Bab 13: Getar Yang Tak Diundang
Perkuliahan semester kedua berjalan lebih intens. Amara semakin tenggelam dalam tumpukan modul manajemen dan statistik pendidikan. Namun, ada satu hal yang berubah di kelasnya: kehadiran dosen pengganti untuk mata kuliah Etika Pendidikan, seorang pria bernama Ustaz Hanif.
Hanif adalah sosok yang kontras dengan dosen-dosen lain. Ia masih muda, mungkin hanya terpaut beberapa tahun dari Amara, dengan pembawaan yang tenang dan tutur kata yang sangat tertata. Namun, yang membuat Amara merasa terusik bukan hanya kecerdasannya, melainkan cara Hanif memandang dunia—cara yang sangat mirip dengan Rayyan.
"Etika bukan tentang apa yang orang lain lihat dari kita, tapi tentang apa yang kita lakukan saat tidak ada seorang pun yang melihat," ucap Hanif dalam salah satu kuliahnya, matanya tanpa sengaja beradu pandang dengan Amara.
Amara segera menundukkan kepala. Jantungnya berdesir. Kalimat itu persis seperti apa yang pernah dikatakan Rayyan di perpustakaan tua mereka. Selama berbulan-bulan, Amara telah mengunci hatinya rapat-rapat, menganggap bahwa kapasitasnya untuk mencintai telah ikut terkubur bersama suaminya. Namun, kehadiran Hanif mulai menciptakan retakan pada gembok itu.
Suatu sore yang diguyur hujan deras, Amara tertahan di lobi kampus. Ia gelisah karena sudah lewat waktu mengajar anak-anak di perpustakaan. Saat ia sedang menatap rintik hujan dengan cemas, sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendela terbuka, menampakkan wajah Hanif yang ramah.
"Ibu Amara? Mau pulang? Mari, saya antar. Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat," tawar Hanif.
Amara sempat ragu. "Terima kasih, Pak Hanif. Tapi saya tidak ingin merepotkan."
"Tidak repot sama sekali. Saya juga searah menuju area perpustakaan jalanan yang sedang Ibu kelola. Saya dengar banyak hal luar biasa tentang tempat itu," Hanif tersenyum tulus.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa canggung. Amara lebih banyak menatap keluar jendela, sementara Hanif mencoba mencairkan suasana dengan membicarakan program literasi. Namun, saat mereka sampai di depan perpustakaan, Hanif tidak langsung pergi. Ia ikut turun, membantu Amara membawa beberapa kardus buku sumbangan yang ia bawa dari kampus.
"Tempat ini... memiliki energi yang sangat baik," gumam Hanif sambil menatap deretan rak buku yang tertata rapi. "Almarhum suami Anda pasti orang yang sangat hebat bisa membangun fondasi sekuat ini."
Mendengar kata "suami", Amara merasa seperti tersiram air es. Ia tersadar kembali pada kenyataan. "Iya, Pak. Dia jauh lebih hebat dari apa yang terlihat. Saya hanya mencoba agar apa yang dia mulai tidak sia-sia."
Sejak sore itu, Hanif menjadi lebih sering berkunjung ke perpustakaan. Awalnya ia datang untuk menyumbangkan buku, lalu mulai menawarkan diri untuk membantu mengajar matematika bagi anak-anak yang akan menghadapi ujian nasional. Kehadiran Hanif disambut hangat oleh Dika dan teman-temannya.
Bagi mereka, Hanif adalah sosok kakak laki-laki yang mereka butuhkan.
Namun bagi Amara, kehadiran Hanif adalah sebuah ancaman bagi "zona nyaman" dukanya.
Suatu malam, setelah Hanif pulang, Amara duduk terpegun di kursi kayu milik Rayyan. Ia menyadari sesuatu yang menakutkan: ia mulai menantikan kedatangan Hanif. Ia mulai merasa senang saat mendengar tawa Hanif saat bercanda dengan Dika. Bahkan, ia mulai memperhatikan detail kecil, seperti bagaimana Hanif selalu merapikan sajadah setelah salat Maghrib di perpustakaan.
"Ya Allah, apa yang aku lakukan?" bisik Amara, tangannya meremas ujung hijabnya.
Ia merasa sangat bersalah. Ia merasa seolah-olah sedang mengkhianati Rayyan. Setiap getaran di hatinya saat melihat Hanif terasa seperti tusukan sembilu yang mengingatkannya pada janji setianya. Malam itu, Amara menangis di atas sajadahnya, memohon ampunan seolah ia telah melakukan dosa besar.
