Bab 23 - Puisi Dan Coklat
“Dulu aku menulis mimpiku"
”Sekarang mimpi itu meringkuk di kepalaku"
Suara Rubi menggema di aula museum literasi yang penuh aroma buku dan kayu. Suaranya lembut, memantul ke dindingnya yang putih. Dari salah satu jendela yang berjajar pada langit-langit yang tinggi, seberkas sinar matahari menyorot wajahnya yang kemerahan.
“Kunci rusak, layar senyap, kata-kata terburai”
“Cerita belum selesai, plotnya hilang begitu saja“
”Aku menatap layar gelap, berharap dia menjadi terang”
Semakin jauh dia membaca, semakin terdengar betapa anehnya puisi itu di ruangan tersebut. Ruangan di mana para peserta lain duduk berkelompok, melingkari meja-meja bundar. Ada siswa SMA, mahasiswa, pemilik toko, pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, dan lainnya. Semuanya menyimak, berbisik-bisik, menaikkan alis, dan diam-diam menilai Rubi.
“Aku seorang penulis yang tidak mempunyai alat untuk berkreasi”
“Ide menumpuk tapi teknologiku sudah basi”
“Kursornya membeku, duniaku berhenti”
“Tuhan tolong aku, rasanya aku mau mati"
Di baris tengah, teman-temannya memperhatikannya. Teresa menekan telapak tangannya ke wajah, menahan geli. Lulu setengah nyengir setengah meringis, bergumam, ”Si Rubi bikin puisi apa sih?“ Di sampingnya, Mega mengusap jidatnya sambil geleng-geleng, sementara Ajeng berpikir puisi Rubi menarik.
Rubi sama sekali tidak terganggu. Dia terus membaca dengan intonasi yang semakin dalam.
”Aku butuh uang untuk memperbaiki laptopku“
”Aku tak bisa membiarkan pandanganku turun“
”Aku sudah mencoba pena dan kertas, tapi tidak bisa“
”Mungkin aku malas dan menua“
”Tanpa laptop itu aku terpaksa menelan kembali kesengsaraan“
Satu peserta di depan mengerutkan kening, berusaha mencari maknanya. Sementara moderator—pria muda berbaju batik—berusaha menjaga ekspresi netral, tapi sudut bibirnya berkedut. Ia berdeham pelan.
Setelah Rubi selesai dengan baris terakhir—Tuhan, perbaiki laptopku, bebaskan kata-kataku—aula itu jatuh dalam keheningan yang singkat. Tepuk tangan pecah, bunyinya renggang seperti hujan yang diredam atap. Ada yang tersenyum lebar, ada yang masih bingung, dan ada yang senyum-senyum geli.
Moderator menghampiri Rubi saat ia melipat kertas puisinya, hendak turun dari podium.
”Sebentar, dek Rubi.“ Suaranya meredam suasana.
Rubi menoleh dan tersenyum. Pandangannya turun ke name tag si moderator. Namanya Dani.
”Dari tadi kita mendengar puisi-puisi romantis, politik, sosial dan lainnya. Dan puisi kamu enggak mainstream, ya. Kira-kira kamu dapat inspirasi dari mana? Atau memang dadakan aja karena enggak ada ide lain, atau.. jangan-jangan laptop kamu rusak beneran?“
”Jujur, saya enggak ada ide lain,“ jawab Rubi yang disambut gumaman dan tawa heran peserta lain. ”Dan justru, saya enggak punya laptop. Setiap ngerjain tugas biasanya saya pakai komputer fakultas.“
Dani mengangkat sebelah alis. ”Sebentar...“ Ia menggerakan tangan supaya peserta lain tenang. ”Walau kamu enggak ada ide lain, tapi pasti ada inspirasi yang membuat kamu bikin puisi itu, ya 'kan?“
”Ya," Rubi mengangguk. “Saya melihat Rika, teman saya, frustrasi karena laptopnya rusak, padahal ada tugas kuliah yang harus diselesaikan.“ Rubi melirik ke teman-temannya, alisnya bergerak-gerak.
Dani tersenyum tipis, mulutnya setengah terbuka mau bicara. Ia melirik sekilas ke arah peserta yang mulai bergumam-gumam lagi, lalu kembali ke Rubi.
