Rei Kazama

Reads
193
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Ayu Ayy

BAB 8 - Kursi Roda Dan Air Mata Yang Tertunda

Malam itu kamar Sekar sunyi.

Hanya suara ketikan pelan dari laptop Arga.

Helm Rei tetap di atas meja. Diam. Retaknya memantulkan cahaya lampu.

"Aku coba cari akun media sosialnya," kata Arga pelan.
"Daichi Moriyama."

Beberapa akun muncul.

Rei berdiri di belakang Sekar. Ia menatap layar dengan fokus yang tidak pernah Sekar lihat sebelumnya.

Arga membuka salah satu akun dengan foto profil motor balap.

Scrolling.

Balapan.
Piala.
Wawancara kecil-kecilan.

Lalu—

Scroll berhenti.

Foto terbaru.

Bukan di lintasan.

Bukan dengan motor.

Tapi di sebuah ruangan putih.

Daichi duduk di kursi roda.

Sekar membeku.

Rei tidak bergerak.

Arga memperbesar fotonya.

Kedua kaki Daichi tidak terlihat. Tertutup selimut tipis. Namun caption-nya menjelaskan segalanya.

"Kecelakaan latihan. Kehilangan kedua kaki. Hidup tidak berhenti, hanya berubah."

Sekar menutup mulutnya pelan.

Arga membaca komentar-komentar lama.

Ternyata setelah kematian Rei, Daichi sering menang. Hampir setiap malam ikut balapan.

Terlalu sering.

Terlalu ambisius.

Jarang istirahat.

Dan suatu malam—
ia sendiri kehilangan kendali.

Kecelakaan lebih parah.

Kedua kakinya harus diamputasi.

Rei mundur satu langkah.

Wajahnya kosong.

"Dia... tidak bisa berdiri lagi?" suaranya terdengar dalam batin Sekar.

Sekar tidak mampu menjawab dengan suara. Ia hanya menggeleng pelan.

Rei mendekat ke layar.

Tangannya bergetar, meski tak bisa menyentuh apa pun.

Foto berikutnya memperlihatkan Daichi tersenyum tipis di kursi roda. Tapi matanya berbeda.

Tidak ada lagi kesombongan.

Hanya kelelahan.

Dan sesuatu yang menyerupai penyesalan.

Rei tiba-tiba berlutut.

Sekar tersentak.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Rei... menangis.

Bukan darah.
Bukan bayangan.

Air mata.

Transparan. Jatuh menembus lantai.

"Semua ini... karena aku."

Sekar langsung menggeleng.
"Bukan."

"Dia terobsesi mengalahkanku," suara Rei pecah.
"Aku tahu dia membenciku... tapi aku tetap ikut balapan. Aku tetap memimpin. Aku tetap menang."

Arga yang tidak bisa mendengar Rei, hanya melihat Sekar tiba-tiba menangis pelan.

"Apa yang dia bilang?" tanya Arga lembut.

Sekar berbisik, "Dia merasa semua ini salahnya."

Rei menunduk.

"Jika aku berhenti lebih awal... mungkin dia tidak akan seperti itu."
"Jika aku tidak mati... mungkin dia tidak akan balapan setiap hari seperti orang gila."

Sekar menggeleng lagi. Air matanya jatuh.

"Kamu tidak menyebabkan kecelakaan dia," katanya pelan.
"Itu pilihannya sendiri."

Rei terdiam.

Air matanya semakin deras.

"Aku marah saat mati."
"Aku tidak terima."
"Aku tidak siap."

Suara itu penuh luka.

"Aku masih ingin hidup. Masih ingin menikah. Masih ingin menang."
"Aku tidak rela semuanya berhenti begitu saja."

Sekar akhirnya mengerti.

Bukan hanya sabotase.

Bukan hanya Daichi.

Yang menahan Rei di dunia ini adalah rasa... tidak terima.

Sekar mendekat.
Ia tidak bisa menyentuh Rei. Tapi ia duduk di depannya.

"Kamu sudah tahu kebenarannya sekarang," katanya lembut.
"Obsesi dia menghancurkan dirinya sendiri."

Rei mengangkat wajahnya perlahan.

Di matanya bukan lagi amarah.

Hanya lelah.

Arga menatap Sekar dengan mata berkaca-kaca.

"Kadang," Arga berkata pelan, "orang yang menyakiti kita... akhirnya menyakiti dirinya sendiri lebih dalam."

Sekar mengangguk pelan.

Ia kembali menatap Rei.

"Kamu tidak perlu tinggal karena marah," katanya lirih.
"Kamu tidak perlu terikat karena tidak terima."

Hening panjang memenuhi kamar.

Rei memandang helmnya.

Retakan itu tidak lagi terasa seperti luka.

Tapi seperti akhir dari sebuah perlombaan.

"Aku hanya takut dilupakan," bisiknya.

Sekar tersenyum lembut meski air matanya jatuh.

"Kamu tidak akan dilupakan. Tapi kamu juga berhak tenang."

Rei menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu—

Dingin di ruangan itu terasa berbeda.

Bukan berat.

Tapi ringan.

Arga menggenggam tangan Sekar pelan.

Dan malam itu—

Tiga orang dalam satu ruangan memahami satu hal yang sama:

Obsesi bisa menghancurkan.
Dendam tidak pernah membawa pulang siapa pun.
Dan kadang... yang paling sulit bukan memaafkan orang lain.

Tapi menerima bahwa semuanya sudah selesai.



Other Stories
Escape [end]

Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Download Titik & Koma