Bab.4. Mendekap Sunyi (Epilog)
Musim Panas Juli 2021.
Alunan saxophone mengalun lembut dari ponsel yang baru kuperbaiki. Art Pepper menemani sisa malamku di Malang. Tentu, di sebelahku terbaring seorang Jingga yang sedari tadi banyak bercerita sambil memandang langit-langit kamar.
Setelah melihat sore di atas bukit. Aku dan Jingga mengambil ponselku di tempat reparasi, untungnya hanya perlu mengganti baterai jadi tidak perlu menginap. Kalau tidak, aku harus kehilangan tiket pulang ke Jakarta. Dan yang paling mengerikan harus kena seprot ketua timku karena dikira bolos kerja. Meski sebenarnya, sekarang aku sedikit enggan untuk meninggalkan kota ini.
“Kalau kamu, kamu akan ngelakuin apa lima tahun dari sekarang?” tanya Jingga.
Aku tidak langsung menjawab. Mencoba memikirkan sesuatu.
“Nggak tahu juga, kayaknya bakal sama aja kayak sekarang. Kerja, kerja, liburan. HEHE” jawabku.
Jingga mengangguk paham.
“Kalau kamu?” tanyaku.
“Akuuu...” dia menghela napas panjang. “Aku pingin cepet-cepet keluar dari kota ini. Di lima tahun kedepan aku mau jadi penulis, aku pingin puisi, novel atau apa pun yang aku tulis bisa dicetak jadi sebuah buku” Jingga menatapku, dia tersenyum dengan mata yang berbinar.
“Jadi kamu pingin jadi penulis?”
Dia mengangguk. “Itu kenapa aku ambil jurusan sastra” lalu dia menatap langit-langit ruangan lagi.
Menghela napasnya yang sekarang terasa berat. “Nara”
“Emh”
Jingga diam.
Aku menatapnya.
“Gimana rasanya hidup bebas?” tanya Jingga.
Aku terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu, lalu ikut memandangi langit-langit ruangan yang remang-remang, yang hanya bermodal cahaya dari luar.
“Singkatnya…cukup menyenangkan. Aku bisa ngelakuin apa pun yang ingin aku lakuin” jawabku.
Jingga menatapku dan tersenyum, lalu dia menempelkan kepalanya di dadaku dan memelukku. Reflek aku juga memeluknya dengan erat, entah kenapa saat itu aku merasa harus memeluknya seperti itu.
“Enaknya” ucapnya.
Lalu kami berdua hanya diam tanpa berkata apa pun. Malam terakhirku di kota ini terasa sangat hangat. Aku harap matahari tidak terbit besok.
Musim Panas Juli 2022.
TUNG… TING…TUNG…TUNG…
“Pelanggan terhormat, kereta api Gajayana tujuan Jakarta akan segera diberangkatkan dari jalur empat. Dimohon...”
Suara itu mulai terdengar. Suara yang harusnya aku dengar satu minggu lagi saat liburanku sudah habis.
Setelah bertemu dengan Delia siang tadi. Aku menghabiskan waktuku di stasiun dengan perasaan yang bingung. Delia mengajakku untuk melihat makam Jingga, tapi aku menolaknya karena perasaan sesak sejak mendengar kabar kematian Jingga terus terasa meski aku mencoba menahannya. Entah apa yang terjadi saat aku melihat makam itu.
Karena aku merasa sudah tidak ada lagi alasan aku untuk tinggal di kota ini, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta hari ini juga. Beruntungnya, aku bisa memajukan tiketku di sore ini. Mungkin tuhan juga mengasihiku hari ini.
Aku melangkah masuk ke dalam kereta.
Dan ingatanku langsung terbang ke satu tahun lalu. Saat aku dan Jingga harus berpisah di stasiun yang sama.
Musim Panas Juli 2021.
“Aku belum tahu nomor atau akun sosial media kamu”
Jingga menggelengkan kepalanya. “Simpan aja untuk pertemuan kita nanti”
Jingga meraih tanganku. “Ingat ya, kalau kamu balik ke Malang. Gelang ini harus masih terpasang, baru aku akan kasih kamu nomor aku” ucapnya dengan tersenyum.
Aku mengangguk. “Aku pasti kembali”
Jingga tersenyum.
TUNG… TING…TUNG…TUNG…
“Pelanggan terhormat, kereta api Gajayana tujuan Jakarta...”
“Ah…Itu keretaku” ucapku.
Jingga mengangguk. “Yaudah cepet pergi, kalau kamu lebih lama di sini. Aku nggak bakal biarin kamu pergi!!!” ucapnya sambil mendorongku pelan.
Aku tertawa kecil mendengar itu. Itu persis seperti keinginanku.
