Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
10
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 1: Dentum Yang Redup


Lampu neon berwarna ungu dan biru berpendar di langit-langit klub malam itu, memantul pada gelas-gelas kaca yang berdenting. Amara berdiri di tengah hiruk-pikuk, rambutnya yang dicat pirang asimetis bergerak mengikuti irama musik techno yang memekakkan telinga. Baginya, kebisingan ini adalah pelarian. Di sini, tidak ada yang bertanya tentang masa depan, tidak ada yang peduli tentang moral, dan yang paling penting: tidak ada kesunyian yang memaksa kakinya untuk berhenti melangkah.

Amara dikenal sebagai "Ratu Malam" di lingkup pertemanannya. Ia cantik, sinis, dan memiliki tatapan mata yang seolah menantang dunia. Namun, jika ada yang cukup jeli melihat lebih dalam, ada keletihan yang luar biasa di balik riasan eyeliner tebalnya. Ia adalah produk dari rumah yang dingin, orang tua yang sibuk dengan ego masing-masing, dan lingkungan yang mengajarinya bahwa kebahagiaan hanya bisa dibeli dengan kesenangan sesaat.

"Mara! Tambah lagi?" teriak Riko, salah satu temannya, sambil menyodorkan gelas berisi cairan berwarna amber.

Amara menggeleng, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Gue cabut duluan. Kepala gue mau pecah."

"Yah, nggak asik lo! Baru jam dua pagi!"

Amara tidak menjawab. Ia menyambar jaket kulitnya dan melangkah keluar. Udara dini hari Jakarta yang lembap menyambutnya. Ia memacu motor besarnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan protokol yang mulai lengang. Namun, entah karena kelelahan atau pikiran yang melamun, ia salah mengambil belokan. Ia terjebak di area pemukiman padat yang jalannya mengecil, hingga akhirnya motornya terhenti di depan sebuah bangunan tua dengan arsitektur kolonial yang difungsikan sebagai perpustakaan umum sekaligus pusat komunitas.

Ia turun, berniat mencari air minum di minimarket terdekat, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki duduk di bangku taman perpustakaan yang masih menyala lampunya. Laki-laki itu sedang membaca sebuah buku tebal, wajahnya tampak sangat tenang di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan.


Amara mendengus. Hari gini masih ada yang baca buku di pinggir jalan? batinnya. Karena rasa haus yang tak tertahankan, ia menghampiri laki-laki itu.

"Eh, Mas. Tahu minimarket yang buka jam segini di mana?" tanya Amara ketus.

Laki-laki itu mendongak. Ia mengenakan kemeja koko berwarna abu-abu gelap yang rapi dan peci hitam yang bersahaja. Namanya Rayyan. Ia tidak terkejut melihat penampilan Amara yang serba terbuka dan aromanya yang bercampur asap rokok serta parfum mahal. Ia justru tersenyum tipis—senyum yang tulus, bukan senyum penuh penilaian yang biasa Amara terima dari orang-orang "alim".

"Minimarket di depan gang tadi baru saja tutup, Mbak. Tapi kalau Mbak haus, saya ada botol minum yang belum dibuka. Silakan," ujar Rayyan sambil menyodorkan sebotol air mineral dari tasnya.

Amara menerimanya tanpa ragu, lalu menegaknya hingga habis separuh. "Makasih. Lo ngapain di sini? Nungguin setan?"

Rayyan terkekeh pelan. Suaranya rendah dan menyejukkan. "Saya baru selesai tadarus di masjid sebelah, lalu mampir ke sini sebentar untuk menyelesaikan bacaan. Kebetulan saya pengurus perpustakaan ini juga."

Amara memutar bola matanya. "Tadarus? Masjid? Oke, gue nanya ke orang yang salah."
Ia berbalik untuk pergi, namun entah mengapa kakinya terasa berat. Ada sesuatu dari aura Rayyan yang membuatnya merasa... aman? Sebuah perasaan yang sudah lama hilang dari kamus hidupnya.

"Mbak... kalau boleh saya tahu, Mbak mencari apa di jam segini dengan kecepatan motor seperti tadi?" tanya Rayyan dengan nada yang sama sekali tidak menginterogasi.

"Mencari ketenangan. Tapi kayaknya nggak ada di kota ini," jawab Amara pahit.

Rayyan menutup bukunya. "Ketenangan itu tidak dicari di jalanan, Mbak. Ia ada di dalam sini," katanya sambil menyentuh dadanya sendiri.

"Kalau Mbak mau, besok sore perpustakaan ini buka. Ada diskusi buku ringan. Mungkin Mbak tertarik."

"Nggak janji. Gue bukan tipe kutu buku," sahut Amara sambil menaiki motornya. Ia pergi tanpa menoleh, namun bayangan wajah tenang Rayyan terus menghantuinya sepanjang sisa malam itu.


