BAB 9 - Garis Finish Terakhir
Malam itu berbeda.
Tidak ada angin dingin.
Tidak ada tekanan berat di udara.
Helm hitam itu masih berada di atas meja. Retaknya terlihat samar... seperti tidak setajam sebelumnya.
Rei berdiri di dekat jendela kamar Sekar.
Wajahnya tidak lagi tegang.
Tidak lagi marah.
Tidak lagi dipenuhi rindu yang menyiksa.
Hanya tenang.
"Aku sudah tahu jawabannya," suaranya terdengar lembut di dalam batin Sekar.
Sekar menatapnya. Matanya sudah basah sejak tadi.
"Kamu yakin?" tanyanya pelan.
Rei mengangguk.
"Dia memang menyabotase motorku."
"Tapi hidup sudah memberi konsekuensinya sendiri."
Sekar terdiam.
Rei menatap jauh ke luar jendela.
"Aku marah saat mati. Aku tidak rela. Aku merasa dikhianati."
"Tapi melihatnya sekarang... duduk di kursi roda... hidup dalam penyesalan..."
Ia menarik napas panjang.
"Aku tidak ingin membawa amarah itu ke mana pun aku pergi."
Arga berdiri tidak jauh dari Sekar. Ia tidak bisa mendengar Rei, tapi ia bisa melihat perubahan di wajah Sekar.
"Dia mau pergi ya?" tanya Arga pelan.
Sekar mengangguk perlahan.
Rei menatap helmnya untuk terakhir kali.
Retakan itu perlahan memudar... seperti bayangan yang ditarik cahaya.
"Aku memaafkannya," bisik Rei.
"Bukan karena dia pantas. Tapi karena aku ingin bebas."
Air mata jatuh dari mata Sekar.
Rei melangkah mendekat.
Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terasa bukan seperti dua dunia yang berbeda... tapi seperti dua manusia yang saling mengerti.
"Terima kasih sudah mendengarkanku," katanya.
Sekar tersenyum meski suaranya bergetar.
"Aku cuma menemanimu."
Rei menggeleng pelan.
"Kau memberiku garis finish yang tidak pernah kudapatkan."
Hening.
Lalu Rei menatap Sekar lebih dalam.
Tatapannya tidak lagi kosong.
Ada cahaya di sana.
"Hiduplah tanpa menunda," katanya lembut.
"Jangan tunggu besok untuk mengatakan yang ingin kau katakan."
"Jangan balapan dengan waktu seperti aku."
"Dan jangan biarkan penyesalan mengikatmu seperti helm itu mengikatku."
Sekar terisak pelan.
Rei tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi dingin.
"Kau kuat, Sekar. Tapi jangan selalu terlihat kuat."
"Izinkan dirimu dicintai."
Arga tanpa sadar menggenggam tangan Sekar lebih erat.
Rei melirik ke arah Arga.
Untuk sesaat, seolah ia bisa melihatnya.
"Dia akan menjagamu dengan cara yang tidak bisa kulakukan."
Sekar menutup matanya, air matanya jatuh.
Ketika ia membukanya kembali—
Rei sudah berdiri sedikit lebih jauh.
Tubuhnya mulai memudar perlahan, seperti cahaya yang menyatu dengan udara.
Tidak menyeramkan.
Tidak menyakitkan.
Hanya... selesai.
"Terima kasih, Sekar."
Itu kalimat terakhirnya.
Dan dalam satu kedipan—
Ia menghilang.
Helm di atas meja terjatuh pelan ke samping.
Retaknya sudah hilang sepenuhnya.
Kamar terasa hangat.
Tidak ada lagi hawa dingin.
Tidak ada lagi bayangan.
Hanya Sekar dan Arga.
Dan kesunyian yang damai.
Sekar menangis tanpa suara.
Arga menariknya ke dalam pelukan.
Untuk pertama kalinya—
Rei Kazama benar-benar melewati garis finish terakhirnya.
Dengan tenang.
Tidak ada angin dingin.
