BAB 3 - Siang Yang Terlalu Cepat Berlalu
Kantin kampus siang itu lebih ramai dari biasanya.
Arga Pratama duduk berhadapan dengan Sekar, dua piring nasi goreng di depan mereka.
"Aku nggak nyangka kamu bisa ketawa sekenceng itu," goda Arga sambil menyender santai di kursinya.
Sekar menutup wajahnya sebentar.
"Ya salah kamu ceritanya aneh banget."
Arga tertawa. Tawanya rendah tapi hangat.
Beberapa meja dari mereka, sekelompok mahasiswi berbisik-bisik.
"Itu Arga kan?"
"Iya... kok bisa sih dia makan bareng Sekar?"
"Dia jarang banget ngajak cewek makan berdua..."
Arga memang bukan tipe cowok yang mudah didekati.
Ganteng? Jelas.
Tinggi, bahu lebar, senyumnya mahal.
Anak orang kaya. Punya mobil. Punya segalanya.
Tapi ia selalu menjaga jarak.
Kalau diajak ngobrol, jawab seperlunya.
Kalau diajak foto, sering menolak halus.
Kalau ada yang terang-terangan mendekat, biasanya hanya tersenyum sopan lalu pergi.
Sulit dijangkau.
Itu sebabnya semua orang heran.
Kenapa dengan Sekar... dia berbeda?
Sekar memang cantik.
Caranya berpakaian sederhana tapi selalu pas. Warna-warna netral yang membuatnya terlihat elegan tanpa berusaha terlalu keras.
Tapi dia bukan cewek populer.
Bukan pusat perhatian.
Ia jarang nongkrong. Jarang ikut keramaian.
Dan justru di situlah Arga merasa nyaman.
"Kamu tuh beda," kata Arga tiba-tiba.
Sekar mengernyit. "Bedanya apa?"
"Kamu nggak pernah berusaha kelihatan menarik."
Sekar tertawa kecil. "Itu pujian atau hinaan?"
"Pujian," Arga tersenyum tipis. "Kamu asli."
Sekar hanya menggeleng.
Baginya, Arga tetap teman biasa.
Mustahil cowok seperti Arga menyukai dirinya.
Arga itu terlalu... tinggi untuk digapai.
Sore harinya, Arga berdiri di parkiran motor.
"Sekar!" panggilnya. "Motoran bentar yuk. Kepala lagi sumpek."
Sekar ragu sebentar.
Lalu mengangguk.
Angin sore menyapu wajahnya saat motor Arga melaju menyusuri jalan kota.
Tidak ngebut. Tidak ugal-ugalan.
Hanya cukup cepat untuk membuat Sekar merasa bebas.
Waktu terasa berbeda saat bersama Arga.
Lebih ringan.
Lebih cepat.
Mereka berhenti di warung makan kecil. Duduk berhadapan lagi. Bercerita tentang hal-hal receh.
Dan tanpa disadari, hari berubah malam.
"Astaga... udah jam segini?" Sekar kaget.
Arga tersenyum. "Kalau sama kamu, waktu kayak lari."
Kalimat itu membuat Sekar terdiam sesaat.
Namun ia tetap menganggapnya bercanda.
Di kejauhan.
Seseorang berdiri.
Tak terlihat. Tak terdengar.
Rei Kazama menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu jalan.
Matanya mengikuti tawa Sekar.
Setiap senyum Sekar... menusuk sesuatu yang lama terkubur.
Kenangan.
Motor.
Tawa.
Seorang gadis yang duduk di belakangnya, memeluk pinggangnya erat.
Rei menutup mata sesaat.
"Aku juga pernah seperti itu..." gumamnya pelan.
Ia muncul sekejap di samping Sekar saat gadis itu tertawa.
Tangannya hampir terulur.
Hampir.
Namun ia menariknya kembali.
Sekar terlihat bahagia.
Dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya...
Rei tidak merasa marah.
Ia hanya merasa rindu.
Rindu pada hidup.
Rindu pada seseorang yang dulu menunggunya pulang.
Angin malam meniup jaket racingnya.
Dan perlahan... Rei menghilang lagi.
