Cahaya Di Ujung Mihrab

Reads
43
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Cahaya di ujung mihrab
Cahaya Di Ujung Mihrab
Penulis Matchaa

Bab 9: Gema Di Ruang Hampa


Tujuh hari telah berlalu sejak tanah makam Rayyan masih basah dan bunga kamboja di atasnya mulai layu. Bagi dunia, waktu terus bergerak. Klakson kendaraan di jalanan Jakarta masih bersahutan, orang-orang masih tertawa di kedai kopi bawah apartemen, dan matahari tetap terbit tanpa peduli ada satu hati yang sedang hancur lebur. Namun bagi Amara, waktu seolah membeku di ruang tamu kecil ini.

Ia duduk bersimpuh di lantai, menatap kursi roda kosong yang terparkir di sudut ruangan. Kursi itu masih di sana, namun napas yang biasanya mengisi ruang itu telah tiada. Amara merasakan jenis kesunyian yang memekakkan telinga—sebuah keheningan yang begitu berat hingga rasanya mencekik leher.

"Yan... aku sudah buat teh jahe," bisik Amara spontan.

Ia tertegun. Ia baru sadar bahwa ia baru saja berbicara pada angin. Kebiasaan merawat Rayyan selama berbulan-bulan telah mendarah daging. Tangannya masih gemetar setiap kali jam menunjukkan pukul delapan pagi, waktu di mana ia seharusnya memberikan dosis obat penahan sakit. Kini, tidak ada lagi obat yang harus diberikan. Tidak ada lagi dahi yang harus diusap.

Amara memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. "Ya Allah... kenapa sesak sekali?" rintihnya pelan.


Sesuai tuntunan yang pernah diajarkan Rayyan, Amara kini menjalani masa iddah. Empat bulan sepuluh hari ia harus menjaga diri, tidak berhias, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk merenung dan beribadah di dalam rumah. Bagi Amara yang dulu terbiasa dengan kebebasan tanpa batas, ruangan ini seharusnya terasa seperti penjara. Namun anehnya, ia justru merasa rumah ini adalah tempat paling suci karena setiap sudutnya menyimpan jejak hidayah yang dibawa Rayyan.

Namun, godaan mulai datang. Bukan dari keinginan untuk bersenang-senang, melainkan dari rasa putus asa.

Satu minggu setelah pemakaman, ponsel Amara yang sudah lama ia matikan, ia nyalakan kembali untuk menghubungi ayahnya. Begitu menyala, puluhan notifikasi masuk. Sebagian besar dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia tahu siapa mereka.

“Mara, turut berduka ya. Cowok itu akhirnya mati juga kan? Sekarang lo bebas. Balik ke tempat biasa yuk, anak-anak kangen sama lo. Gue traktir apa aja yang lo mau.” — Pesan dari Riko.

Amara menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong. Dulu, pesan seperti ini akan membuatnya merasa diinginkan. Sekarang, ia merasa mual. Ia langsung memblokir nomor tersebut tanpa membalas satu kata pun.

"Kalian nggak akan pernah mengerti," gumam Amara. "Kalian pikir kebebasan itu adalah melakukan apa saja. Padahal kebebasan sejati adalah saat kita nggak lagi diperbudak oleh keinginan sendiri."

Sore itu, untuk mengusir rasa sepi yang kian menghimpit, Amara memutuskan untuk membereskan lemari pakaian Rayyan. Ia menyentuh setiap kain kemeja koko milik suaminya, mencium aroma parfum kayu cendana yang masih tertinggal tipis.

Saat ia menarik laci paling bawah, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang dikunci rapat. Amara teringat kunci yang ia temukan di bawah sajadah waktu itu. Ia membukanya perlahan.

Di dalam kotak itu bukan perhiasan atau uang, melainkan tumpukan surat yang ditulis tangan dengan rapi. Di amplop teratas tertulis: "Untuk Amara, di saat aku sudah tidak bisa lagi memanggil namamu."

Tangan Amara gemetar hebat saat membuka amplop itu. Huruf-huruf di dalamnya ditulis dengan tinta hitam, beberapa bagian tampak agak bergetar—mungkin ditulis saat tumor itu mulai menyerang saraf tangannya.

"Assalamu’alaikum, Istriku, Makmumku...
Mara, saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah kembali ke pangkuan-Nya. Maafkan aku jika aku pergi terlalu cepat dan meninggalkanmu di tengah jalan yang masih baru bagimu. Aku tahu, kesunyian akan menjadi musuh terbesarmu saat ini. Kamu akan merasa Allah tidak adil, kamu akan merasa sendirian.

