Bab 24 - Demam Lembayung
"Rubi"
Nama itu terdengar aneh di lidah Soga. Berkerikil, tergulung pahit, basah sekaligus kering. Ditelan tidak mau melebur.
Dia berbaring terlentang. Selimut melilitnya, kasur di bawahnya terlalu menempel seolah itu bagian dari punggungnya. Napasnya normal dan pendek. Soga tidak bisa membedakan apakah matanya terpejam atau terbuka, selain merasa berada di antara keduanya—terhalang oleh lapisan kantuk dan lelah yang tidak mau pergi.
Di bawah tekanan rasa sakit dan panas, muncul sebuah dengungan yang samar. Merambat pelan dan semakin keras. Dengungan itu bergetar rendah, dingin, tipis, dan melayang-layang. Kabut gelap membungkusnya dengan indah sekaligus mengganggu. Ia tidak tahu berasal dari mana dengungan itu; dari sudut pikirannya, atau dari luar.
Di atas sana, di antara kegelapan yang pekat, langit hanya sepotong persegi panjang, sama panjang dengan tinggi tubuhnya. Warnanya lembayung, beriak-riak seperti air laut yang tenang. Lingkaran-lingkaran putih berkelap-kelip, diikuti siluet ungu dan kelabu meliuk-liuk perlahan ke udara. Mulanya warnanya buram, kemudian semakin lama semakin jelas, bahkan menjadi terlalu tegas dan berani, seperti lukisan crayon anak-anak.
Tunggu... nuansa warna seperti ini tampak familiar, seseorang pernah melukisnya, tapi ia tidak ingat namanya.
Warna-warna itu terus bergerak. Mereka berubah bentuk menjadi ranting-ranting pohon yang melatarbelakangi tiang ring basket. Di sekitarnya, seruan dan tawa teman-temannya berdering riang seperti nyanyian dalam mimpi. Bunyi kaki yang berlari, bola basket yang beradu dengan tanah, dan decitan sol sepatu bagaikan musik. Gerakan-gerakan mereka layaknya tarian yang indah berhujankan eksplosivitas dan adrenalin.
Dan... bola melambung masuk, dan swish—menggesek jaringnya. Itu memicu sensasi kegembiraan yang meledak-ledak, memuaskan pandangan. Jaring pada ring itu masih bergoyang, menggoda Soga mengajaknya bermain.
Di tengah sorak sorai yang mengabur, tatapan Soga tidak beralih dari ring basket itu. Batinnya berkecamuk, menahan dorongan agar tidak melompat ke lapangan dan merebut bola. Ada tawa di belakangnya, tawa yang gelap, saat Soga memandang ke bawah, ke dirinya yang terkulai lemah—memohon agar ia tetap di tempat.
Siapa dia? Aku enggak kenal dia.
Soga menggertak dan menyeringai tipis. Bayangan itu hanyalah ilusi. Dia bukan orang lemah, dan tak ada apa pun yang mampu menghalanginya. Apalagi penyakit ini. Dengan geraman pelan, ia bangkit dari sisi lapangan. Juntaian kain bandana melambai-lambai di tengkuknya.
Hampir tidak disadari teman-temannya, Soga merebut bola dari tangan lawan dengan agak kasar. Tubuhnya berputar sambil membawa bola, dribble cepat. Bola memantul-mantul mengikuti denyut di balik tengkoraknya, tapi dia mengabaikan itu. Kakinya menghantam lapangan penuh tenaga, melesat ringan ke kiri, ke kanan. Teman-temannya mengejarnya, memanggil namanya, kencang sekali di telinganya.
Lihat 'kan? Aku masih bisa! Masih kuat! Enggak ada yang perlu dikhawatirkan.
Senyumnya begitu lebar seakan merobek wajahnya. Keringat mengucur keras. Itulah jenis keringat yang dia rindukan; baunya bukan karena sakit atau pun obat-obatan, melainkan bau ketiak bercampur deodorant dan aroma unik dirinya sendiri. Napas dan suaranya bergema. Dan setiap lompatan terasa seperti terbang.
Soga menembak dari luar garis tiga angka, bola melengkung indah di udara. Bola itu sempat membentur ring lebih dulu sebelum akhirnya masuk melewati jaring. Teriakan girang teman-temannya mengiringi, diikuti tepukan mantap di pundak.
Ia merasa hidup. Benar-benar hidup dari sejak operasi. Tapi, tidak lama. Langkahnya mulai berat. Sedikit demi sedikit lututnya seperti tertarik ke bawah. Napasnya yang tadi membara, kini tersumbat.