Hari-hari berikutnya bagi Amara terasa berbeda. Biasanya, ia akan bangun siang dengan kepala pening, lalu menghabiskan waktu di salon atau mal hingga malam tiba. Namun kini, setiap kali ia memejamkan mata, ia teringat ucapan Rayyan: Ketenangan itu ada di dalam sini.

Tiga hari kemudian, entah dorongan dari mana, Amara kembali ke perpustakaan itu. Ia mengenakan kaos hitam longgar dan celana jeans, berusaha tampil se- "normal" mungkin meskipun rambut pirangnya tetap mencolok.
Di sana, ia melihat Rayyan sedang membacakan cerita untuk anak-anak jalanan di pelataran perpustakaan. Rayyan tampak begitu sabar, tertawa bersama mereka, dan membagikan susu kotak. Amara terpaku di balik pilar. Ia melihat sisi kemanusiaan yang selama ini ia anggap fiksi.

Setelah anak-anak itu pulang, Rayyan menyadari kehadiran Amara. "Mbak yang kemarin? Saya senang Mbak datang."

"Nama gue Amara. Jangan panggil 'Mbak', kayak gue tua banget aja," potong Amara sambil duduk di kursi kayu.

"Baik, Amara. Saya Rayyan," balasnya sopan.

"Jadi, apa yang membuatmu kembali ke tempat 'kutu buku' ini?"

"Gue penasaran aja. Lo beneran percaya kalau Tuhan itu ada? Kalau Dia ada, kenapa dunia ini berisik banget? Kenapa gue ngerasa kosong terus?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Amara, jujur dan mentah.

Rayyan terdiam sejenak, menatap langit yang mulai jingga. "Tuhan itu seperti cahaya, Mara. Kalau kita menutup mata atau bersembunyi di ruangan gelap, kita akan bilang cahaya itu tidak ada. Dunia ini berisik karena kita terlalu banyak mendengarkan suara manusia, sampai lupa mendengarkan bisikan nurani kita sendiri."

Rayyan kemudian mulai bercerita tentang konsep hidayah. Ia tidak menceramahi Amara dengan ayat-ayat yang berat. Ia berbicara tentang cinta. Tentang bagaimana seorang hamba yang paling berdosa sekalipun tetap dicintai oleh Penciptanya, selama ia mau berbalik arah.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Amara menangis. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis sesak karena merasa ada sesuatu yang hancur sekaligus tumbuh di dalam dadanya.


Selama beberapa minggu ke depan, perpustakaan itu menjadi tempat pelarian baru Amara. Ia mulai menjauhi teman-teman lamanya. Riko berkali-kali meneleponnya, mengajaknya pesta, namun Amara selalu punya alasan.

Rayyan menjadi mentor yang luar biasa. Ia mengajari Amara mengenal kembali Tuhannya dengan cara yang lembut. Amara mulai bertanya tentang cara salat, tentang mengapa perempuan harus menutup aurat, dan Rayyan menjawab semuanya dengan logika yang bisa diterima akal Amara yang skeptis.

"Mara," panggil Rayyan suatu sore saat mereka sedang merapikan rak buku. "Kenapa kamu memutuskan untuk berubah? Maksudku, hidupmu yang dulu terlihat jauh lebih 'menyenangkan' bagi kebanyakan orang."

Amara terhenti, tangannya memegang sebuah novel klasik. "Menyenangkan itu cuma topeng, Yan. Gue capek akting. Sama lo, gue nggak perlu jadi siapa-siapa. Gue cuma Amara yang pengen belajar jadi baik. Dan... gue ngerasa tenang kalau di dekat lo."

Kalimat terakhir itu membuat suasana menjadi hening. Ada getaran yang tidak biasa di antara mereka. Rayyan menundukkan pandangannya, mencoba menjaga hatinya.

"Kalau begitu, teruslah melangkah. Jangan lihat ke belakang. Tapi ingat satu hal, Mara. Berubahlah karena Allah, bukan karena manusia. Karena kalau kamu berubah karena manusia, suatu saat manusia itu mengecewakanmu, kamu akan kehilangan arah lagi. Tapi kalau karena Allah, Dia tidak akan pernah meninggalkanmu."

Amara tertegun. Ia tidak tahu bahwa ucapan Rayyan itu adalah sebuah peringatan tersirat tentang masa depan mereka. Ia tidak tahu bahwa laki-laki yang kini menjadi sumber kekuatannya itu sedang membawa rahasia besar di dalam kepalanya—sebuah sel jahat yang perlahan-lahan mulai menggerogoti nyawanya.

Malam itu, Amara pulang dan untuk pertama kalinya ia mencari selembar kain panjang. Ia mencoba melilitkannya di kepalanya di depan cermin. Ia melihat dirinya yang baru. Di dalam hatinya, sebuah doa sederhana mulai tumbuh: Ya Allah, jika ini adalah jalan-Mu, izinkan aku terus berjalan bersama laki-laki ini.

Ia tidak tahu, bahwa takdir sedang menyiapkan sebuah ujian yang akan menguji seberapa kuat hidayah yang baru saja ia dekap.



Other Stories
Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Download Titik & Koma