Bab 22 - Undo My Night
Rubi menunduk ke layar ponselnya. Keningnya mengerut di bawah teriknya matahari tengah hari.
Tidak ada pesan balasan dari Soga.
“Biiiiii!”
Teresa, yang duduk di belakang setir, memanggilnya. Perempuan berambut keriting pendek itu tersenyum dan melambaikan tangannya, mengajak Rubi segera masuk ke mobilnya. Satu temannya membuka jendela kursi belakang, hingga tampak dua temannya yang lain.
“Buruan!” seru mereka riang.
“Bentar!” jawab Rubi seraya menyelipkan ponselnya ke dalam tas. Setengah berlari, dia sempat menengok ke jalan yang mengarah ke fakultas desain—meninggalkan pertanyaan kenapa Soga tidak membalas pesan dan panggilannya sejak pagi.
“Kita tadi makan siang dulu di rumah makan Samara,” kata Teresa ketika Rubi masuk ke kursi penumpang di sampingnya. “Rumah makan yang baru buka itu. Dan..lumayan banyak orang. Kamu udah lama nunggu?”
“Enggak, kok. Enak masakannya?” Rubi mengaitkan sabuk pengamannya. Aroma melati tercium dari parfumnya Teresa.
“Lumayanlah. Masakan khas Sunda gitu,” sahut Ajeng, yang duduk tepat di belakang Rubi. “Banyak bule di sana. Pada doyan mereka. Haha.”
“Di kawasan itu memang banyak orang bule, kan?” kata Lulu, yang duduk diapit Mega dan Ajeng.
Tubuh mereka bergoyang pelan ketika Teresa membawa mobilnya ke jalan raya. Mereka menuju museum literasi untuk mengikuti workshop penulisan kreatif. Dan Rubi menengok lagi ke arah area kampus, melihat puncak gedung fakultas desain di balik pepohonan, terselip di antara gedung-gedung lainnya—ia masih bertanya-tanya.
Barangkali dia sibuk banget, pikirnya menggigit bibirnya, dan mengalihkan pandangannya ke jalan di depan. Lalu lintas agak padat hari ini.
“Eh, kalian pernah kebagian kelasnya pak Arung enggak sih? Atau cuma aku?” Lulu berceletuk lagi bersamaan dengan bunyi lagu yang diputar dalam volume sedang.
“Pak Arung yang ngajar Linguistik, bukan?” kata Mega. “Enggak, sih. Kita sama bu Retno, iya 'kan, Jeng?” Mega menengok ke Ajeng yang mengangguk.
Rubi mendengar obrolan tema-temannya di belakang. Ia sebenarnya mendapat kelas Linguistik dengan dosen itu juga, tapi diam saja. Pikirannya masih dipenuhi Soga.
“Memangnya kenapa sama Pak Arung?” tanya Teresa, melirik sebentar ke kaca spion. “Ngajarnya enggak enak?”
“Enggak. Bukan enggak enak,” koreksi Lulu, menggaruk pelipisnya. “Tapi, aku ngerasa dia agak ke 'kiri' gitu.”
“Maksudnya ke 'kiri' gimana sih?” Ajeng bertanya, ponselnya hampir menggelincir jatuh dari tangannya. “Kamu ngomongin soal pandangan politik?”
“Bukan kali.” Lulu cengegesan.
Mobil berhenti dan mengantri selama beberapa saat sebelum melaju lagi.
“Jadi, setiap jam mata kuliah dia, anak-anak cowok pasti pada duduk di belakang. Enggak mau duduk di depan,” cerita Lulu. “Kalau ngajar, dia enggak pernah marah atau negur tegas para cowok sekali pun nilai mereka jeblok. Dia juga hampir enggak pernah nyuruh para cowok ke depan buat jelasin yang dia pinta. Sebaliknya, dia kayak yang sentimen gitu sama cewek-cewek, dan aku sering kena tegur sama dia. Misalnya bilang 'Jawaban kamu kayak tukang becak. Enggak elegan', atau komentar enggak enak lainnya.”
“Yakin dia suka ngomong gitu?” Ajeng ketawa. “Gila. Jawaban tukang becak. Kasian amat tukang becak.”
“Iya.” Lulu menegaskan lagi. “Gaya ngajarnya kayak gitu terus. Tapi, anehnya, saat di luar jam mengajar, dia suka deket-deketin cewek. Kemarin deketin si Debbie sama Melisa, cuma buat tanya warna dan merk kutek yang mereka pake.”
“Serius kamu, Lu?” kata Teresa yang masih menyetir. Matanya melebar, hampir tak percaya sekaligus geli.
Di belakang, Mega cekikikan.
“Serius, Te.” Lulu menaruh tangannya di jok tempat Teresa duduk. “Dan minggu berikutnya dia pake itu kutek. Maksud aku, kita memang udah terbiasa sama cowok-cowok feminin dengan dandanan mereka yang cetar, kan? Tapi ini... ugh.. kalian bayangin aja; kepala pitak di tengah, kacamata silinder, badan gemuk, keriput nampak. Kayak yang enggak ada effort gitu.”
“Malah kamu yang kedengerannya sentimen, beib,” ujar Ajeng.