Tapi dengarlah, Sayang... Allah tidak pernah meninggalkanmu. Dia hanya mengambil 'perantara' hidayahmu agar kamu bisa langsung bersandar pada-Nya. Aku hanya sebuah jembatan, dan jembatan memang harus ditinggalkan setelah kamu sampai di seberang.

Di bawah surat ini, aku meninggalkan sebuah kunci kecil lainnya. Itu adalah kunci loker di perpustakaan lama kita. Di sana ada tabungan kecil dan daftar nama anak-anak yang harus kamu lanjutkan pendidikannya. Jangan biarkan cahaya di perpustakaan itu padam, Mara. Teruskan apa yang belum sempat aku selesaikan.

Sampai jumpa di pintu Ar-Rayyan...
Suamimu, Rayyan."

Air mata Amara jatuh membasahi kertas itu. Ia memeluk surat itu di dadanya, menangis sejadi-jadinya. Bukan lagi tangis kemarahan, melainkan tangis haru yang menyakitkan. Di saat maut menjemput pun, Rayyan masih memikirkan masa depan spiritual Amara. Rayyan tidak ingin Amara tenggelam dalam duka, ia ingin Amara memiliki "tugas" agar tetap kuat.


Malam itu, Amara berdiri di depan cermin. Ia melihat wajahnya yang tanpa riasan. Matanya masih sembab, namun ada cahaya baru di sana—sebuah tekad.

Ia mengambil mukenanya, lalu bersujud. "Ya Allah, bantu aku. Aku nggak tahu gimana caranya ngurus anak-anak itu, aku nggak tahu gimana cara ngelola perpustakaan. Tapi kalau ini jalan yang Rayyan mau, dan ini jalan yang Engkau ridhai, kuatkan aku."

Keesokan harinya, Amara mulai menyusun strategi. Masa iddah tidak menghalanginya untuk berbenah dari dalam rumah. Ia mulai menghubungi pengurus masjid dan Pak RT setempat melalui telepon, menanyakan status perpustakaan.

"Ibu Amara, kami ikut berduka," suara Pak RT di telepon terdengar iba. "Sejak Mas Rayyan sakit, perpustakaan memang sepi. Anak-anak jalanan sering datang nanya, tapi nggak ada yang ngurus."

"Pak, saya yang akan mengurusnya. Tolong jangan biarkan tempat itu ditutup atau dialihfungsikan. Saya butuh beberapa minggu lagi untuk menyelesaikan masa tenang saya, tapi setelah itu, saya akan ada di sana setiap hari," ucap Amara tegas.


Namun, perjuangan Amara bukan tanpa hambatan. Di malam-malam tertentu, ingatan tentang masa lalunya kembali datang menggoda. Bayangan tentang minuman keras, tawa palsu di klub malam, dan perasaan "bebas" tanpa aturan terkadang muncul saat kepalanya terasa pecah karena rindu pada Rayyan.

Pernah suatu malam, Amara merasa sangat lemah. Ia merasa tidak sanggup melanjutkan hidup sebagai wanita salihah. Ia merasa "Amara yang nakal" masih bersembunyi di dalam dirinya, siap untuk menerkam kapan saja.

Ia berjalan menuju dapur, tangannya gemetar ingin mencari sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya dengan cepat. Ia teringat dulu ia selalu menyimpan botol minuman sebagai cadangan. Ia mencari di bawah wastafel, di belakang lemari, namun ia tidak menemukan apa-apa. Rayyan sudah membuang semuanya saat mereka menikah.

Amara merosot di lantai dapur yang dingin. "Tolong aku, Ya Allah... tolong aku..."

Tiba-tiba, ia teringat potongan ayat Ar-Rahman yang sering dibacakan Rayyan. "Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadzdziban." Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Amara tersadar. Kepergian Rayyan adalah ujian, tapi hidayah yang ia miliki sekarang adalah nikmat yang tak ternilai harganya. Jika ia kembali ke masa lalu, maka perjuangan Rayyan, rasa sakit yang ditahan suaminya selama ini, akan menjadi sia-sia.

Ia bangkit, mengambil air wudu, dan melakukan salat sunnah taubat. Ia menangis di atas sajadah hingga azan Subuh berkumandang. Ia menyadari bahwa hijrah bukanlah sebuah garis finis, melainkan sebuah lari maraton yang panjang dan penuh rintangan. Rayyan telah memberinya sepatu lari yang bagus, tapi dialah yang harus menggerakkan kakinya sendiri.



Other Stories
Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Download Titik & Koma