Bab 5 - Kupu Kupu Terbakar Jadi Abu
“Aku suka sama kamu lebih dari sekadar teman.“
Kalimat Rubi terus mengiang di telinganya, di antara decit sepatunya yang beradu dengan lantai koridor kampus. Dia menempelkan punggung tangannya di bibir ketika rona merah mulai merambat di pipinya.
Suara Rubi waktu itu diselubungi aroma apel dari rambutnya, manis dan lembut, mengalir polos bersama binaran di matanya. Tanpa paksaan, tanpa keraguan, seolah dia tidak mengharapkan jawaban "ya" mau pun "tidak".
Sejak kapan Rubi menaruh suka padanya? Dan apa yang membuat dia menyukainya? Apakah dari enam minggu yang lalu dia sudah ingin menyampaikan itu? Atau...? Soga tidak tahu, dan dia tidak bertanya, seakan ada gumpalan besar di kerongkongannya, yang memblokir mulutnya untuk berbicara.
"Mestinya aku yang ngomong duluan, bukan?" gumam Soga, menghentikan langkahnya.
Sinar matahari yang tersaring pepohonan membentuk bayangan belang-belang di wajahnya. Gumamannya melebur bersama bunyi-bunyi kendaraan dan kegiatan mahasiswa di kejauhan. Ia menunduk, melebarkan telapak tangannya yang agak kasar. Jari-jarinya gemetar, dingin dan basah karena keringat. Namun, genggaman Rubi tadi meninggalkan jejak hangat di sana.
Semua yang akan disampaikannya, kalimat dan intonasi yang dia susun, dan mental yang telah dipersiapkan sejak tadi pagi, buyar sudah, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan baru: Jika aku menjawab "ya", dan kita menjalin hubungan, apa aku harus ngomong soal sakit yang aku derita? Gimana reaksinya kalau dia tahu? Terus... andai aku pergi.. gimana sama nasibnya? Tapi.. kalau aku tolak, dia mungkin bakal patah hati, dan pertemanan kita bubar.
Soga bersandar pada pohon. Tali ranselnya melorot dari bahunya yang mengendur, dan tangannya menangkap tali itu, membiarkannya menggantung di jemarinya—gerakan itu membuat sendi lengannya sedikit nyeri, tapi ia mengabaikannya. Ia menghela napas sambil menutupi wajahnya dengan tangan yang lain, hingga terlihat jelas sosok Rubi dalam kegelapan, mengulang kembali kalimatnya.
Denyut di kepala mengikuti irama degup jantungnya sendiri. Dia merasa ringan sekaligus kosong, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik kulit perutnya dari dalam, dan menyaksikan mereka terbakar menjadi abu.
Kewalahan dengan perasaannya sendiri, Soga merosot dan duduk di tanah, membuka pandangannya. Warna jingga tua merayap di langit biru ketika ia melirik ke arah jalan di mana Rubi pulang tadi. Garis-garis kemerahan bermunculan di matanya yang sedikit berair.
Bunyi notifikasi ponsel membuyarkan bayangan Rubi. Dia menenerima beberapa pesan. Ibunya menanyakan keadaan dan keberadaannya, sedangkan Banyu bertanya apakah ia butuh jemputan atau tidak—Soga bisa membaca nada paksaan di pesan kakaknya.
Setelah membalas pesan ibunya dan mengabaikan pesan teman-temannya, Soga mengetik, "Oke. Aku ada di halte." Pesan itu kemudian dikirimkan pada Banyu. Ia kemudian menyelipkan ponselnya ke dalam saku jaket, dan membenarkan posisi kupluknya. Menggantungkan kembali ranselnya di bahu, ia berjalan ke arah halte di depan kampus.
* * *
Bulan sabit mengintip dari balik tirai yang setengah menutupi jendela. Di seberangnya, Soga tengkurap sambil membuat sketsa halus di buku gambarnya—bunyi goresan pensilnya beriringan bersama suara jangkrik di luar.
Ia bersendawa pelan, melepaskan gelombang mual dari perutnya, yang muncul sedari waktu makan malam. Sejak setelah operasi, lidahnya kehilangan respon pada rasa. Apa pun yang masuk ke mulutnya berubah menjadi pahit dan hambar—seperti menelan warna abu-abu kalau kata Rubi.
Soga lalu mengambil segelas air dari meja di samping, dan meneguknya sampai habis. Air yang membanjiri mulutnya seolah tidak memiliki massa, setipis udara, menguap, mengering—jadi, dia minum lagi.
Pandangannya beralih ke layar ponsel, melihat kolom grup obrolan, membaca sepintas kata-kata lucu dan emoji yang bermunculan. Seraya melanjutkan membuat sketsa, dia memikirkan Rubi.
