Chromatic Goodbye

Reads
147
Votes
16
Parts
27
Vote
Report
Chromatic goodbye
Chromatic Goodbye
Penulis NarayuPita

Bab 27 - Rumah Sakit

"Ibu di ruang tunggu," ucap Wulandari.

Ia memandang punggung putranya yang menjauh, menghilang di balik pintu ruang terapi. Suaranya yang lembut, keberadaannya yang hanya dipisahkan satu dinding, secara tidak langsung menjadi penopang bagi Soga.

Waktu itu, rumah sakit mulai lengang. Pengumuman terdengar samar dari pengeras suara. Di ujung lorong, cahaya matahari sore masuk dari jendela-jendela besar. Cahayanya berwarna jingga pekat, menghasilkan bayangan-bayangan yang merenggang panjang di lantai. Wajah semua orang berubah keemasan, mata cokelat mereka berkilauan, dan seragam-seragam putih perawat ikut berubah warna. Sementara itu, ruang-ruang dan dinding yang tidak diterpa cahaya matahari berwarna kelabu gelap kebiruan.

Wulandari duduk bersandar di kursi tunggu. Ia memeluk tas kecil di pangkuannya, kakinya setengah memanjang dan saling bertautan. Pandangannya menangkap matahari yang bulat kemerahan, mengintip di balik pepohonan.

Di sampingnya ada ransel milik Soga. Aroma parfum Soga berpendar samar dari sana, seolah ingin menepis bau steril rumah sakit. Wulandari menganggap keberadaan ransel itu menjadi bukti bahwa putranya akan baik-baik saja. Namun, itu juga bisa jadi pertanda bahwa suatu hari nanti, yang tertinggal hanyalah ransel itu.

Ia menghela napas, menelan kegelisahan, dan menoleh ke pintu ruang terapi. Rutinitas ini bukan sesuatu yang lagi asing. Ia sudah tahu berapa lama harus menunggu.

Dokter Rama keluar dari ruang konsultasi. Segaris cahaya matahari sempat menyorot rambutnya yang disisir rapi, menyamarkan ubannya selama sedetik. Ia membenarkan kacamatanya, tersenyum pada Wulandari. Mereka sudah saling mengenal, bahkan sejak mereka masih di bangku SMA. Pria jangkung itu duduk di sebelah ranselnya Soga.

“Kamu baik-baik aja, Lan?” tanya Rama. Suaranya rendah dan akrab, tanpa niat yang dibuat-buat.

“Menurut kamu?” Wulandari bertanya balik. Ia tersenyum lebar, sedikit mencemooh dirinya sendiri.

“Ini serius, Lan,” ujar Rama, menoleh ke Wulandari.

“Kamu udah beberapa kali mengingatkan, bukan? Kondisiku baik-baik aja. Seenggaknya untuk saat ini.” Wulandari menyandarkan punggungnya, hingga kepalanya menempel ke dinding. Dia menjadi sedikit rileks.

"Lalu, gimana kuliahnya Soga? Apa dia masih suka menggambar dan melakukan aktivitas lain?“ tanya Rama.

”Iya. Dia masih menjalani kuliahnya meskipun lebih banyak absennya,“ jelas Wulandari. ”Dia juga tetap menggambar setiap kali istirahat di rumah." Ia berhenti sejenak, sebelum menceritakan Soga yang pingsan usai bermain basket beberapa hari lalu. “Dia enggak mau merepotkan siapa pun sampai memaksakan diri, padahal tenaganya belum bisa diajak kompromi.”

Dokter Rama menggeleng sambil tersenyum tipis. "Belakangan ini, gimana suasana hatinya?“ tanyanya lagi.

Wulandari mengerutkan kening. Di hadapan mereka, matahari semakin rendah. Cahaya yang tadi mengenai sebagian dinding, kini sudah mencapai kaki kursi tempat mereka duduk. Lampu-lampu neon menyala satu per satu di lorong dalam. Senyuman Wulandari berubah menjadi meringis. Ia menggigit bibir, menahan air mata yang mulai terbendung.

”Dia lebih banyak tersenyum,“ jawab Wulandari, suaranya gemetar, menahan diri agar tidak menangis. ”Dia bilang dia sedang mengerjakan sesuatu. Setelah kejadian pingsan itu, dia pergi sendiri menemui pacarnya, dan makan malam bersama di luar. Enggak ada ...um... enggak ada hal buruk yang terjadi setelahnya, Ram.“

Rama menyimak. Tatapannya melembut, dan tangannya yang besar mendarat di bahu Wulandari, mengusapnya. Mereka saling berpandangan. Saat itu, Wulandari ingin bertanya apakah itu pertanda bahwa Soga akan membaik, dan masih memiliki harapan. Namun, tidak sepatah kata pun yang terucap. Dia segera tahu bahwa itu bukan sesuatu yang tepat untuk diungkapan, atau.. mungkin dia takut mendengar kenyataan yang sesungguhnya.

