9. Retakan
Naik kelas 3 tidak membawa perubahan besar pada mereka. Setidaknya, tidak di permukaan.
Yang berubah justru ritme.
Baru saja selesai libur semester dan sekolah baru mau dimulai, Dara harus pergi selama dua minggu penuh karena urusan keluarga. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada pertengkaran sebelumnya. Hanya kepergian yang terasa biasa bagi orang lain.
Tapi tidak bagi Dara.
Dua minggu tanpa melihat Anne secara langsung terasa seperti sesuatu yang tidak pernah ia latih sebelumnya. Pesan tetap berjalan. Foto makanan. Cerita singkat tentang hari masing-masing.
Namun bagi Dara, layar tidak pernah cukup. Itu berat.
Ia terbiasa membaca gerakan tangan Anne.
Terbiasa menatap matanya untuk memahami emosi yang tidak tertulis.
Terbiasa duduk di sampingnya tanpa perlu kata. Dan dua minggu itu membuatnya sadar satu hal yang mengganggu.
Ia tidak tahan jarak.
Sementara itu, kehidupan Anne tetap berjalan. Ekskul seni semakin sibuk. Dalam setahun terakhir mereka sudah mengadakan empat kali pameran. Guru pembimbing memberi tanggung jawab lebih besar padanya. Ia juga harus mulai fokus belajar karena kelas 3 tidak lagi main-main.
Bukan berarti Anne tak merindukan Dara. Namun rindu itu tidak membuatnya gelisah. Ia sabar.
Ia ingin lebih sering mengirim pesan.
Ingin bertanya lebih banyak.
Tapi ia juga tahu diri karena tidak tahu situasi Dara di sana.
Anne tidak ingin mengganggu.
Tidak ingin terlihat terlalu bergantung.
Kalau Dara ingin lebih sering bicara, ia pikir Dara akan mengatakannya.
Tapi Dara tidak pernah mengatakan itu. Tapi untungnya hubungan mereka tetap berjalan mulus.
Anniversary kedua datang di pertengahan kelas 3. Mereka masih tertawa. Masih duduk di depan supermarket seperti biasa. Masih berbagi waktu seperti tidak ada yang berubah.
Hanya saja, di dalam kepala Dara, dua minggu saat dia pergi waktu itu tidak pernah benar-benar selesai.
Ia terus memikirkan bagaimana rasanya jika jarak itu bukan dua minggu.
Melainkan dua negara.
Setahun lalu, di pertpustakaan mereka pernah membicarakan masa depan. Masih seputar, ke mana tujuan setelah mereka lulus nanti.
Dara dengan antusias mengatakan ingin sekali kuliah di Singapura.
Ia belajar keras, mencari informasi beasiswa, menyiapkan diri dan untungnya dia sudah menemukan jalur untuk dia ambil nanti.
Anne tahu itu.
Anne tahu Dara anak yang pintar.
Anak yang selalu bekerja keras.
Anak yang punya mimpi besar.
Sementara Anne, ia mencari kampus nasional saja. Ia ingin mendalami seni. Itu sudah cukup baginya.
Semua terasa seimbang. Semua berjalan mulus sampai hari pengisian data kelulusan, satu bulan sebelum pengumuman kelulusan.
Karena harus menyelesaikan beberapa hal, Anne menjadi siswa terakhir yang mengisi daftar tujuan setelah lulus itu. Ia diminta menuliskan pilihan kampus secara manual sebelum data dimasukkan ke sistem.
Tangannya bergerak tenang saat menulis di daftar panjang yang sudah berisikan nama teman sekelasnya yang kain. Bervariasi.
Lalu matanya menangkap satu nama.
Dara.
Bukan di jalur beasiswa Singapura.
Bukan di daftar untuk kuliah ke luar negeri.
Ia berhenti.
Anne tahu kuota beasiswa itu masih dibuka saat dia mengeceknya beberapa hari lalu. Ia tahu Dara memenuhi syarat. Ia tahu Dara sudah mempersiapkan semuanya sejak lama.
Tangannya mengambil ponsel. Ia memotret daftar itu. Beberapa menit kemudian, ia pergi menemui Dara.
Ia menunjukkan foto tersebut.
Lalu tangannya bergerak cepat.
“Kenapa?”
Dara menatap layar itu, lalu menatap Anne. Ia tidak menghindar. Tangannya mulai bergerak. “Aku membatalkannya.”
Anne tidak langsung bereaksi.
Dara melanjutkan. Gerakannya sedikit lebih cepat, sedikit lebih emosional dari biasanya.
“Aku sudah memutuskan untuk tidak pergi.”
“Dua minggu waktu itu saja sudah berat. Aku akan tetap di sini.”
