Painted Distance (tamat)

Reads
1K
Votes
168
Parts
13
Vote
Report
Painted distance (tamat)
Painted Distance (tamat)
Penulis DIPLOHOLIC

1. Patahan Yang Membawanya

Sapporo, Prefektur Hokkaido, Jepang — Januari 2020

Salju yang turun di Sapporo hari itu lebih tebal dibanding hari-hari sebelumnya. Butiran-butiran putih jatuh menutup trotoar, dahan pohon, hingga atap bangunan dengan lapisan dingin yang memeluk seluruh kota.

Suhu dingin yang menusuk itu memaksa semua orang bergerak dengan ritme yang cepat. Tapi justru itulah alasan banyak orang datang ke kota ini.

Bukan hanya wisatawan asing, bahkan orang Jepang sendiri sering mengatakan bahwa musim dingin di Sapporo punya ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Orang-orang menyebut kota ini romantis.

Namun bagi satu orang, Sapporo terasa seperti tempat di mana waktu berjalan sedikit lebih lambat. Cukup lama untuk membuatnya mulai mengingat kembali semua kenangan yang telah berlalu.

Di tengah arus manusia yang terus melangkah tanpa henti, Dara ikut menyelaraskan langkahnya. Uap dari napas tipis keluar menembus scarf yang menutupi sebagian wajahnya.

Tangannya menggenggam ponsel, layar navigasi masih menyala sejak beberapa menit lalu.

Seratus meter lagi.
Belok kanan di depan.
Setelah itu kafe yang ia cari seharusnya sudah terlihat.

Rasa dingin mulai terasa menyengat sampai ke ujung jari. Dara segera memasukkan ponselnya ke dalam saku coat tebal yang ia kenakan, lalu tanpa sadar mempercepat langkah.

Beberapa kali ia menyenggol orang yang berjalan berlawanan arah. Untungnya tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Semua orang terlalu sibuk mengejar tujuan masing-masing di tengah udara yang seperti mau membeku itu.

Tak lama, Dara akhirnya tiba di kafe yang ia tuju. Ia menghentikan langkah, menatap papan nama, sekilas membaca tulisan berbahasa Inggris untuk memastikan sebelum dirinya benar-benar masuk.

Udara hangat yang membuat kulit pipi terasa hangat langsung menyambutnya saat pintu dibuka. Tanpa ragu, ia memilih tempat di samping jendela.

Ia tidak langsung memesan.

Dara duduk dalam diam, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja, sementara pandangannya terkunci ke arah luar.

Jalanan tetap ramai. Orang-orang berjalan cepat, kendaraan melintas perlahan di atas jalan yang licin oleh salju.

Beberapa orang berjalan berpasangan.
Beberapa dalam kelompok kecil.

Ia tidak yakin melihat ada yang berjalan sendirian di tengah keramaian seperti itu.
Atau mungkin ada, hanya saja terlewat ketika ia terlalu sibuk menatap layar ponsel saat hendak menuju kafe. Tapi yang pasti tidak ada yang benar-benar terlihat sendirian.

Tidak seperti yang ia rasakan sekarang.

"Sungguh tak disangka, aku sekarang bisa ada di sini.

Liburan di tempat yang baru pertama kali ku kunjungi. Namun, diriku seakan merasa sudah terbiasa datang ke sini.

Kalau dulu pikiranku sedikit lebih terbuka,

...kalau aku tidak gegabah mengambil keputusan...

apakah hari ini kita akan berjalan berdampingan di jalan yang tadi kulewati?

Kalau benar adanya, mungkin aku tidak akan duduk sendirian seperti ini. Hanya menatap keluar jendela, merasa seperti orang asing yang tersesat.

Mungkin tatapanku tidak akan kosong ke luar sana.

Sudah pasti kedua mata ini akan melihat ke kursi di seberangku.

Memastikan… kamu masih ada di sana.”

Dara menarik napas perlahan.

Dia sadar semuanya sudah berakhir hampir 4 tahun yang lalu. Namun di saat dirinya sudah belajar untuk menerima, patahan itu kembali terbuka setahun yang lalu.

Lukisan yang ia lihat waktu itu, membawanya ke kota ini. Sapporo bukan pilihan acak, bukan karena ingin begitu saja. Tapi karena sesuatu yang ia yakini dapat menutup kembali patahan itu.

Patahan yang disebut rindu.

Dia tak bisa menyangkal bahwa itu belum benar-benar selesai. Menerima bukan berarti melupakan.

Masih ada bagian kecil dari dirinya yang berharap… mungkin ia masih bisa diberi kesempatan untuk melihatnya sekali lagi.

Dan itu saja cukup.

Tidak lebih.

Lamunan Dara seketika dibuyarkan oleh seseorang di antara keramaian. Pandangannya berhenti pada satu titik. Pada sosok gadis yang sedang berhenti di seberang jalan.

Awalnya tidak ada yang aneh. Hanya siluet gadis dengan coat panjang berwarna krem, berdiri sedikit menjauh dari arus orang yang terus berjalan tanpa menoleh ke mana pun.

Dara tidak tahu kenapa pandangannya tidak bisa berpindah.
Mungkin hanya kebetulan.
Mungkin hanya karena orang itu tidak bergerak. Atau mungkin karena ada sesuatu yang terasa... terlalu familiar.

Gadis itu sedikit memiringkan arah pandangnya namun masih belum cukup jelas untuk melihat keseluruhan wajahnya. Hanya garis samping.

Hidung... lengkung rahang... dan cara ia menunduk sedikit, seolah sedang berpikir. Dada Dara terasa sesak tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.

Tidak mungkin!

Empat tahun bukan waktu yang sebentar.
Dunia terlalu besar untuk kembali mempertemukan dua orang pada pada satu sisi yang sama... tanpa rencana.

Lampu penyeberangan berubah warna. Kerumunan mulai bergerak lagi dan sosok itu ikut melangkah.

Menyeberang.

Lebih dekat.

Dan untuk sepersekian detik, ketika wajah itu terangkat sedikit ke arah jendela, napas Dara tertahan. Tangannya yang berada di atas meja menegang tanpa ia sadari. Benar firasatnya.

"Tidak mungkin…

…kan?"







Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Rest Area

Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...

Download Titik & Koma