”Jadi ini semacam tribute untuk Rika?“ tanyanya, setengah bercanda. ”Atau.. semacam pengaduan dan doa supaya Tuhan cepat kasih uang buat benerin laptopnya, atau.. mungkin buat menggantinya dengan yang baru?“
Rubi tertawa lagi, kecil dan kali ini agak canggung. ”Bisa dibilang dua-duanya, Kang Dani. Waktu itu Rika nangis di apartemennya gara-gara tugas essay-nya hampir deadline, sementara layarnya cuma muncul garis-garis putih gitu. Lucu sih lihat dia, tapi kasihan juga. Akhirnya saya bantuin ngerjain essay-nya di fakultas.“
”Oh, saya ngerti," Dani mengangguk pelan, ekspresinya mulai terlihat lebih tertarik. “Saya yang mantan mahasiswa juga ngerti situasinya. Kehilangan laptop itu seperti kehilangan separuh jiwa, bukan begitu?”
“Iya semacam itu.” Rubi masih nyengir, melirik ke teman-temannya sebentar.
“Oh, apa Rika di sini juga?” Dani menoleh, mengikuti pandangan Rubi.
“Enggak. Rika enggak ada di sini,” jawab Rubi. “Dan tenang aja, Rika sudah mendapatkan laptop yang baru sebab kejadiannya sudah cukup lama.”
”Kak Dani ijin bertanya sama.. uuh.. Kak Rubi.“ Salah satu peserta berseragam SMA angkat tangan dan berdiri dari kursinya.
”Ya, silakan.“ Dani mempersilakan.
”Nama saya Rahman, dan saya mau menyampaikan beberapa hal sama Kak Rubi," kata siswa itu. “Pertama, puisi Kakak bagus, kesusahan teman Kakak dieksekusi jadi kata-kata yang puitis, tapi secara pribadi, kayak enggak ada maknanya aja gitu, kalau kita ngambil ide sembarangan dari sekitar. Kakak sendiri kan tadi bilang enggak ada ide lain. Nah, menurut Kakak gimana?”
Di seberang, Lulu dan Terasa ternganga mendengar pernyataan siswa SMA itu.
“Apa dia ngajakin berargumen?” bisik Mega yang disambut gelengan kepala Ajeng.
Rubi menatap Rahman dengan matanya yang masih berbinar, sama sekali tidak tersinggung.
“Wah, makasih ya, Rahman,” katanya ringan, senyumnya merekah. “Memang benar saya enggak ada ide lain mau nulis apa. Buat saya, ini maknanya ada. Kadang kita terlalu sibuk mikirin hal-hal yang muluk, atau sesuatu yang kontroversial kayak.. politik, sampai kita lupa tentang hal-hal yang kecil yang juga bisa bikin kita stress. Puisi ini cuma salah satu cara saya menggambarkan kegelisahan gara-gara laptop rusak, tapi dengan cara yang.. yaah.. agak norak.” Rubi cekikikan, lalu diam sejenak.
“Saya kalau nulis puisi enggak terlalu mikirin seberapa dalam maknanya,” lanjutnya, “atau mikirin apakah orang harus tersentuh, terbangun, atau enggak. Kalau menurut kamu itu enggak ada maknanya, enggak bikin kamu berdecak kagum, ya enggak masalah. Tapi, makasih udah mau dengerin dan berkomentar.”
“Norak tapi jujur,” sahut Dani, dalam hati menyepakati jawaban Rubi. “Gimana, Rahman? Udah puas sama jawabannya atau ada yang mau kamu sampaikan lagi?”
Rahman tidak langsung menanggapi, kepalanya menggeleng samar. Dia sebenernya masih ingin berbalas komentar, tapi akhirnya urung. “Cukup, Kang Dani. Makasih, Kak Rubi.”
Dani mengangguk ke arah peserta. “Baiklah, terima kasih banyak untuk Rubi dan puisi laptop-nya yang... epik. Mari kita beri tepuk tangan sekali lagi!”
Tepuk tangan kali ini lebih ramai, diselingi gumaman dan tawa kecil. Rubi turun dari podium, langkahnya ringan, tapi dadanya panas, telapak tangannya agak basah membelah udara sejuk. Dia tidak mengira puisinya akan dibahas sampai selama itu. Ketika melewati Dani, ia berbisik cepat, "Makasih ya, Kang Dani. Tadi saya takut dilempar tomat.“
Dani hanya mengedipkan sebelah mata. ”Di sini tomatnya diganti sama kritik halus.“
Salah satu panitia memberi Rubi sebuah bingkisan. Senyum lebar teman-temannya menyambutnya.
