Urat Tangan Ayah
Halaman depan rumah Nenek jadi riuh pagi itu. Aku, Satria, dan Ibu sibuk menyapu daun kering dan menata kursi. Aku mengeluarkan ponsel, iseng mengambil beberapa foto candid. Ibu yang sedang tertawa, Satria yang cemberut karena kepanasan, dan Ayah yang berdiri di pojok teras sambil memperhatikan kami dengan rokok di sela jari-jemarinya. Aku ingin menyimpan fragmen ini, sebuah bukti kalau keluarga kami bisa terlihat seperti keluarga normal lainnya.
“Ayah, bantu angkat meja baru ini ke teras yuk,” panggilku. Itu meja kayu jati yang kubeli dengan tabungan bonus dari agency. Aku ingin meninggalkan sesuatu yang layak di rumah Nenek.
Ayah mendekat. Kami berdua memegang ujung meja yang cukup berat itu. Satria berdiri di dekat tangga teras, bersiap menyingkirkan pot bunga yang menghalangi.
“Satu, dua, tiga... angkat,” instruksiku.
Saat kami baru saja menaikkan meja ke anak tangga pertama, tangan Ayah tiba-tiba bergetar. Aku bisa melihat urat-urat di lengannya menegang sebelum akhirnya pegangannya lepas begitu saja. Brak! Sudut meja itu menghantam punggung kaki Satria yang hanya memakai sandal jepit.
“Agh…” Satria berteriak kesakitan, langsung terduduk memegangi kakinya yang mulai memerah.
“Sat! Aduh, maaf, maaf!” Aku langsung menghampiri Satria. Aku melirik Ayah. Wajahnya pucat, dia menatap tangannya sendiri dengan tatapan tidak percaya. Ayah hendak membuka mulut, mungkin mau meminta maaf, tapi aku langsung memotongnya.
“Salahku, Yah. Tanganku licin tadi. Maafin Mas ya, Sat,” kataku cepat sembari menahan tangan Ayah agar dia tetap diam.
Satria meringis, mukanya merah padam karena menahan sakit. “Kalau nggak kuat bilang dong, Mas! Lihat nih, bengkak kan!”
“Iya, Mas minta maaf. Beneran, Mas nggak sengaja,” balasku lagi. Ayah masih mematung di sana, bibirnya bergetar seolah ada beban besar yang ingin dia tumpahkan, tapi aku terus menatapnya, memberi kode agar dia tidak perlu mengaku.
Setelah Ibu membawa Satria ke dalam untuk dikompres, aku menyusul ke kamar. Satria masih mengomel. Dia menatapku tajam saat aku mendekat dengan botol minyak urut.
“Lu sengaja ya, Mas? Gua tahu tadi Ayah yang lepas pegangannya. Kenapa lu yang minta maaf? Kenapa tiba-tiba sok jadi pahlawan sih lu? bentak Satria.” Suaranya meninggi, kata 'lu' yang biasanya kami hindari di depan orang tua akhirnya lolos karena emosi.
“Sudahlah, Sat. Kan yang ngajak angkat meja itu Mas, jadi ya tanggung jawab Mas,” balasku tetap kekeh. Aku cuma merasa tidak tega melihat Ayah yang begitu kaku harus mengakui kelemahannya di depan kami. Aku ingin dia tetap menjadi 'Singa' yang tak terkalahkan di mata Satria.
Lahan sebelah rumah yang terbuka membuat suara kami merembet keluar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ayah berdiri di sana. Aura kaku itu kembali, tapi kali ini ada yang berbeda.
“Satria!” Suara Ayah keluar.
Suaranya lirih, lemah, dan berat. Tidak ada volume tinggi yang biasanya memekakkan telinga, namun yang kusadari, nada seperti itu justru jauh lebih menakutkan dibanding bentakan paling keras yang pernah dia lontarkan. Seolah-olah suara itu ditarik dari sisa-sisa tenaga yang paling dalam.
“Sejak kapan Ayah ngajarin kamu pakai kata-kata 'lu' seperti itu? Dan sejak kapan Ayah ngajarin kamu bisa membentak kakakmu?” lirihnya.
Kami berdua terdiam. Satria menunduk seketika, nyalinya menciut bukan karena takut dipukul, tapi karena nada bicara Ayah yang terdengar sangat... lelah.
“Ayah tahu Ayah yang salah. Ayah yang melepas meja itu tadi, tangan Ayah sedikit kram. Ayah minta maaf. Tapi bukan berarti kamu bisa membentak kakakmu seperti tadi,” lanjut Ayah. Dia berjalan mendekat ke arah Satria dengan langkah yang pelan, hampir tak terdengar gesekan sandalnya di lantai.
“Masmu ini anak pertama Ayah. Anak yang mengajari Ayah bagaimana caranya menjadi orang tua. Sedangkan kamu? Kamu sudah mendapatkan perhatian dan pembelajaran dari cara Ayah mendidik masmu.” Cepat minta maaf.