"Yan, maafkan aku... Kenapa hatiku bisa begini? Aku nggak mau ada orang lain. Aku cuma mau kamu," isaknya di tengah kesunyian malam.
Kejujuran Hanif
Puncaknya terjadi saat peringatan satu tahun meninggalnya Rayyan. Amara mengadakan pengajian kecil-kecilan di perpustakaan. Hanif datang membawa nasi kotak untuk anak-anak. Setelah acara selesai dan anak-anak sudah pulang, mereka berdua duduk di teras perpustakaan, menatap jalanan yang mulai sepi.
"Amara," Hanif memulai, suaranya lebih rendah dari biasanya. Ia tidak lagi memanggilnya 'Ibu'. "Saya tahu betapa besar ruang yang ditinggalkan almarhum di hati Anda. Dan saya sangat menghormati itu."
Amara terdiam, jemarinya bertaut erat.
"Tapi saya juga melihat seorang wanita yang sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya sendirian. Anda tidak harus melakukannya sendirian, Amara. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan agar bisa saling menguatkan dalam dakwah."
Amara menoleh, matanya berkaca-kaca. "Pak Hanif, saya... saya belum bisa. Masa lalu saya gelap, dan masa depan saya masih terikat pada kenangan. Menikah dengan saya hanya akan memberi Anda beban."
"Masa lalu Anda adalah apa yang membuat Anda menjadi wanita hebat seperti sekarang," balas Hanif mantap. "Saya tidak mencari wanita tanpa cela. Saya mencari rekan seperjuangan yang tahu arti jatuh dan bangun kembali. Saya tidak meminta Anda melupakan Rayyan. Saya hanya meminta izin untuk berjalan di samping Anda, menjaga apa yang kalian berdua mulai."
Amara tertegun. Kalimat Hanif begitu dewasa, begitu menenangkan. Namun, bayangan Rayyan yang sedang menahan sakit di kepala, Rayyan yang membimbingnya mengaji, kembali terbayang. Rasa setianya berperang hebat dengan rasa butuhnya akan sandaran.
Selama seminggu setelah pernyataan Hanif, Amara menarik diri. Ia tidak masuk kuliah, ia hanya mengunci diri di perpustakaan, mengajar anak-anak dengan mekanis. Ia melakukan salat Istikharah setiap malam, meminta petunjuk yang paling nyata.
Di malam ketujuh, Amara bermimpi. Ia kembali berada di taman luas itu. Ia melihat Rayyan sedang duduk di bawah pohon rindang, membaca buku. Rayyan menoleh, lalu tersenyum. Namun kali ini, Rayyan tidak sendirian. Di kejauhan, ada sosok lain yang berdiri menunggunya. Rayyan mengangguk perlahan, lalu menutup bukunya dan berjalan menjauh, memberikan ruang bagi sosok baru itu untuk mendekat.
Amara terbangun dengan napas tersengal. Hatinya terasa sangat ringan. Ia menyadari bahwa Rayyan tidak pernah ingin dia terpenjara dalam duka. Rayyan mencintainya karena Allah, dan jika Allah mengirimkan seseorang yang bisa menjaganya lebih baik, Rayyan pasti akan rida di alam sana.
Keesokan harinya, Amara pergi ke kampus. Ia menemui Hanif di ruang dosen setelah kelas usai.
"Pak Hanif," ucap Amara. "Saya tidak bisa menjanjikan hati yang utuh dalam waktu singkat. Saya masih akan sering menangis saat teringat Rayyan. Saya masih akan selalu mendahulukan perpustakaan ini di atas segalanya."
Hanif tersenyum lembut, sebuah senyum yang penuh dengan penerimaan. "Dan itulah alasan mengapa saya memilih Anda, Amara. Saya tidak butuh hati yang sempurna, saya hanya butuh hati yang mau berjuang bersama di jalan-Nya."
Amara menarik napas panjang. Ia merasa seolah-olah sebuah beban besar baru saja terangkat dari bahunya. Perjalanan hijrahnya kini memasuki babak baru. Ia tidak lagi berjalan sebagai seorang janda yang terluka, melainkan sebagai seorang wanita yang siap melangkah menuju masa depan, dengan memori Rayyan sebagai cahaya di belakangnya dan Hanif sebagai tangan yang menggenggamnya di depan.
Other Stories
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
Percobaan
percobaan ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Chromatic Goodbye
"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...