Anne diam. Matanya tidak lepas dari tangan Dara. Lalu kalimat itu datang.
“Aku lakukan ini demi kamu, Anne.”
Gerakan terakhir itu jelas. Tidak ragu.
Dan justru karena jelas, itu terasa tajam.
Anne membeku.
Dua tahun.
Dua tahun mereka bersama.
Dua tahun ia merasa dipilih, bukan dikasihani.
Dan kini, dalam satu kalimat, sesuatu bergeser jauh.
"Demi kamu?"
Apakah itu cinta?
Atau rasa iba?
Apakah Dara tinggal karena dia ingin?
Atau karena sudah merasa hal itu harus?
Anne menatap Dara lama tapi kali ini matanya berkaca-kaca. Bukan karena bahagia.
Ia tahu Dara bukan orang jahat.
Ia tahu Dara terlalu baik. Terlalu tulus.
Justru itu yang membuatnya sakit.
Seseorang sedang mengorbankan mimpi besar.
Dan alasan itu adalah dirinya... penuh keterbatasan.
Tangan Anne bergerak, lebih pelan. “Kamu tidak perlu melakukan itu.”
Dara mengernyit.
“Kamu mengasihaniku lagi, kan? Aku tidak butuh dikasihani.” Anne melanjutkan.
Dara cepat-cepat menggeleng. Matanya melotot sadar sudah salah berucap. Ia mencoba menjelaskan. Tangannya bergerak lebih cepat sekarang.
“Bukan kasihan.”
Tapi terlambat untuk penjelasan itu. Anne sudah mulai memalingkan wajah.
“Aku memilih ini.”
“Aku mau.”
"Aku yang lemah. Aku yang justru tidak bisa kalau kita jauh."
Bahasa isyarat membutuhkan tatapan.
Tanpa mata yang saling bertemu, gerakan hanya menjadi bentuk tanpa arti.
Dara masih berbicara dengan tangannya.
Tapi Anne tidak lagi melihat.
Ia bukan tidak mengerti.
Ia justru terlalu mengerti.
Anne tahu jika ia membiarkan Dara tinggal karena dirinya, maka setiap kegagalan di masa depan akan selalu punya bayangan namanya.
Untuk sesaat, jarak mereka langsung berada pada titik paling jauh.
Semakin jauh saat Anne berjalan pergi.
Semakin jauh saat Dara sadar dia tak bisa bergerak untuk mengejar.
Saat penjelasan tak bisa didengar dengan suara, saat isyarat tidak bisa dilihat ketika sudah berpaling. Maka dengan apa lagi dia bisa menjangkau hati itu lagi?
Tatapan kedua mata Anne beberapa detik yang lalu adalah hal paling menyakitkan bagi Dara daripada tidak bertemu selama dua minggu.
"Apakah aku bisa memperbaikinya lagi kali ini?"
•••
Beberapa hari setelah itu, Anne berpikir lama.
Ia ragu.
Ia menangis sendirian.
Ia mempertimbangkan ulang.
Namun prinsipnya tetap sama.
Ia tidak ingin menjadi alasan seseorang berhenti mengejar mimpi.
Jika mencintai berarti melepas mimpi dan keinginan besar, maka mungkin mereka seharusnya tidak bersama sejak awal.
Akhirnya beberapa hari sebelum acara kelulusan, Anne menemui Dara lagi. Baru kali ini pertamua itu tanpa percakapan manis di antara mereka.
Sebelum Dara mulai mengatakan sesuatu, Anne lebih dulu bergerak mantap meski matanya sedikit memerah.
“Kita cukup sampai di sini.”
Dara terpaku. "Tidak." Batin Dara spontan menolak.
Anne melanjutkan. “Kamu harus pergi. Kamu harus mengejar mimpi itu. Jangan berhenti karena aku.”
Gerakan isyarat itu tidak dikatakan dengan tatapan benci, marah ataupun kecewa seperti waktu terakhir kali mereka bertemu.
Anne mengatakan dengan senyum tipis.
Justru itu menjadi lebih sakit saat Dara tahu Anne melepaskannya dengan senyuman.
Dara mencoba mendekat. Tangannya bergerak cepat, berusaha menjelaskan lagi. Namun kali ini, Anne mundur satu langkah.
Matanya sudah berpaling.
Dan tanpa tatapan itu, tidak ada lagi yang bisa diterjemahkan. Tidak ada yang bisa diluruskan.
Perpisahan mereka tidak diiringi teriakan.
Hanya dua orang yang sama-sama saling mencintai, namun masih terlalu muda untuk memahami cara mempertahankannya.
Anne berjalan pergi dengan satu harapan sederhana. Suatu hari nanti, Dara tidak lagi membatalkan mimpinya demi siapa pun.
Termasuk dirinya.
