Bab 12: Labirin Rahasia
Gedung universitas itu tampak megah dengan pilar-pilar putih dan mahasiswa yang berlalu-lalang dengan buku di dekapan mereka. Bagi Amara, melangkah masuk ke kampus ini terasa seperti memasuki dimensi lain. Ia kini adalah mahasiswi jurusan Manajemen Pendidikan. Di usia yang tak lagi remaja, ia merasa seperti orang asing yang mencoba menyelundup di antara kerumunan anak-anak muda yang penuh ambisi.
Amara memilih untuk menjadi sosok yang pendiam. Ia mengenakan hijab yang sederhana, wajah tanpa riasan berlebih, dan selalu duduk di barisan paling depan. Baginya, setiap kata dari dosen adalah permata yang harus ia simpan demi kemajuan perpustakaannya kelak.
"Oke, untuk tugas kelompok manajemen operasional sekolah, saya akan bagi secara acak," ucap Pak Wijaya, dosen senior yang terkenal tegas.
Amara terpilih masuk ke dalam kelompok bersama tiga mahasiswa lain: Gani, seorang pemuda cerdas yang aktif di organisasi; Selly, gadis modis yang selalu ceria; dan satu lagi adalah mahasiswa pindahan yang baru bergabung.
Pertemuan kelompok pertama diadakan di sebuah kafe di dekat kampus. Selly dan Gani tampak asyik berdiskusi tentang tren pendidikan digital. Amara lebih banyak mendengarkan, mencatat poin-poin penting yang bisa ia terapkan di rumah tahfidz dan perpustakaannya.
"Gue rasa kita harus fokus ke efisiensi biaya operasional. Lo gimana, Amara? Gue denger lo udah punya pengalaman kelola perpustakaan ya?" tanya Gani ramah.
Amara tersenyum tipis. "Masih belajar, Gani. Masih kecil-kecilan, cuma buat anak jalanan."
"Wah, mulia banget! Gue pengen deh kapan-kapan main ke sana," timpal Selly antusias.
Namun, suasana hangat itu mendadak mendingin bagi Amara saat pintu kafe terbuka. Sekelompok orang masuk dengan gaya yang sangat ia kenal—suara tawa yang keras, pakaian minim, dan aroma parfum mahal yang menusuk. Di antara mereka, Amara mengenali salah satunya. Itu adalah salah satu mantan "pelanggan" VIP dari tempat kerjanya dulu, seorang pengusaha bernama Bram.
Amara langsung menundukkan kepala, menarik hijabnya sedikit lebih ke depan. Jantungnya berdegup kencang, seolah ada genderang yang dipukul di dalam dadanya. Rasa takut menyergapnya—bukan takut pada Bram, tapi takut jika identitas lamanya terbongkar di depan teman-teman barunya yang sangat menghormatinya.
"Amara? Lo nggak apa-apa? Muka lo pucat banget," tanya Selly cemas.
"Ah... nggak apa-apa. Cuma agak pusing, kurang tidur mungkin," jawab Amara terbata.
Bram dan rombongannya duduk di meja yang tak jauh dari mereka. Sepanjang diskusi, Amara tidak bisa fokus. Ia merasa setiap tawa dari meja Bram adalah ejekan untuknya. Ia merasa seolah-olah semua orang di kafe itu tahu siapa dia sebenarnya jika mereka melihat Bram.
Sial bagi Amara, saat ia hendak pergi ke toilet, ia berpapasan langsung dengan Bram di lorong sempit dekat wastafel. Bram berhenti, menatap Amara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Lho? Ini kan Amara si 'Bintang Malam' itu, ya?" Bram tertawa sinis, suaranya cukup keras. "Wah, sekarang jadi ustadzah? Aktingnya bagus juga lo, pakai kerudung begini. Mau nyari mangsa baru di kampus?"
Tubuh Amara membeku. Ia merasa seluruh darahnya naik ke wajah. Di ujung lorong, ia melihat Selly berdiri, tampaknya sedang menunggu giliran toilet. Selly menatap mereka dengan dahi berkerut, jelas mendengar apa yang dikatakan Bram.
"Maaf, Anda salah orang," ucap Amara dengan suara bergetar, mencoba melewati Bram.
Bram menghalangi jalannya, ia condong ke arah Amara. "Jangan bohong. Tato di pergelangan tangan lo itu... gue masih inget. Nggak mungkin salah. Berapa tarif lo sekarang kalau pakai kostum begini?"
"Cukup!" Amara membentak dengan suara rendah namun tajam. Matanya berkaca-kaca, bukan karena lemah, tapi karena marah. "Saya bukan orang yang Anda kenal dulu. Tolong hargai privasi saya."
Amara bergegas lari meninggalkan tempat itu, melewati Selly yang masih mematung. Amara tidak sanggup melihat ekspresi Selly—ia takut melihat tatapan jijik atau penghakiman di mata temannya.
