BAB 3 - Gadis Yang Tak Pernah Lupa
Pohon rajumas itu menjulang seperti tiang penyangga langit, batangnya besar dengan kulit kayu kasar yang retak retak oleh usia. Cabang cabangnya menyebar luas, menopang kanopi hutan seperti payung raksasa, dan di salah satu cabang tertinggi tampak susunan ranting besar sarang elang Flores. Komodo yang mereka tunggangi berhenti mendadak, membuat keduanya terjungkal dan mendarat di antara dedaunan kering; meski tak keras, pengalaman itu tetap cukup menyakitkan.
Srrrkkk!
Suara kaki komodo yang mencakar tanah terdengar jelas ketika makhluk itu mendongak, insting predatornya menangkap sesuatu, dan tanpa aba aba ia mulai memanjat batang rajumas.
“Dia memanjat?!” bisik Mimi tak percaya.
Komodo memang mampu memanjat ketika masih muda atau cukup ringan, dan yang ini tampak masih cukup gesit. Batang pohon bergetar.
DUK.
DUK.
DUK.
Machi segera melompat ke arah ekor komodo, mencengkeram sisik paling ujung.
“Mimi! Cepat!”
Mimi hampir tertinggal, namun berhasil meraih tangan Machi, dan untuk pertama kalinya ia merasakan bulu halus Machi yang benar benar lembut.
Bukan sekadar aneh.
Bukan sekadar lucu.
Nyata.
Mereka bergerak menjauhi ujung ekor yang terus bergoyang liar, sementara angin semakin kencang seiring ketinggian bertambah. Namun malapetaka kecil datang diam diam; sisik yang dicengkeram Machi
Krek…
Retak.
Terlepas.
Tubuh kecil Machi tergelincir.
“Machi!”
Mimi menjulurkan tangan, namun semuanya terlalu cepat; Machi jatuh dan angin meraung di telinganya. Untuk sesaat, ia berpikir,
Inilah akhir seorang peri yang tak lagi memiliki sihir.
Namun
Cengkram!
Rasa sakit menjalar dari bagian paling sensitif tubuhnya.
Ekornya.
Mimi berhasil meraih ekor Machi, dan Machi menjerit.
“Aaaagh!”
Meski hanya wujud tiruan, tubuh peri itu tetap memiliki rasa, dan kini rasa itu seperti ditarik dari tulang belakangnya.
“Mimi… tarik… cepat…”
Namun Mimi sendiri nyaris tak punya tenaga; tangannya gemetar, angin mengguncang, dan komodo terus memanjat. Beberapa detik terasa seperti keabadian, hingga akhirnya Machi berhasil meraih sisik lain dan memanjat kembali dengan napas terputus putus. Mereka mendekap pangkal ekor dekat dekat, kelelahan.
“Kita tidak pernah membicarakan betapa gilanya rencanamu,” gumam Machi.
Mimi hanya tersenyum lemah, dan mereka melanjutkan memanjat hingga mencapai bagian kepala.
Hampir sampai.
Hampir tenang.
Namun nasib belum selesai menguji. Tiba tiba
Selip.
Satu kaki komodo kehilangan pijakan, lalu dua, lalu seluruh tubuhnya merosot.
GRRRRRAAAAK!
Batang pohon tergores cakar, dan Machi menjerit.
“Ke kepala! Cepat!”
Mereka memanjat leher komodo yang miring; kemiringannya nyaris membuat keduanya tak mampu memijakkan kaki. Mereka harus cepat, tetapi napas mereka hampir tak tersisa, dan saat mencapai ujung kepala, Machi menggenggam tangan Mimi.
“Percayalah padaku.”
Sebelum Mimi sempat bertanya, Machi melemparkannya; tubuh Mimi melayang.
WHOOSH!
Ia meraih tepi sarang ranting, tangannya hampir lepas namun berhasil mencengkeram. Machi melompat menyusul, meraih ranting dan memanjat masuk. Jantung keduanya berdebar tak karuan, bernapas pun terasa sulit, wajah mereka pucat dan keringat dingin membasahi tubuh. Sedikit ketenangan keduanya peroleh saat meraba sarang sang elang; sarang terasa lembut di dalam, dilapisi lumut dan bulu.
Namun ketenangan itu hanya sesaat.
BUM!
Seekor elang Flores mendarat lebih besar dari sebelumnya, lebih megah, bulu putih berkilau di dada dan hitam legam di sayap, sementara beberapa telur besar terletak di dalam sarang. Insting keibuan menyala di matanya, dan ia mendesis.
Ciiiiaaaak!
Machi mencoba mendekat, mengusap bulu sang induk; elang itu goyah, namun tidak sepenuhnya tenang.
“Kau bisa mengendalikannya?” bisik Mimi.