“Aku pergi, ya”
Jingga mengangguk dan tersenyum, menyuruhku untuk cepat pergi. Aku melangkah menuju kereta, sesekali berbalik untuk melihat Jingga dan melambaikan tangan.
Musim Panas Juli 2022.
“Mas...”
“Mas...”
“Jangan ngehalangin jalan dong, mas”
Suara seseorang di belakangku.
“Ah… i-iya pak… maaf” ucapku dengan suara parau. Aku dengan cepat duduk di kursiku.
Aku beruntung lagi, karena dapat kursi yang dekat dengan jendela. Tak lama, kereta mulai melaju pelan meninggalkan stasiun. Sekarang aku bisa melihat langit gelap yang menggantung di atas.
Aku melihat gelang yang terpasang di lengan kananku. Perasaan sesak tadi semakin terasa, semua ingatan bersama Jingga bermunculan seperti film klasik yang tidak ada akhirnya.
Aku menghela napasku yang berat.
Mengambil buku yang diberikan oleh Delia, dia berkata buku itu peninggalan Jingga yang tertinggal di kedai. Jadi dia memberikannya padaku, entah kenapa.
Aku membuka lagi lembar demi lembar, tidak kubaca. Aku hanya ingin melihat tulisan tangannya rapi. Lalu saat di halaman tengah. Aku menemukan puisi yang dulu dia tulis saat aku dan Jingga di atas bukit sore itu. Puisi yang dulu belum selesai, kini sudah sampai pada bait terakhirnya.
Aku membacanya perlahan.
Kami semua tersesat dalam likuk kota yang familiar
Terlalu nyaman berbicara pada manusia-manusia pilihan
Dan tanpa sadar, sudah puluhan kilometer kami berjalan di titik yang sama.
Kami.
Aku lebih tepatnya.
Hanya terlentang di aspal jalan, menyaksikan jingga yang sama setiap sore
Tanpa tahu harus apa, bagaimana.
Aku.
Tidak, Kami.
Ingin keluar dari likuk kota ini.
Tapi…
Apa tak apa?
Aku terdiam sebentar setelah membaca bait terakhir.
Aku menutup buku itu, lalu menatap keluar jendela. Kereta sekarang bergerak cepat, seperti mengerti keinginanku untuk meninggalkan kota ini dengan segera.
Aku memejamkan mataku, membiarkan film klasik itu terus berputar.
Dan malam itu, adalah malam terakhir aku menghirup udara dari kota Malang. Aku tak ingin lagi liburan ke kota ini—mungkin.
Alunan saxophone mengalun lembut dari ponsel yang baru kuperbaiki. Art Pepper menemani sisa malamku di Malang. Tentu, di sebelahku terbaring seorang Jingga yang sedari tadi banyak bercerita sambil memandang langit-langit kamar.
Setelah melihat sore di atas bukit. Aku dan Jingga mengambil ponselku di tempat reparasi, untungnya hanya perlu mengganti baterai jadi tidak perlu menginap. Kalau tidak, aku harus kehilangan tiket pulang ke Jakarta. Dan yang paling mengerikan harus kena seprot ketua timku karena dikira bolos kerja. Meski sebenarnya, sekarang aku sedikit enggan untuk meninggalkan kota ini.
“Kalau kamu, kamu akan ngelakuin apa lima tahun dari sekarang?” tanya Jingga.
Aku tidak langsung menjawab. Mencoba memikirkan sesuatu.
“Nggak tahu juga, kayaknya bakal sama aja kayak sekarang. Kerja, kerja, liburan. HEHE” jawabku.
Jingga mengangguk paham.
“Kalau kamu?” tanyaku.
“Akuuu...” dia menghela napas panjang. “Aku pingin cepet-cepet keluar dari kota ini. Di lima tahun kedepan aku mau jadi penulis, aku pingin puisi, novel atau apa pun yang aku tulis bisa dicetak jadi sebuah buku” Jingga menatapku, dia tersenyum dengan mata yang berbinar.
“Jadi kamu pingin jadi penulis?”
Dia mengangguk. “Itu kenapa aku ambil jurusan sastra” lalu dia menatap langit-langit ruangan lagi.
Menghela napasnya yang sekarang terasa berat. “Nara”
“Emh”
Jingga diam.
Aku menatapnya.
“Gimana rasanya hidup bebas?” tanya Jingga.
Aku terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu, lalu ikut memandangi langit-langit ruangan yang remang-remang, yang hanya bermodal cahaya dari luar.
“Singkatnya…cukup menyenangkan. Aku bisa ngelakuin apa pun yang ingin aku lakuin” jawabku.
Jingga menatapku dan tersenyum, lalu dia menempelkan kepalanya di dadaku dan memelukku. Reflek aku juga memeluknya dengan erat, entah kenapa saat itu aku merasa harus memeluknya seperti itu.
“Enaknya” ucapnya.
