Epilog
Kamu mungkin pernah ada di titik ini: kalender penuh kotak-kotak rapat, chat kerja yang bunyinya seperti alarm kecil, dan tubuh yang tetap berfungsi walau rasanya cuma berjalan pakai sisa baterai. Di luar, orang-orang bilang, “Liburan, dong. Healing.” Seolah semua lelah bisa selesai kalau kamu pindah koordinat—ke pantai, ke gunung, ke hotel dengan sarapan prasmanan.
Tapi kamu juga mungkin pernah mengalami yang sebaliknya.
Kamu sudah duduk di tempat yang katanya “indah,” tapi kepala masih mengulang daftar to-do. Kamu sudah jauh dari kantor, tapi pikiran tetap memeriksa email. Kamu sudah berada di luar kota, tapi ada sesuatu di dada yang tetap sesak—bukan karena udara, melainkan karena kamu belum benar-benar berhenti.
Di sinilah kita mulai pelan-pelan mendefinisikan ulang kata Liburan.
Buat kamu (dan buatku juga, sebagai sesama orang yang akrab dengan jam masuk, absen, dan target), liburan tidak selalu tentang pergi. Liburan adalah momen ketika hati dan pikiran tenang—bukan karena tempatnya cantik, tapi karena kamu berhasil menciptakan ruang di dalam diri sendiri. Liburan adalah istirahat sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas, bahkan kalau kamu tidak punya cuti panjang.
Mini buku ini bukan menggurui. Ini semacam ajakan: mari melihat dunia sedikit lebih lambat. Mari memaknai liburan sebagai hal-hal yang terlihat sederhana—tapi sering paling sulit kita izinkan terjadi.
Kata kuncinya: tenang, tidur, bernapas, mandi, dan melakukan hal baru. Lima hal ini bisa jadi “paket liburan” versi orang kantoran—yang seringnya tidak kekurangan rencana, tapi kekurangan jeda.
Tapi kamu juga mungkin pernah mengalami yang sebaliknya.
Kamu sudah duduk di tempat yang katanya “indah,” tapi kepala masih mengulang daftar to-do. Kamu sudah jauh dari kantor, tapi pikiran tetap memeriksa email. Kamu sudah berada di luar kota, tapi ada sesuatu di dada yang tetap sesak—bukan karena udara, melainkan karena kamu belum benar-benar berhenti.
Di sinilah kita mulai pelan-pelan mendefinisikan ulang kata Liburan.
Buat kamu (dan buatku juga, sebagai sesama orang yang akrab dengan jam masuk, absen, dan target), liburan tidak selalu tentang pergi. Liburan adalah momen ketika hati dan pikiran tenang—bukan karena tempatnya cantik, tapi karena kamu berhasil menciptakan ruang di dalam diri sendiri. Liburan adalah istirahat sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas, bahkan kalau kamu tidak punya cuti panjang.
Mini buku ini bukan menggurui. Ini semacam ajakan: mari melihat dunia sedikit lebih lambat. Mari memaknai liburan sebagai hal-hal yang terlihat sederhana—tapi sering paling sulit kita izinkan terjadi.
Kata kuncinya: tenang, tidur, bernapas, mandi, dan melakukan hal baru. Lima hal ini bisa jadi “paket liburan” versi orang kantoran—yang seringnya tidak kekurangan rencana, tapi kekurangan jeda.
Other Stories
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Hotel Tanpa Cermin
Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...