“Yah, anggaplah gitu. Kesel banget aku kena tegur dia terus.” Lulu memutar bola matanya jengkel.
Senyum kecil tersungging di bibir Rubi mendengar cerita teman-temannya. Pandangannya masih tertuju ke depan.
“Aku juga dapet kelasnya pak Arung.” Rubi baru menyahut.
“Di kelas kamu dia gitu juga enggak kelakuannya?” tanya Lulu, berharap kejengkelannya pada pak Arung bisa dibenarkan.
“Minggu kemarin aku dan yang lain noticed dia pake kutek kuning,” ujar Rubi, yang disambut tawa Mega dan Ajeng. “Bukan kuning yang kuning banget sih, tapi kuning pastel gitu. Terus di minggu sebelumnya pake kutek warna lilac. Lucu sih warna-warnanya.”
“Itu warna yang dipake Debbie dan Melisa,” kata Lulu. “Terus gimana sama gaya ngajarnya di kelas kamu?”
“Aku enggak perhatiin itu belakangan ini. Atau aku enggak sadar? Enggak tahu juga deh.” Rubi angkat bahu. “Aku jarang kena tegur juga sih apalagi dikomentarin macam-macam.”
“Dasar!” gumam Lulu, mendorong pelan bahu Rubi. “Memang kebiasaan kamu enggak pernah merhatiin dosen.”
Rubi nyengir.
Dia memang sedang senang memikirkan hubungannya dengan Soga daripada mengurusi pak Arung. Dan lagi, ia sebenarnya lebih ingin mengomentari cara Teresa mengendarai mobil. Setiap beberapa detik, rem disentuh—bukan diinjak penuh, dan semestinya itu tidak perlu dilakukan. Lagi dan lagi. Itu cukup bikin kepalanya sedikit terdorong ke depan. Orang yang tidak tahan mungkin akan mual.
“Jadi, itu yang kamu maksud 'kiri' itu, Lu?” tanya Teresa, membelokkan setirnya dengan hati-hati.
Lulu meringis sedikit. Tubuhnya condong ke depan. “Aku sih enggak peduli sama sexualitas dan cara dia merepresentasikan dirinya. Aku cuma enggak suka cara dia ngajar. Pilih kasih. Well, kita lihat aja nanti—dia adil apa enggaknya—setelah ujian semester.”
Playlist lagu yang diputar kemudian berhenti di lagu boyband Korea favorit mereka.
“Ah, yes! Undo My Night!” seru Mega, mengepalkan kedua tangan gembira.
Obrolan tentang pak Arung terlupakan begitu Teresa membesarkan volume suaranya sedikit. Mereka mulai menyanyi-nyanyi, mengangguk-angguk mengikuti irama musik. Mobil kecil ini mengemas nyanyian setengah sumbang mereka hingga menjadi riuh.
Hanya Rubi yang tidak ikut menyanyi. Bukan Rubi tak bisa menikmatinya, dan bukan juga lagunya jelek. Lagunya ringan dan riang, beat-nya halus dan mudah diikuti—sejenis lagu yang langsung bisa nempel di kepala, bahkan sebelum reff pertama dimulai. Liriknya campur bahasa Korea dan Inggris.
Namun, bagi Rubi lagunya tidak memiliki isi, terlalu datar, dan.. membosankan. Di sisi lain, dia paham kenapa musiknya seperti itu; tujuannya agar para pendengar mudah menerima tanpa harus memproses keras. Tapi, memang seperti itulah musik mainstream.
Inilah yang membuat Rubi terkadang merasa asing di antara teman-temannya. Dia tidak bisa jadi penggemar mau setampan apa pun anggotanya, atau senyambung apa pun liriknya dengan keseharian. Dia hanya mengangguk saja kala mereka membahas berita, gosip, tur, terkait idola mereka. Dia juga tidak pernah menceritakan lagu-lagu favoritnya pada mereka, sebab daftarnya jauh berbeda dengan mereka.
Kamu lihat warna apa, Bi?
Nyanyian teman-temannya masih meliputi senyuman Rubi yang diam-diam. Dia membayangkan Soga yang bertanya itu.
Tentu saja aku lihat, batinnya, seolah-olah Soga ada di situ. Warna yang muncul membentuk lingkaran-lingkaran berwarna terang di atas layar putih, bergeser satu per satu—layaknya aku melihat layar presentesasi PowerPoint. Hanya sesaat, lalu hilang.
“... Oh, Undo my night... Naiiiiittt...” Ajeng melengkingkan suaranya, diiringi tawa dan kelakar teman-temannya. “Argh.. aku bakal sujud di depan mama papa demi dibeliin tiket kalau mereka konser di sini!”
“Kalau beneran mereka mau konser, kita bisa pergi bareng-bareng dong!” seru Mega.
Rubi menopangkan dagunya, melirik ke jendela, melihat tukang rujak di pinggir jalan. Pikirannya campur aduk—antara rencana dadakan buat mampir ke tukang rujak usai workshop, dan rencana membahas tentang lagu ini bersama Soga.
Layak enggak masuk jurnal?
Sayangnya, tidak ada satu pun pesan dari Soga yang masuk begitu Rubi dan lainnya tiba di museum.
Ponselnya juga tidak aktif.
Other Stories
Liburan Di Pulau Terpilih
Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...