”Kamu ngapain sih, Bi?“ tanya Lulu begitu Rubi duduk di kursinya. ”Maksud aku, ngapain kamu tulis puisi yang kayak gitu? Bayangin si Rika tahu puisi kamu terinspirasi dari penderitaannya.“
”Pasti dia kaget,“ timpal Mega, menyeringai kecil, mengamati Rubi membuka bingkisan itu. Isinya buku kumpulan puisi, gantungan kunci, dan coklat batang yang lumayan besar.
Rubi membagikan potongan-potongan coklat itu ke teman-temannya.
”Kalau aku jadi Rika, aku bakalan bangga, sih,“ ujar Teresa menerima sepotong coklat dan mengulumnya. ”Artinya kamu perhatian sama dia, Bi.“
”Tapi, intinya kamu pinter bikin hal-hal yang biasa kita sepelein jadi puitis,“ puji Ajeng, mengusap puncak kepala Rubi.
“Yah, gitu deh,” ucap Rubi menyesap air dari gelas. Pipinya merona tanpa dia sadari. “Kalian sendiri nulis puisi tentang apa?”
“Ah," Ajeng menggaruk kepalanya, melipat kertasnya, ”aku cuma nulis puisi romantis biasa.“
”Aku nulis tentang kekaguman irasionalku pada Ryu Ji-ho,“ jawab Lulu tanpa malu-malu.
”Itu namanya obsesif, Lu,“ sahut Mega.
”Eh, tapi itu bagus juga lho,“ gumam Ajeng.
Ketika peserta lain membacakan puisinya di podium, sedangkan teman-temannya malah membahas Ryu Ji-ho dan K-Pop, kening Rubi mengernyit. Dia menunduk menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Soga. Rubi menekan nomornya, mencoba menghubunginya, tapi tidak aktif.
Tanpa dia mengerti, potongan coklat yang dikulumnya terasa seperti debu.
Pahit.
”Sekarang mimpi itu meringkuk di kepalaku"
Suara Rubi menggema di aula museum literasi yang penuh aroma buku dan kayu. Suaranya lembut, memantul ke dindingnya yang putih. Dari salah satu jendela yang berjajar pada langit-langit yang tinggi, seberkas sinar matahari menyorot wajahnya yang kemerahan.
“Kunci rusak, layar senyap, kata-kata terburai”
“Cerita belum selesai, plotnya hilang begitu saja“
”Aku menatap layar gelap, berharap dia menjadi terang”
Semakin jauh dia membaca, semakin terdengar betapa anehnya puisi itu di ruangan tersebut. Ruangan di mana para peserta lain duduk berkelompok, melingkari meja-meja bundar. Ada siswa SMA, mahasiswa, pemilik toko, pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, dan lainnya. Semuanya menyimak, berbisik-bisik, menaikkan alis, dan diam-diam menilai Rubi.
“Aku seorang penulis yang tidak mempunyai alat untuk berkreasi”
“Ide menumpuk tapi teknologiku sudah basi”
“Kursornya membeku, duniaku berhenti”
“Tuhan tolong aku, rasanya aku mau mati"
Di baris tengah, teman-temannya memperhatikannya. Teresa menekan telapak tangannya ke wajah, menahan geli. Lulu setengah nyengir setengah meringis, bergumam, ”Si Rubi bikin puisi apa sih?“ Di sampingnya, Mega mengusap jidatnya sambil geleng-geleng, sementara Ajeng berpikir puisi Rubi menarik.
Rubi sama sekali tidak terganggu. Dia terus membaca dengan intonasi yang semakin dalam.
”Aku butuh uang untuk memperbaiki laptopku“
”Aku tak bisa membiarkan pandanganku turun“
”Aku sudah mencoba pena dan kertas, tapi tidak bisa“
”Mungkin aku malas dan menua“
”Tanpa laptop itu aku terpaksa menelan kembali kesengsaraan“
Satu peserta di depan mengerutkan kening, berusaha mencari maknanya. Sementara moderator—pria muda berbaju batik—berusaha menjaga ekspresi netral, tapi sudut bibirnya berkedut. Ia berdeham pelan.