Tidak ada pesan darinya sejak mereka bertemu. Namun, ucapan gadis itu masih menggema di kepalanya seperti mantra, sementara Soga belum menemukan jawaban tepat yang akan dia sampaikan nanti.
Pintu diketuk dan Banyu masuk ke dalam.
Soga menoleh dari bahunya, mendengar kakaknya berkata, "Tadi kamu bilang kamu mau ngobrol." Soga menyisihkan buku sketsanya, bangkit dan mau duduk, tapi kakaknya mencegahnya. "Udah, tiduran aja."
Sambil tersenyum samar, Soga mengubah posisinya menjadi selonjoran, memperhatikan kakaknya yang duduk di sisi ranjang, melepaskan kacamatanya sejenak dan memijat matanya. Dia menoleh pada Soga, berkedip-kedip, menunggunya memulai obrolan.
Soga menarik napas, ragu sejenak. "Ini.. soal cewek, Kak."
Banyu mendengus dan terkekeh. "Udah aku duga kamu mau ngomongin apa," timpalnya seraya menggelengkan kepala. "Terus gimana? Apa kamu pengen aku bantuin cara "nembak" cewek ini?" Telunjuk Banyu menggaruk lekuk lehernya sendiri. "Eh, siapa sih cewek yang kamu maksud?"
"Si Rubi," jawab Soga, ringan, memutar-mutar pensil di tangannya.
Mata Banyu melebar sedikit. "Si Rubi... Rubi?" Keningnya mengernyit.
Tentu Banyu mengenal Rubi. Gadis itu memiliki cara yang unik untuk mengisi bagian kecil dari rumah ini, bahkan sebelum ia sendiri benar-benar sadar akan persahabatan mereka.
Banyu masih bisa mengingat pertemuan pertama mereka, saat ulang tahun Soga yang ke-19. Rubi datang membawa banyak muffin coklat keju buatannya sendiri. Bentuknya tidak sesempurna muffin di toko kue, tapi rasanya sejalan dengan ekspresinya yang berseri-seri. Bahkan ketika Soga meledeknya, Rubi menanggapinya dengan tawa, seperti sedang mendengarkan lelucon kering.
Ibu mereka memperlakukannya seolah Rubi adalah putrinya sendiri, mengajaknya mengobrol macam-macam hal, hingga suara riang mereka memenuhi ruang tamu petang itu. Di balik gesturnya yang tetap merendah, Rubi tidak terlihat canggung apalagi merasa asing. Potongan-potongan kenangan kecil itu perlahan membentuk sosok Rubi dalam benak Banyu.
"Hari ini dia nyatain perasaannya duluan," lanjut Soga setengah merenung, membuat kakaknya melebarkan matanya sekali lagi.
"Masa' sih?" Banyu menatap adiknya—hampir tidak percaya, menahan senyum di bibirnya. Dia tidak ingin terburu-buru menyatakan itu hal yang bagus. "Terus, kamu jawab apa?" tanyanya lagi, tidak sabar menunggu tanggapan adiknya.
Soga menggigit bibir bawahnya. Ia menggerakkan ujung pensilnya di atas bantal, menggambar pola acak yang tak kasat mata. Mukanya tertunduk, sorot matanya surut, diliputi sesuatu yang lebih dalam dari sekedar perasaan bimbang dan keraguan.
"Aku enggak tahu, Kak." Soga menatap sendu kakaknya. "Aku enggak tahu harus jawab apa. Maksud aku... aku sayang dia dan aku memang mau ngomong perasaanku padanya hari ini, tapi, setelah dia nyatain duluan, malah bikin aku mikir.. tentang kondisiku yang sekarang. Mungkin semuanya ... semuanya udah terlambat..." Ia tersenyum pahit. "Kakak ngerti maksud aku 'kan?"
Banyu terdiam, menangkap kilatan kecil yang basah di sudut mata adiknya.
"Ibu udah tidur, Kak?" Soga berbisik.
Banyu mengangguk. Ia bergeser ke dekat Soga, membiarkan adiknya membungkuk dan mengistirahatkan kepalanya di pahanya. Banyu tahu, adiknya bertanya tentang ibunya supaya ia dapat melepaskan emosinya yang ia bendung seharian.
Bulir-bulir air matanya bergulir dalam sepi, menembus celana panjang Banyu, terasa hangat di kulitnya. Terakhir kali ia melihatnya menangis itu delapan tahun lalu, kala ayah mereka meninggal. Tapi, ini... ini sedikit berbeda. Berharap mampu melakukan sesuatu, Banyu mengusap punggung adiknya, mencoba menyerap kesedihan dan ketakutannya.
