Hotel Tanpa Cermin

Reads
7.8K
Votes
4K
Parts
11
Vote
Report
Penulis Eiko Purvanto

8. Retakan Yang Datang Dari Dalam

Hari ketiga, Kala bangun dengan perasaan seperti ada yang dipindahkan dari dalam dirinya.

Bukan barang.
Bukan kenangan tertentu.

Lebih seperti… sudut.

Seolah ada satu sudut dalam dirinya yang biasanya tajam, kini menjadi tumpul.

Ia berjalan ke kamar mandi dan menatap dinding kosong di atas wastafel. Tangannya terangkat refleks, seperti ingin menyentuh bayangannya sendiri.

Kosong.

Ia mencoba mengingat bagaimana ekspresi wajahnya saat marah.

Tidak jelas.

Bagaimana wajahnya saat menangis?

Ia hanya ingat rasa asin di bibir, bukan bentuknya.

Siang itu, ia turun ke lobi.

“Apakah banyak tamu menginap di sini?” tanyanya pada resepsionis.

“Cukup,” jawab perempuan itu.

“Tapi saya tidak pernah bertemu siapa pun.”

“Kebanyakan orang datang untuk sendiri.”

Jawaban itu lagi-lagi seperti potongan kalimat yang sudah lama ada.

Kala memperhatikan meja resepsionis. Di atasnya ada sebuah buku besar bersampul cokelat tua.

“Boleh saya lihat buku tamunya?”

Perempuan itu terdiam sejenak. Lalu mendorong buku itu ke arahnya.

Kala membukanya.

Halaman pertama kosong.

Halaman kedua kosong.

Semua halaman kosong.

Ia mengerutkan kening. “Ini baru?”

“Tidak,” jawab resepsionis tenang. “Sudah lama.”

“Lalu… tamunya menulis di mana?”

Perempuan itu menatapnya dengan senyum yang lebih tipis dari biasanya.

“Tidak semua orang yang datang ingin tercatat.”

Kala menutup buku itu perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia merasa hotel ini bukan tempat singgah—melainkan tempat yang menyerap.

Malam keempat, ia kembali bermimpi tentang ruangan putih.

Kali ini, cermin itu retak.

Perempuan di dalamnya masih berdiri tegak. Tapi di sela-sela retakan, Kala melihat bayangan lain.

Dirinya duduk di depan laptop, menutup file naskah.

Dirinya menolak panggilan dari penerbit.

Dirinya berkata pada seseorang di telepon, “Mungkin aku memang bukan penulis yang cukup baik.”

Ia terbangun dengan dada sesak.

Kalimat itu terasa nyata.

Terlalu nyata.

Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mengatakannya.

Tidak ada jawab.

Hari kelima, ia memutuskan kembali ke pintu tanpa nomor.

Lampu di langit-langit berkedip pelan, seperti napas yang tersendat.

Ia berdiri di depan pintu itu.

Kali ini, tidak terkunci.

Tangannya gemetar ketika memutar gagang.

Pintu terbuka pelan.

Di dalamnya bukan ruangan menyeramkan. Bukan ruang kosong.

Itu kamar yang sama persis seperti kamarnya.

Tempat tidur.
Meja kayu.
Jendela.

Dan di dinding, tergantung satu cermin besar.

Kala melangkah masuk.

Udara di ruangan itu terasa lebih padat.

Ia berdiri tepat di depan cermin.

Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa.

Lalu perlahan, bayangan muncul.

Bukan bayangannya sekarang.

Melainkan dirinya dua tahun lalu.

Wajahnya lebih hidup. Matanya menyala ketika berbicara tentang cerita-cerita yang ingin ia tulis. Bahunya tidak seberat sekarang.

Perempuan di dalam cermin itu menatapnya.

“Kapan kamu mulai berhenti percaya?”

Kala ingin menjawab, tapi tak ada suara keluar.

“Aku lelah,” bisiknya akhirnya.

Perempuan di dalam cermin menggeleng pelan.

“Kamu tidak lelah. Kamu takut.”

Retakan tipis mulai menjalar di permukaan kaca.

Kala menyentuh cermin itu. Dingin.

Di sela retakan, ia melihat adegan-adegan kecil:

Ia teringat pada email penolakan yang tidak pernah berani ia buka kembali, pada komentar pembaca yang mengatakan bukunya terlalu rumit, dan pada wajah ayahnya yang pernah bertanya kapan ia akan mencari pekerjaan yang lebih pasti. Kenangan-kenangan itu tidak datang sebagai suara, melainkan sebagai keheningan yang menekan dadanya pelan.

Retakan itu bukan berasal dari kaca.

Melainkan dari dalam dirinya.

“Kenapa tidak ada cermin di kamar?” tanyanya lirih.

Perempuan di dalam cermin menjawab dengan suara yang sama seperti resepsionis:

“Karena kamu datang ke sini untuk berhenti melihat kegagalanmu.”

Kala tersentak.

Hotel ini bukan tempat untuk bersembunyi dari dunia.

Ini tempat untuk bersembunyi dari dirinya sendiri.

Lampu ruangan berkedip.

Retakan makin melebar.

Perempuan di dalam cermin mulai memudar.

“Jangan pergi,” kata Kala panik.

“Kamu yang menjauh,” jawab bayangan itu.

Dan dalam satu tarikan napas panjang, cermin itu pecah—tanpa suara.

Kala berdiri sendirian di ruangan kosong.

Tak ada lagi cermin.

Tak ada lagi pintu.

Tak ada lagi kamar.

Ia berdiri di lorong hotel.

Lampu menyala normal.

Pintu tanpa nomor telah hilang.


Other Stories
Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Kumpulan Tulisan

Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Download Titik & Koma