Setelah Rubi selesai dengan baris terakhir—Tuhan, perbaiki laptopku, bebaskan kata-kataku—aula itu jatuh dalam keheningan yang singkat. Tepuk tangan pecah, bunyinya renggang seperti hujan yang diredam atap. Ada yang tersenyum lebar, ada yang masih bingung, dan ada yang senyum-senyum geli.
Moderator menghampiri Rubi saat ia melipat kertas puisinya, hendak turun dari podium.
”Sebentar, dek Rubi.“ Suaranya meredam suasana.
Rubi menoleh dan tersenyum. Pandangannya turun ke name tag si moderator. Namanya Dani.
”Dari tadi kita mendengar puisi-puisi romantis, politik, sosial dan lainnya. Dan puisi kamu enggak mainstream, ya. Kira-kira kamu dapat inspirasi dari mana? Atau memang dadakan aja karena enggak ada ide lain, atau.. jangan-jangan laptop kamu rusak beneran?“
”Jujur, saya enggak ada ide lain,“ jawab Rubi yang disambut gumaman dan tawa heran peserta lain. ”Dan justru, saya enggak punya laptop. Setiap ngerjain tugas biasanya saya pakai komputer fakultas.“
Dani mengangkat sebelah alis. ”Sebentar...“ Ia menggerakan tangan supaya peserta lain tenang. ”Walau kamu enggak ada ide lain, tapi pasti ada inspirasi yang membuat kamu bikin puisi itu, ya 'kan?“
”Ya," Rubi mengangguk. “Saya melihat Rika, teman saya, frustrasi karena laptopnya rusak, padahal ada tugas kuliah yang harus diselesaikan.“ Rubi melirik ke teman-temannya, alisnya bergerak-gerak.
Dani tersenyum tipis, mulutnya setengah terbuka mau bicara. Ia melirik sekilas ke arah peserta yang mulai bergumam-gumam lagi, lalu kembali ke Rubi.
”Jadi ini semacam tribute untuk Rika?“ tanyanya, setengah bercanda. ”Atau.. semacam pengaduan dan doa supaya Tuhan cepat kasih uang buat benerin laptopnya, atau.. mungkin buat menggantinya dengan yang baru?“
Rubi tertawa lagi, kecil dan kali ini agak canggung. ”Bisa dibilang dua-duanya, Kang Dani. Waktu itu Rika nangis di apartemennya gara-gara tugas essay-nya hampir deadline, sementara layarnya cuma muncul garis-garis putih gitu. Lucu sih lihat dia, tapi kasihan juga. Akhirnya saya bantuin ngerjain essay-nya di fakultas.“
”Oh, saya ngerti," Dani mengangguk pelan, ekspresinya mulai terlihat lebih tertarik. “Saya yang mantan mahasiswa juga ngerti situasinya. Kehilangan laptop itu seperti kehilangan separuh jiwa, bukan begitu?”
“Iya semacam itu.” Rubi masih nyengir, melirik ke teman-temannya sebentar.
“Oh, apa Rika di sini juga?” Dani menoleh, mengikuti pandangan Rubi.
“Enggak. Rika enggak ada di sini,” jawab Rubi. “Dan tenang aja, Rika sudah mendapatkan laptop yang baru sebab kejadiannya sudah cukup lama.”
”Kak Dani ijin bertanya sama.. uuh.. Kak Rubi.“ Salah satu peserta berseragam SMA angkat tangan dan berdiri dari kursinya.
”Ya, silakan.“ Dani mempersilakan.
”Nama saya Rahman, dan saya mau menyampaikan beberapa hal sama Kak Rubi," kata siswa itu. “Pertama, puisi Kakak bagus, kesusahan teman Kakak dieksekusi jadi kata-kata yang puitis, tapi secara pribadi, kayak enggak ada maknanya aja gitu, kalau kita ngambil ide sembarangan dari sekitar. Kakak sendiri kan tadi bilang enggak ada ide lain. Nah, menurut Kakak gimana?”
Di seberang, Lulu dan Terasa ternganga mendengar pernyataan siswa SMA itu.
“Apa dia ngajakin berargumen?” bisik Mega yang disambut gelengan kepala Ajeng.
Rubi menatap Rahman dengan matanya yang masih berbinar, sama sekali tidak tersinggung.