”Kalau begitu,“ ucap Rama, menjauhkan tangannya dari Wulandari, "biar dia menikmati waktunya.”

Kalimat itu bukan harapan tentang kesembuhan. Wulandari tahu itu. Tapi, entah kenapa, itu sedikit menenangkan hatinya, seakan Rama sudah mengenal Soga cukup lama. Sambil mengusap matanya yang mulai basah, Wulandari mengangguk, dan kembali tersenyum.

Lima menit setelah Dokter Rama meninggalkan Wulandari di ruang tunggu, pintu ruang terapi terbuka. Seorang radiografer mengantar Soga keluar. Wulandari spontan mengangkat wajahnya dan segera beranjak menghampiri putranya.

Sebelum Wulandari bertanya, seraya meraih tangan Soga yang tampak sedikit letih, radiografer itu berkata, “Semuanya lancar dan Soga baik-baik saja, Bu.”

“Terima kasih,” ucap Wulandari, mengangguk dan tersenyum lega.

Begitu radiografer itu kembali ke ruangannya, Wulandari mendengar Soga bergumam, “Aku lapar, Bu.“ Senyum malu-malu terukir di wajahnya. ”Aku pengen sapo tahu buatan ibu. Kayak yang waktu itu ..”

Kehangatan memenuhi dada Wulandari yang tadi sesak. Matanya berkaca-kaca, sementara bibirnya berkedut ingin tersenyum sekaligus ingin menangis. Dia tidak pernah mengira kalimat sesederhana itu akan membuat lututnya hampir lemas. Bukan karena lapar itu sendiri, atau karena putranya merindukan masakan buatannya, melainkan di baliknya ada sesuatu yang jauh lebih besar. Ada semangat yang belum padam, ada kehidupan yang diam-diam mengetuk kembali pintunya.

Wulandari berpaling sebentar, mengusap air mata yang hampir menetes. Ia membiarkan hatinya berpegang pada harapan walau getir.

“Baru keluar udah mikirin makan.” Wulandari menoleh ke putranya, pura-pura mengomel. “Kita duduk dulu dan pesan taxi.” Ia kemudian menuntun putranya duduk di kursi tunggu.

Soga menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya. Ia mengeluarkan botol air mineral dan meneguknya cukup banyak. Setelah itu, punggung tangannya mengusap bibirnya yang basah. Ia menoleh sesaat ke ujung lorong, melihat petugas medis keluar masuk ruangan.

Ia kemudian memejamkan matanya dnegan botol mineral dalam genggamannya. Sapo tahu buatan ibunya melayang-layang di dalam pikirannya, lalu buyar oleh bayangan jurnal sinestetik, dan Rubi. Kerinduan meredam denyut tumpul di balik kepalanya. Dia berencana akan menelepon gadis itu usai makan malam.

Ketika Wulandari membuka aplikasi taxi online, Banyu menelepon.

Soga membuka matanya. Tatapannya yang sendu namun damai tertuju ke langit yang mulai berubah biru keunguan. Matahari sudah menghilang beberapa waktu lalu, dan udara dingin berhembus menyentuh kulitnya yang kering. Dia mengusap lengannya pelan, menyimak percakapan ibu dan kakaknya.

“Banyu bilang dia mau jemput kita,” ujar Wulandari, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Jadi, kayaknya kita harus nunggu sebentar.” Ia meraih tangan Soga yang lain, meremasnya hingga terasa hangat.

“Bukannya dia lembur?” Soga melirik.

“Iya, dia lagi lembur.” Wulandari mengangguk. “Tapi, kayaknya dia bisa ijin sebentar.”

Soga menyeringai samar.

Banyu memang keras kepala. Jika sudah memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa menahannya. Sebenarnya, itu agak membuat Soga sebal, sampai ia menyadari bahwa apa yang dilakukan kakaknya selalu mengarah padanya. Kakaknya rela meninggalkan pekerjaannya, menembus perjalanan yang jauh, hanya demi menjemputnya di rumah sakit. Sejak tahu Soga terinteksi penyakit, Banyu menjadi tidak bisa santai dan lebih cerewet. Namun, Soga tahu bahwa itu adalah bahasa kasih sayang Banyu padanya.

“Lagian kita enggak punya tahu dan jamur buat bahan sapo tahu," ibunya menambahkan. ”Jadi, nanti Ibu bisa suruh Banyu mampir ke supermarket dan belanja.“

Mendengar ucapan ibunya, Soga menangkup mulutnya dengan tangan, menahan tawa.

”Hei, kenapa sih?“ tanya Wulandari, menoleh. Wajahnya yang tadi muram menjadi lebih berseri-seri memperhatikan bahu putranya yang bergetar karena cekikikan. ”Ada yang lucu, ya?“

”Ibu nyuruh dia belanja?“ Soga mengangkat wajahnya dari balik tangannya.

”Memangnya kenapa kalau Banyu belanja?“

”Ibu lihat aja nantilah.“




Other Stories
Lombok; Tanah Surga

Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...

Kelabu

Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...

Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Download Titik & Koma