Bersambung...
Yang berubah justru ritme.
Baru saja selesai libur semester dan sekolah baru mau dimulai, Dara harus pergi selama dua minggu penuh karena urusan keluarga. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada pertengkaran sebelumnya. Hanya kepergian yang terasa biasa bagi orang lain.
Tapi tidak bagi Dara.
Dua minggu tanpa melihat Anne secara langsung terasa seperti sesuatu yang tidak pernah ia latih sebelumnya. Pesan tetap berjalan. Foto makanan. Cerita singkat tentang hari masing-masing.
Namun bagi Dara, layar tidak pernah cukup. Itu berat.
Ia terbiasa membaca gerakan tangan Anne.
Terbiasa menatap matanya untuk memahami emosi yang tidak tertulis.
Terbiasa duduk di sampingnya tanpa perlu kata. Dan dua minggu itu membuatnya sadar satu hal yang mengganggu.
Ia tidak tahan jarak.
Sementara itu, kehidupan Anne tetap berjalan. Ekskul seni semakin sibuk. Dalam setahun terakhir mereka sudah mengadakan empat kali pameran. Guru pembimbing memberi tanggung jawab lebih besar padanya. Ia juga harus mulai fokus belajar karena kelas 3 tidak lagi main-main.
Bukan berarti Anne tak merindukan Dara. Namun rindu itu tidak membuatnya gelisah. Ia sabar.
Ia ingin lebih sering mengirim pesan.
Ingin bertanya lebih banyak.
Tapi ia juga tahu diri karena tidak tahu situasi Dara di sana.
Anne tidak ingin mengganggu.
Tidak ingin terlihat terlalu bergantung.
Kalau Dara ingin lebih sering bicara, ia pikir Dara akan mengatakannya.
Tapi Dara tidak pernah mengatakan itu. Tapi untungnya hubungan mereka tetap berjalan mulus.
Anniversary kedua datang di pertengahan kelas 3. Mereka masih tertawa. Masih duduk di depan supermarket seperti biasa. Masih berbagi waktu seperti tidak ada yang berubah.
Hanya saja, di dalam kepala Dara, dua minggu saat dia pergi waktu itu tidak pernah benar-benar selesai.
Ia terus memikirkan bagaimana rasanya jika jarak itu bukan dua minggu.
Melainkan dua negara.
Setahun lalu, di pertpustakaan mereka pernah membicarakan masa depan. Masih seputar, ke mana tujuan setelah mereka lulus nanti.
Dara dengan antusias mengatakan ingin sekali kuliah di Singapura.
Ia belajar keras, mencari informasi beasiswa, menyiapkan diri dan untungnya dia sudah menemukan jalur untuk dia ambil nanti.
Anne tahu itu.
Anne tahu Dara anak yang pintar.
Anak yang selalu bekerja keras.
Anak yang punya mimpi besar.
Sementara Anne, ia mencari kampus nasional saja. Ia ingin mendalami seni. Itu sudah cukup baginya.
Semua terasa seimbang. Semua berjalan mulus sampai hari pengisian data kelulusan, satu bulan sebelum pengumuman kelulusan.
Karena harus menyelesaikan beberapa hal, Anne menjadi siswa terakhir yang mengisi daftar tujuan setelah lulus itu. Ia diminta menuliskan pilihan kampus secara manual sebelum data dimasukkan ke sistem.
Tangannya bergerak tenang saat menulis di daftar panjang yang sudah berisikan nama teman sekelasnya yang kain. Bervariasi.
Lalu matanya menangkap satu nama.
Dara.
Bukan di jalur beasiswa Singapura.
Bukan di daftar untuk kuliah ke luar negeri.
Ia berhenti.
Anne tahu kuota beasiswa itu masih dibuka saat dia mengeceknya beberapa hari lalu. Ia tahu Dara memenuhi syarat. Ia tahu Dara sudah mempersiapkan semuanya sejak lama.
Tangannya mengambil ponsel. Ia memotret daftar itu. Beberapa menit kemudian, ia pergi menemui Dara.
Ia menunjukkan foto tersebut.
Lalu tangannya bergerak cepat.
“Kenapa?”
Dara menatap layar itu, lalu menatap Anne. Ia tidak menghindar. Tangannya mulai bergerak. “Aku membatalkannya.”
Anne tidak langsung bereaksi.
Dara melanjutkan. Gerakannya sedikit lebih cepat, sedikit lebih emosional dari biasanya.
“Aku sudah memutuskan untuk tidak pergi.”
“Dua minggu waktu itu saja sudah berat. Aku akan tetap di sini.”
Anne diam. Matanya tidak lepas dari tangan Dara. Lalu kalimat itu datang.
“Aku lakukan ini demi kamu, Anne.”
