.”
Mereka tertawa.
Tidak memikirkan hari esok.
Tidak memikirkan badai apa pun yang mungkin datang kemudian hari.
Sore itu hanya milik mereka karena masa depan masih terasa sangat jauh.
Bersambung...
Other Stories
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Cinta Koma
Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...