“Bukan keturunan naga… tapi tanpa sihir, sulit.”
Lalu Mimi melihatnya kilau redup yang tersangkut di antara bulu sayap.
Seruling bambu kuning ajaib.
Mata Machi melebar.
“Benar… bambu kuning itu… belum punah…”
Ia bergerak perlahan, namun tiba tiba
HISS!
Komodo yang dikira telah terjatuh muncul dari bawah secara tak terduga dan menggigit kaki elang betina. Elang menjerit, dan langit bergetar oleh suara lain ketika elang jantan menyambar turun.
WHOOSH!
Ia menghantam komodo itu dengan cakarnya yang setajam silet; sang komodo mengaum, dan perhatiannya kini teralih pada telur telur elang yang terduduk nyaman di dalam sarang. Didorong insting, elang betina mengangkat komodo itu, memaksa keduanya untuk jatuh menghunjam menuju tanah.
Putaran maut menuju bumi.
“Sekarang!” teriak Machi.
Ia melompat, dan Mimi ikut melompat.
Terjun bebas.
Angin merobek napas mereka; Machi meraih bulu dekat seruling, namun terlalu jauh. Mimi sengaja menjatuhkan diri lebih cepat, meraih tangan Machi, dan ayunan tubuh mereka memberi momentum hingga seruling terlepas. Di bawah, elang betina melepaskan komodo, namun lukanya dari gigitan cukup parah sehingga ia tak mampu keluar dari tukikan. Mimi dan Machi terhantam tanah.
BUUUM!
Sakit.
Terkeras sejauh ini.
Namun mereka hidup; seruling ada di tangan mereka, air mata mengalir kelegaan, tawa kecil bercampur tangis.
Namun
WHOOSH!
Sebuah jerat melayang dan menutup tubuh elang betina yang lemah. Dua sosok manusia muncul.
Pemburu.
Tawa mereka menggelegar.
“Sialan, orang berkata ‘dua burung dengan satu batu’. Kita malah mendapatkan dua elang dan komodo tanpa batu!”
Mereka tertawa puas, jaring dilempar, dan Machi serta Mimi terperangkap; lubangnya kecil, nyaris tak bisa lolos. Mimi berhasil menyelinap keluar di detik terakhir.
Namun Machi
Terjerat.
Jaring mengencang, seruling masih di tangannya; ia menatap Mimi, tersenyum, lalu mengangkat jari kelingkingnya.
Janji.
Lalu ia melemparkan seruling itu.
“Mimi… jangan lupa…”
Pemburu berlari pergi membawa jaring; Mimi mengejar, namun langkah manusia jauh lebih panjang. Ia terjatuh dan menangis, sementara hutan terasa sunyi kembali. Untuk waktu yang lama dirinya hanya terdiam di tempat, tangannya gemetar tak tahu harus berbuat apa; ia menundukkan kepalanya, dan seruling itu kembali terlintas di jalur pandangnya.
Lalu terbesit suatu pikiran, satu hal yang bisa dibuatnya.
Mimi mengangkat seruling di genggamannya, membawanya dekat ke lubang mulutnya, dan sang gadis meniup seruling itu.
Fuuuuuu
Gelap.
Ia kembali di rubanah tangga, rumah kayu, orang tuanya memanggil namun Mimi berlari keluar menuju hutan, melewati rumah jamur, liang komodo, pohon rajumas.
Semua ada.
Namun kosong.
Tak ada jejak.
Tak ada Machi.
Seolah tak pernah terjadi apa apa.
Dunia terasa kejam dalam keheningannya; tubuh Mimi goyah, dan gelap kembali menelannya. Ia terbangun di ruangan putih.
Rumah sakit.
Dokter menjelaskan gegar otak, halusinasi, cedera semua terasa logis.
Terlalu logis.
Mimi hampir ragu, hingga ibunya mengeluarkan sesuatu dari tas.
Seruling.
Tak lagi berkilau.
Namun nyata.
Ibunya tersenyum.
“Kau menggenggamnya erat sepanjang perjalanan.”
Air mata Mimi jatuh, dan liburan sekolah pun usai; Mimi kembali ke Pulau Dewata. Teman temannya menganggap ceritanya dongeng, dan ia tak membantah. Namun setiap kali melihat berita tentang hutan yang dibuka untuk tambang, setiap kali mendengar kata “keuntungan” lebih keras daripada “kelestarian”, ia teringat mata berkaca kaca peri kecil dalam wujud Si Panda Berkecambah, pada janji kelingking yang diikat keduanya.
Entah Machi nyata atau tidak.
Entah peri benar benar ada atau hanya lahir dari gegar otaknya.
Namun satu hal pasti.
Janji tetaplah janji.