Gerakan terakhir itu jelas. Tidak ragu.
Dan justru karena jelas, itu terasa tajam.
Anne membeku.
Dua tahun.
Dua tahun mereka bersama.
Dua tahun ia merasa dipilih, bukan dikasihani.
Dan kini, dalam satu kalimat, sesuatu bergeser jauh.
"Demi kamu?"
Apakah itu cinta?
Atau rasa iba?
Apakah Dara tinggal karena dia ingin?
Atau karena sudah merasa hal itu harus?
Anne menatap Dara lama tapi kali ini matanya berkaca-kaca. Bukan karena bahagia.
Ia tahu Dara bukan orang jahat.
Ia tahu Dara terlalu baik. Terlalu tulus.
Justru itu yang membuatnya sakit.
Seseorang sedang mengorbankan mimpi besar.
Dan alasan itu adalah dirinya... penuh keterbatasan.
Tangan Anne bergerak, lebih pelan. “Kamu tidak perlu melakukan itu.”
Dara mengernyit.
“Kamu mengasihaniku lagi, kan? Aku tidak butuh dikasihani.” Anne melanjutkan.
Dara cepat-cepat menggeleng. Matanya melotot sadar sudah salah berucap. Ia mencoba menjelaskan. Tangannya bergerak lebih cepat sekarang.
“Bukan kasihan.”
Tapi terlambat untuk penjelasan itu. Anne sudah mulai memalingkan wajah.
“Aku memilih ini.”
“Aku mau.”
"Aku yang lemah. Aku yang justru tidak bisa kalau kita jauh."
Bahasa isyarat membutuhkan tatapan.
Tanpa mata yang saling bertemu, gerakan hanya menjadi bentuk tanpa arti.
Dara masih berbicara dengan tangannya.
Tapi Anne tidak lagi melihat.
Ia bukan tidak mengerti.
Ia justru terlalu mengerti.
Anne tahu jika ia membiarkan Dara tinggal karena dirinya, maka setiap kegagalan di masa depan akan selalu punya bayangan namanya.
Untuk sesaat, jarak mereka langsung berada pada titik paling jauh.
Semakin jauh saat Anne berjalan pergi.
Semakin jauh saat Dara sadar dia tak bisa bergerak untuk mengejar.
Saat penjelasan tak bisa didengar dengan suara, saat isyarat tidak bisa dilihat ketika sudah berpaling. Maka dengan apa lagi dia bisa menjangkau hati itu lagi?
Tatapan kedua mata Anne beberapa detik yang lalu adalah hal paling menyakitkan bagi Dara daripada tidak bertemu selama dua minggu.
"Apakah aku bisa memperbaikinya lagi kali ini?"
•••
Beberapa hari setelah itu, Anne berpikir lama.
Ia ragu.
Ia menangis sendirian.
Ia mempertimbangkan ulang.
Namun prinsipnya tetap sama.
Ia tidak ingin menjadi alasan seseorang berhenti mengejar mimpi.
Jika mencintai berarti melepas mimpi dan keinginan besar, maka mungkin mereka seharusnya tidak bersama sejak awal.
Akhirnya beberapa hari sebelum acara kelulusan, Anne menemui Dara lagi. Baru kali ini pertamua itu tanpa percakapan manis di antara mereka.
Sebelum Dara mulai mengatakan sesuatu, Anne lebih dulu bergerak mantap meski matanya sedikit memerah.
“Kita cukup sampai di sini.”
Dara terpaku. "Tidak." Batin Dara spontan menolak.
Anne melanjutkan. “Kamu harus pergi. Kamu harus mengejar mimpi itu. Jangan berhenti karena aku.”
Gerakan isyarat itu tidak dikatakan dengan tatapan benci, marah ataupun kecewa seperti waktu terakhir kali mereka bertemu.
Anne mengatakan dengan senyum tipis.
Justru itu menjadi lebih sakit saat Dara tahu Anne melepaskannya dengan senyuman.
Dara mencoba mendekat. Tangannya bergerak cepat, berusaha menjelaskan lagi. Namun kali ini, Anne mundur satu langkah.
Matanya sudah berpaling.
Dan tanpa tatapan itu, tidak ada lagi yang bisa diterjemahkan. Tidak ada yang bisa diluruskan.
Perpisahan mereka tidak diiringi teriakan.
Hanya dua orang yang sama-sama saling mencintai, namun masih terlalu muda untuk memahami cara mempertahankannya.
Anne berjalan pergi dengan satu harapan sederhana. Suatu hari nanti, Dara tidak lagi membatalkan mimpinya demi siapa pun.
Termasuk dirinya.
Bersambung...
Other Stories
Cahaya Dari Menara Camlica
Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Gm.
menakutkan. ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...