Menyisakan perasaan yang tak pernah sempat ia selesaikan.
Arga Pratama duduk berhadapan dengan Sekar, dua piring nasi goreng di depan mereka.
"Aku nggak nyangka kamu bisa ketawa sekenceng itu," goda Arga sambil menyender santai di kursinya.
Sekar menutup wajahnya sebentar.
"Ya salah kamu ceritanya aneh banget."
Arga tertawa. Tawanya rendah tapi hangat.
Beberapa meja dari mereka, sekelompok mahasiswi berbisik-bisik.
"Itu Arga kan?"
"Iya... kok bisa sih dia makan bareng Sekar?"
"Dia jarang banget ngajak cewek makan berdua..."
Arga memang bukan tipe cowok yang mudah didekati.
Ganteng? Jelas.
Tinggi, bahu lebar, senyumnya mahal.
Anak orang kaya. Punya mobil. Punya segalanya.
Tapi ia selalu menjaga jarak.
Kalau diajak ngobrol, jawab seperlunya.
Kalau diajak foto, sering menolak halus.
Kalau ada yang terang-terangan mendekat, biasanya hanya tersenyum sopan lalu pergi.
Sulit dijangkau.
Itu sebabnya semua orang heran.
Kenapa dengan Sekar... dia berbeda?
Sekar memang cantik.
Caranya berpakaian sederhana tapi selalu pas. Warna-warna netral yang membuatnya terlihat elegan tanpa berusaha terlalu keras.
Tapi dia bukan cewek populer.
Bukan pusat perhatian.
Ia jarang nongkrong. Jarang ikut keramaian.
Dan justru di situlah Arga merasa nyaman.
"Kamu tuh beda," kata Arga tiba-tiba.
Sekar mengernyit. "Bedanya apa?"
"Kamu nggak pernah berusaha kelihatan menarik."
Sekar tertawa kecil. "Itu pujian atau hinaan?"
"Pujian," Arga tersenyum tipis. "Kamu asli."
Sekar hanya menggeleng.
Baginya, Arga tetap teman biasa.
Mustahil cowok seperti Arga menyukai dirinya.
Arga itu terlalu... tinggi untuk digapai.
Sore harinya, Arga berdiri di parkiran motor.
"Sekar!" panggilnya. "Motoran bentar yuk. Kepala lagi sumpek."
Sekar ragu sebentar.
Lalu mengangguk.
Angin sore menyapu wajahnya saat motor Arga melaju menyusuri jalan kota.
Tidak ngebut. Tidak ugal-ugalan.
Hanya cukup cepat untuk membuat Sekar merasa bebas.
Waktu terasa berbeda saat bersama Arga.
Lebih ringan.
Lebih cepat.
Mereka berhenti di warung makan kecil. Duduk berhadapan lagi. Bercerita tentang hal-hal receh.
Dan tanpa disadari, hari berubah malam.
"Astaga... udah jam segini?" Sekar kaget.
Arga tersenyum. "Kalau sama kamu, waktu kayak lari."
Kalimat itu membuat Sekar terdiam sesaat.
Namun ia tetap menganggapnya bercanda.
Di kejauhan.
Seseorang berdiri.
Tak terlihat. Tak terdengar.
Rei Kazama menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu jalan.
Matanya mengikuti tawa Sekar.
Setiap senyum Sekar... menusuk sesuatu yang lama terkubur.
Kenangan.
Motor.
Tawa.
Seorang gadis yang duduk di belakangnya, memeluk pinggangnya erat.
Rei menutup mata sesaat.
"Aku juga pernah seperti itu..." gumamnya pelan.
Ia muncul sekejap di samping Sekar saat gadis itu tertawa.
Tangannya hampir terulur.
Hampir.
Namun ia menariknya kembali.
Sekar terlihat bahagia.
Dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya...
Rei tidak merasa marah.
Ia hanya merasa rindu.
Rindu pada hidup.
Rindu pada seseorang yang dulu menunggunya pulang.
Angin malam meniup jaket racingnya.
Dan perlahan... Rei menghilang lagi.
Menyisakan perasaan yang tak pernah sempat ia selesaikan.
Other Stories
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...