Lalu kami berdua hanya diam tanpa berkata apa pun. Malam terakhirku di kota ini terasa sangat hangat. Aku harap matahari tidak terbit besok.
Musim Panas Juli 2022.
TUNG… TING…TUNG…TUNG…
“Pelanggan terhormat, kereta api Gajayana tujuan Jakarta akan segera diberangkatkan dari jalur empat. Dimohon...”
Suara itu mulai terdengar. Suara yang harusnya aku dengar satu minggu lagi saat liburanku sudah habis.
Setelah bertemu dengan Delia siang tadi. Aku menghabiskan waktuku di stasiun dengan perasaan yang bingung. Delia mengajakku untuk melihat makam Jingga, tapi aku menolaknya karena perasaan sesak sejak mendengar kabar kematian Jingga terus terasa meski aku mencoba menahannya. Entah apa yang terjadi saat aku melihat makam itu.
Karena aku merasa sudah tidak ada lagi alasan aku untuk tinggal di kota ini, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta hari ini juga. Beruntungnya, aku bisa memajukan tiketku di sore ini. Mungkin tuhan juga mengasihiku hari ini.
Aku melangkah masuk ke dalam kereta.
Dan ingatanku langsung terbang ke satu tahun lalu. Saat aku dan Jingga harus berpisah di stasiun yang sama.
Musim Panas Juli 2021.
“Aku belum tahu nomor atau akun sosial media kamu”
Jingga menggelengkan kepalanya. “Simpan aja untuk pertemuan kita nanti”
Jingga meraih tanganku. “Ingat ya, kalau kamu balik ke Malang. Gelang ini harus masih terpasang, baru aku akan kasih kamu nomor aku” ucapnya dengan tersenyum.
Aku mengangguk. “Aku pasti kembali”
Jingga tersenyum.
TUNG… TING…TUNG…TUNG…
“Pelanggan terhormat, kereta api Gajayana tujuan Jakarta...”
“Ah…Itu keretaku” ucapku.
Jingga mengangguk. “Yaudah cepet pergi, kalau kamu lebih lama di sini. Aku nggak bakal biarin kamu pergi!!!” ucapnya sambil mendorongku pelan.
Aku tertawa kecil mendengar itu. Itu persis seperti keinginanku.
“Aku pergi, ya”
Jingga mengangguk dan tersenyum, menyuruhku untuk cepat pergi. Aku melangkah menuju kereta, sesekali berbalik untuk melihat Jingga dan melambaikan tangan.
Musim Panas Juli 2022.
“Mas...”
“Mas...”
“Jangan ngehalangin jalan dong, mas”
Suara seseorang di belakangku.
“Ah… i-iya pak… maaf” ucapku dengan suara parau. Aku dengan cepat duduk di kursiku.
Aku beruntung lagi, karena dapat kursi yang dekat dengan jendela. Tak lama, kereta mulai melaju pelan meninggalkan stasiun. Sekarang aku bisa melihat langit gelap yang menggantung di atas.
Aku melihat gelang yang terpasang di lengan kananku. Perasaan sesak tadi semakin terasa, semua ingatan bersama Jingga bermunculan seperti film klasik yang tidak ada akhirnya.
Aku menghela napasku yang berat.
Mengambil buku yang diberikan oleh Delia, dia berkata buku itu peninggalan Jingga yang tertinggal di kedai. Jadi dia memberikannya padaku, entah kenapa.
Aku membuka lagi lembar demi lembar, tidak kubaca. Aku hanya ingin melihat tulisan tangannya rapi. Lalu saat di halaman tengah. Aku menemukan puisi yang dulu dia tulis saat aku dan Jingga di atas bukit sore itu. Puisi yang dulu belum selesai, kini sudah sampai pada bait terakhirnya.
Aku membacanya perlahan.
Kami semua tersesat dalam likuk kota yang familiar
Terlalu nyaman berbicara pada manusia-manusia pilihan
Dan tanpa sadar, sudah puluhan kilometer kami berjalan di titik yang sama.
Kami.
Aku lebih tepatnya.
Hanya terlentang di aspal jalan, menyaksikan jingga yang sama setiap sore
Tanpa tahu harus apa, bagaimana.
Aku.
Tidak, Kami.
Ingin keluar dari likuk kota ini.
Tapi…
Apa tak apa?
Aku terdiam sebentar setelah membaca bait terakhir.
Aku menutup buku itu, lalu menatap keluar jendela. Kereta sekarang bergerak cepat, seperti mengerti keinginanku untuk meninggalkan kota ini dengan segera.
Aku memejamkan mataku, membiarkan film klasik itu terus berputar.
Dan malam itu, adalah malam terakhir aku menghirup udara dari kota Malang. Aku tak ingin lagi liburan ke kota ini—mungkin.
Other Stories
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...