Rona Murka Dalam Kelabu
Aku duduk di antara dua makam, menatap batu nisan yang sudah sulit untuk di baca.
Tak ada perasaan apapun saat ini, tak ada tangis seperti tahun-tahun silam.
Di langit, awan kelabu menutupi langit biru.
Seperti kalian, yang terbaring di makam itu.
Menutupi langitku.
Aku sudah menangis untuk kalian, air mataku sudah kering.
Apa lagi yang harus ku lakukan agar awan kelabu itu menyingkir?
Tak ada angin yang bisa menggerakkan mereka.
Matahari pun tak sanggup menembus awan itu.
Bagaimana rasanya saat kalian sudah berbaring di sana.
Meninggalkan luka yang menganga tanpa darah.
Aku benar-benar ingin tahu.
Karena sekarang aku hanya bisa berdebat dengan kepalaku yang bising.
Menyuruhku.
Berbaring seperti kalian.
Tak ada perasaan apapun saat ini, tak ada tangis seperti tahun-tahun silam.
Di langit, awan kelabu menutupi langit biru.
Seperti kalian, yang terbaring di makam itu.
Menutupi langitku.
Aku sudah menangis untuk kalian, air mataku sudah kering.
Apa lagi yang harus ku lakukan agar awan kelabu itu menyingkir?
Tak ada angin yang bisa menggerakkan mereka.
Matahari pun tak sanggup menembus awan itu.
Bagaimana rasanya saat kalian sudah berbaring di sana.
Meninggalkan luka yang menganga tanpa darah.
Aku benar-benar ingin tahu.
Karena sekarang aku hanya bisa berdebat dengan kepalaku yang bising.
Menyuruhku.
Berbaring seperti kalian.
Other Stories
Loren Ipsum
test ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Lydia
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...