7. Percakapan Dengan Ketakutan
Malamnya, ia bermimpi.
Dalam mimpi itu, ia berdiri di sebuah ruangan putih dengan satu cermin besar di tengahnya.
Ia mendekat.
Cermin itu memantulkan seorang perempuan.
Perempuan itu mirip dirinya—tapi matanya lebih berani. Bahunya lebih tegak. Tatapannya tidak penuh ragu.
Perempuan itu tersenyum.
“Sudah selesai bersembunyi?”
Kala terbangun dengan napas tersengal.
Kamar tetap gelap. Tetap tanpa cermin.
Tapi untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah ia datang ke hotel ini untuk menulis?
Atau untuk menghilang?
Other Stories
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Koper Coklat Ibu
Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...