Dia membenarkan bandananya, menggeleng pelan sebelum memaksa diri berlari lebih cepat. Bola datang lagi kepadanya, tapi gerakannya menjadi lambat. Ia melempar bola ke arah temannya, berhenti di tempat sambil menaruh tangan di pinggangnya—mengambil napas dalam-dalam. Sayangnya, itu tidak cukup membantu. Denyut di kepalanya semakin mengeras, bagai bom waktu yang siap meledak.
Sekelilingnya berputar dan bergelombang. Lututnya goyah, tidak mau lagi menyangga. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan bunyi berat. Tangannya terangkat, mencoba menjangkau bola yang memantul jauh. Penglihatannya kabur, tapi masih bisa menangkap riak-riak putih pada langit lembayung itu. Sorak sorai berubah menjadi gemuruh aneh.
Tiba-tiba ketakutan merambat. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya telah hilang. Kepalanya seperti terbakar api, namun tangannya sedingin es. Kaki dan tangannya bengkok-bengkok, keringat menetes, meluruhkan kulitnya yang ikut mencair.
Soga lalu merembes ke dalam tanah. Ia terjun bebas ke kegelapan. Langit lembayung menyusut, kembali menjadi sebentuk persegi panjang yang mengapung di atas. Satu per satu, teman-temannya berdiri berkeliling di sana. Wajah mereka menggelap, memandang ke bawah tanpa senyuman dan kata-kata.
Ada yang menjerit dari kejauhan. Bukan manusia. Entah apa. Dan rasa sakit merayap dari kepalanya, menyebar, melingkupi bumi Soga.
Sebelum benar-benar jatuh ke atas ranjang, ia melihat kilatan-kilatan lampu neon melesat di atasnya. Ia juga melihat wajah kakaknya, ibunya, dan orang-orang berseragam putih dengan masker di mulutnya. Mereka berbayang, bergerak tergesa-gesa, dan setiap ucapan meluncur terbalik. Tangan-tangan dan benda-benda yang dipegang mereka membuat kulitnya merinding perih.
Sementara itu, Soga tidak mampu melakukan apa pun. Dia bahkan tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan padanya. Dalam kepasrahan, ia memusatkan pikirannya pada dengungan itu, yang kali ini terdengar lebih berharmoni.
"Rubi"
Soga memanggilnya sekali lagi, berpikir yang berdengung itu Rubi. Naik dan turun, lalu naik, dan turun lagi. Nada-nadanya meluncur pelan, dekat sekali tapi tidak pernah benar-benar bisa diraih. Senandungnya begitu rapuh, intim, cantik, nyaris seperti hantu yang sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri.
Namun, Rubi berada di luar ruangan ini. Rambutnya bergelombang tersapu angin. Figurnya yang mungil melompat ke sana ke mari, berputar-putar, meninggalkan jejak wangi apel. Dia menari, menyanyi, menyebut jalinan warna yang dilihatnya di udara.
Ketika Soga terbangun, dia berada di sebuah taman. Cahaya matahari jatuh di mana-mana. Sinarnya yang kuning menciptakan kubah keemasan di atas kolam dan pancuran air. Burung-burung berkicauan di sekitarnya. Rerumputan terasa halus menggelitik kakinya yang telanjang.
Benar-benar telanjang, seperti siput tanpa cangkang.
Soga menoleh ke samping kanan. Rubi berdiri di sana, memandangnya. Wajahnya hampir datar, kecuali keningnya yang mengerut sedikit. Tidak ada senyuman mau pun cemberut di bibirnya. Kelopak matanya agak turun, nyaris tidak berkedip. Dan senandung itu masih ada, berlapis-lapis, namun bukan Rubi yang menyanyikannya.
Soga ingin menyentuhnya, ingin mengaitkan jari-jarinya pada tangan Rubi, tapi urung. Di antara terang, hanya tatapan Rubi yang menggelap. Saat mereka terus berpandangan, dari sudut mata kanannya, Soga menangkap sesuatu yang mengalir di atas rerumputan. Mulanya berwarna hitam, cokelat gelap, kemudian disusul dengan warna merah darah dan orange keemasan.
Soga tidak mengalihkan pandangannya dari Rubi. Dadanya sendiri sesak, tertekan oleh emosi yang tidak bisa sepenuhnya ia cerna—kasih sayang, kebahagiaan, kesedihan, dan ketakutan.
“Kamu udah tau semuanya 'kan, Bi?”
Suaranya diredam bunyi lengkingan aneh di kejauhan. Setiap kata berubah menjadi senggukkan yang kekanakkan, tidak berbentuk, tidak disambut.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Cahaya Dari Menara Camlica
Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...