“Kalaupun itu hanya mimpi,” bisiknya, “dunia tetap harus diselamatkan.”
Sang surya tengah terbit di balik cakrawala, angin lembut menerpa wajah Mimi.
Dan untuk sesaat
Sangat sesaat
Ia bisa merasakan Machi yang memeluknya.
Srrrkkk!
Suara kaki komodo yang mencakar tanah terdengar jelas ketika makhluk itu mendongak, insting predatornya menangkap sesuatu, dan tanpa aba aba ia mulai memanjat batang rajumas.
“Dia memanjat?!” bisik Mimi tak percaya.
Komodo memang mampu memanjat ketika masih muda atau cukup ringan, dan yang ini tampak masih cukup gesit. Batang pohon bergetar.
DUK.
DUK.
DUK.
Machi segera melompat ke arah ekor komodo, mencengkeram sisik paling ujung.
“Mimi! Cepat!”
Mimi hampir tertinggal, namun berhasil meraih tangan Machi, dan untuk pertama kalinya ia merasakan bulu halus Machi yang benar benar lembut.
Bukan sekadar aneh.
Bukan sekadar lucu.
Nyata.
Mereka bergerak menjauhi ujung ekor yang terus bergoyang liar, sementara angin semakin kencang seiring ketinggian bertambah. Namun malapetaka kecil datang diam diam; sisik yang dicengkeram Machi
Krek…
Retak.
Terlepas.
Tubuh kecil Machi tergelincir.
“Machi!”
Mimi menjulurkan tangan, namun semuanya terlalu cepat; Machi jatuh dan angin meraung di telinganya. Untuk sesaat, ia berpikir,
Inilah akhir seorang peri yang tak lagi memiliki sihir.
Namun
Cengkram!
Rasa sakit menjalar dari bagian paling sensitif tubuhnya.
Ekornya.
Mimi berhasil meraih ekor Machi, dan Machi menjerit.
“Aaaagh!”
Meski hanya wujud tiruan, tubuh peri itu tetap memiliki rasa, dan kini rasa itu seperti ditarik dari tulang belakangnya.
“Mimi… tarik… cepat…”
Namun Mimi sendiri nyaris tak punya tenaga; tangannya gemetar, angin mengguncang, dan komodo terus memanjat. Beberapa detik terasa seperti keabadian, hingga akhirnya Machi berhasil meraih sisik lain dan memanjat kembali dengan napas terputus putus. Mereka mendekap pangkal ekor dekat dekat, kelelahan.
“Kita tidak pernah membicarakan betapa gilanya rencanamu,” gumam Machi.
Mimi hanya tersenyum lemah, dan mereka melanjutkan memanjat hingga mencapai bagian kepala.
Hampir sampai.
Hampir tenang.
Namun nasib belum selesai menguji. Tiba tiba
Selip.
Satu kaki komodo kehilangan pijakan, lalu dua, lalu seluruh tubuhnya merosot.
GRRRRRAAAAK!
Batang pohon tergores cakar, dan Machi menjerit.
“Ke kepala! Cepat!”
Mereka memanjat leher komodo yang miring; kemiringannya nyaris membuat keduanya tak mampu memijakkan kaki. Mereka harus cepat, tetapi napas mereka hampir tak tersisa, dan saat mencapai ujung kepala, Machi menggenggam tangan Mimi.
“Percayalah padaku.”
Sebelum Mimi sempat bertanya, Machi melemparkannya; tubuh Mimi melayang.
WHOOSH!
Ia meraih tepi sarang ranting, tangannya hampir lepas namun berhasil mencengkeram. Machi melompat menyusul, meraih ranting dan memanjat masuk. Jantung keduanya berdebar tak karuan, bernapas pun terasa sulit, wajah mereka pucat dan keringat dingin membasahi tubuh. Sedikit ketenangan keduanya peroleh saat meraba sarang sang elang; sarang terasa lembut di dalam, dilapisi lumut dan bulu.
Namun ketenangan itu hanya sesaat.
BUM!
Seekor elang Flores mendarat lebih besar dari sebelumnya, lebih megah, bulu putih berkilau di dada dan hitam legam di sayap, sementara beberapa telur besar terletak di dalam sarang. Insting keibuan menyala di matanya, dan ia mendesis.
Ciiiiaaaak!
Machi mencoba mendekat, mengusap bulu sang induk; elang itu goyah, namun tidak sepenuhnya tenang.
“Kau bisa mengendalikannya?” bisik Mimi.
“Bukan keturunan naga… tapi tanpa sihir, sulit.”
Lalu Mimi melihatnya kilau redup yang tersangkut di antara bulu sayap.
Seruling bambu kuning ajaib.
Mata Machi melebar.