“Wah, makasih ya, Rahman,” katanya ringan, senyumnya merekah. “Memang benar saya enggak ada ide lain mau nulis apa. Buat saya, ini maknanya ada. Kadang kita terlalu sibuk mikirin hal-hal yang muluk, atau sesuatu yang kontroversial kayak.. politik, sampai kita lupa tentang hal-hal yang kecil yang juga bisa bikin kita stress. Puisi ini cuma salah satu cara saya menggambarkan kegelisahan gara-gara laptop rusak, tapi dengan cara yang.. yaah.. agak norak.” Rubi cekikikan, lalu diam sejenak.
“Saya kalau nulis puisi enggak terlalu mikirin seberapa dalam maknanya,” lanjutnya, “atau mikirin apakah orang harus tersentuh, terbangun, atau enggak. Kalau menurut kamu itu enggak ada maknanya, enggak bikin kamu berdecak kagum, ya enggak masalah. Tapi, makasih udah mau dengerin dan berkomentar.”
“Norak tapi jujur,” sahut Dani, dalam hati menyepakati jawaban Rubi. “Gimana, Rahman? Udah puas sama jawabannya atau ada yang mau kamu sampaikan lagi?”
Rahman tidak langsung menanggapi, kepalanya menggeleng samar. Dia sebenernya masih ingin berbalas komentar, tapi akhirnya urung. “Cukup, Kang Dani. Makasih, Kak Rubi.”
Dani mengangguk ke arah peserta. “Baiklah, terima kasih banyak untuk Rubi dan puisi laptop-nya yang... epik. Mari kita beri tepuk tangan sekali lagi!”
Tepuk tangan kali ini lebih ramai, diselingi gumaman dan tawa kecil. Rubi turun dari podium, langkahnya ringan, tapi dadanya panas, telapak tangannya agak basah membelah udara sejuk. Dia tidak mengira puisinya akan dibahas sampai selama itu. Ketika melewati Dani, ia berbisik cepat, "Makasih ya, Kang Dani. Tadi saya takut dilempar tomat.“
Dani hanya mengedipkan sebelah mata. ”Di sini tomatnya diganti sama kritik halus.“
Salah satu panitia memberi Rubi sebuah bingkisan. Senyum lebar teman-temannya menyambutnya.
”Kamu ngapain sih, Bi?“ tanya Lulu begitu Rubi duduk di kursinya. ”Maksud aku, ngapain kamu tulis puisi yang kayak gitu? Bayangin si Rika tahu puisi kamu terinspirasi dari penderitaannya.“
”Pasti dia kaget,“ timpal Mega, menyeringai kecil, mengamati Rubi membuka bingkisan itu. Isinya buku kumpulan puisi, gantungan kunci, dan coklat batang yang lumayan besar.
Rubi membagikan potongan-potongan coklat itu ke teman-temannya.
”Kalau aku jadi Rika, aku bakalan bangga, sih,“ ujar Teresa menerima sepotong coklat dan mengulumnya. ”Artinya kamu perhatian sama dia, Bi.“
”Tapi, intinya kamu pinter bikin hal-hal yang biasa kita sepelein jadi puitis,“ puji Ajeng, mengusap puncak kepala Rubi.
“Yah, gitu deh,” ucap Rubi menyesap air dari gelas. Pipinya merona tanpa dia sadari. “Kalian sendiri nulis puisi tentang apa?”
“Ah," Ajeng menggaruk kepalanya, melipat kertasnya, ”aku cuma nulis puisi romantis biasa.“
”Aku nulis tentang kekaguman irasionalku pada Ryu Ji-ho,“ jawab Lulu tanpa malu-malu.
”Itu namanya obsesif, Lu,“ sahut Mega.
”Eh, tapi itu bagus juga lho,“ gumam Ajeng.
Ketika peserta lain membacakan puisinya di podium, sedangkan teman-temannya malah membahas Ryu Ji-ho dan K-Pop, kening Rubi mengernyit. Dia menunduk menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Soga. Rubi menekan nomornya, mencoba menghubunginya, tapi tidak aktif.
Tanpa dia mengerti, potongan coklat yang dikulumnya terasa seperti debu.
Pahit.
Other Stories
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Pemburu Darah
Manusia lemah bukan berarti tak berbahaya. Dunia mengenal Darah sebagai sumber kekuatan ...
Loren Ipsum
test ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Ngidam
Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...