Kursi Yang Seharusnya Kosong
Ibu sedang bergelut dengan tumpukan plastik dan kardus di meja dapur, sementara aroma rendang yang menyengat memenuhi seisi ruangan. Aku menyandarkan bahu di kusen pintu, memperhatikan kunci mobil yang kuputar-putar di telunjuk. Di luar, mesin mobil sudah kupanaskan, siap untuk melibas aspal selama delapan jam.
“Bu, beneran Ayah harus ikut?” tanyaku pelan, memastikan suara beratku tidak merambat sampai ke kamar depan.
Ibu tidak langsung menjawab. Dia sibuk menarik tali rafia dengan gigi, lalu mengikat kencang kardus berisi oleh-oleh. “Ayahmu sudah ambil cuti satu minggu, Mas. Masa kita tinggal? Nggak enak sama Nenek kalau dia nggak muncul lagi di liburan tahun ini.”
Satria, adikku yang sudah duduk di kelas 1 SMA, mendengus kencang sambil menyambar sisa bakwan di piring. “Ya elah Bu, Nenek juga paham kalau Ayah sibuk kerja. Mending kita bertiga aja. Aku yang jadi DJ, Mas yang nyetir. Kalau ada Ayah, musik nggak boleh kencang, berhenti shalat harus di masjid yang besar, mandi harus jam lima subuh. Liburan apa barak militer itu?”
Aku mengangguk tipis. “Setuju. Bu, aku sudah dua puluh dua tahun. Aku sudah bisa jaga Ibu sama Satria. Lagian aku sudah mampu untuk keluarin uang bensin sama tol kali ini. Kita bisa lebih santai kalau cuma bertiga. Ayah itu... dia cuma bakal bikin suasana kaku. Ibu tahu sendiri kan, kalau Ayah sudah duduk di mobil, auranya kayak mau nertibin pedagang kaki lima.”
Ibu berhenti beraktivitas. Dia menatapku tajam, jenis tatapan yang membuatku sadar kalau argumen "aku sudah mampu cari uang sendiri" tidak berlaku di depannya. “Ayahmu itu sudah sepuluh tahun tidak menginjakkan kaki di rumah nenekmu, Mas. Hampir satu dekade dia cuma kirim uang tanpa pernah mau datang. Kamu tahu kenapa?” tanyanya.
Aku diam. Satria yang tadinya mau protes lagi, mendadak berhenti mengunyah.
“Karena dia merasa belum cukup "pantas" sebagai suami dari anak tertua yang sukses. Dan tahun ini, dia bilang dia mau pulang. Jadi jangan buat dia merasa asing di mobil anaknya sendiri.” Ujar Ibu.
Belum sempat aku membalas, suara deheman berat terdengar dari lorong tengah. Ayah keluar dengan kemeja safari abu-abunya yang licin, menyandang tas pinggang usang yang selalu dia bawa saat dinas. Dia menatap kami bergantian dengan pandangan dingin yang sulit dibaca.
“Sudah dimasukkan semua barangnya?” tanyanya pendek.
Kami hanya bisa mengangguk. Aku melirik Satria yang langsung sibuk membenarkan tali sepatunya. Di depan pintu, Ayah berdiri tegak, menatap mobil yang kuparkir di halaman seolah sedang menginspeksi kendaraan operasional. Liburan ini tidak akan pernah menjadi pelarian yang santai, melainkan ujian kesabaran panjang di bawah bayang-bayang pria yang paling tidak ingin kami ajak bicara.
“Bu, beneran Ayah harus ikut?” tanyaku pelan, memastikan suara beratku tidak merambat sampai ke kamar depan.
Ibu tidak langsung menjawab. Dia sibuk menarik tali rafia dengan gigi, lalu mengikat kencang kardus berisi oleh-oleh. “Ayahmu sudah ambil cuti satu minggu, Mas. Masa kita tinggal? Nggak enak sama Nenek kalau dia nggak muncul lagi di liburan tahun ini.”
Satria, adikku yang sudah duduk di kelas 1 SMA, mendengus kencang sambil menyambar sisa bakwan di piring. “Ya elah Bu, Nenek juga paham kalau Ayah sibuk kerja. Mending kita bertiga aja. Aku yang jadi DJ, Mas yang nyetir. Kalau ada Ayah, musik nggak boleh kencang, berhenti shalat harus di masjid yang besar, mandi harus jam lima subuh. Liburan apa barak militer itu?”
Aku mengangguk tipis. “Setuju. Bu, aku sudah dua puluh dua tahun. Aku sudah bisa jaga Ibu sama Satria. Lagian aku sudah mampu untuk keluarin uang bensin sama tol kali ini. Kita bisa lebih santai kalau cuma bertiga. Ayah itu... dia cuma bakal bikin suasana kaku. Ibu tahu sendiri kan, kalau Ayah sudah duduk di mobil, auranya kayak mau nertibin pedagang kaki lima.”
Ibu berhenti beraktivitas. Dia menatapku tajam, jenis tatapan yang membuatku sadar kalau argumen "aku sudah mampu cari uang sendiri" tidak berlaku di depannya. “Ayahmu itu sudah sepuluh tahun tidak menginjakkan kaki di rumah nenekmu, Mas. Hampir satu dekade dia cuma kirim uang tanpa pernah mau datang. Kamu tahu kenapa?” tanyanya.
Aku diam. Satria yang tadinya mau protes lagi, mendadak berhenti mengunyah.
“Karena dia merasa belum cukup "pantas" sebagai suami dari anak tertua yang sukses. Dan tahun ini, dia bilang dia mau pulang. Jadi jangan buat dia merasa asing di mobil anaknya sendiri.” Ujar Ibu.
Belum sempat aku membalas, suara deheman berat terdengar dari lorong tengah. Ayah keluar dengan kemeja safari abu-abunya yang licin, menyandang tas pinggang usang yang selalu dia bawa saat dinas. Dia menatap kami bergantian dengan pandangan dingin yang sulit dibaca.
“Sudah dimasukkan semua barangnya?” tanyanya pendek.
Kami hanya bisa mengangguk. Aku melirik Satria yang langsung sibuk membenarkan tali sepatunya. Di depan pintu, Ayah berdiri tegak, menatap mobil yang kuparkir di halaman seolah sedang menginspeksi kendaraan operasional. Liburan ini tidak akan pernah menjadi pelarian yang santai, melainkan ujian kesabaran panjang di bawah bayang-bayang pria yang paling tidak ingin kami ajak bicara.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Escape [end]
Setelah setahun berlarut- larut dalam luka masa lalunya, Nadine pun dipaksa oleh sahabatny ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...