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Aku tertegun mendengar kalimat Ayah. Anak yang mengajari Ayah menjadi orang tua. Selama dua puluh dua tahun, aku pikir aku hanyalah objek disiplinnya, ternyata bagi Ayah, aku adalah rekan belajarnya yang paling pertama. Satria perlahan mengulurkan tangan padaku, menggumamkan maaf dengan suara pelan yang bergetar. Ayah hanya mengangguk sekali, lalu keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan kami yang masih mencerna kewibawaannya yang baru saja meledak tanpa perlu berteriak sedikit pun.
“Ayah, bantu angkat meja baru ini ke teras yuk,” panggilku. Itu meja kayu jati yang kubeli dengan tabungan bonus dari agency. Aku ingin meninggalkan sesuatu yang layak di rumah Nenek.
Ayah mendekat. Kami berdua memegang ujung meja yang cukup berat itu. Satria berdiri di dekat tangga teras, bersiap menyingkirkan pot bunga yang menghalangi.
“Satu, dua, tiga... angkat,” instruksiku.
Saat kami baru saja menaikkan meja ke anak tangga pertama, tangan Ayah tiba-tiba bergetar. Aku bisa melihat urat-urat di lengannya menegang sebelum akhirnya pegangannya lepas begitu saja. Brak! Sudut meja itu menghantam punggung kaki Satria yang hanya memakai sandal jepit.
“Agh…” Satria berteriak kesakitan, langsung terduduk memegangi kakinya yang mulai memerah.
“Sat! Aduh, maaf, maaf!” Aku langsung menghampiri Satria. Aku melirik Ayah. Wajahnya pucat, dia menatap tangannya sendiri dengan tatapan tidak percaya. Ayah hendak membuka mulut, mungkin mau meminta maaf, tapi aku langsung memotongnya.
“Salahku, Yah. Tanganku licin tadi. Maafin Mas ya, Sat,” kataku cepat sembari menahan tangan Ayah agar dia tetap diam.
Satria meringis, mukanya merah padam karena menahan sakit. “Kalau nggak kuat bilang dong, Mas! Lihat nih, bengkak kan!”
“Iya, Mas minta maaf. Beneran, Mas nggak sengaja,” balasku lagi. Ayah masih mematung di sana, bibirnya bergetar seolah ada beban besar yang ingin dia tumpahkan, tapi aku terus menatapnya, memberi kode agar dia tidak perlu mengaku.
Setelah Ibu membawa Satria ke dalam untuk dikompres, aku menyusul ke kamar. Satria masih mengomel. Dia menatapku tajam saat aku mendekat dengan botol minyak urut.
“Lu sengaja ya, Mas? Gua tahu tadi Ayah yang lepas pegangannya. Kenapa lu yang minta maaf? Kenapa tiba-tiba sok jadi pahlawan sih lu? bentak Satria.” Suaranya meninggi, kata 'lu' yang biasanya kami hindari di depan orang tua akhirnya lolos karena emosi.
“Sudahlah, Sat. Kan yang ngajak angkat meja itu Mas, jadi ya tanggung jawab Mas,” balasku tetap kekeh. Aku cuma merasa tidak tega melihat Ayah yang begitu kaku harus mengakui kelemahannya di depan kami. Aku ingin dia tetap menjadi 'Singa' yang tak terkalahkan di mata Satria.
Lahan sebelah rumah yang terbuka membuat suara kami merembet keluar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ayah berdiri di sana. Aura kaku itu kembali, tapi kali ini ada yang berbeda.
“Satria!” Suara Ayah keluar.
Suaranya lirih, lemah, dan berat. Tidak ada volume tinggi yang biasanya memekakkan telinga, namun yang kusadari, nada seperti itu justru jauh lebih menakutkan dibanding bentakan paling keras yang pernah dia lontarkan. Seolah-olah suara itu ditarik dari sisa-sisa tenaga yang paling dalam.
“Sejak kapan Ayah ngajarin kamu pakai kata-kata 'lu' seperti itu? Dan sejak kapan Ayah ngajarin kamu bisa membentak kakakmu?” lirihnya.
Kami berdua terdiam. Satria menunduk seketika, nyalinya menciut bukan karena takut dipukul, tapi karena nada bicara Ayah yang terdengar sangat... lelah.
“Ayah tahu Ayah yang salah. Ayah yang melepas meja itu tadi, tangan Ayah sedikit kram. Ayah minta maaf. Tapi bukan berarti kamu bisa membentak kakakmu seperti tadi,” lanjut Ayah. Dia berjalan mendekat ke arah Satria dengan langkah yang pelan, hampir tak terdengar gesekan sandalnya di lantai.
“Masmu ini anak pertama Ayah. Anak yang mengajari Ayah bagaimana caranya menjadi orang tua. Sedangkan kamu? Kamu sudah mendapatkan perhatian dan pembelajaran dari cara Ayah mendidik masmu.” Cepat minta maaf.
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Aku tertegun mendengar kalimat Ayah. Anak yang mengajari Ayah menjadi orang tua. Selama dua puluh dua tahun, aku pikir aku hanyalah objek disiplinnya, ternyata bagi Ayah, aku adalah rekan belajarnya yang paling pertama. Satria perlahan mengulurkan tangan padaku, menggumamkan maaf dengan suara pelan yang bergetar. Ayah hanya mengangguk sekali, lalu keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan kami yang masih mencerna kewibawaannya yang baru saja meledak tanpa perlu berteriak sedikit pun.
Other Stories
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...