Kalimat Rubi terus mengiang di telinganya, di antara decit sepatunya yang beradu dengan lantai koridor kampus. Dia menempelkan punggung tangannya di bibir ketika rona merah mulai merambat di pipinya.
Suara Rubi waktu itu diselubungi aroma apel dari rambutnya, manis dan lembut, mengalir polos bersama binaran di matanya. Tanpa paksaan, tanpa keraguan, seolah dia tidak mengharapkan jawaban "ya" mau pun "tidak".
Sejak kapan Rubi menaruh suka padanya? Dan apa yang membuat dia menyukainya? Apakah dari enam minggu yang lalu dia sudah ingin menyampaikan itu? Atau...? Soga tidak tahu, dan dia tidak bertanya, seakan ada gumpalan besar di kerongkongannya, yang memblokir mulutnya untuk berbicara.
"Mestinya aku yang ngomong duluan, bukan?" gumam Soga, menghentikan langkahnya.
Sinar matahari yang tersaring pepohonan membentuk bayangan belang-belang di wajahnya. Gumamannya melebur bersama bunyi-bunyi kendaraan dan kegiatan mahasiswa di kejauhan. Ia menunduk, melebarkan telapak tangannya yang agak kasar. Jari-jarinya gemetar, dingin dan basah karena keringat. Namun, genggaman Rubi tadi meninggalkan jejak hangat di sana.
Semua yang akan disampaikannya, kalimat dan intonasi yang dia susun, dan mental yang telah dipersiapkan sejak tadi pagi, buyar sudah, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan baru: Jika aku menjawab "ya", dan kita menjalin hubungan, apa aku harus ngomong soal sakit yang aku derita? Gimana reaksinya kalau dia tahu? Terus... andai aku pergi.. gimana sama nasibnya? Tapi.. kalau aku tolak, dia mungkin bakal patah hati, dan pertemanan kita bubar.
Soga bersandar pada pohon. Tali ranselnya melorot dari bahunya yang mengendur, dan tangannya menangkap tali itu, membiarkannya menggantung di jemarinya—gerakan itu membuat sendi lengannya sedikit nyeri, tapi ia mengabaikannya. Ia menghela napas sambil menutupi wajahnya dengan tangan yang lain, hingga terlihat jelas sosok Rubi dalam kegelapan, mengulang kembali kalimatnya.
Denyut di kepala mengikuti irama degup jantungnya sendiri. Dia merasa ringan sekaligus kosong, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik kulit perutnya dari dalam, dan menyaksikan mereka terbakar menjadi abu.
Kewalahan dengan perasaannya sendiri, Soga merosot dan duduk di tanah, membuka pandangannya. Warna jingga tua merayap di langit biru ketika ia melirik ke arah jalan di mana Rubi pulang tadi. Garis-garis kemerahan bermunculan di matanya yang sedikit berair.
Bunyi notifikasi ponsel membuyarkan bayangan Rubi. Dia menenerima beberapa pesan. Ibunya menanyakan keadaan dan keberadaannya, sedangkan Banyu bertanya apakah ia butuh jemputan atau tidak—Soga bisa membaca nada paksaan di pesan kakaknya.
Setelah membalas pesan ibunya dan mengabaikan pesan teman-temannya, Soga mengetik, "Oke. Aku ada di halte." Pesan itu kemudian dikirimkan pada Banyu. Ia kemudian menyelipkan ponselnya ke dalam saku jaket, dan membenarkan posisi kupluknya. Menggantungkan kembali ranselnya di bahu, ia berjalan ke arah halte di depan kampus.
* * *
Bulan sabit mengintip dari balik tirai yang setengah menutupi jendela. Di seberangnya, Soga tengkurap sambil membuat sketsa halus di buku gambarnya—bunyi goresan pensilnya beriringan bersama suara jangkrik di luar.
Ia bersendawa pelan, melepaskan gelombang mual dari perutnya, yang muncul sedari waktu makan malam. Sejak setelah operasi, lidahnya kehilangan respon pada rasa. Apa pun yang masuk ke mulutnya berubah menjadi pahit dan hambar—seperti menelan warna abu-abu kalau kata Rubi.
Soga lalu mengambil segelas air dari meja di samping, dan meneguknya sampai habis. Air yang membanjiri mulutnya seolah tidak memiliki massa, setipis udara, menguap, mengering—jadi, dia minum lagi.
Pandangannya beralih ke layar ponsel, melihat kolom grup obrolan, membaca sepintas kata-kata lucu dan emoji yang bermunculan. Seraya melanjutkan membuat sketsa, dia memikirkan Rubi.