“Benar… bambu kuning itu… belum punah…”
Ia bergerak perlahan, namun tiba tiba
HISS!
Komodo yang dikira telah terjatuh muncul dari bawah secara tak terduga dan menggigit kaki elang betina. Elang menjerit, dan langit bergetar oleh suara lain ketika elang jantan menyambar turun.
WHOOSH!
Ia menghantam komodo itu dengan cakarnya yang setajam silet; sang komodo mengaum, dan perhatiannya kini teralih pada telur telur elang yang terduduk nyaman di dalam sarang. Didorong insting, elang betina mengangkat komodo itu, memaksa keduanya untuk jatuh menghunjam menuju tanah.
Putaran maut menuju bumi.
“Sekarang!” teriak Machi.
Ia melompat, dan Mimi ikut melompat.
Terjun bebas.
Angin merobek napas mereka; Machi meraih bulu dekat seruling, namun terlalu jauh. Mimi sengaja menjatuhkan diri lebih cepat, meraih tangan Machi, dan ayunan tubuh mereka memberi momentum hingga seruling terlepas. Di bawah, elang betina melepaskan komodo, namun lukanya dari gigitan cukup parah sehingga ia tak mampu keluar dari tukikan. Mimi dan Machi terhantam tanah.
BUUUM!
Sakit.
Terkeras sejauh ini.
Namun mereka hidup; seruling ada di tangan mereka, air mata mengalir kelegaan, tawa kecil bercampur tangis.
Namun
WHOOSH!
Sebuah jerat melayang dan menutup tubuh elang betina yang lemah. Dua sosok manusia muncul.
Pemburu.
Tawa mereka menggelegar.
“Sialan, orang berkata ‘dua burung dengan satu batu’. Kita malah mendapatkan dua elang dan komodo tanpa batu!”
Mereka tertawa puas, jaring dilempar, dan Machi serta Mimi terperangkap; lubangnya kecil, nyaris tak bisa lolos. Mimi berhasil menyelinap keluar di detik terakhir.
Namun Machi
Terjerat.
Jaring mengencang, seruling masih di tangannya; ia menatap Mimi, tersenyum, lalu mengangkat jari kelingkingnya.
Janji.
Lalu ia melemparkan seruling itu.
“Mimi… jangan lupa…”
Pemburu berlari pergi membawa jaring; Mimi mengejar, namun langkah manusia jauh lebih panjang. Ia terjatuh dan menangis, sementara hutan terasa sunyi kembali. Untuk waktu yang lama dirinya hanya terdiam di tempat, tangannya gemetar tak tahu harus berbuat apa; ia menundukkan kepalanya, dan seruling itu kembali terlintas di jalur pandangnya.
Lalu terbesit suatu pikiran, satu hal yang bisa dibuatnya.
Mimi mengangkat seruling di genggamannya, membawanya dekat ke lubang mulutnya, dan sang gadis meniup seruling itu.
Fuuuuuu
Gelap.
Ia kembali di rubanah tangga, rumah kayu, orang tuanya memanggil namun Mimi berlari keluar menuju hutan, melewati rumah jamur, liang komodo, pohon rajumas.
Semua ada.
Namun kosong.
Tak ada jejak.
Tak ada Machi.
Seolah tak pernah terjadi apa apa.
Dunia terasa kejam dalam keheningannya; tubuh Mimi goyah, dan gelap kembali menelannya. Ia terbangun di ruangan putih.
Rumah sakit.
Dokter menjelaskan gegar otak, halusinasi, cedera semua terasa logis.
Terlalu logis.
Mimi hampir ragu, hingga ibunya mengeluarkan sesuatu dari tas.
Seruling.
Tak lagi berkilau.
Namun nyata.
Ibunya tersenyum.
“Kau menggenggamnya erat sepanjang perjalanan.”
Air mata Mimi jatuh, dan liburan sekolah pun usai; Mimi kembali ke Pulau Dewata. Teman temannya menganggap ceritanya dongeng, dan ia tak membantah. Namun setiap kali melihat berita tentang hutan yang dibuka untuk tambang, setiap kali mendengar kata “keuntungan” lebih keras daripada “kelestarian”, ia teringat mata berkaca kaca peri kecil dalam wujud Si Panda Berkecambah, pada janji kelingking yang diikat keduanya.
Entah Machi nyata atau tidak.
Entah peri benar benar ada atau hanya lahir dari gegar otaknya.
Namun satu hal pasti.
Janji tetaplah janji.
“Kalaupun itu hanya mimpi,” bisiknya, “dunia tetap harus diselamatkan.”
Sang surya tengah terbit di balik cakrawala, angin lembut menerpa wajah Mimi.
Dan untuk sesaat
Sangat sesaat
Ia bisa merasakan Machi yang memeluknya.
Other Stories
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...