Kepingan Dalam Kepulan Asap
Malam itu rumah Nenek dipenuhi suara jangkrik dan embusan angin dingin yang menembus celah jendela kayu. Semua orang sudah lelap, tapi kepalaku masih penuh dengan ucapan Satria sore tadi. Aku keluar ke teras belakang, mencari udara segar, dan ternyata Ayah juga sudah ada di sana.
Dia duduk di kursi kayu yang kurasa umurnya hampir se-Ayah, menatap kegelapan kebun belakang. Secangkir kopi yang sudah dingin ada di atas meja. Ayah menoleh saat aku mendekat, lalu menggeser kursinya sedikit, memberi ruang untukku. Aku duduk di sebelahnya, menyalakan rokok terakhirku.
Dulu, di halaman ini, Ayah memberanikan diri buat ngomong ke Ibu, Ayah membuka percakapan tanpa menatapku. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam desau pohon bambu.
Aku kaget. Ini pertama kalinya Ayah membuka obrolan tanpa ada embel-embel perintah atau teguran.
“Dulu Ibumu itu kembang desa. Ayah cuma Satpol-PP yang kalau mau apel ke sini harus pinjam motor teman yang sering mogok,” Ayah terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar asing, ada nada getir yang tidak pernah kudengar di rumah.
“Kenapa Ayah Berani?” tanyaku, memberanikan diri.
Ayah menyesap kopinya yang tinggal ampas. “Karena waktu itu, Ayah merasa bisa jadi segalanya buat Ibu. Tapi dunia nggak semudah itu, Mas. Ayah pernah gagal berkali-kali. Pernah ditipu orang sampai uang tabungan buat lamaran hilang semua. Ayah hampir berhenti waktu itu. Ayah merasa... Ayah bukan laki-laki yang pantas buat Ibu.”
Ayah terdiam lama sekali. Matanya menatap ujung rokokku yang membara.
“Ayah nggak pernah cerita ini ke Ibu, kan?” tanyaku pelan.
Ayah menggeleng. “Ibu nggak perlu tahu bagian susahnya. Tugas Ayah itu cuma memastikan kalian nggak merasa susah. Meskipun akhirnya Ayah jadi orang yang paling kalian benci karena terlalu keras, kan?”
Aku terdiam. Kalimat itu terasa jujur sekaligus menyakitkan. Aku menatap profil wajahnya dari samping. Di bawah temaram lampu teras, aku melihat ada kepingan yang kosong di matanya, cerita-cerita kegagalan yang dia telan sendiri selama puluhan tahun agar kami tetap bisa makan dan sekolah. Aku baru sadar, selama ini aku hanya mengenal "seragamnya", bukan "manusianya".
“Ayah, kalau sebenarnya Ayah capek...”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Ayah berdiri. Dia menepuk bahuku sekali. Tangannya terasa kasar dan sangat dingin.
“Sudah malam. Tidur sana. Besok harus bantu-bantu di depan,” katanya.
Dia berjalan masuk, meninggalkan aku sendirian dengan sisa asap rokok. Aku melihat punggungnya yang sedikit membungkuk saat melewati pintu. Ucapan Satria sore tadi bergema lagi: Ke siapa ya Ayah bercerita? Dan malam ini aku tahu jawabannya: kepada tidak siapa-siapa. Dia hanya menyimpannya dalam diam, sampai diam itu menjadi bagian dari kulitnya sendiri.
Dia duduk di kursi kayu yang kurasa umurnya hampir se-Ayah, menatap kegelapan kebun belakang. Secangkir kopi yang sudah dingin ada di atas meja. Ayah menoleh saat aku mendekat, lalu menggeser kursinya sedikit, memberi ruang untukku. Aku duduk di sebelahnya, menyalakan rokok terakhirku.
Dulu, di halaman ini, Ayah memberanikan diri buat ngomong ke Ibu, Ayah membuka percakapan tanpa menatapku. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam desau pohon bambu.
Aku kaget. Ini pertama kalinya Ayah membuka obrolan tanpa ada embel-embel perintah atau teguran.
“Dulu Ibumu itu kembang desa. Ayah cuma Satpol-PP yang kalau mau apel ke sini harus pinjam motor teman yang sering mogok,” Ayah terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar asing, ada nada getir yang tidak pernah kudengar di rumah.
“Kenapa Ayah Berani?” tanyaku, memberanikan diri.
Ayah menyesap kopinya yang tinggal ampas. “Karena waktu itu, Ayah merasa bisa jadi segalanya buat Ibu. Tapi dunia nggak semudah itu, Mas. Ayah pernah gagal berkali-kali. Pernah ditipu orang sampai uang tabungan buat lamaran hilang semua. Ayah hampir berhenti waktu itu. Ayah merasa... Ayah bukan laki-laki yang pantas buat Ibu.”
Ayah terdiam lama sekali. Matanya menatap ujung rokokku yang membara.
“Ayah nggak pernah cerita ini ke Ibu, kan?” tanyaku pelan.
Ayah menggeleng. “Ibu nggak perlu tahu bagian susahnya. Tugas Ayah itu cuma memastikan kalian nggak merasa susah. Meskipun akhirnya Ayah jadi orang yang paling kalian benci karena terlalu keras, kan?”
Aku terdiam. Kalimat itu terasa jujur sekaligus menyakitkan. Aku menatap profil wajahnya dari samping. Di bawah temaram lampu teras, aku melihat ada kepingan yang kosong di matanya, cerita-cerita kegagalan yang dia telan sendiri selama puluhan tahun agar kami tetap bisa makan dan sekolah. Aku baru sadar, selama ini aku hanya mengenal "seragamnya", bukan "manusianya".
“Ayah, kalau sebenarnya Ayah capek...”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Ayah berdiri. Dia menepuk bahuku sekali. Tangannya terasa kasar dan sangat dingin.
“Sudah malam. Tidur sana. Besok harus bantu-bantu di depan,” katanya.
Dia berjalan masuk, meninggalkan aku sendirian dengan sisa asap rokok. Aku melihat punggungnya yang sedikit membungkuk saat melewati pintu. Ucapan Satria sore tadi bergema lagi: Ke siapa ya Ayah bercerita? Dan malam ini aku tahu jawabannya: kepada tidak siapa-siapa. Dia hanya menyimpannya dalam diam, sampai diam itu menjadi bagian dari kulitnya sendiri.
Other Stories
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Aswin, Kami Menyayangimu
Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...