Tidak ada tekanan berat di udara.
Helm hitam itu masih berada di atas meja. Retaknya terlihat samar... seperti tidak setajam sebelumnya.
Rei berdiri di dekat jendela kamar Sekar.
Wajahnya tidak lagi tegang.
Tidak lagi marah.
Tidak lagi dipenuhi rindu yang menyiksa.
Hanya tenang.
"Aku sudah tahu jawabannya," suaranya terdengar lembut di dalam batin Sekar.
Sekar menatapnya. Matanya sudah basah sejak tadi.
"Kamu yakin?" tanyanya pelan.
Rei mengangguk.
"Dia memang menyabotase motorku."
"Tapi hidup sudah memberi konsekuensinya sendiri."
Sekar terdiam.
Rei menatap jauh ke luar jendela.
"Aku marah saat mati. Aku tidak rela. Aku merasa dikhianati."
"Tapi melihatnya sekarang... duduk di kursi roda... hidup dalam penyesalan..."
Ia menarik napas panjang.
"Aku tidak ingin membawa amarah itu ke mana pun aku pergi."
Arga berdiri tidak jauh dari Sekar. Ia tidak bisa mendengar Rei, tapi ia bisa melihat perubahan di wajah Sekar.
"Dia mau pergi ya?" tanya Arga pelan.
Sekar mengangguk perlahan.
Rei menatap helmnya untuk terakhir kali.
Retakan itu perlahan memudar... seperti bayangan yang ditarik cahaya.
"Aku memaafkannya," bisik Rei.
"Bukan karena dia pantas. Tapi karena aku ingin bebas."
Air mata jatuh dari mata Sekar.
Rei melangkah mendekat.
Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terasa bukan seperti dua dunia yang berbeda... tapi seperti dua manusia yang saling mengerti.
"Terima kasih sudah mendengarkanku," katanya.
Sekar tersenyum meski suaranya bergetar.
"Aku cuma menemanimu."
Rei menggeleng pelan.
"Kau memberiku garis finish yang tidak pernah kudapatkan."
Hening.
Lalu Rei menatap Sekar lebih dalam.
Tatapannya tidak lagi kosong.
Ada cahaya di sana.
"Hiduplah tanpa menunda," katanya lembut.
"Jangan tunggu besok untuk mengatakan yang ingin kau katakan."
"Jangan balapan dengan waktu seperti aku."
"Dan jangan biarkan penyesalan mengikatmu seperti helm itu mengikatku."
Sekar terisak pelan.
Rei tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi dingin.
"Kau kuat, Sekar. Tapi jangan selalu terlihat kuat."
"Izinkan dirimu dicintai."
Arga tanpa sadar menggenggam tangan Sekar lebih erat.
Rei melirik ke arah Arga.
Untuk sesaat, seolah ia bisa melihatnya.
"Dia akan menjagamu dengan cara yang tidak bisa kulakukan."
Sekar menutup matanya, air matanya jatuh.
Ketika ia membukanya kembali—
Rei sudah berdiri sedikit lebih jauh.
Tubuhnya mulai memudar perlahan, seperti cahaya yang menyatu dengan udara.
Tidak menyeramkan.
Tidak menyakitkan.
Hanya... selesai.
"Terima kasih, Sekar."
Itu kalimat terakhirnya.
Dan dalam satu kedipan—
Ia menghilang.
Helm di atas meja terjatuh pelan ke samping.
Retaknya sudah hilang sepenuhnya.
Kamar terasa hangat.
Tidak ada lagi hawa dingin.
Tidak ada lagi bayangan.
Hanya Sekar dan Arga.
Dan kesunyian yang damai.
Sekar menangis tanpa suara.
Arga menariknya ke dalam pelukan.
Untuk pertama kalinya—
Rei Kazama benar-benar melewati garis finish terakhirnya.
Dengan tenang.
Other Stories
Plan B
Ketika liburan mereka gagal, tiga orang bersahabat mengambil rute lain. Desa pegunungan ya ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...