Tidak ada pesan darinya sejak mereka bertemu. Namun, ucapan gadis itu masih menggema di kepalanya seperti mantra, sementara Soga belum menemukan jawaban tepat yang akan dia sampaikan nanti.
Pintu diketuk dan Banyu masuk ke dalam.
Soga menoleh dari bahunya, mendengar kakaknya berkata, "Tadi kamu bilang kamu mau ngobrol." Soga menyisihkan buku sketsanya, bangkit dan mau duduk, tapi kakaknya mencegahnya. "Udah, tiduran aja."
Sambil tersenyum samar, Soga mengubah posisinya menjadi selonjoran, memperhatikan kakaknya yang duduk di sisi ranjang, melepaskan kacamatanya sejenak dan memijat matanya. Dia menoleh pada Soga, berkedip-kedip, menunggunya memulai obrolan.
Soga menarik napas, ragu sejenak. "Ini.. soal cewek, Kak."
Banyu mendengus dan terkekeh. "Udah aku duga kamu mau ngomongin apa," timpalnya seraya menggelengkan kepala. "Terus gimana? Apa kamu pengen aku bantuin cara "nembak" cewek ini?" Telunjuk Banyu menggaruk lekuk lehernya sendiri. "Eh, siapa sih cewek yang kamu maksud?"
"Si Rubi," jawab Soga, ringan, memutar-mutar pensil di tangannya.
Mata Banyu melebar sedikit. "Si Rubi... Rubi?" Keningnya mengernyit.
Tentu Banyu mengenal Rubi. Gadis itu memiliki cara yang unik untuk mengisi bagian kecil dari rumah ini, bahkan sebelum ia sendiri benar-benar sadar akan persahabatan mereka.
Banyu masih bisa mengingat pertemuan pertama mereka, saat ulang tahun Soga yang ke-19. Rubi datang membawa banyak muffin coklat keju buatannya sendiri. Bentuknya tidak sesempurna muffin di toko kue, tapi rasanya sejalan dengan ekspresinya yang berseri-seri. Bahkan ketika Soga meledeknya, Rubi menanggapinya dengan tawa, seperti sedang mendengarkan lelucon kering.
Ibu mereka memperlakukannya seolah Rubi adalah putrinya sendiri, mengajaknya mengobrol macam-macam hal, hingga suara riang mereka memenuhi ruang tamu petang itu. Di balik gesturnya yang tetap merendah, Rubi tidak terlihat canggung apalagi merasa asing. Potongan-potongan kenangan kecil itu perlahan membentuk sosok Rubi dalam benak Banyu.
"Hari ini dia nyatain perasaannya duluan," lanjut Soga setengah merenung, membuat kakaknya melebarkan matanya sekali lagi.
"Masa' sih?" Banyu menatap adiknya—hampir tidak percaya, menahan senyum di bibirnya. Dia tidak ingin terburu-buru menyatakan itu hal yang bagus. "Terus, kamu jawab apa?" tanyanya lagi, tidak sabar menunggu tanggapan adiknya.
Soga menggigit bibir bawahnya. Ia menggerakkan ujung pensilnya di atas bantal, menggambar pola acak yang tak kasat mata. Mukanya tertunduk, sorot matanya surut, diliputi sesuatu yang lebih dalam dari sekedar perasaan bimbang dan keraguan.
"Aku enggak tahu, Kak." Soga menatap sendu kakaknya. "Aku enggak tahu harus jawab apa. Maksud aku... aku sayang dia dan aku memang mau ngomong perasaanku padanya hari ini, tapi, setelah dia nyatain duluan, malah bikin aku mikir.. tentang kondisiku yang sekarang. Mungkin semuanya ... semuanya udah terlambat..." Ia tersenyum pahit. "Kakak ngerti maksud aku 'kan?"
Banyu terdiam, menangkap kilatan kecil yang basah di sudut mata adiknya.
"Ibu udah tidur, Kak?" Soga berbisik.
Banyu mengangguk. Ia bergeser ke dekat Soga, membiarkan adiknya membungkuk dan mengistirahatkan kepalanya di pahanya. Banyu tahu, adiknya bertanya tentang ibunya supaya ia dapat melepaskan emosinya yang ia bendung seharian.
Bulir-bulir air matanya bergulir dalam sepi, menembus celana panjang Banyu, terasa hangat di kulitnya. Terakhir kali ia melihatnya menangis itu delapan tahun lalu, kala ayah mereka meninggal. Tapi, ini... ini sedikit berbeda. Berharap mampu melakukan sesuatu, Banyu mengusap punggung adiknya, mencoba menyerap kesedihan dan ketakutannya.
Other Stories
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Lydia
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...