BAB 10 - Jalan Yang Teduh
Pagi itu langit masih pucat.
Embun belum sepenuhnya hilang dari ujung daun.
Jalanan di pinggir kota terlihat lengang. Deretan pohon besar berdiri rapat di kanan kiri, membentuk lorong hijau yang panjang dan teduh.
Arga menyalakan motor.
Helm hitam itu kini ada di kepalanya.
Helm milik Rei.
Tidak ada lagi retakan.
Tidak ada lagi hawa dingin.
Hanya helm biasa—yang kini terasa ringan.
Sekar berdiri di belakangnya, mengenakan jaket tipis. Rambutnya tergerai tertiup angin pagi.
"Siap?" tanya Arga dengan senyum lebar.
Sekar mengangguk.
"Siap."
Motor melaju pelan.
Suara mesin menyatu dengan desir angin.
Udara pagi terasa sangat dingin, tapi bukan dingin yang menakutkan. Dingin yang segar. Dingin yang menenangkan.
Mereka melewati jalan panjang yang dipayungi pepohonan tinggi. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan bayangan bergerak di aspal.
Arga mempercepat sedikit laju motornya.
Sekar tertawa kecil.
"Pelan-pelan!" serunya, tapi suaranya dipenuhi kegembiraan.
Tawa mereka pecah di sepanjang jalan.
Tidak ada lagi rasa berat.
Tidak ada lagi misteri yang menggantung.
Hanya dua orang yang menikmati pagi.
Angin menyentuh wajah Sekar. Ia memejamkan mata sesaat.
Di dalam hatinya ia berbisik pelan—
Semoga kamu lebih tenang sekarang, Rei.
Aku akan mendoakanmu.
Tidak ada suara yang menjawab.
Tapi entah kenapa, Sekar merasa damai.
Seolah suatu tempat yang jauh di sana... seseorang benar-benar sudah sampai.
Arga terlihat bersemangat. Tangannya mantap di setang. Helm Rei yang ia pakai tidak lagi terasa seperti beban masa lalu.
Justru seperti simbol bahwa semuanya sudah selesai.
"Indah banget ya jalannya!" Sekar berseru dari belakang.
Arga tersenyum.
"Nanti kita ke sini lagi."
Motor terus melaju di antara pepohonan tinggi. Udara segar memenuhi paru-paru mereka.
Sekar merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan—
Lega.
Ringan.
Bebas.
Arga juga merasakannya.
Mereka sudah membantu seseorang menemukan ketenangan.
Dan tanpa sadar, mereka juga menemukan ketenangan mereka sendiri.
Di ujung jalan, cahaya matahari semakin terang.
Tidak ada bayangan yang mengikuti.
Tidak ada masa lalu yang menahan.
Hanya dua hati yang berjalan ke depan.
Dan pagi itu—
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai,
Perjalanan mereka bukan tentang arwah.
Tapi tentang hidup.
Embun belum sepenuhnya hilang dari ujung daun.
Jalanan di pinggir kota terlihat lengang. Deretan pohon besar berdiri rapat di kanan kiri, membentuk lorong hijau yang panjang dan teduh.
Arga menyalakan motor.
Helm hitam itu kini ada di kepalanya.
Helm milik Rei.
Tidak ada lagi retakan.
Tidak ada lagi hawa dingin.
Hanya helm biasa—yang kini terasa ringan.
Sekar berdiri di belakangnya, mengenakan jaket tipis. Rambutnya tergerai tertiup angin pagi.
"Siap?" tanya Arga dengan senyum lebar.
Sekar mengangguk.
"Siap."
Motor melaju pelan.
Suara mesin menyatu dengan desir angin.
Udara pagi terasa sangat dingin, tapi bukan dingin yang menakutkan. Dingin yang segar. Dingin yang menenangkan.
Mereka melewati jalan panjang yang dipayungi pepohonan tinggi. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan bayangan bergerak di aspal.
Arga mempercepat sedikit laju motornya.
Sekar tertawa kecil.
"Pelan-pelan!" serunya, tapi suaranya dipenuhi kegembiraan.
Tawa mereka pecah di sepanjang jalan.
Tidak ada lagi rasa berat.
Tidak ada lagi misteri yang menggantung.
Hanya dua orang yang menikmati pagi.
Angin menyentuh wajah Sekar. Ia memejamkan mata sesaat.
Di dalam hatinya ia berbisik pelan—
Semoga kamu lebih tenang sekarang, Rei.
Aku akan mendoakanmu.
Tidak ada suara yang menjawab.
Tapi entah kenapa, Sekar merasa damai.
Seolah suatu tempat yang jauh di sana... seseorang benar-benar sudah sampai.
Arga terlihat bersemangat. Tangannya mantap di setang. Helm Rei yang ia pakai tidak lagi terasa seperti beban masa lalu.
Justru seperti simbol bahwa semuanya sudah selesai.
"Indah banget ya jalannya!" Sekar berseru dari belakang.
Arga tersenyum.
"Nanti kita ke sini lagi."
Motor terus melaju di antara pepohonan tinggi. Udara segar memenuhi paru-paru mereka.
Sekar merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan—
Lega.
Ringan.
Bebas.
Arga juga merasakannya.
Mereka sudah membantu seseorang menemukan ketenangan.
Dan tanpa sadar, mereka juga menemukan ketenangan mereka sendiri.
Di ujung jalan, cahaya matahari semakin terang.
Tidak ada bayangan yang mengikuti.
Tidak ada masa lalu yang menahan.
Hanya dua hati yang berjalan ke depan.
Dan pagi itu—
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai,
Perjalanan mereka bukan tentang arwah.
Tapi tentang hidup.
Other Stories
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...