Malam harinya di apartemen, Amara meringkuk di atas sajadahnya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia merasa usahanya selama berbulan-bulan untuk berubah hancur dalam sekejap karena satu pertemuan singkat.
"Yan... ternyata masa lalu itu nggak bisa dikubur ya?" rintihnya pada potret Rayyan. "Orang-orang akan selalu liat aku sebagai wanita nakal, seberapa besar pun hijab yang aku pakai."
Ia teringat tato kecil bergambar sayap di pergelangan tangannya—sebuah tanda pemberontakan masa lalunya yang kini ingin ia hapus dengan laser tapi belum memiliki cukup biaya. Tato itu adalah bukti fisik yang tidak bisa ia bantah.
Keesokan harinya di kampus, suasana terasa berbeda. Selly yang biasanya menyapa Amara dengan riang kini tampak agak canggung. Gani pun terlihat lebih banyak diam. Amara tahu, rahasianya mungkin sudah mulai menyebar di antara mereka.
Saat jam istirahat, Selly menghampiri Amara yang sedang duduk sendirian di taman kampus.
"Amara... soal kemarin di kafe," Selly memulai pembicaraan dengan nada hati-hati. "Orang itu... dia beneran kenal kamu?"
Amara menarik napas panjang. Ia menatap ke langit, teringat kata-kata Haji Mansur tentang bayangan. Ia memutuskan untuk berhenti melarikan diri. Jika ia ingin menjadi orang baru, ia harus berani menghadapi siapa dia dulu.
"Iya, Selly. Dia kenal aku. Tapi dia kenal Amara yang dulu—Amara yang tersesat, yang kerja di dunia malam, yang nggak punya arah hidup," ucap Amara dengan suara tenang meski tangannya gemetar. "Aku nggak akan menyangkal masa laluku. Itu emang bagian dari hidupku. Tapi yang kamu liat sekarang, ini aku yang sedang berjuang buat jadi manusia yang lebih baik."
Selly terdiam cukup lama. Amara sudah siap untuk ditinggalkan, siap untuk dihujat. Namun, di luar dugaan, Selly justru memegang tangan Amara.
"Gue nggak peduli siapa lo dulu, Mara," bisik Selly. "Gue liat gimana lo belajar di kelas, gue liat gimana lo tulus ngurus anak-anak jalanan.
Menurut gue, lo jauh lebih hebat daripada orang-orang yang merasa suci tapi nggak pernah berbuat apa-apa. Hijrah lo itu nyata, dan gue bangga temenan sama lo."
Air mata Amara luruh. Ternyata, kejujuran membawa ketenangan yang jauh lebih besar daripada kebohongan yang dijaga dengan ketat.
Meskipun Selly menerimanya, kabar miring tetap menyebar di beberapa kalangan mahasiswa. Amara sering mendengar bisik-bisik saat ia lewat di koridor. Bahkan ada beberapa akun anonim di media sosial kampus yang mencoba "menelanjangi" masa lalunya dengan foto-foto lama yang mereka temukan di internet.
Tapi Amara tidak lagi bersembunyi. Ia terus masuk kuliah, tetap duduk di barisan depan, dan tetap memberikan hasil kerja kelompok terbaik.
Ia membuktikan imannya bukan dengan kata-kata pembelaan, melainkan dengan integritas.
Suatu sore, ia kembali ke perpustakaannya. Dika menyambutnya dengan tumpukan buku yang sudah dirapikan.
"Kak Amara, tadi ada orang-orang pake jas dateng nanya-nanya soal Kakak," lapor Dika.
"Orang pake jas? Siapa?"
"Katanya mereka dari yayasan yang Papa Kakak ceritain. Mereka mau liat langsung gimana Kak Amara ngajar."
Amara tersenyum. Ternyata, di saat dunia mencoba menjatuhkannya, Allah justru mengirimkan peluang baru untuk memperkuat langkahnya. Ujian di kampus ini menyadarkannya bahwa ia tidak butuh divalidasi oleh setiap orang. Ia hanya butuh setia pada janji yang ia buat di atas sajadah Rayyan.
Amara duduk di antara anak-anak jalanan, mengajari mereka tentang sejarah pahlawan bangsa. Di pergelangan tangannya, tato itu masih ada, namun kini tertutup oleh manset kain yang rapi. Baginya, tato itu bukan lagi tanda kehinaan, melainkan pengingat bahwa Allah telah menyelamatkannya dari jurang yang sangat dalam.
"Dika, tahu nggak kenapa pahlawan itu kuat?" tanya Amara pada anak-anak.
"Karena punya senjata, Kak!" jawab Dika semangat.
"Bukan," Amara menggeleng lembut. "Karena mereka berani mengakui kesalahan masa lalu dan bertekad buat nggak ngulanginnya lagi. Mereka kuat karena punya harapan."
Malam itu, Amara tidur dengan senyum. Ia tahu, labirin rahasia ini masih panjang, tapi kini ia punya lentera yang lebih terang untuk melaluinya.
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Kk
jjj ...